Kisah Tiga Pemburu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 5 November 2015

Dengan penuh kesabaran mereka berdiam di balik semak-semak. Menunggu tanpa sedikitpun suara yang tercipta, hingga kemudian tiba apa yang telah mereka nantikan. Diarahkannya senapan berlaras panjang itu oleh satu dari mereka, membidik harimau berkulit oranye dengan garis-garis hitamnya, yang juga tengah siap berburu, tanpa mengetahui bahwa ia telah menjadi yang diburu. Setelah memastikan bidikannya tepat, ditekannya pelatuk senapan itu dengan cepat.

DORR!!!

Benda berujung runcing itu meluncur cepat dari senapannya, menancap di punggung sasarannya, namun hanya menimbulkan luka kecil. Seakan tak ada masalah, para pemburu itu menunggu dengan tenangnya, mengawasi saat harimau itu meraung sejenak sebagai refleks dari peluru yang menancap di punggungnya, hingga perlahan ia terlihat melemah dan ambruk begitu saja di tanah.
“Peluru bius memang yang terbaik.” Ujar Wist, pemburu yang paling muda.
“Tak perlu repot menghilangkan bercak-bercak darah dari kulit mereka.” Beit, pemburu yang paling gemuk menimpali.
“Jangan bersenang-senang dulu. Perburuan kita belum selesai.” Leo, pemburu paling tua datang dengan membawa harimau yang telah mereka tembak sebelumnya.

“Tak perlu terlalu serius, Leo. Waktu kita masih banyak sebelum pesanan itu dikirimkan.” Timpal Wist seraya menepuk bahu Leo.
“Tak bisa, pesanan pelanggan tetap ku jadikan prioritas.” Jawab Leo dingin, kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.
“Disiplin. Seperti yang kau harapkan dari seorang Leo.”
“Benar, seakan setiap detik-detik hidupnya hanya berburu dan berburu.”
“Memang seharusnya begitu kan?” Beit berdiri menenteng senapannya, “Lagi pula, ia adalah pemburu dengan gelar Profesional.”
Wist mengangguk-angguk, kemudian mereka berdua berjalan mengikuti Leo. Perburuan mereka berlanjut hingga sang surya telah tenggelam di ufuk barat. Buruan hari ini mencukupi pesanan pelanggan-pelanggannya. Sepuluh ekor harimau, utuh dari kulit hingga tulang-tulangnya.

—-

Cahaya rembulan hari ini tertutup mendung. Leo terduduk di mobil jeep-nya yang biasa ia gunakan untuk membawanya ke hutan penuh hewan buruan. Sesekali ia memandangi tangannya, namun apa yang ia lihat bukanlah tangan berwarna sawo matang yang memang sudah menjadi warna kulitnya. Dalam pandangannya tangan-tangan itu berwarna merah darah. Darah dari mereka yang telah gugur pada senapannya untuk memuaskan nafsu orang lain yang ingin memiliki sebagian tubuhnya. Bisa jadi kulitnya, bisa jadi gadingnya. Semuanya, apapun yang diinginkan oleh pelanggannya.

Biarlah ini menjadi kisah hidupku. Kisah hidup seorang pemburu. Biarkan tangan-tangan penuh darah ini menjadi saksi, akan hukumanku kelak untuk setiap nyawa dari mereka yang ku akhiri, batinnya. Leo menerawang langit. Awan-awan mendung masih menutupi cahaya rembulan. Bintang-bintang pun tak ada yang menunjukkan kilau cahayanya. Seolah bentang langit menolak untuk berbagi keindahannya dengan Leo. Seakan-akan mereka tidak menerimanya sebagai bagian dari kehidupan di alam bumi ini.

“Kau yakin?” Sebuah pertanyaan terlontar ke luar dari mulut Beit.
Leo mengangguk mantap. Ia mulai menyiapkan alat-alat berburunya.
“Pesanan pelanggan baru saja datang, tenggat waktu pengiriman masih lama. Kau tak ingin sekadar beristirahat dulu hari ini?”
“Kau lupa, Wist? Pesanan pelanggan tetap ku jadikan prioritas.”
Wist mengangkat kedua bahunya, “Terserah kau sajalah.”

“Kau yakin kau baik-baik saja berburu sendiri?” Beit kembali bertanya.
“Tak mungkin aku mendapat gelar ini kalau aku tak bisa menjaga diri sendiri.” Ujarnya sedikit menyombong.
“Baiklah. Kami tak ikut berburu untuk hari ini.”
“Pastikan mobilmu terisi penuh, atau ku hajar kau.” celetuk Wist, sambil melempar kunci jeep milik Leo.
Leo menangkap kunci yang dilemparkan Wist, “Simpan tinjumu. Tak akan ada tempat kosong dalam jeep hari ini.”
Leo kemudian meninggalkan mereka berdua. Dinaikinya jeep miliknya, yang akan mengantarkannya kembali menuju ladang perburuan.

DORR!!

Sebutir peluru bius kembali terlontar ke luar dari selongsong senapan Leo. Satu harimau kembali tumbang di tangannya. Setelah memastikan harimau itu benar-benar tak bernyawa, ia memasukkannya ke kantung buruannya. Tiga harimau telah diburunya, dan ia masih membutuhkan dua ekor lagi. Leo kembali berjalan, mencari buruannya. Tak perlu waktu lama hingga ia menemukan seekor lainnya. Ia merayap di balik semak-semak, membidik buruannya. Setelah dirasa tepat, bersiaplah ia untuk menekan pelatuknya.
“JANGAN!”

Jari telunjuknya sudah menyentuh pelatuk ketika ia mendengar teriakan itu. Diurungkan niat Leo untuk menekannya, kemudian ia mencari sumber suara tersebut, dan menemukan seorang anak kecil di belakangnya.
“Apa yang kau lakukan di sini, Nak? Dan apa maksudmu berteriak seperti itu?!” Leo menggeram.
“Ku mohon, jangan… Jangan tembak dia…” Ujarnya terisak.
Melihat anak itu begitu memohon, rasa penasaran Leo terpancing.
“Mengapa menurutmu aku tak boleh menembaknya?” tanya Leo.
“Dia temanku. Aku.. aku menganggap ia sebagai keluargaku sendiri..”
Rasa penasarannya semakin terpancing.

“Teman? Keluarga? Hewan sepertinya kau anggap demikian? Mereka hanya makhluk rendahan! Mereka tak punya akal seperti kita! Mereka—”
“Pemburu seperti kau tak tahu apa-apa!”
Leo mematung, mencoba memahami sebuah kalimat yang anak itu lontarkan. Namun tak sampai semenit ia sudah mengangkat senapannya, membidikkan pada sasaran yang belum beranjak dari tempatnya sedari tadi.
“Mungkin aku memang tak tahu apa-apa..” gumam Leo pelan, “Tapi sekarang itu tak penting bagiku!” telunjuk Leo telah menyentuh pelatuk. Kali ini, ia tak ragu-ragu menekan pelatuk senapan tersebut.
“JANGAN!”

DORR!!

Butir-butir air mata mengalir ke luar dari mata anak kecil itu. Tatapan matanya kosong, tanpa harapan. Leo kemudian berdiri menenteng senapannya, menghampiri anak kecil yang seperti telah kehilangan harapannya.
“Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan, Nak. Coba kau perhatikan lagi.” Ujar Leo.
Ia mendongak, sebelum kemudian senyumnya merekah. Peluru itu tertancap pada batang pohon di dekat harimau itu beristirahat.
“Ku sisakan ini untukmu, namun jangan menggangguku lagi.” Leo melangkah menjauhi anak itu.
“Tunggu!”
Leo menghentikan langkahnya, “Ada apa lagi sekarang?”
“Kenapa.. kau melakukan ini?”

Leo menengadahkan kepalanya, mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, “Aku tak punya tujuan maupun alasan apapun…”
“Kalau demikian kenapa kau harus berburu? Mengambil nyawa setiap makhluk tanpa ampun? Apa yang kau harapkan dari ini semua?”
Tiap-tiap pertanyaan dicobanya untuk diresapi dalam pikirannya, namun ia tak bisa. Ada sesuatu yang mengganjal dari dalam hatinya, namun tak tahu apa.
“Sudah terlambat untuk menanyakan itu semua, Nak.” Kata Leo, seraya pergi meninggalkan anak itu termangu sendiri.

“Ah! Kau sudah pulang.” Sambut Beit. Leo nampak diam, tak merespon sambutan Beit. Ia hanya beranjak pergi menuju padang rumput yang memang dekat dengan rumah mereka.
“Hei, Leo! Tunggu! Leo!” Beit mencoba memanggil Leo, namun tidak dihiraukan sedikit pun olehnya.
“Ada apa dengannya?” gumam Beit heran, sebelum ia melihat ke dalam jeep Leo, yang berisi lima ekor harimau, dan sebuah senapan bius yang tak lain adalah milik Leo.

Langit malam hari ini sedikit terkuak. Cahaya berbentuk sabit dari sang rembulan menemaninya, walaupun Leo tak tahu, mengapa rembulan itu berubah pikiran dan ingin menunjukkan sedikit keindahan padanya. Namun Leo tidak berpikir lebih jauh. Ia masih memikirkan kata-kata anak itu. Kata-kata yang mulai meluruhkan niatnya untuk benar-benar ‘mengabdi’ pada dunia perburuan. Apa yang aku harapkan dari berburu? Leo bertanya dalam kebimbangan hatinya.
“Hei, Leo!” terdengar sebuah suara yang tak asing di telinganya.
“Beit, mengapa kau ke mari? Tak kau temani saja Wist di rumah?”
“Ayolah, Leo. Dia bukan anak kecil yang minta ditemani terus-menerus.” Canda Beit.
“Lagi pula, Leo.. apa yang sebenarnya terjadi padamu baru saja?”
Leo nampak bingung, “Maksudmu?”
“Ayolah, kau tak perlu sembunyikan apapun.” Ujar Beit seraya mengangkat senapan milik Leo. “Tadi pagi kau isi penuh senapanmu. Delapan peluru, sekarang hanya ada dua peluru. Padahal kau hanya berburu lima harimau, ke mana peluru satunya?”
Leo menghembuskan Napas panjang seraya memegan dahinya, “Tak bisakah kau tak perlu sedemikian teliti? Dan memang kenapa kalau satu peluru hilang dari senapanku?”
“Kau bukan tipe orang yang meleset dalam menembak.” Kata Beit. Leo mengerti maksudnya mengatakan demikian. Leo bisu, memberikan sinyal pada Beit bahwa ia tak ingin berbagi informasi apapun.
“Yah, terserah kau sajalah. Semua orang punya rahasia mereka sendiri.” ujar Beit seraya melangkah pergi.
“Tunggu.”

Suara itu membuat Beit urung niat untuk menggerakkan kakinya lebih jauh lagi. Beit kembali membalikkan badannya menatap Leo.
“Beit, apa tujuanmu berburu?”
“Hah?” Pertanyaan itu kontan membuat Beit bingung. Ia tak menyangka akan mendapat pertanyaan ini dari Leo.
“Beit?”
“Untuk uang, apalagi? Kau tahu aku lebih dari Wist, Leo. Kau lihat setiap waktu aku selalu membeli barang macam ornamen-ornamen mahal. Aku membutuhkan uang untuk itu, kan?”
“Kau puas dengan itu?” Leo kembali bertanya.
“Entahlah, mungkin tidak. Karena itu aku masih menjalankan profesiku sebagai pemburu.”
“Begitu..” gumam Leo pelan. Bahkan Beit masih punya tujuan, walaupun mungkin hanya sebuah tujuan yang konyol. Sedangkan aku?
“Kau sendiri? Untuk suatu keperluan? Atau kau punya hasrat berburu yang harus dipenuhi?”
Hasrat berburu? Mungkin, mungkin saja. Mudahnya karena aku sendiri tak memiliki tujuan apapun. Batin Leo, kemudian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban pada Beit.
“Beit.. bisakah kau beri aku waktu sendiri?”
“Sesuai keinginanmu.” Ujar Beit, kemudian melangkah kembali menuju rumah mereka.
Benarkah aku hanya tergerak oleh hasrat? Hanya untuk menjadi pemburu yang haus darah? Dalam kesunyian malam, Leo memikirkannya tanpa henti.

“Perintah khusus?”
“Ya.” Ujar Wist seraya menyiapkan peralatan berburunya, “Alih-alih membeli kulit atau bagian hewan lainnya, kita hanya diberikan tugas untuk membunuhnya saja.”
“Mengapa demikian?” Leo masih tak mengerti.
“Entahlah. Makanya hari ini kita cari informasinya.”
“Dari siapa kau mendapat perintah ini?”
“Pemilik hutan tempat kita biasa berburu.”
Leo tak bertanya lagi. Ia menenteng senapannya dan membawa beberapa peluru tambahan. Segera ia menuju jeep dan bersiap untuk pergi dengan Beit dan Wist.
Aku harus mengotori tanganku. Di tempat yang sama. Lagi. Batin Leo dalam hati.

“Pemandangan yang memuakkan.”
“Memuakkan bagaimana, Beit?” tanya Wist.
“Lihatlah, pepohonan di hutan ini tak berdaun sama sekali.”
“Mungkin mereka menggugurkan daunnya? Aku tahu beberapa pohon sengaja melakukannya.”
“Kesalahanku bertanya padamu.” ujar Beit sambil memegang dahi. “Mereka menggugurkan daun untuk mencegah terlalu banyak penguapan saat panas! Sedangkan akhir-akhir ini sinar matahari selalu tertutup awan. Untuk apa mereka menggugurkan daun-daun itu?”
“Ya, ya, terserah kau saja, Tuan-pemburu-yang-tahu-segalanya.”
Beit menggeleng-gelengkan kepala. Leo yang duduk di kursi pengemudi tak ikut menanggapi. Pikirannya sudah terpakai untuk konsentrasi mengemudi, dan juga kebimbangan yang tak usai mendera hatinya.

“Apa yang Anda maksud dengan ‘perintah khusus’?” tanya Beit memulai percakapan.
“Baiklah. Singkat saja, aku hanya ingin kalian mencari penyebab apa yang terjadi di hutan ini, dan membunuh semua penyebabnya tanpa sisa.”
Ketiga pemburu itu nampak bingung, “Apa maksud Anda?” tanya Wist mewakili.
“Daun-daun di pepohonan ini hilang tanpa sebab yang jelas. Hutan yang tak berdaun tak akan menghasilkan udara segar macam apapun. Apa yang aku tahu mereka tidak sedang menggugurkan daunnya.”
“Lalu?”
“Maka salah satu dari mereka yang menghuni hutan itu, pasti menyebabkan semua ini. Aku ingin kalian memburu mereka semua tanpa kecuali!”
Mereka mengangguk, dan tanpa membuang waktu, mereka segera pergi ke hutan yang dimaksud.

“Baiklah. Aku tak ingin kita membuang waktu. Begitu kalian memiliki jawaban akan siapa dari mereka yang bertanggung jawab, tembaklah salah satu dari mereka!”
“Dimengerti.” balas Leo dan Wist.
Mereka memulai aksinya. Menunggu buruan masing-masing di balik semak-semak. Wist telah mengacungkan senapannya pada salah satu hewan yang nampak. Ditekannya pelatuk itu tanpa ragu.

DORR!! Peluru menancap pada sosok hewan bertanduk itu, sebelum kemudian ia ambruk.
“Mengapa kau memilih untuk memburu rusa?”
“Bukankah sudah jelas? Tidak hanya rusa, hewan-hewan pemakan tumbuhan lain bertanggung jawab atas hilangnya daun-daunan dan sedikitnya rerumputan di hutan ini! Mereka memakan itu semua!”
“Dimengerti. Biarkan kami berdua mencari jawaban lain sebelum kita memutuskan.” Ujar Beit. Tak sampai semenit sebelum Beit menemukan apa yang ia pikir menjadi jawabannya.

DORR!! Sebuah peluru kembali terlontar.
“Mengapa kau memilih harimau yang bertanggung jawab? Mereka pemakan daging, kan?” tanya Wist.
“Dia dan pemakan daging lainnya tidak melakukan tugas mereka. Mereka dimaksudkan untuk mengendalikan jumlah hewan pemakan tumbuhan lainnya, namun mereka gagal.”
“Apa maksudmu dengan gagal?”
“Hutan ini tak akan tandus bila jumlah pemakan tumbuhan itu terkendali.” jawab Beit.
“Baiklah, aku mengerti. Leo, hanya kau yang belum–”

DORR!!
“Ukh!” Sebuah peluru menancap di lengan Wist. Peluru berujung runcing dengan bius yang dosisnya mampu merenggut nyawa seekor gajah sekalipun.
“Leo.. kau.. kenapa?”
BRUK! Wist ambruk. Ia terkulai lemas tak bernyawa. Beit shock dan nampak ketakutan. Ia benar-benar tak menduga Leo akan berbuat sejauh ini.
“Semuanya telah menjadi jelas bagiku. Tak ada penyebab lain yang lebih pasti selain karena pekerjaan kita sebagai pemburu.”
“A.. apa maksudmu?” Beit tergagap, namun mencoba untuk menenangkan diri.

“Kau mengatakan, para pemakan daging itu lalai dalam bertugas.” Leo memulai pembicaraannya. “Kenyataannya, mereka tak pernah melalaikan tugasnya. Mereka hanya tak sanggup, karena mereka tak punya jumlah ‘pasukan’ yang cukup untuk itu.”
“Ma.. maksudmu..”
“Ya! Kita yang bertanggung jawab atas kurangnya ‘pasukan’ mereka. Merenggut nyawa mereka tanpa henti, tanpa sedikit pun kita berpikir akan apa yang mungkin terjadi!”
Napas Beit tersengal. Ketakutannya memuncak. Senapannya terlepas dari tangannya yang berkeringat dingin. Ia tahu Leo persis, yang akan memprioritaskan tugasnya lebih dari apapun. Dan semua yang ia katakan, tidak bisa ia bantah. Ini hanya berarti satu hal: ia akan mati.
“L.. Leo..”
Leo menggelengkan kepalanya, “Tak bisa, Beit. Ini adalah perintah.”

DORR!!

Beit tak mampu menghindar dari tembakan Leo. Peluru tertancap tepat pada dadanya. Tak lama jantungnya berhenti berdetak, ia tak lagi hidup.
“Lihatlah.. bahkan aku tak segan mengakhiri hidup sahabatku sendiri…” Ujar Leo lirih.
“Grrr..” terdengar suara geraman di telinga Leo. Ia melihat sekeliling. Harimau-harimau lain telah berkumpul dan mengepung mereka bertiga. Entah mereka mencium bau daging teman Leo yang mulai tercium, atau karena ada anggota kawanan mereka ditembak mati. Apapun itu, Leo tak peduli. Ia meletakkan senapannya, sama sekali tidak berusaha untuk membela diri sendiri. Dalam benaknya palu pengadilan telah dipukul, dengan hukuman mati sebagai hukuman yang seharusnya ia terima.

“Kemarilah! Akhiri hidupku sekarang!!”
“GRRAAA!!” Harimau-harimau itu melompat ke arah Leo dan kawan-kawannya. Leo membiarkan begitu saja daging tubuhnya tercabik-cabik.
“Bahkan hingga kini, aku tak tahu untuk apa aku berburu. Namun apapun itu, aku tak peduli. Kenyataan tak pernah berubah. Pada akhirnya aku tetap harus bertanggung jawab untuk setiap nyawa yang telah ku renggut,” batin Leo
Nyawa Leo telah tercabut dari tubuhnya. Tiga orang itu telah terbujur kaku tak bernyawa. Mereka, para pemburu, telah menjadi yang diburu.

Cerpen Karangan: Ari Riscahyo Nugroho

Cerpen Kisah Tiga Pemburu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Roti Untuk Peri

Oleh:
Musim dingin tiba di Seal Cottage, sebuah desa kecil yang dikelilingi bukit-bukit tinggi menjulang. Butiran-butiran salju turun perlahan di tengah udara yang dingin. Danau kecil yang membeku terlihat berkilauan

Live a Life (Part 1)

Oleh:
Aku menatap bentangan pemandangan kota yang luas dari atap gedung tinggi ini, lalu menatap ke bawah. Tinggi sekali, sekitar 126 meter dari atas tanah. Angin malam berhembus kencang. Segalanya

Dunia Lain

Oleh:
Saat itu, disaat mataku terbuka, aku merasakan sesuatu yang janggal di rumahku. Saat diriku bangun dari ranjang tidurku terdengar jeritan-jeritan yang menakutkan bersamaan dengan suara raungan serigala, seketika aku

Sang Dewa Kematian dan si Pengembara

Oleh:
Dulu disebuah desa terpencil konon ceritanya terdapat mahkluk yang mengerikan, ia dikenal warga sebagai Sang Dewa Kematian karena barang siapapun yang berhadapan langsung dengan dirinya orang tersebut akan mati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kisah Tiga Pemburu”

  1. Suka dengan alur cerita dan pesan yang disampaikan. Lanjutkaann!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *