Khilaf Yang Membekas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 22 March 2016

Dalam keremangan sunyi, redup dan sedikit berkabut. Wajah mereka terlihat samar. Bayang tubuh bergantian sisi mengikuti ayunan lampu di atasnya. Ku pandangi satu-satu mendekat. Seragamnya, topinya, dan… Tempat ini. Bukankah ini tempat biasa aku bekerja? Apa yang aku lakukan di sini? Lantas, siapa mereka? Mungkinkah mereka teman kerjaku? Tunggu, sepertinya ada yang aku kenal. Satu di antara mereka, tak asing di mataku. Wajahnya bersinar, cukup jelas terlihat di antara yang lainnya. Tapi, Siapa Dia? Ku coba tatap lebih dekat. Menerawang memori para wajah temanku satu demi satu. Beberapa saat, akhirnya ku dapati satu wajah yang begitu dekat denganku di masa lalu. Ya, sekarang aku benar-benar ingat. Dia… Dia Herman teman kecilku. Sedang apa dia di sini? Sejenak aku terdiam. Setelah hampir sepuluh tahun lebih tak pernah tahu kabarnya, tiba-tiba saja muncul di depanku. Di tempat ini. Apa! Mataku membesar. Tak salah lagi. Dia begitu terampil mengotak-atik komponen elektronik yang biasa ku kerjakan. Tangannya tampak lihai mempermainkan alat kerja layaknya para senior yang lebih berpengalaman.

Sejak kapan da bekerja di sini? Kehadirannya yang mendadak, sungguh membuatku kebanjiran pertanyaan yang ingin sekali ku lontarkan semua padanya. Mungkinkah dia hanya bermain-main di sini? Ah, entahlah. Masih dalam keremangan. Keredupan lampu yang terus bergoyang. Sesekali cahayanya berkedip secara cepat. Aku tak begitu yakin kalau mereka -yang bermuka samar- itu teman kerjaku. Kecuali satu. Ya, hanya satu yang aku kenal. Dia Herman teman masa kecilku dulu. Tapi, almamater perusahaan pada seragam dan topi yang mereka kenakan, seakan menguatkanku bahwa mereka adalah benar teman kerjaku. Sebab, apa yang sedang mereka kerjakan, tempat ini, alat-alat, dan berbagai komponen di tangannya, sama persis seperti apa yang selama ini menjadi profesiku. Ku alihkan perhatian di sekelilingnya, ke berbagai sudut yang tampak samar dan redup akibat pantulan kilau temaram lampu-lampu di atas mereka. Mesin-mesin besar setinggi hampir dua meter terlihat pekat dan terpaku di tempatnya masing-masing dalam kesunyian. Hanya sesekali terdengar decitan tikus di kolong-kolong kegelapan. Mendadak aku tersadar. Bukankah ini bukan jam kerja?

Astaga! Aku tersentak. Setengah ku picingkan mata saat menemukan mereka yang sekarang hanya berjarak dua langkah saja di depanku. Semua melirikku tajam dan sekonyong-konyong mencoba mendekatiku pelan, bagai slow motion para warga yang siap mengeroyok penjahat di depannya. Mereka saling beradu pandang seolah merencanakan sesuatu sebelum akhirnya kembali menatap dan menuju ke arahku penuh ancaman. Seketika badanku kaku, membisu dan bercampur takut berkecamuk. Keringat menyembul begitu saja di seluruh lapisan kulitku. Ditambah lagi mulut yang rasanya tak sanggup lagi ku gerakkan. Ingin sekali aku berteriak dan bertanya. Kenapa kalian menatapku seperti itu?! Kenapa?! Adakah yang salah denganku?! Ah, sial! Aku tak mampu berucap sepatah kata pun. Suaraku seakan terhenti di kerongkongan.

Sementara kini mereka terus menatapku lebih dekat, bahkan lebih tajam dari sebelumnya. Lebih garang dan lebih menakutkan. Dan dia, temanku yang tadi wajahnya sempat berhias cahaya, sekarang hampir kontras dengan mereka. Menggelap kemerahan dan penuh amarah. Bahkan matanya jauh lebih melotot ganas dari pasang mata lainnya, bola matannya seakan meronta ingin ke luar dari peraduan. Di tengah kekalutan yang mencekik. Sosok mereka perlahan membesar, mengasap dan menjulang tinggi. Tubuhku kian mengecil seiring perubahan mereka. Mentalku menciut. Bulu roma seketika berdiri, bergidik menggetar ke seluruh badan. Kakiku membatu tak bisa ku gerakkan. Aku takut, hatiku berontak berteriak namun tak kunjung ada yang bisa mendengar. Apa yang harus aku lakukan?! Apa salahku hingga kalian begini?!

Mulut yang tak kuasa berucap, memaksaku hanya bisa berkeluh dalam hati akan kenyataan yang sangat mencekam ini. kenyataan yang aku sendiri tak tahu sabab musababnya hingga mendapatkan perlakuan seperti ini, layaknya orang asing yang membawa segudang kesalahan. Tak terasa penglihatanku mendadak kabur, binar-binar di mataku kian membaur seiring air yang makin menggenang. Ku coba menahannya agar tidak tumpah ruah melewati bendungan. Sesekali ku kerjapkan-kerjapkan mata. Tak lama kemudian penglihatanku kembali menerang, masih sedikit berkabut tapi kian jelas terlihat. Oh, Tuhan! Aku terlonjak melihat tatapan-tatapan itu. Mereka masih terus melototiku. Bahkan sekarang hanya beberapa senti saja di depan mataku. Langsung saja ku pejamkan mata rapat-rapat. Membenamkan ketakutan dalam gelap. Tapi, seiring bertambahnya rasa takut yang begitu mencuat, entah mengapa rasa penasaranku juga ikut tergerak. Beberapa saat akhirnya ku beranikan diri sedikit mengintip di celah jemari tangan yang menutupi wajah.

Perlahan ku buka kedua telapak tangan. Ku perhatikan lagi mereka satu demi satu. Tunggu, ke mana si Herman temanku? Kenapa tiba-tiba dia menghilang? Aku merunduk. Apa maksud dari semua ini? Teman masa kecilku yang secara aneh tiba-tiba datang, mendadak melototiku penuh emosi dan amarah. Namun, Kini ia menghilang misterius tanpa jejak. Tanpa meninggalkan jawaban akan segala pertanyaan yang sedari tadi meronta ingin ke luar dari benak. Ku pasrahkan saja apa yang akan terjadi padaku sekarang.

Selang beberapa saat, aku dikejutkan oleh suara-suara samar tawa anak kecil dari kejauhan, ku tengadahkan kepala. Menengok ke segala sisi dalam gelap mencari sumber suara. Tapi seketika itu suaranya menghilang hanyut dalam kesunyian. Ku perhatikan lagi sangat-sangat tepat di depanku, gelap dan pekat. Tapi sekejap berangsur memutih, masih berkabut tapi kian bersinar. Tampak samar-samar seperti sebuah bangunan tak jauh di depanku. Perlahan rasanya semakin jelas dan mendekat. Tuhan, apa ini? Itu! bukankah itu rumahku? Pabrik! Bukankah aku tadi di dalam pabrik? ke mana mereka? Kedua kalinya, suara tawa itu muncul kembali, masih samar terdengar dari kejauhan. Namun kini dengan cepat kian mengeras. semakin mendekat, semakin riuh gemerusuk, semakin menggema di telinga, makin keras, sangat keras.

Dan… Bukkk! Suara seperti benturan keras menggelegar. Sebuah kilatan cahaya kini menghalangi pandanganku. Sesaat ku picingkan mata. Dibantu tangan kiri menutupi sedikit penglihatanku. kemudian ku jatuhkan tatapan di tangan kanan begitu saja, terlihat mengepal, bergetar. Tunggu, siapa dia? Siapa anak kecil itu? Kenapa dia menangis di depanku? Tubuhnya tergeletak, tertelungkup dan sedikit mengerang. Ia menangis terisak. Begitu cepat tangisnya kian menjadi. Di tengah isaknya, terdengar hampir tak jelas seperti memanggil seseorang, “I…iiibooo!” Berkali-kali ia berteriak sambil sesenggukan. Ibu? Ia memanggil ibunya. Perlahan ku coba mendekatinya dari belakang.

“Hey, kamu ke….”

Plakk! Tanyaku terhenti saat tangan ini ditepisnya begitu keras sebelum hinggap di bahunya. Astaga! tersentak Aku menerimanya. Dengan tangan sekecil itu ia mampu menepis tanganku sebegitu kuatnya. Hingga berasa sekali denyutan sedikit sakit di bagian kulit yang terkena tepisan tangannya tadi.

“Hey, kamu kenapa?”

Beberapa kali aku bertanya, tak pernah ia menjawabnya. Hanya isakan pilu dan sesenggukan yang terlontar. Bahu dan seluruh tubuh yang membelakangiku terus bergetar tanpa henti seiring tangisannya yang terus menggema. Tak lama kemudian datang seorang Ibu setengah tua mendekatinya. “Herman, kamu kenapa? Tenang sayang, Ibu di sini.” Herman? Mungkinkah dia Herman temanku itu? Ah, benar. Itu memang Herman. Aku sangat kenal sekali wajah Ibunya. Oh, tidak. Lagi-lagi aku dihadapkan oleh kenyataan membingungkan ini. Kenapa dia sekarang menjelma menjadi seorang anak kecil? Bukankah dia seumuranku dan sudah dewasa? Lalu apa maksudnya tadi datang ke dunia pekerjaanku tanpa permisi? Dan pergi pun tanpa berpamit sepatah kata pun.

“Sudah, Nak. ayo bangun, kita pulang.”

Berulang kali sang Ibu mencoba menenangkan. Dengan bantuan tangannya, akhirnya Herman terbangun dari tanah. Bajunya kotor penuh debu. Masih dalam isakkan. Ibu membuka lengan yang sedari tadi menutupi kedua mata anaknya. “Ya ampun! Herman, kamu kenapa?! Kenapa bisa begini?! Siapa yang melakukannya?!” Aku dan Ibu terpekik hampir bersamaan ketika mendapati satu dari mata Herman tampak lebam hitam membiru. Bola matanya yang terlihat memerah hanya bisa terpincing sedikit karena tak kuasa membuka sepenuhnya.

“Sudah, Nak. Jangan menangis lagi, siapa yang membuatmu begini?”
“Di.. Dia, Bu! He.. Herman.. di.. pu.. pukuul.” Sambil sesenggukan Ia menunjuk ke arahku.

Deg! Jantungku berhenti seketika. Bergetar seluruh tubuhku. Rasanya buih peluh menyembul bersamaan di setiap pori lapisan kulit. Ku rasakan getaran yang teramat sangat memusat di tangan kanan. Jemariku terlihat kembali mengepal dan menggetar makin kencang. Ku alihkan pandangan ke anak itu. Ke matanya yang lebam, lalu kembali jatuh pada kepalanku. Terus bergantian. Mata yang lebam, kepalanku, mata yang hitam membiru, kepalanku. Oh, Tuhan, mungkinkah aku yang memukulnya? kenapa aku tak merasa melakukannya? Tapi, gelagat anak itu yang terus menunjuk ke arahku, kian mengalahkan keraguan. Benarkah aku pelakunya? Dengan perasaan yang mengambang antara bersalah atau tidak, ku beranikan diri untuk mendekati mereka.

“Bu, maaf Bu, Aku tak sengaja.” ku coba meminta maaf pada sang Ibu.
Namun, aku terperanjat melonglong. Bukanlah sebuah jawaban yang ku dapat. Melainkan hanya tuturan kalimat yang seakan menghujam keras ke dalam jiwaku.
“Mana? Mana anaknya Herman? Di mana?” Berkali-kali Herman menunjuk ke arahku. Berikut sang ibu juga berkata demikian. “Sudahlah Herman, di sini tak ada siapa-siapa, ayo pulang.” Sambil menggandeng tangan Herman, mereka pun beranjak pulang. Pergi berlalu menjauh meninggalkanku sendiri.

Dalam alunan langkahnya, terlihat jelas wajah Herman yang terus menatapku penuh kemarahan, seakan masih tak terima atas perlakuanku padanya. Perlakuan yang aku sendiri tak yakin telah melakukannya. Aku ternganga dalam diam. Mereka kian menjauh, makin samar dan akhirnya menghilang di antara kabut tipis menuju rumahku. Lagi, aku dihadapkan oleh sebuah kenyataan tabu. Kenapa aku bisa di sini? Kenapa Herman bisa melihatku, sedang Ibunya tidak? Astaga! Suara apa lagi ini? Sepertinya suara ini tak asing lagi di telingaku.

“Di?!

Pelan-pelan ku buka mata. Masih berkabut. Ku kerjapkan-kerjapkan sebentar.

“Di?! Banguuun!

Masih setengah sadar. Ku lihat Herman tepat di depanku. Ia sudah rapi, wangi. Ku lirik jam dinding. Oh, tidak! Aku terlambat! Terhuyung aku bangkit dari tempat tidur. Cepat-cepat mencari handuk.

“Aku berangkat kuliah dulu, Di.”

Cerpen Karangan: Owy Ahmad
Blog: Owyachmadz.blogspot.com

Cerpen Khilaf Yang Membekas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sang Detektif

Oleh:
Hari ini, Indri menangis. Handphone baru pemberian Ayahnya hilang. “Sebelum salat, aku letakkan di dalam tas. Saat selesai salat, handphone itu hilang. Huhuhu.” ucap Indri sambil menangis. Wali kelas

Eye

Oleh:
New York, Desember, 15, 2013 Porsche putih itu melaju kencang. Pengemudinya membanting setir ke kiri menghindari truk tronton di depannya, mengakibatkan mobil menabrak pagar jalan. Benturan terdengar memekakkan telinga.

Aku Terjun Ke Dunia Untuk Melahirkan Anak Ku

Oleh:
Sebuah kisah nyata yang terjadi beberapa tahun yang lalu di sebuah desa kecil yang terletak di kaki gunung Ciremay, Jawa barat. Hiduplah seorang Bidan terkemuka di desa tersebut, sebutlah

Kontes Memasak Endemmo

Oleh:
“Selamat pagi, Itzel! Aku punya kabar baik untukmu!” ujar Silvana di pagi yang cerah itu. Ia datang ke toko roti Itzel dengan semangat hari ini. “Nanti saja, sedang banyak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *