Keynes (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 9 May 2017

Aku pernah berpikir, apakah cinta bisa membunuhku? Bagaimana caranya ia bisa membuatku menutup kedua mata, berjalan tanpa arah dan melepaskan nyawaku untuk berkelana dalam kegelapan? Aku ingin tahu.
Satu hal yang aku tahu, aku menyukai Keynes. Tidak. Aku mencintainya, bahkan untuk bernapas pun aku harus menyebutkan namanya, ketika bangun pagi dia lah yang pertama aku sapa meski aku tahu dia tidak akan menjawab. Saat sarapan pagi, dia lah yang aku harapkan untuk duduk di sampingku, memotong roti untukku, mengambilkan air panas atau membuatkan susu hangat.
Satu yang aku tahu, dia bahkan tidak mengenalku, melihatku pun sepertinya itu mustahil. Ketika aku berjalan sendiri di koridor sekolah, berpapasan dengannya saja tidak ia lirik. Satu yang aku sadari, bahwa aku hanyalah seorang Haztin, gadis jelek penghuni kelas IPA.
Lagi-lagi itu membuat aku merasakan sesak.

“Hey, elu masih di sini? Enggak berangkat sekolah?” suara kak Irma mengagetkanku, ia muncul di balik pintu kamarku sambil masih mengunakan pakaian sekolahnya.
“Kakak tahu dari mana kalau aku sekolah sore?” aku lagi-lagi membenci diriku sendiri karena tak pernah tahu caranya memulai percakapan yang asik, padahal berbicara dengan saudaraku sendiri.
“Apa sih yang enggak kakak tahu tentang kamu?”
Apakah dia benar-benar kakakku?
“Hey, jerawat di wajah elu bertambah. Nanti berbekas loh, wajah elu bisa bopeng karna jerawat.” Kak Irma berjalan memasuki kamar, ia menghampiri tempat tidurku dan langsung merebahkan dirinya di sana. Benar kata kak Irma, wajahku hampir habis karena ditutupi jerawat bahkan tak ada bagian dari wajahku yang terlihat mulus.

Kak Irma bagun dari tidurnya dan merongoh saku bajunya. Ia melempar sesuatu ke arahku, dengan singap aku menangkap benda yang dia lempar.
Sebuah cream wajah berbentuk bulat sudah berada dalam tanganku.
“Kenapa kakak memberikan cream ini? Kakak tahu kan aku gak suka make beginian?”
Kak Irma kembali merebah, katanya “Justru itu, Elu harus nyoba cream itu, nih, liat pipi gue..” kak Irma menunjukan pipinya namun karena posisi tidurnya aku tidak bisa melihat bagian yang ia tunjukan.
“Jerawatnya sudah hilang. Elu boleh pake itu, gue belinya mahal loh.”
“Lu lagi suka cowok kan?”
“Kakak!” Aku berteriak dan mengusir kak Irma dari kamarku. Begitu dia keluar dengan sangat terpaksa, ia memberikan aku sebuah kertas.
Apa lagi ini?
Selama ini aku tidak pernah berbicara akrab dengan kakak seperti ini. Kadang kami bahkan tak menghabiskan waktu sarapan bersama, di sekolah dia jarang menyapaku walau kami sering bertemu karena dia selalu nongkrong di kelasku, tapi baru kali ini dia menghampiriku lebih dulu dan mengajak berbicara.
Ah, sudahlah, mungkin dia mulai menyadari bahwa hubungan saudara kami haruslah akur.

Aku mengambil tas sekolah dan segera menyusul Kak Irma. Semoga dia memang ingin memperbaiki hubungan persaudaraan ini.
Benar saja, kak Irma sedang menungguku di bawah, dia membawakan satu buah helm lagi. Setelah menghampiri kak Irma, ia memberikan helm itu padaku.
“Ayuk, sebaiknya kita sering-sering berangkat bareng.”
Aku lalu mengangguk dan memakai helm.
“Naik. Hati-hati yaa,”
Kami mendengar pagar bergeser, dan muncul mama dengan wajah tersenyum penuh bahagia.
“Aih, sering-sering seperti ini yaa, mama senang melihat kalian akur seperti ini.”
“Baik ma.” Kali ini kak Irma lebih dulu menjawab. Aku yang sudah duduk di belakang kak Irma hanya bisa terdiam sembari menatap punggung kakakku. Kenapa aku merasa gugup? Kenapa? Kenapa aku seperti ini?
“Hati-hati, putri-putri mama.”
“Ma, kami pamit ya.”
Kak Irma masih sempat melambai pada mama, lalu motorpun bergerak meninggalkan rumah.

“Haztin, kamu jangan membuang Cream itu yaa? Setiap pagi kamu harus memakainya, lalu pada malam hari kamu juga harus memakainya. Kamu akan segera berubah jika rutin memakai cream itu.”
Dan kali ini aku benar-benar gugup. Bukan. Aku ketakutan. Benar-benar gemetaran ketakutan. Bukan karena ucapan kakak, tapi karena aura jelek dari dalam tasku, di mana cream itu ku simpan.

Baiklah. Sepertinya aku memang harus mencoba cream pemberian kakak.
Aku kini berada di kamar mandi sekolah dan menyendiri di bilik paling ujung. Berpura-pura sedang kencing. Ada cream anti jerawat itu di tanganku, aku sedang mempertimbangkan untuk memakai ini.
Sebenarnya tadi aku berpapasan dengan Keynes saat hendak menuju kamar mandi, dia tersenyum dan memang senyuman itu sangat indah di mataku. Aku benar-benar naksir berat padanya sejak pertama kali menempati kelas yang sama, kisahku memang tidak seindah kisah-kisah dalam cerita tapi kisah itulah yang tidak bisa aku lupakan sampai detik ini.

“Oy, cewek jelek. Duduk di sini!” seorang cowok berambut pirang dengan alis terpotong seperti seorang preman, benar, mungkin dia memang preman.
Aku melirik kiri dan kananku namun tidak ada cewek lain yang pantas dikatai ‘jelek’. Lalu aku langsung saja menjawab ‘ya?’
“Duduk dengan gue. Cepat!” dia menunjuk lagi bangku di sampingnya, bangku dekat jendela dan tempat duduknya itu paling belakang dan paling pojok. Yang benar saja, selama sekolah aku tidak pernah memilih bangku pojokan, aku selalu duduk paling depan dan itu manjur karena prestasiku juga terdepan. Tapi kenapa cowok ini menyuruhku untuk duduk di belakang bersamanya?
“Dengar tidak sih? Sini!” lagi-lagi dia membentak. Yang benar saja? Kenapa dia jadi marah-marah?
Cowok itu bergerak cepat ketika tidak menerima jawaban dariku. Ia menarik tas sekolahku dan melemparnya, tasku jatuh tepat di atas mejanya.
“Apa-apaan ini?” aku membentak dia, dia lalu tertawa.
“Ayo, duduk di tempat gue.” Tiba-tiba saja, dia sudah menaruh kedua tangannya di bahuku dan memaksaku mengikutinya.
“Duduk di sini dan jangan banyak protes.”
Aku diduduki dengan paksa di bangku yang sudah dia sediakan khusus untukku.
Lalu dia pun duduk.
Benar-benar gila apa?
“Kenalin, gue Keynes. Apriano, lu bisa manggil gue Keynes atau Key. Tapi gue lebih suka jadi kunci buat elu.” Ujarnya sembari tersenyum.
Deg…
Deg…
Wajahnya yang tersenyum itu disinari matahari pagi dan membuat dia bersinar. Silau!
“A-a-aku Haztin.”
Aku menunduk kepala dan tidak mencoba membalas tatapan matanya. Sejujurnya pandanganku kabur karena tidak memakai kacamata, pagi tadi karena buru-buru aku kelupaan kacamataku di dalam kamar.
Tapi kenapa dia yang tersenyum ini begitu jelas dan bersinar di mataku?
“Haztin, mulai hari ini elu jadi teman duduk gue. Elu harus ada di samping gue dan selalu di sini.”
“Apa?”
“Ya, itu sudah menjadi syarat.”
“Syarat?”
Keynes menyentuh poniku dan mengacaknya. Wa-wajahku, Ya Tuhan, panas sekali.
“Syarat karena sudah duduk di samping cowok tampan.” Lalu ia tertawa jahil. Dan aku baru menyadari Keynes adalah orang yang suka mengerjai orang lemah sepertiku.
Aku memalingkan wajah keluar jendela, dan mencoba menarik nafas, aku pejamkan mata dan merasakan sentuhan seseorang di bahuku.
“Hey, ada apa? Elu baik-baik aja?” rupanya Keynes yang mencoba menyadarkanku.
“Ya, aku mau pergi ke toilet.”
“NO!”
Mataku melotot padanya. Apa-apaan dia?
“Elu hanya bisa pergi kalau gue gak ada di sini.”
“Maksud kamu?”
Keynes memanggil teman kami yang duduk di depan kami dan meminjam buku catatannya, gadis cantik itu langsung memberikan buku catatannya pada Keynes.

“Gini,”
Keynes mengangkat buku itu menutupi wajah kami dan ia mendekatkan wajahnya, aku otomatis menjauhkan kepalaku, tapi dia malah mengeser bokongnya dan aku tidak bisa lagi bergerak.
“Key,”
Belum lagi aku terkaget karena ulahnya maju-mundur seperti ini, tiba-tiba dia mendaratkan ciuman singkat di bibirku. Si-si-sial!!! Dia-dia –dia benar-benar gila!
“Jadi kamu gak boleh ninggalin aku. Jika aku gak ada barulah kamu boleh ninggalin aku.”
Si-sial. Wajahku benar-benar panas. Jantungku terasa lompat.
Benar-benar laki-laki sialan.
Keynes tersenyum padaku dan menurunkan buku. Aku benar-benar kehabisan udara, lalu tiba-tiba kepalaku pusing.
“Haztin, kamu gak apa-apa?” Keynes berubah menjadi khawatir dan sejak saat itu, dia benar-benar tidak meninggalkan aku dan aku juga tidak meninggalkan dia.

Tapi ada yang berubah ketika kak Irma mulai sering bermain di kelasku, aku yang takut dia mengadu pada mama dan papa akhirnya mencoba menjaga jarak dengan Keynes. Hingga akhirnya kami benar-benar jauh.
Padahal dia hanya menciumku singkat, tapi mengapa aku merasa dia benar-benar menyukaiku? Tapi orang bisa saja mencium wanita lain yang tidak dia sukai kan? Kadang pemikiran itu dapat membantu aku untuk terus bertahan tanpa Keynes.
Tanpa aku sadari sesuatu akan terjadi pada kami.
Aku.
Keynes.

Wajahku terasa lembut.
Putih bercahaya seperti cahaya lampu.
Jerawatnya mulai mengecil padahal jerawat-jerawatku ini sudah berusia lebih dari 6 tahun.
Sudah 3 hari memakai cream kak Irma ini dan langsung menunjukan hasil dan reaksi dari cream ini. Aku merasa sangat cantik.
Rasanya kulit wajahku menjadi sangat ringan, beda ketika wajahku dipenuhi jerawat. Sebenarnya jerawatku dulu tidak terlalu banyak tapi cukup mengangguku karena sudah lama membekas dan tak hilang-hilang.
Ah, aku benar-benar merasa cantik.
Aku melihat pantulan diriku yang sekarang ini pada cermin rias di kamarku. Benar-benar luar biasa. Aku merasa seperti bukan diriku.

“Hey, gue masuk ya.” Itu suara kak Irma dibalik pintu kamarku.
“Masuk aja kak,” aku segera berlari dan langsung melompat ke atas ranjang, berpura-pura memainkan handphone.
“Wow, lihat dia, bersinar banget wajah kamu, dek.” Begitu pintu terbuka kak Irma berhambur ke dalam kamar. Ia menghampiri meja riasku dan melihat isi cream yang ia berikan.
“Kamu sudah berapa hari memakainya?”
“Tiga hari kak.”
Kak Irma terdiam. Ia memandangi cream itu untuk beberapa menit.
“Kenapa kak? Kok kakak jadi bengong begitu?”
Kak Irma berjalan menghampiri ranjang dan langsung merebahkan tubuhnya.
“Siapa yang lu sukai itu, Haz?” kak Irma bertanya namun seadainya ia tidak sambil memejamkan mata seperti sekarang ini mungkin saja aku tidak merasa ada sesuatu yang aneh namun aku benar-benar merasa ini aneh.
“Kok kakak nanya begitu? Aku make cream kan bukan berarti aku menyukai seseorang.”
“Cream itu tidak akan bekerja jika elu sedang tidak jatuh cinta dan cream itu tidak akan membuat wajah elu bersinar seperti sekarang ini jika orang yang lu suka itu tidak menyukai elu.”
“Hah? Aku tidak paham kak.”
Tiba-tiba kedua mata kak Irma terbuka. Ia bangun dan menatapku.
“Apa elu menyukai Keynes?”
“Apa?”
Kak Irma terdiam dan mungkin saja berharap agar aku segera menjawab pertanyaannya.
Tapi aku masih saja terdiam karena merasa ada yang janggal dari nada suaranya saat bertanya.
“Haha, lu gak perlu jawab karena gue udah tahu.” Ia menyerigai ke arahku. Kak Irma segera berdiri dan merapikan pakaiannya.

“Cream itu gue dapat dengan membunuh orang lain. Dan cream itu gue kasih ke elu juga untuk melenyapkan elu. Ternyata tidak sulit menyingkirkan orang yang merebut Keyens.”
Apa? Aku salah dengar. Ya aku salah dengar.
“Apa-apaan kakak? Jangan bercanda. Nggak lucu, aku gak ngerebut Keynes dari siapapun.” Aku bangkit dari tidurku dan berusaha meyakinkan diriku sendiri kalau kak Irma sedang bercanda.
Kak Irma berbalik dan menatapku dengan pandangan angker. Wajahnya menjadi sangat gelap, kedua matanya berwarna hitam kelam seperti baru saja disiram bensin.
Aku gemetaran. Wajahku seketika terasa panas. Kali ini bukan karena Keynes tetapi…
“Gue tahu elu suka Keynes makanya gue kasih elu cream itu supaya bisa menyingkirkan elu dengan cara yang gak elu kira. Hahahahha, tenyata melenyapkan orang bego dan jelek seperti elu emang gak sulit.”
Apa?
“Keynes itu memang menyukai elu tapi dia hanya boleh menjadi milik gue. Gue. Bukan elu.”
“Pergi ke Neraka. Mondos Maundes Jorozksakjdha Jkajkjkansaha NMajkjkajks.”
Tanpa memberiku kesempatan lagi, Kak Irma mengucapkan kalimat yang benar-benar terdengar asing dan menyeramkan. Seketika itu, duniaku berputar, tubuhku melayang ke atas, terbanting ke pintu dan aku melihat wajahku mencair seperti aspal panas, bola mataku keluar, wajahku mulai menunjukkan tulang-tulang tanpa kulit dan danging.

Aku hilang.
Dan hilang
Mati
Dan mati
Maaf
Maafkan aku ibu.
Maafkan aku ayah.
Maafkan aku kak Irma.
Dan aku memaafkan kamu, kak Irma.
Terlebih lagi, aku meminta maaf padamu, Keynes. Aku tidak bisa menepati janjiku untuk tidak meninggalkan kamu lebih dulu.
Maafkan aku karena aku benar-benar mencintaimu. Meski sekarang kamu hanya akan melihat tulang-tulangku, tapi aku ingin katakan padamu, “Aku mencintaimu, Keynes. Dengan segenap kekuranganku, aku menginginkan berada di sampingmu, selamanya. Tolong maafkan kak Irma. Kita akan bertemu di kehidupan berikutnya, tanpa kak Irma. Dan aku janji, akan jatuh cinta lagi padamu.”
Semoga kamu membacanya. Karena aku memang merasakan firasat buruk akhir-akhir ini. Jaga dirimu.

Yang mencintaimu
Haztin

HAZTIN END

Cerpen Karangan: Bunga Salju
Blog: bungasaljuindah.blogspot.co.id
Hallo, setelah lama tidak ngepost cerpen, aku muncul dengan cerita KEYNES. Pastinya tetaplah dukung aku untuk terus menulis yaa.
Terima kasih.
Mohon beri aku saran dan masukan untuk cerpen ini.
Nantikan PART 2 YA.
Terima kasih

Cerpen Keynes (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mengenang 5 Tahun Silam

Oleh:
Semanngat pagi menghiasi hariku di pagi ini, disambut senyum mentari pagi yang membangunkan orang dari mimpi indahnya. Richa Amelia, itulah namaku, tapi teman-temanku sering memanggilku Icha. Aku memang masih

Pelampiasan Cintamu

Oleh:
Hari minggu ini aku sedang tidak ada tugas. Semua tugas dari sekolah maupun yang ada di rumah sudah aku kerjakan dengan baik. Aku bebas mau ngapain aja hari ini,

Tinggal kenangan (Part 2)

Oleh:
Harapanku tinggal setitik debu tindakan apa yang harus aku lakukan? Memohon minta maaf? Tidak! Fani tidak akan mudah memaafkan secepat itu apalagi aku telah menyakitinya selama berbulan-bulan. Pisau itu

Aku Menyesal

Oleh:
Namaku Rara saat itu aku masih duduk di bangku SMP kelas 2. Aku punya sahabat namanya Alen, ia selalu mendengar curhatanku. Tanpa ku sadari aku mengagumi sahabatku itu. Hari

7200 Hari

Oleh:
Hari ke 6120 dalam hidupku. Dari pertama aku lahir, sampai tepat pada ketujuh belas usiaku. Aku tidak setua itu, kan? Tujuh belas tahun adalah masa di mana aku harus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Keynes (Part 1)”

  1. ketty agatha says:

    ngena banget…

  2. anisaayu says:

    Wah,cerpennya keren kak
    Ditunggu kelanjutan nya ya kak

  3. ,,Ekaa says:

    Cerpen yang part 1 aja bagus apa lagi yang part 2 yaaaa
    Aku tunguin aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *