Kokkuri San Behind Truth Or Dare (Kisah Cinta dibalik Jelangkungnya orang Jepang)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 11 April 2015

Nagata mengambil secarik kertas berwarna putih lalu menggambar sebuah Torii (Gerbang kuil) tepat di bagian tengah atas dari kertas tersebut dengan menggunakan pena merah. Kemudian menuliskan “Truth” dan “Dare” di sisi kanan dan kiri Torii. Lalu di bawahnya ia menuliskan dengan semua huruf alphabet dari A sampai Z secara berurutan dengan susunan horizontal. Kemudian dilanjutkan dengan menulis secara berurutan angka 0 sampai 9 dengan susunan horizontal.

Sementara Nagata sibuk dengan ritual aneh itu, Naomi membuka semua jendela yang ada pada ruangan pengap ini. “Kenapa dibuka?”, tanyaku merasa heran. “Nanti juga kau akan mengetahuinya.” Jawab Naomi dengan suara yang terbilang sangat pelan. “Yaa.. terserah kalian saja”, tukasku dengan pasrah. Tomoya menempatkan sebuah koin tepat di tengah gambar gerbang Torri, semua meletakkan jari telunjuknya di atas koin tersebut, tanpa ba bi bu lagi aku mengikuti apa yang mereka lakukan.

“Arrgghh.. untuk apa semua ini? Kapan kita mulai melakukan Truth or Dare nya?” tanyaku yang sudah mulai merasa bosan. “Ssssttt.. bisa tidak kau diam sebentar?” tegas Rui memarahiku. Aku menyadari sesuatu, ini seperti. Ah, apa kita sedang memainkan jelangkung versi orang Jepang? Setelah menyadari keanehan yang terjadi, aku melepas jari telunjukku pada koin yang sudah mulai bergerak dengan sendirinya itu. “Kita tidak bisa melanjutkan ini! Aku harus pergi!”. Secepat mungkin aku berlari menelusuri lorong kampus yang sudah mulai gelap tanpa mempedulikan yang lain meneriakkan namaku dan menyuruhku untuk kembali. Tiba-tiba kurasakan tubuhku menubruk sesuatu yang kuat dan besar. “Yuki chan. Apa kau tidak apa-apa?” sebuah suara memanggil namaku. “Si.. siapa kau?” Orang itu mulai menjulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.
“Tidak! Jangan mendekat!”, aku menangkis uluran tangannya.
“Kau bukan orang Jepang kan?” tanya orang itu. “Darimana kau tahu? Kau menguntitku?” jawabku heran. “Kau bukan orang Jepang tapi sudah bermain-main dengan kokkuri san?”
“Kok.. kokuri.. aaahh apa maksudmu?”.
“Permainan yang kau mainkan tadi bukan permainan sembarangan. Kalau kau tidak menyelesaikan permainan itu kau akan mati!”
“Apa?!! Aku baru bertemu denganmu beberapa detik yang lalu dan kau mengatakan aku akan mati gara-gara permainan konyol itu? Di negaraku permainan itu disebut Truth or Dare. Ya walaupun memang aku tidak pernah tahu kalau di Jepang harus menggunakan ritual khusus untuk memainkannya. Tapi, aku rasa tidak ada sejarahnya orang akan mati hanya dengan memainkan Truth or Dare!”, ucapku yang mulai geram.
“Ya, memang Truth or Dare. Tapi apa kau tahu siapa yang akan mengajukan Truth or Dare itu? Kokkuri San. Arwah yang kalian panggil tadi!”.
“Arwah apa? Kami hanya melakukan Truth or Dare. Kau hanya mengarang saja kan? K.. Kau.. Siapa kau sebenarnya?”.
“Aku datang dari masa lalu. Untuk menyelamatkanmu.”
Tiba-tiba aku merasa waktu berhenti. Hening yang berkepanjangan tak sanggup mengembalikanku ke alam sadar.
“Masa lalu? Seperti mesin waktu Doraemon maksudmu? Hahaha.. Kau tidak usah berusaha menghiburku. Leluconmu sangat tidak lucu.”, kataku setelah berusaha keras merefresh otakku.
“Ah. Sudahlah. Sekarang, lebih baik kita pulang dan kita pikirkan apa yang harus kita lakukan selanjutnya.”
“Kita katamu?!!”
Aku hari ini hampir gila. Keluar dari sarang singa, masuk ke lubang buaya. Menghindar dari permainan jelangkung, bertemu dengan orang aneh yang mengatakan dirinya dari masa lalu? Ah aku pasti sudah gila. Aku terus berlari menuju ke rumahku yang tidak jauh dari kampusku. Aku tidak memedulikan orang aneh tadi mengikutiku. Dan pada akhirnya, aku sangat jengah dengan keberadaannya. “Untuk apa kau mengikutiku?!”, Aku marah sambil menodongkan payung yang ada di gengamanku. “Wow! Aku tidak mengikutimu. Aku memang ke arah sini.”, jawabnya dengan santai.
“Aku pasti sudah tidak waras. Tentu saja. Untuk apa aku mengira kau mengikutiku.” Aku melanjutkan jalanku, orang itu berjalan di belakangku. Aku merasa terintimidasi, aku bersusah payah mempercepat kakiku, sedangkan dia hanya perlu beberapa langkah untuk menyamai langkahku dengan kedua kakinya yang panjang itu. Hening yang ada segera dibuyarkan oleh ucapannya, “Kau menyadarinya kan? Kau menyadari ada yang aneh dengan permainan itu makannya kau memilih berhenti bermain dan berlari seperti keledai yang ketakutan.”
“Aku tidak seperti keledai yang ketakutan! Lagi pula. Apa yang kau maksud dengan ‘kau menyadarinya?’ “.
“Ah. Kita sudah sampai. Bisa tidak kita sudahi saja hari ini dan beristirahat dengan tenang di atas kasur yang nyaman. Mencari seorang gadis di lorong kampus yang gelap sangat tidak menyenangkan.”
“Untuk apa kau mencariku?”. Tidak sempat mendapat jawaban dari kebingunganku atas ucapannya, pintu rumahku terbuka dan menyembullah wajah ibuku dari balik pintu.
“Yuki.. Nakamura san. Aaahh bagus sekali kalian pulang bersama.”
“Apa maksud ibu? Nakamura san? Siapa? Orang ini? Ibu mengenalnya?”
“Tentu saja Yuki. Dia akan tinggal bersama kita untuk beberapa waktu.”
“Apa?! Tinggal bersama kita? Siapa orang ini sampai harus tinggal bersama kita?” kataku merasa keberatan. “Kau tidak memberiku kesempatan untuk memperkenalkan diri. Perkenalkan, Namaku Kei Nakamura. Aku datang dari Indonesia ke Jepang untuk melanjutkan studiku. Saat aku mencari tempat tinggal, aku bertemu ayahmu dan beliau menyuruhku untuk tinggal disini.”
“Dari Indonesia? Tapi tadi kau bilang. Ah tentu saja kau berbohong.” Ucapku saat mengingat tentang ‘aku dari masa lalu’ yang tadi diucapkannya di kampus. “Jadi, berapa uang sewa yang ibu terima dari orang ini?”
“Uang sewa? Tentu saja gratis Yuki.. dia dari Indonesia. Itu artinya, dia saudara kita.”
“Saudara apa? Apa semua orang Indonesia yang datang kesini boleh tinggal gratis disini? Tidak bisa. Kalau ibu tidak memungut uang sewa. Biar aku yang akan meminta padanya.”
“Ahh Nakamura san. Tidak usah kau pikirkan ucapan Yuki tadi. Sebaiknya kau mandi dan segera ke ruang makan. Kita akan makan enak malam ini. Kau juga Yuki. Cepat ganti bajumu.” Kata ibuku dengan senyum yang sangat ramah kepada orang asing itu.
Aku tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan ayah dan ibuku. Menerima orang asing untuk tinggal bersama tanpa memungut biaya. Sudah pasti dia hanya akan merepotkan saja. Aku bergegas ke kamarku dan memeriksa ponselku. Ada 20 panggilan tak terjawab dari Eri. Eri adalah sahabatku satu-satunya di kampus yang tahu banyak tentang rahasiaku. Termasuk rahasia tentang aku menyukai ketua klub Manga. Nagata.

Aku menelpon Eri dan meminta maaf karena telah meninggalkan mereka tadi. “Ya sudahlah, tapi yang pasti, kita harus melanjutkan permainan itu. Kau tahu, dampak dari perbuatanmu tadi? Kita harus mempertaruhkan nyawa kita.” jelas Eri dengan suara yang sedikit gemetar. “Eri.. apa kau masih mempercayai mitos konyol seperti itu di jaman modern ini?”
“Entahlah, tapi firasatku mengatakan, kita harus melakukannya. Kau mempercayaiku bukan?” ucapnya berusaha meyakinkan. “Yaaa baiklah. Kita lanjutkan besok.” Sejujurnya, aku tidak ingin esok hari tiba. Aku sudah cukup menderita hari ini, aku harap besok tidak ada hal yang menambah buruk keadaan.

“Yu chan. Apa kau sudah bangun?”, Yu chan? Ah orang aneh itu lagi. “Sedang apa kau di kamarku?” tanyaku yang lebih mirip sebuah protes. “Ibu menyuruhku pergi bersamamu ke kampus.”, Sejak kapan orang ini memanggil ibuku dengan sebutan ‘ibu’ dalam bahasa Indonesia?.
“Pergi bersamaku? Apa maksudmu?”. Tiba-tiba orang yang dipanggil Nakamura san oleh ibuku itu mendekatkan wajahnya ke arahku. Sangat dekat. Sampai aku tersadar telah menahan napas cukup lama, “A… Apa yang akan kau lakukan?” kataku merasa gugup. “Aku sudah mengatakannya padamu kan. Aku berasal dari masa lalu. Aku akan mengikutimu kemanapun. Termasuk ke kampusmu.”

Di kampus..
“Yuki chan!!”, seseorang yang sangat kukenal memanggil namaku. “A.. ada apa Nagata san? Aku.. maaf.. soal kemarin.. aku hanya..”
“Ya aku tahu. Seharusnya aku menjelaskan permainan ini sejak awal agar kau tidak salah mengerti seperti kemarin. Eri sudah menelponmu kan?”
“Ya. Sudah”, jawabku dengan sedikit malas.
“Kalau begitu, kau pasti tahu apa yang akan kita lakukan hari ini.”.
“Ya, aku mengerti. Tapi, apa boleh aku membawa temanku yang satu ini?”. Nagata san melihat ke arah orang yang berada di sampingku sambil mengerutkan keningnya, tanpa menanyakan hal apapun ia menjawab, “Ya, baiklah. Kita ketemu nanti pada jam 2 siang. Di ruang klub.”

Jam 2 siang…
Semua sudah berkumpul membentuk lingkaran. 3 orang anggota, Rui, Eri dan Tomoya. 1 ketua, Nagata. 1 orang wakil, Naomi. Aku. Dan orang baru yang tidak begitu kukenal yang memaksa untuk menjadi anggota klub dan ikut bermain, Kei. Dia menyuruhku memanggilnya dengan sebutan itu, “Tolong jangan memanggil margaku. Panggil aku Kei”, katanya sewaktu berbincang sok akrab dengan keluargaku saat makan malam.

“Sekarang, aku akan menjelaskan peraturannya.” Nagata membuka pembicaraan, semua memperhatikan dengan seksama kecuali, “Kei! Apa yang kau lakukan?”, kataku sambil berbisik kepada orang yang tepat berada di sebelahku -yang matanya sedang meneliti ke seluruh penjuru ruangan. “Aku hanya tidak mengira, untuk apa kau ikut klub konyol seperti ini.” Ucapnya yang juga sambil berbisik. Aku merasa tersinggung disebut konyol, “Lalu, apa yang kau lakukan di club konyol ini?”, balasku dengan nada menyindir. “Yuki chan dan Nakamura san. Harap tenang.”, Nagata memperingatkan kami.
“Peraturannya. Kita akan menuliskan nama kita masing-masing dalam selembar kertas. Dan Naomi akan menuliskan angka dari 1 sampai 7. Setelah nama kita dikumpulkan, kita akan mengundi untuk menentukan siapa yang akan menentukan Truth or Dare kepada siapa. Untuk menentukan urutan siapa yang akan ditanyai terlebih dahulu, masing-masing dari kita akan mengambil kertas yang bertuliskan angka dari 1-7. Pertanyaan akan diajukan sesuai urutan dalam waktu 1 hari satu orang. Jadi, kita akan menyelesaikan permainan ini dalam waktu 1 minggu. Mengerti?” serempak kami semua membalas mengatakan ‘mengerti’.

Setelah diundi, hasilnya adalah: Tomoya akan ditanyai oleh Eri, Naomi dengan Kei, Rui dengan Yuki, Nagata dengan Tomoya, Kei dengan Nagata, Yuki dengan Naomi dan Eri dengan Rui.
“Baiklah, yang pertama adalah Tomoya. Dan kau memilih Dare. Aku akan menyuruhmu untuk membaca 2 lembar wacana Bahasa Inggris, dengan pengucapan yang tidak boleh salah satu kata pun.”, jelas Eri sambil terkikik menahan tawa. “Hei hei!! Apa apaan ini. kau sangat tahu aku paling payah dalam pelajaran Bahasa Inggris.” Jawab Tomoya dengan protesnya. “Aku bisa membantumu. Tenang saja..”, jawab Kei.

Selama kami menunggu Tomoya menghafal pengucapan bahasa Inggrisnya, Kei menghampiriku dengan wajahnya yang baru kusadari cukup tampan. Aku berusaha menoleh ke arah lain agar tidak terlihat sedang memandangnya. Tapi pandanganku jatuh ke arah Nagata. Nagata sedang berbincang dengan Naomi. Mereka terlihat sangat akrab. Nagata memang tampan, tapi masih kalah tampan dengan Kei, menurutku. Hei, apa yang kupikirkan. Tampan? Yang benar saja. Apa aku bodoh. “Hei bodoh, kau sedang memikirkan apa?” suara Kei membuyarkan lamunanku. Apa dia bisa membaca pikiranku? “Siapa yang bodoh! Enak saja.” Jawabku kesal.
“Mereka. Ada yang aneh dengan mereka. Mereka tahu permainan ini mempertaruhkan nyawa mereka. Tapi kenapa mereka membuat tantangan yang begitu sulit? Seharusnya mereka membuat tantangan yang mudah dilakukan saja agar mereka selamat.”
“Hanya ada satu alasan. Mereka tidak mengetahui rahasia permainan ini.”
“Huh.. sepertinya tugasku semakin berat.”, keluh Kei.
“Tugasmu semakin berat apa maksudnya?”, tanyaku heran.
“Yaa.. kupikir aku tidak hanya harus menjagamu. Tapi aku juga harus menyelamatkan mereka.”
“Jadi itu alasan kau sangat berusaha mengajari Tomoya mengucapkan 2 lembar kosa kata bahasa Inggris itu?”
“Yaa.. kalau dia tidak melakukannya dengan baik. Dia akan celaka.”
“Kau pikir aku percaya kau berasal dari masa lalu?”
“Kau masih tidak mempercayainya? Sudahlah. Cepat atau lambat kau akan percaya padaku.”

Tomoya selesai dengan ‘pelajaran bahasa Inggris nya’. Pada halaman terakhir, ia terbatuk dan tidak sengaja salah mengucapkan satu kata dalam halaman tersebut. Tapi, nyatanya. Tidak terjadi apapun padanya. Hal ini membuktikan, Kei hanya berbohong tentang Kokkuri san itu.
“Aneh. Kenapa tidak terjadi apapun?”, ucap Kei merasa heran.
Aku merasa senang, “Tentu saja. Sudah kubilang ini hanya permainan konyol. Mana mungkin kita harus..”
“Aaaaaaaaaaaaa!!!”, terdengar sebuah teriakan.
Semua berada dalam ruangan kecuali, “Eri!!!” aku berteriak terkejut menyadari hanya dia yang tidak ada di ruangan ini. Semua berlari mencari Eri ke seluruh ruangan, dan menemukannya tergeletak di dalam toilet dengan darah keluar dari kepalanya. “Ini pasti Kokkuri san!!! Kokkuri san yang melakukannya!!”, teriak Naomi histeris. Yang lain pun merasa panik. Nagata segera memanggil ambulan dan beruntung Eri masih dapat diselamatkan.

Kami semua masih di rumah sakit. Semua terlihat cemas. Kei menghampiriku, “Aku mengerti sekarang.”. “Ya, aku juga mengerti.”, kataku menginterupsi ucapan Kei. “Saat sebuah tantangan tidak berhasil dilakukan, yang akan menanggung akibatnya adalah..” “Yang memberikan tantangan.” Aku dan Kei menjawab serempak. “Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Ini baru tantangan pertama. Bagaimana kalau salah satu dari kita akan..”. Aku sudah tidak dapat menahan air mataku untuk keluar. Kei menyandarkanku ke bahunya. Cukup membuatku tenang. “Kita akan menyelesaikan ini. Aku janji.” Entah kenapa, aku mulai mempercayai orang ini. Berada di dekatnya sangat nyaman dan aku merasa, aman? Ya, mungkin aku akan aman bersamanya.

Keesokan harinya..
“Kita tetap harus melanjutkan ini. Eri berada pada urutan terakhir. Tidak apa-apa jika dia tidak bersama kita sampai giliran dia tiba.” Jelas Rui. Semua menyadari ada keanehan dalam permainan ini. Dan kita sepakat untuk melanjutkannya.
“Selanjutnya adalah giliranku. Aku memilih Truth.”, ucap Naomi tampak ragu.
“Kau. Sampai kapan kau akan menggunakan topeng setebal itu?”, jawab Kei mengajukan pertanyaannya kepada Naomi. Yang lain terlihat menahan tawa mengerti maksud dari pertanyaan yang diajukan Kei. Naomi memang sangat cantik dengan riasan yang dikenakannya. Tapi selama ini kita tidak pernah melihat Naomi tanpa make up. Aku rasa itu pertanyaan bagus.
“Apa maksudmu dengan topeng?!”, tanya Naomi merasa jengkel.
“Saat di rumah sakit. Aku melihatmu menghapus riasan di wajahmu. Dan kau tampak sangat cantik, menurutku. Aku hanya penasaran, kenapa kau terus memakai topeng setebal itu.” ucap Kei berusaha tidak membuat Naomi tersinggung.
Aku dapat melihat perubahan raut wajah Naomi yang mulai memerah karena ucapan Kei barusan. “A.. aku.. aku selalu merasa perlu memakai riasan wajah ini. Aku hanya menghapusnya ketika aku menangis. Bahkan saat tidur aku mengenakannya.” Jawab Naomi dengan percaya diri.

Truth dan Dare hari demi hari terlewati. Semua selamat. Sekarang giliran Kei. Kei memilih Dare. Tapi semua memaksanya untuk memilih Truth. “Baiklah baiklah.. apa yang ingin kalian ketahui dariku?”
“Kau orang asing yang tiba-tiba bergabung dengan kami secara suka rela. Selama ini kami sudah curiga kau bukan tanpa maksud bergabung dalam permainan ini. Siapa kau sebenarnya?” Tanya Nagata.
Aku memandang ke arah Kei, aku juga penasaran. Apakah Kei akan jujur dengan mengatakan bahwa dia dari masa lalu? Tentu saja dia harus mengatakannya. Kalau dia berbohong, Nagata san akan celaka.
“Aku berasal dari Indonesia. Aku datang ke Jepang untuk melanjutkan studiku. Aku ikut permainan ini karena hanya ingin membalas kebaikan keluarga Yuki yang mengijinkanku untuk tinggal bersama mereka selama aku di Jepang.”
“Kalian tinggal bersama???”, semua terkejut dengan pernyataan Kei. Dan selagi mereka sibuk menanyai ini itu tentang hubungan kami. Hanya Kei yang berusaha menjelaskan. Kalau Kei benar dari Indonesia, jadi dia membohongiku tentang ‘dia berasal dari masa lalu’?.
Aku terus menghubungi Nagata san untuk memastikannya baik-baik saja.
“Yuki chan. Ini telponmu yang ke lima pada hari ini. Dan yang kau bicarakan hanya ‘apa aku baik-baik saja’. Tentu saja aku baik-baik saja. Memangnya apa yang bisa membuatku tidak baik-baik saja?”
“Ah.. maaf Nagata san. Aku hanya tidak ingin satu temanku lagi menjadi korban.”

“Kalau kau benar dengan ucapanmu barusan. Kau membohongiku tentang masa lalu itu?” kataku siap meluapkan emosiku ketika kami sudah sampai di rumah.
“Aku tidak berbohong. Aku memang dari Indonesia. Dan aku memang berasal dari masa lalu.”, jawabnya dengan sangat lembut. Aku hanya mengerutkan kening merasa bingung.
“Kau pernah dengar reinkarnasi? Sekarang aku merasa sedang mengalami deja vu. Aku merasa pernah mengalami ini sebelumnya.”
“Aku sudah hampir tidak waras dengan Kokkuri san yang kita mainkan. Dan sekarang kau membahas tentang reinkarnasi? Deja vu? Ada kehidupan yang sama dengan kehidupan sekarang sebelum ini??!! Kau membuatku gila!”. Aku berlari ke kamarku untuk mendinginkan kepalaku yang mulai tak karuan. Reinkarnasi katanya? Hah. Benar-benar tidak masuk akal.

Hari ini giliranku. Dan yang akan menanyaiku adalah Naomi. Aku sudah tahu apa yang akan ditanyakannya. “Dare! Hari ini kau harus memilih Dare!” kata Kei memaksaku untuk memilih Dare. Dia tahu rahasia bahwa aku menyukai Nagata san. Aku tahu, dia melakukan itu karena tidak ingin melihatku malu setelah ini. “Aku pilih Truth.” Sekilas aku mendengar Kei mengatakan ‘shit!’ saat mendengar keputusanku memilih Truth. “Siapa.. orang yang kau suka?” tanya Naomi sesuai dengan perkiraan. Semua terdiam menunggu jawabannya. “Aku.. menyukai.. Kei.” Semua terkejut. Termasuk Naomi yang mengira aku menyukai Nagata san.
Kei menarikku ke arah lain di tengah kebingungan mereka. “Apa kau sudah gila? Untuk apa kau mengatakan kau menyukaiku? Sudah berapa kali kubilang, jika kau memilih Truth dan kau berbohong maka kau akan..”
“Siapa bilang aku berbohong?” kataku menginterupsi omelan Kei. “A.. apa katamu?” “Aku tidak berbohong. Aku memang menyukaimu.” Kataku dengan tegas. “Tapi, bukankah kau..”, ucap Kei merasa ragu. “Menyukai Nagata san? Awalnya memang seperti itu. Tapi semenjak kau datang dan terus melindungi kami. Aku rasa, aku mulai menyukaimu.” Hening. Kei memeluku. Aku sangat kaget dengan tindakannya. Sekaligus merasa senang. “Aku akan melindungimu. Bahkan jika harus mengorbankan nyawaku aku akan..” “Tidak. Kau tidak boleh mengatakan kalimat itu. Kita akan selamat. Kita pasti akan melewati semua ini”, kataku berusaha meyakinkan. “Baiklah”, jawabnya.

Hari terakhir, dan cuaca sangat tidak mendukung. Ramalan cuaca mengatakan hari ini akan berawan sepanjang hari. Aku merasa sangat tidak tenang. Firasatku sangat buruk.
Eri masih terbaring di rumah sakit. Semua tampak bingung. Legenda mengatakan, untuk mengusir arwah Kokkuri san, kertas yang digunakan dalam permainan itu harus dibakar di dalam sebuah kuil. Dan koin yang digunakan, harus segera dibelanjakan. “Aku yang akan menggantikan Eri. Aku yang menyebabkan semua permainan ini menjadi rumit. Aku yang akan masuk ke kuil itu.”. Semua setuju, kecuali … “Tidak! Apa gunanya aku disini kalau kau tetap ingin membahayakan dirimu sendiri?”, kata Kei merasa keberatan. “Kau sudah terlalu sering menyelamatkan kami Kei. Aku tidak ingin..” Kei berjalan cepat menuju kuil itu tanpa memedulikan omonganku, ia mulai membuka pintunya. Sebuah sinar tiba-tiba muncul dari balik pintu kuil itu. Sudah 15 menit Kei tidak keluar, aku bersiap untuk masuk ke dalamnya tapi ditahan oleh Naomi. Tanpa sebab kuil itu mengeluarkan bunyi ledakan. Kami berlari ke arah sumber suara. Kami tidak dapat menemukan Kei dimanapun di dalam kuil itu. Yang tersisa hanya abu yang kami ketahui bahwa Kei telah membakar kertas terkutuk itu. Aku menyadari suatu hal. Kei telah pergi. “Keiii!!!” aku menjerit histeris.

3 bulan sudah semenjak kehilangan Kei. Eri sudah sembuh dan dapat kembali kuliah. Semua anggota klub berusaha menutupi semua kejadian beberapa waktu lalu itu. Termasuk menutupi kejadian ada seorang pahlawan yang menyelamatkan nyawa kami semua. Aku terpaksa membohongi ibu dan ayah tentang kepergian Kei. Aku mengatakan, Kei harus segera kembali ke Indonesia untuk menjenguk seorang saudaranya yang sedang sekarat.

“Hei kau! Kau harus menolongku! Polisi gila itu terus mengejarku dan memanggilku dengan sebutan lain!”, tiba-tiba seseorang mencegat jalanku. Aku hampir tidak dapat mempercayai apa yang baru saja aku lihat. “K..Kei? K.. kau.. masih.. hidup?” tanyaku saat tersadar dari keterkejutanku. “Kei? Ah… ada berapa orang yang sangat mirip denganku? Polisi itu memanggilku Nakamura san. Sekarang Kei. Ada berapa orang yang mirip denganku? Ah. Siapapun kau, kau tidak boleh memberitahunya kalau aku disini.”, Orang yang berwajah ‘Kei’ itu bersembunyi di balik sebuah mobil yang ada di gang yang aku lalui. Aku masih setengah sadar saat seorang polisi menanyaiku, “Apa kau melihat laki-laki ke arah sini?”, tanya polisi itu. “Dia ke arah sana.” Jawabku secara spontan sambil menunjuk ke arah yang salah. Aku berbohong. “Terima kasih”, ucap laki-laki yang kusembunyikan tadi. Aku masih tidak percaya, Kei yang kukira tidak akan kutemui lagi ada disini. Di depanku. “Terima kasih banyak. Namaku bukan Kei atau Nakamura. Namaku Kaito. Aku dari..”
“Indonesia kan?” jawabku berusaha menebak. “Darimana kau tahu? Ah aku rasa, aku manusia hasil kloning, aku pernah mendengar bahwa manusia bisa digandakan dengan teknik kloning. Aku rasa..”. Aku hampir tidak memperhatikan kata-kata yang diucapannya, aku hanya tersenyum menahan gembira dengan kehadirannya. Kau memang penuh kejutan. Beberapa waktu lalu kau memperkenalkan dirimu berasal dari masa lalu, kau mengatakan tentang reinkarnasi, deja vu, dan hal-hal aneh lainnya. Dan sekarang kau sedang mengoceh bahwa kau berasal dari hasil kloning manusia. Dan kenapa kau dikejar-kejar polisi?. Kali ini aku tidak akan melepasmu lagi.
“Kau sedang mencari tempat tinggal kan? Bagaimana kalau di rumahku?”,
“Ah! Kau tahu lagi! Apa kau seorang peramal?”, tanya Kaito dengan tampang polosnya.
“Hahaha..” Aku tertawa mendengar tanggapannya.
“Kenapa kau tertawa? Apa ada hal yan lucu?”
Aku melanjutkan perjalanan pulangku. Dengan seseorang yang kutahu pernah dan akan menjadi orang yang penting di hidupku.

Kokkuri san mungkin hanya sebuah mitos. Tapi ia akan hidup dalam diri kita dan terus menghantui kita, jika kita tidak berani untuk menyelesaikan apa yang telah kita mulai. Beberapa hari bersama Kei mengajariku suatu hal. Hidup ini bagai permainan Truth or Dare. Lebih tepatnya Truth and Dare. Jujur dan keberanian memiliki suatu keterkaitan. Jika kita ingin jujur, kita perlu memiliki keberanian. Dan jika kita telah memilih untuk berani menanggung resiko, harus didasari pada sebuah kejujuran. Truth or Dare. Your choise will determine your life.

TAMAT

Cerpen Karangan: Sandra Auliana
Facebook: https://www.facebook.com/sandra.auliana
Nama Lengkap: Sandra Auliana
Nama Pena: SanzenAira

Cerpen Kokkuri San Behind Truth Or Dare (Kisah Cinta dibalik Jelangkungnya orang Jepang) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Liontin Rahasia

Oleh:
Aku sedang memandangi sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati. Bukanlah bentuk hati itu yang membuatku terus memandangi kalung itu, melainkan benda yang ada di dalam liontin itu. Sebuah benda

Di Balik Horizon (Part 1)

Oleh:
Mengintip keheningan malam tak lelah rasanya, dihiasi bintang bintang yang cemerlang dengan beberapa kilatan meteor yang memberinya isyarat kalau ini sudah tengah malam, tak terpikir kalau ia akan terjaga

Menaklukkan Naga (Part 3)

Oleh:
Sang Raja hendak meninggalkan balkon, ketika seorang kesatria berlari ke arahnya dengan wajah cemas. “Ada apa, Winger?” “Yang Mulia, dari setiap laporan yang kami terima dari pasukan pengintai, bisa

Monster Love (Part 2) Adaptasi

Oleh:
Rasanya sangat melelahkan setelah menempuh perjalanan cukup jauh dari Garut menuju Jakarta, kepala masih terasa sangat sakit karena hmm “darar pink prof kalau nyetir suka gak pake aturan” ampun

The Power of Love

Oleh:
Aku masih mengingatnya. Sepuluh tahun yang lalu, di puncak bukit itu ada sebuah pohon beringin yang rindang. Sulurnya menjulur ke bawah, berwarna kecokelatan di pangkalnya. Dulu aku dan teman-teman

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

8 responses to “Kokkuri San Behind Truth Or Dare (Kisah Cinta dibalik Jelangkungnya orang Jepang)”

  1. _Fitri_ says:

    Ceritanya seru banget
    Kasian si kei

  2. F.A.R says:

    Waw..Ceritanya seru banget nih..!!Aku suka sama Yuki

  3. khoirul farkhati says:

    ceritanya asyik….. fantasi banget! suka!

  4. deny says:

    bagus banget ceritanya buat orang tegang padalan cm cerpen hampir mirip dengan nonton film

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *