Knight of Blade Red Fire

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 11 November 2015

Malam hari, telah tiba saatnya, bagiku untuk menghadap buku-buku pelajaran yang akan ku pelajari dalam ulangan harian besok pagi di sekolah, ku tarik kursi yang berada di hadapanku, dan aku mulai duduk di kursi tersebut, sambil memajukan kursi ke hadapan meja, yang di atasnya telah siap dengan setumpuk buku di atasnya. Ku buka buku yang hampir tebal itu, sebuah buku pelajaran yang mungkin tak pernah aku sukai, dan sering aku hindari, membukanya saja tak pernah apalagi membaca satu kata di dalamnya, tak pernah ada terlintas di dalam otakku.

Sebuah pelajaran bagi anak-anak pandai mengasyikan, dan bagi anak-anak yang kurang pandai itu adalah menakutkan, bagaikan menonton film horor yang selalu terbayang setiap mendengarnya. Matematika, sebuah pelajaran yang sukar dipahami, tapi harus dikuasai, mendengarkannya saja sudah membuat jantungku berhenti sejenak, tapi apa boleh buatlah, ini yang akan ku hadapi besok pagi, karena aku tak mau gagal lagi dalam ulangan ini, aku tak mau mengalaminya terus menerus, mempelajari matematika bagaikan buah simalakama, kalau tidak dimakan Bapak mati, kalau dimakan Ibu mati, ya mungkin seperti itulah buatku.

Satu halaman telah aku pelajari, dan terus menerus halaman telah aku pelajari, tetapi otakku tetap bersikeras menolaknya, entah kenapa aku pun tak tahu.
“Haduuh kenapa tidak ngerti-ngerti sih. Huuuft membosankan.” Gumamku dengan gusar, sambil menggaruk-garukkan kepalaku, yang telah pusing dibuatnya. Tanganku sibuk memutarkan pulpen dengan lincahnya, sembari aku berpikir dengan keras.
“Hmm.. jadi pengen memakan sesuatu nih. Apa yaa?” Ujarku sambil berpikir. Ku lihat jam dinding kamarku, baru menunjukan pukul 19.05 pm, “Menurutku ini belum malam-malam amat.” ucapku dalam hati.

Aku pun berniat untuk ke luar rumah sebentar, ke toko untuk membeli snack yang ku sukai, kebetulan di malam yang mengesalkan ini, karena matematika, aku merasa ingin mengemil snack yang ku suka, dan perutku juga terasa sangat lapar. Aku langsung bergegas menuju ke toko, yang tak jauh dari rumahku yang hanya berjarak 5 meter saja dari rumahku. Setelah membeli snack yang ku sukai, aku langsung pulang menuju ke rumah, di perjalanan aku pun membuka snack yang ku sukai dan memakanya. Langkah ku pun terhenti, oleh sosok seseorang yang mencurigakan gelagatnya, wajahnya tak terlihat, memakai jubah hitam di sekujur tubuhnya.

Ia, hanya berdiri di tiang lampu jalan, sambil menutup wajahnya dengan kerudung jubah hitamnya.
“Hee. Siapa ya orang itu, gelagatnya mencurigakan sekali.” Pikirku sambil memakan snackku dengan lahapnya. Karena penasaranku yang menggelora, aku pun menghampirinya, di dalam batinku, tak ada terlintas takut menghampiri orang itu.

Setelah mendekatinya, ku tepuk pundaknya dengan perlahan. “Ehmm. Permisi anda siapa ya? dari tadi saya melihat anda berdiri di tiang lampu jalan ini.” Kataku sambil tersenyum kepadanya, aku tak bisa melihat wajahnya, karena memakai kerudung jubahnya itu, dan ia juga membelakangiku, ia hanya diam sambil mentup wajahnya.
“Hey. Anu.. pak atau om.. anda ini siapa sih?” Tanyaku lagi dengan penasaran.

Dan, setelah ku tanya kedua kali sosok itu pun menoleh ke arahku, dengan matanya yang melotot dan bewarna merah, aku tertegun dan hanya terdiam melihatnya, sambil menelan ludahku dengan takutnya, perasaanku berubah menjadi tidak enak, aku merasa bersalah menanyakan hal itu kepadanya.
“Apakah dia setan, hantu, jin atau apalah, haduuuh.. gimana nih? Tuhan lindungi aku.” kataku dalam hati sambil memejamkan mataku. Sosok itu mulai menepuk bahuku, aku sempat berteriak padanya.

“Aaaaa. Ampuuun. Mbah, jin, setan ampun, jangan bunuh saya!!!” Teriakku sambil menangis ketakutan.
“Siapa namamu?” Tanya sosok itu, dengan mengeluarkan suara yang menggema, sampai-sampai bulu kudukku pun merinding dengan ketakutan.
“Na..na..namaku.. Heigi.” Jawabku dengan ketakutan.
“Heigi yaaa.” Ujarnya lagi.
“I.i.ya.. Kamu ini siapa ya, tolong lepaskan saya.” kataku dengan agak ketakutan. Ia terus memegang bahuku dengan kencangnya, keringatku pun ke luar, dan tubuhku seperti menghadapi sebuah ketakutan yang luar biasa.

Tiba-tiba ia pun membuka jubah hitamnya, dan kini terlihatlah wajah dari sesosok yang dari tadi membuatku penasaran, wajah yang agak sedikit muda layaknya seperti remaja, sama sepertiku yang membuat matanya merah melotot tadi adalah kacamata merah yang ia kenakan, tak pernah aku lihat kacamata merah yang begitu menakutkan seperti itu, walaupun aku sering menonton Film yang bertemakan fiksi belaka.

Dari penampilannya, sepertinya ia orang yang baik, tak ada aura yang menyeramkan dari raut wajahnya, itu terlihat dari pakaian yang ia kenakan, yang semuanya bewarna putih, layaknya seperti malaikat, dan di saku kemejanya, terlihat arloji bergelantung yang bewarna keemasan. “Siapa dia, mau apa dia, apa yang ia lakukan di sini?” Pikiranku mulai menunjukkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat kepalaku menjadi pusing, sekaligus penasaran.

“Maaf sebelumnya, Heigi, telah membuatmu takut.” Ujarnya sambil tersenyum kepadaku.
“Iya, tidak apa-apa. haha..” Jawabku sambil kembali tersenyum kecil padanya.
“Izinkan aku memperkenalkan diri, namaku Hazes Houga, Sang Pembimbing.”
“Hee nama yang aneh, apa kau bukan berasal dari sini?” Tanyaku.
“Memang aku bukan berasal dari tempat ini, aku berasal dari tempat yang sangat jauh yang bernama Heralgian..” Jelasnya padaku.

Aku masih setengah tidak bingung dengan apa yang ia jelaskan padaku, membuatku semakin tidak tahu siapa dia sebenarnya.
“Oh.. gitu, apa yang kau lakukan di tempat yang sepi ini?” Tanyaku lagi.
“Hmm aku sedang mencarimu, karena kau sangat spesial.” Ungkapnya padaku.
“Mencariku? apa kau akan membunuhku, atau menculikku?” Tanyaku lagi setengah berteriak.
“Justru sebaliknya, aku akan menyelamatkanmu dari Hanzen -Pelahap Jiwa.”

Setelah mendengar penjelasan dari pemuda yang bernama Hazes Houga itu, aku pun mengerti penjelasan yang ia sampaikan, bahwa ia dikirim oleh Raja Api Suci, untuk menyelamatkanku dari sekelompok Hanzen, yang telah mengintaiku dan mungin menyerangku saat ku lengah. Mendengar penjelasan dari Hazes Houga, sontak membuatku terkejut, sekaligus tak percaya apa yang ia katakan, dan membuat jantungku seolah berhenti sejenak dari degupnya lalu kembali berdegup. Tapi kecemasanku pun berubah menjadi, merasa aman bahwa Hazes akan memberikanku kekuatan yang akan membunuh Hanzen, dan ia bersiap menjadi partnerku dalam perjuangan ini. Sebuah kekuatan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

“Jangan Khawatir, aku akan memberikanmu kekuatan dan itulah satu-satunya jalan agar kau terbebas, dan melindungimu dari Hanzen.” Ungkapnya padaku.
“Kekuatan yaaa..” ujarku singkat.
“Aku adalah Sang Pembimbing sudah sepantasnya bila aku akan melindungi orang yang, telah diperintahkan Raja Api Suci kepadaku.”
“hmm gimana ya haduuuh pusing. Arghh.” Kataku sambil menggaruk-garuk kepalaku lagi. Bahayaku semakin banyak, aku harus berhadapan dengan Hanzen, bagimana mungkin, menghadapi matematika saja aku, kewalahan apalagi ini.

“Baiklah aku akan menjalankannya, ini demi nyawaku sendiri, dan demi orang-orang yang ku sayangi.” ujarku dengan semangat.
“Baiklah Master jadikan aku benda yang kau sukai, dan aku akan memberikanmu kekuatan saat kau memanggilku.”
“Baiklah berubahlah menjadi jam tangan agar kau bisa mengikutiku, kapanpun” ujarku kepadanya.

Dan sebuah kekuatan telah memasuki diriku, sebelum Hazes menjadi jam tangan, ia pun memberikan sebuah api merah ke tubuhku, membuatku semakin kuat dan semangat. Hazes pun berubah menjadi jam tangan rantai, jadi aku selalu bersamanya. Sekarang aku bukan Heigi yang lemah lagi, dan sering ditertawakan, sekarang aku adalah Kesatria Pedang Merah Api.

Cerpen Karangan: Anggi. O.C

Cerpen Knight of Blade Red Fire merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Beda Dunia

Oleh:
“rese banget sih jalangkung.. gile bener gue ditinggal. Malah gue lupa bawa dompet lagi.. argh.. sial!” gontok bayu sembari menendang kaleng yang ada didepannya. “adohhh!” itu suara seorang gadis

Juicy and Friends

Oleh:
“Juicy!” panggil Twisty, sahabat Juicy. “Ada apa Twisty?” tanya Juicy. “Temani aku dong, aku sendirian di rumah. Please!” pinta Twisty. “Ok, nanti aku ke rumahmu. Dahh..” pamit Juicy. “Dahh…,”

My Age To Seventeen Years (Part 2)

Oleh:
Mereka berlari ke dalam pelukanku. Pikiranku semakin kacau membayangkan akan seperti apa nasib mereka nanti. Selama ini mereka tak pernah bisa jauh-jauh dariku, apa yang bisa mereka lakukan tanpa

Sherlin in Dream

Oleh:
Tatapannya begitu tajam seolah tak pernah melihat manusia, aku berusaha berteriak, namun, tangan lembutnya menutup mulutku. Aku ingin menangis tapi tak bisa, wajahku meneteskan keringat, aku mulai takut, dimana

The Three Thieves

Oleh:
Di sebuah kota bernama BusyCity, hiduplah 3 pencuri ulung yang diberi julukan the three thieves (bukan the three musketeers). Aneh, 95 persen dari para pencuri di sini masih tergolong

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *