Kolam Pasir Hitam (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 12 January 2016

2025, Bertrand Rasch makin sejahtera bahkan saat tidak ada satu kerutan pun yang berani menampakkan dirinya. Secarik kertas dapat memberinya kuasa atas bentang alam negeri orang. Hanyalah prospek yang membentang di jalannya. Tidak hanya kaya materi, ia juga kaya hati, itu yang terpampang di televisi-televisi muda ini. Yayasan yatim piatu, rumah bagi tunawisma, bakti sosial, ia bagaikan martir di era yang sedang gencar-gencarnya membangun kiamat.

Selalu ada tempat untuknya di hati masyarakat. Saat ditanya pers apa motifnya, dengan gamblang ia bilang dengan wajahnya yang cemerlang: ini adalah misi kemanusiaan. Bagi Bertrand ini hanyalah pencitraan, ia adalah wajah dari ‘Perusahaan Ramah’. Wajahnya makin cemerlang begitu kilatan cahaya kamera menerjang kepala botaknya. Sebuah reaksi simultan.

Bertrand baru saja menghadiri konferensi pers, perihal ekspansi perusahaannya di Somalia. Setelah memuaskan rasa haus akan keingintahuan para pers, ia mulai menghampiri tunggangan mewahnya. Sebuah mobil limousine yang elegan dan tampan menantinya, dibelakangi dan membelakangi masing-masing 1 mobil humvee milik tentara bayaran yang disewa untuk mengawalnya. Beetle 1 dan Beetle 2, itu nama sandi mereka. Kemudian sopirnya membukakan pintu belakang limousine tersebut di mana terdapat jok tempat Bertrand akan mendaratkan sepasang bokongnya.

“Hari ini cerah ya, tuan?” sapa sang sopir.
“Ya. Wajahku bilang begitu.” tegasnya saat melihat refleksi wajah cemerlangnya di kaca pintu. Sang sopir pun ikut memandangi refleksi wajah Bertrand.
“Bulan ini akan menjadi bulan pencerahan.” Tanggap sang sopir.
“Aku benci kau.” cahaya mulai mengkhianati hatinya.

Sang sopir tancap gas begitu pintu tertutup dan Bertrand duduk manis, humvee di depannya jalan lebih dulu. Tujuannya adalah bandara, mereka berniat kembali ke Müenchen.
“Jadi, hari ini pers menanyai apa kepada tuan?” ucap sang sopir.
“Tentang seberapa luas aku akan menambang tambang yang menjadi hak perusahaanku, dampaknya bagi alam, dan bagaimana aku mengatasi para Green Earth Order.”

“Green Earth Order? Mereka bagai tembok kolosal yang menghalangi perusahaanmu untuk melompat lebih tinggi.”
“Ya. Mereka menghancurkan konvoi kendaraan berat yang mau menambang di Karachi dengan persenjataan berat.”
“Zaman makin gila. Mungkin mereka butuh ‘pencerahan’ darimu.” ia menengok hal paling menyilaukan milik Bertrand.
“Jika bukan karena mulutmu yang tajam, mungkin aku sudah jatuh cinta padamu, Helena.”
“Tuan memang tampan.” ia mengelak.
“Pembohong.”

Green Earth Order atau G.E.O adalah kelompok konservatif dan pelindung alam multinasionalis bersenjata. Mereka mulai mirip organisasi teroris baru-baru ini. Bedanya mereka tak mengatasnamakan agama dalam aksinya, alam sebagai gantinya. Jika ada konvoi yang dianggap akan ‘mengurangi nilai’ suatu kawasan alam, mereka akan mulai meledakan konvoi tersebut. Mereka tak menembak warga sipil, tapi jelas menembak yang menembaki mereka.

Jalanan Somalia sangat sepi. Di kiri dan kanan Bertrand hanya terdapat tanah tandus, sampai terlihat retak-retak. Sesekali ia melihat rerumputan yang ‘berdiri sendiri’. Tak luput pula sebuah pohon yang tak dikenalinya, itu cukup menarik perhatiannya, jarang dijumpai pohon di situ.

“Helena, menurutmu orang-orang di sini merasakan musim dingin?”
“Anda serius menanyakan itu?”
“Hiburlah aku sedikit.”
“Tidak. Tapi dinginnya hidup mungkin familier dengan keseharian mereka.”
Bertrand tak menjawab. Heninglah di dalam limousine itu. Bertrand mulai menggali saku celananya untuk meraih ponselnya.

“Helena, high scoremu kemarin di Temple Run 5 berapa?”
“5 dengan 6 digit angka 0.”
“Hari ini aku akan berjaya.”
5 menit berlalu sejak itu. “Sialan.”
“Tuan sudah berjaya?” Bertrand hanya merespon dengan melempar ponselnya ke pojok kanan jok, jauh dari dirinya.
“Hmm, begitu ya.” Ejek Helena.

Sampailah mereka di jalan dengan 2 cabang. Konvoi Bertrand mengambil jalan ke kiri. Di jalan sebelah kanan tampak sebuah mobil pick up warna putih. Janggal. Bukannya terus mengikuti arah jalan, mobil itu justru menerobos ke tanah tandus. “Hoi apa-apaan mobil itu?” Bertrand mulai panik.
“Mungkin komunitas off road.”
“Ya ampun di saat seperti ini kau masih saja bercanda!”

Kemudian walkie-talkie yang menggantung di pinggang Helena berbunyi, suara berat seorang pria mengatakan:
“Helena, ini Beetle 1, masuk. Kalian tetap di lajur kiri. Beetle 1 dan Beetle 2 akan lindungi kanan kalian, ganti.”
“Ini Helena, masuk. Mobil pick up itu ancaman? Ganti.”
“Ya. Positif.” Mendengar itu bulu kuduk Bertrand merinding. Beetle 1 dan Beetle 2 mulai menutupi sisi kanan limousine Bertrand. Salah satu pria di Beetle 1 mengeluarkan pengeras suara dan mulai berteriak: “Stop or we will open fire! -Berhenti atau kami tembak!”

Tidak ada tanggapan. Mobil pick up itu semakin mendekati konvoi Bertrand. Beetle 1 mulai menembak mobil pick up itu dengan senapan kaliber 50-nya begitu mobil tersebut masuk jarak tembak yang cukup ideal. Namun sulit untuk mengenainya saat berpacu dengan kecepatan tinggi. Kemudian seorang pria hitam kurus di tempat muatan mobil pickup tersebut menunduk dan mencoba meraih sesuatu di bawahnya. Begitu kembali berdiri tegak, ia mengarahkan sesuatu dengan ujung keemasan.

“Pelontar roket? Dasar sinting!” tegas Beetle 2.
“Sialan! Arahkan tembakan ke Si Ceking!” balas Beetle 1 di walkie-talkie.
Terlambat bagi Beetle 1. Roket menghantam aspal di bawah Beetle 1, sehingga ledakannya melontarkan Beetle 1 ke udara, melompati limousine Bertrand.
“Ya Tuhan…” Mata Bertrand terbelalak melihat Beetle 1. Tak perlu ditanyakan bagaimana nasib mereka begitu menyentuh tanah. Setelah itu Si Ceking meraih senapan otomatisnya dan mulai menembaki bagian depan limousine Bertrand.

Terdengar dentingan peluru yang menghantam kap mobil, beberapa tembakan mengenai pintu sopir hingga akhirnya memecahkan kacanya. “Hati-hati Helena. Jangan sampai tertembak.” Bertrand mencemaskan keselamatan sang sopir yang sudah mengabdi padanya selama bertahun-tahun. Helena hanya menggertakkan gigi. Naas bagi mereka, asap mulai keluar dari kap mobil, Helena terlambat menyadari bahwa kapnya sudah dipenuhi lubang, asap memperdaya pengelihatannya. Limousine itu berhenti bergerak.

“Sial!” teriak Helena, kemudian meraih walkie-talkie-nya “Beetle 2, kami kena. Limo ini tamat riwayatnya.”
“Segera keluar dari sana! Berlindunglah di kiri sang limo. Kami akan lindungi kalian!”
“Baiklah, Tuhan memberkati kita!” Seru Helena.

Mereka berdua segera ke luar. Bertrand sudah lebih dulu di luar sementara Helena harus meraih pintu di sisi kiri terlebih dahulu. “Cepatlah Helena!” teriak Bertrand.
“Mencemaskanku, tuan?” senyum Helena begitu sampai di luar.
“Sudah jelas!” Untuk sesaat Bertrand lega. Tapi kecemasan kembali menggerogoti jiwanya ketika melihat Helena memegangi luka di bahunya yang terkena pecahan kaca sang limo. Darah bercucuran. Walkie-talkie Helena berbunyi kembali.

“He-Helena, masuk!” suaranya terdengar seperti sedang terdesak.
“Y-ya?” ia mulai menggigil ketakutan.
“Ini buruk Helena.” ia membalas tembakan sesaat, “Mereka tampak sangat terlatih, dan kami mulai kalah jumlah. Ambil Humvee kami dan pergi dari sini!”
“A-apa kau bilang?”
“Cepatlah! Kami akan beri tembakan perlindungan!”

“Bagaimana dengan kalian?!” naluri keibuannya bangkit.
“Setelah kalian masuk kami akan tahan mereka. Setelah kalian tancap gas, kami baru lompat ke sang limo. Mengert–” Pembicaraannya terpotong. Sebagai gantinya, terdengar jeritan pria tadi. Helena terdiam sejenak. “Baiklah.” Ia kembali terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca sementara Bertrand diam seribu bahasa. Baku tembak yang semula berisik kini mulai mereda.
“Hei! Aku masih hidup loh! Cepatlah kemari!” teriak pria tadi.

Helena mengepalkan tangannya, tanda bahwa ia telah mengumpulkan keberanian.
“Tuan, ikuti aku! Kita angkat kaki dari sini!” kemudian ia menggenggam tangan Bertrand.
Mereka mulai berlari menghampiri humvee milik Beetle 2. Tampaknya yang masih bernyawa tinggal pria yang tadi bicara dengan Helena. Ia ada di atap humvee, memfungsikan senapan kaliber 50 yang terpasang.

“Ayo, sedikit lagi!” seru pria tadi. Tapi mereka berdua tak cukup cepat. Humvee tersebut meledak bersama pria tadi. Ia lupa betapa mengerikannya Si Ceking dengan pelontar roketnya. Badan Helena melemas. Air matanya mengalir ke bawah, menjadi budak gravitasi. Ia menatap mata Bertrand sambil memegangi luka di bahunya. Tak lama, ia pun rubuh dan tertarik ke aspal, tepat di mana air matanya jatuh. Tapi sebelum menghantam aspal, dengan tanggap Bertrand menangkap Helena dan menyandarkannya ke paha kurusnya.

“Hoi… Helena?” tak ada jawaban. “Hoi, jangan bercanda! Yang benar saja!” Bertrand menggoyang-goyang badan Helena. Tak ada gerak. Tak ada tanda bahwa ia akan merespon
Tidak. Ini tidak benar. Hari ini harusnya hari dimana Bertrand akan makin sejahtera, bukannya mendera dalam derita. Air matanya juga mengalir ke bawah, menjadi budak gravitasi. “Sial!” ia menghantam aspal sekuat tenaga, tapi tak ada jawaban di situ.

Sementara ia meratapi nasibnya, kolega Si Ceking mulai menghampiri Bertrand. Si Ceking dan 3 orang lainnya mengamankan daerah sekitar, salah satunya melihat-lihat ke dalam sang limo, sementara pria hitam dengan badan yang kekar dan berkacamata hitam menghampiri Bertrand. Terlintas di benak Bertrand untuk mengambil ponsel yang tadi ia lemparkan, tapi ia tak punya nyali untuk berhadapan dengan kolega Si Ceking. Sudah terlambat untuk memanggil bantuan. Apalagi si kekar sudah ada di depan mata. Ia tampak menjulang tinggi dari dasar aspal.

“Kau akan baik-baik saja. Tapi untuk sekarang, tidurlah dulu.”

Tiba-tiba sesuatu menutupi pandangan Bertrand, hitam kelam. Ia merasa seluruh kepalanya diselimuti. Napasnya mulai sesak. Kesadarannya pun hilang. Entah sudah berapa jam sejak kejar-kejaran dan tembak-tembakan tadi. Kesadaran Bertrand kembali terkumpul. Dengan posisi terduduk, pandangannya hitam kelam. Ia berniat untuk menyingkirkan karung yang menyelimuti kepalanya, namun ia mengurungkan niatnya begitu sadar bahwa tangannya terbelenggu.

Mau berteriak tapi sepertinya mulutnya menolak membuka. Tentu saja, mulutnya dipaksa tidak membuka oleh sebidang lakban. Kemudian terdengar langkah yang mendekat. Seorang pria berbaik hati menyingkirkan semua yang mengurangi kemampuan indrawi Bertrand. Kecuali tangannya, toh tangan bukanlah organ indrawi, walaupun terdapat kulit. Tapi kita tahu, ada udang di balik batu. Ruangan itu sempit, hanya Si Ceking dan Si Kekar yang menemaninya.

“Selamat malam, Sir Bertrand Rasch.” Sebuah salam yang hangat datang dari si pria kekar yang menyuruhnya tidur waktu lalu.
“Apa mau kalian?” nada perlawanan terdengar dari Bertrand.
“Jika saya sebutkan apa mau saya mungkin kita akan terlibat dalam pembicaraan abadi. Tapi jika yang kau maksud apa maksud dan tujuan kam–”

“Kesimpulannya?” ketidakmampuan Bertrand dalam memotong seutas tali berubah menjadi kemampuan memotong pembicaraan. Di pojok ruangan Si Ceking membelototi Bertrand. Bertrand membalas sorotan matanya. Si Ceking mengalah dengan mengalihkan pandangannya ke langit-langit.
“Rasanya tidak enak jika saya tak memperkenalkan diri lebih dulu. Soran.” Ia mengulurkan tangannya untuk mengajak berjabat tangan.
“Kau lupa kalau tangannya ditali?” tanggap Si Ceking.
Heh, ternyata mereka punya selera humor juga. Pikir Bertrand.

“Ups. Samir, lepaskan ikatan talinya! Tidak, tunggu. Kau tidak akan menjadi anjing gila begitu tali itu dilepaskan, kan?”
“Aku tak bisa jamin itu.”
“Yah, kalau itu sampai terjadi, Samir tahu cara menenangkan seekor anjing.”
“Bagaimana dengan kau sendiri?”
“Entahlah, tapi ini menggonggong lebih keras daripada anjing.” Soran menunjuk pistol Revolvernya yang disarungkan.

Setelah merasa yakin akan dominasinya, Samir atau Si Ceking mengeluarkan pisau dan mulai mengiris tali yang membelenggu tangan Bertrand. Bertrand tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan menggila. “Tuh kan, kau bisa tenang!” dugaan Soran terbukti.
“Jadi, apa yang kau rencanakan setelah membuka belenggu ini?”
“Ikuti aku!” sambil melambaikan tangannya ke dalam. Ia tampak bersemangat.

Mereka mulai ke luar dari ruangan sempit tadi dan mulai menuruni tangga. Samir mengikuti di belakang untuk berjaga-jaga seandainya Bertrand mulai melakukan hal konyol. Bangunan ini sangat seadanya. Tak ada dekorasi, sepanjang koridor hanya terlihat abu-abu. Ada satu yang tidak dimiliki Bertrand di bangunan ini: jaring laba-laba. Mereka sampai di lantai dasar dan menuju sebuah ruangan yang cukup besar.

Berbeda dengan lantai atas, kondisi di lantai dasar lebih dekoratif, menandakan pembangunan yang tidak utuh dan merata. Mereka kemudian mulai memasuki ruangan yang cukup luas. Ruang konferensi. Tampaknya kolega Soran memenuhi ruangan ini, satu-persatu dari mereka memberi tatapan dingin pada Bertrand. G.E.O. Green Earth Order: to restore the earth. Itulah yang terpampang di layar proyeksi di depan ruangan.

“Silahkan duduk, Sir Bertrand.” Soran menunjuk kursi yang berada tepat di tengah ruangan. Bertrand mulai menghampiri kursi dan duduk di atasnya. Kondisinya lebih mirip ruang sidang.
“Baiklah kita mulai saja.” Soran mengayunkan tangannya ke kiri, sedikit jauh di depan layar proyeksi. Slide selanjutnya pun terbuka. (ini tahun 2025, motion control bukanlah hal aneh)
“Global warming. Terdengar familiar bukan? Ya, ini bukan hal baru. Tapi makin hari dampak yang dirasakan selalu baru.” Terpampang grafik tentang perubahan suhu bumi dari tahun ke tahun. Tampak seperti tangga ke surga.

“Apa yang anda coba sampaikan?”
“10 tahun silam gelombang panas menewaskan ribuan warga Karachi, Pakistan. Kemudian tidak hanya Karachi, disusul kota-kota di Benua Afrika, Timur Tengah, 2 Benua ini menerima dampak yang sangat signifikan dari global warming.”

“Aku masih tidak menangkap inti dari pernyataanmu.”
“Menurutmu, apa saja kontributor paling besar dalam Global Warming?”
“Hmm…” Sebelum Bertrand sempat berpikir, Soran sudah memindahkan slide terlebih dahulu.
“Kegiatan perusahaan anda, Sir Bertrand!” Rasch Corp.

Lambangnya terpampang jelas. Terpotret jelas pula perusakan alam yang dilakukan perusahaannya. Pembakaran hutan untuk lahan industri, pencemaran udara yang ditimbulkan (di seluruh dunia), spesies yang dirugikan, pencemaran laut karena limbah, sampah bekas produksi dan konsumsi, lahan bekas pertambangan, slide per slide diperlihatkan. Pemerintah menyebutnya legal. Tapi legal tidak menyelamatkan bumi ini. Semua bagaikan mimpi buruk yang disajikan khusus oleh Bertrand. Tapi rasanya kurang tepat menyebutnya ‘mimpi’.

“K-Kau!” Bertrand berdiri dan berniat meninju Soran. Tapi dengan sigap Samir menghentikan langkahnya dengan menodongkan pistolnya ke arah Bertrand.
“Jangan bertindak konyol, Sir Bertrand.” tegas Samir. Bertrand menghentikan langkahnya dan kembali duduk.
“Mari kita bicarakan maksud dan tujuan saya membawa anda ke mari, Sir Bertrand. Tapi biar saya simpulkan pernyataan tadi: Kegiatan industri adalah salah satu kontributor besar dalam perusakan alam. Dan dari industri-industri tersebut, saya rasa nama anda masuk dalam daftar orang yang bertanggung jawab atas penggiringan dunia ini menuju kiamat.”

Bertrand menggertakkan giginya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Reza Hamdani C

Cerpen Kolam Pasir Hitam (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rotten World

Oleh:
Apa aku akan mati di sini? Seperti kebanyakan orang lainnya, Ellenoir tidak pernah tahu kapan ia akan meregang nyawa. Setidaknya sampai saat ini. Keadaan di sekitarnya membuatnya yakin malaikat

The Angel of Death

Oleh:
Ruangan besar berbentuk persegi panjang itu tampak sunyi. Hanya ada suara tangan beradu dengan papan keyboard dan suara jam yang berdetik tanpa henti. Seorang laki-laki duduk di ujung ruangan.

Terjebak Di Dunia Cokelat

Oleh:
Namaku Risa Amanda, biasa disapa Risa. Aku suka sekali cokelat. Satu hari tanpa cokelat, hidupku jadi nggak komplit. Suatu hari saat aku sedang makan cokelat, tiba-tiba… “Aaaaaa!!” teriakku. Tiba-tiba

Seseorang Di Atas Loteng (Part 4)

Oleh:
Jajaran porselen mahal yang tersusun rapi di dalam lemari, sofa-sofa besar, dan wallpaper-wallpaper cantik yang menghiasi dinding, sedikit demi sedikit mulai kehilangan keindahannya. Beberapa serpihan kaca kecil jatuh di

Insan dan Waktu

Oleh:
Alkisah, di suatu Lautan Kehidupan berjajarlah beberapa pulau. Pulau-pulau itu bernama Pulau Masa Lalu, Pulau Mimpi, dan Pulau Masa Depan. Ketiga pulau tersebut saling terpisah, namun berdampingan. Suatu hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *