Kontes Memasak Endemmo

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 21 July 2017

“Selamat pagi, Itzel! Aku punya kabar baik untukmu!” ujar Silvana di pagi yang cerah itu. Ia datang ke toko roti Itzel dengan semangat hari ini.
“Nanti saja, sedang banyak pelanggan, Silvana. Kalau itu penting, kau bisa menunggu di dapur,” tanggap Itzel, ia sedang sibuk melayani pelanggan di meja sebelah Silvana. Dengan cemberut, Slivana berdiri dan masuk ke dapur sambil menunggu Itzel masuk.

Tak lama setelahnya, Itzel yang kelelahan itu masuk ke dapur.
“Ini dia! Lihat apa yang kubawa?” Silvana menunjukkan selembar kertas yang ia pegang.
“Emm.. Poster?”
“Ya! tepat sekali! Kau tahu Endemmo Jackquire, bukan? Dia sedang mengadakan kontes memasak! Yang aku tahu, Endemmo adalah idolamu, kan?” ucap Silvana sambil menaik-naikkan alisnya.
“Ya, jadi?” Ujar Ktzel dengan ekspresi datar. Reaksi yang tidak diduga oleh Silvana.
“Apa maksudmu dengan ‘jadi’? Tentu saja kau harus ikut kontes itu! Kau ingin tahu hadiahnya? Resep kue royal blue crampuff plus tanda tangan langsung dari Endemmo! Kau harus ikut Itzel!” Silvana menunjuk-nunjuk posternya. Kue royal blue creampuff adalah creampuff yang sering disebut sebagai creampuff terlezat di seluruh penjuru oleh pecinta kuliner. Itzel pernah mencicipi creampuff itu sedikit, dan ia setuju dengan julukan itu. Walaupun Itzel belum pernah mengunjungi kafe tempat koki legenda, Endemmo, bekerja, tapi ia pernah dengar bahwa royal blue creampuff adalah menu terlaris di sana.
“Itu akan sangat menyenangkan, tapi toko ini tak bisa ditutup begitu saja, Silvana,” ujar Itzel dengan raut kecewa.
“Kenapa tidak? Lagipula aku sudah mendaftarkanmu, Itzel. Kau tak punya alasan untuk bilang tidak. Jadi ber…”
“Apa katamu? Mendaftarkanku? Silvanaa..!! Aku selalu bilang bahwa aku tak suka jika kau memaksaku! Pokoknya aku tak bisa ikut, dan aku memaksa,” kata Itzel dengan tatapan tajam. Tapi Itzel tahu sekali jika Silvana tidak bisa dilawan.
“Heh, aku tak akan membiarkanmu didiskualifikasi begitu saja, bersiap-siaplah jam empat sore nanti, aku akan menjemputmu,” setelah mengatakannya, Silvana keluar dari dapur seakana-akan tak punya dosa.
“Silvana..!!! Bersiap-siap untuk apa?!” jerit Itzel, namun Silvana sudah keluar jauh. Ada beberapa pesanan kue yang akan diantar sore ini, Itzel sangat benci jika harus mengecewakan pelanggannya.

Ini sudah pukul empat sore, Itzel sangat takut jika Silvana akan benar-benar datang menjemputnya. Bahkan toko roti sedang banyak pengunjung sore ini. Hal yang sangat langka sebenarnya, karena hampir setiap sore, Itzel hanya sibuk berbelanja bahan kue di toko langganannya, tapi berhubung toko itu sedang tutup, Itzel terpaksa membuka toko. Ia ingat dengan pesanan pelanggannya yang harus diantar! Itzel segera menutup tokonya dengan cepat ketika pelanggan kosong dan segera mengambil sepedanya, belumlah jauh dia berjalan, Silvana yang hari ini menyebalkan itu memanggilnya.
“Itzeeeelll!! Mau ke mana kau? Kabur?” ujar Silvana. Itzel mendesah.
“Aku ingin mengantar pesanan ini, pelangganku pasti sedang menunggu,”
“Lihat siapa yang kubawa? Perkenalkan, ini nyonya Cashmire, dia juga punya toko, tapi toko permen di sebelah rumahku, dia akan memegang kendali toko rotimu selama kau pergi. Dia beradaptasi dengan cepat,” bisik Silvana.
“Kita tidak akan pergi ke mana-mana! Lihat? aku sedang sibuk,” kata Itzel.
“Selain menjual toko permen, nyonya Cashmire juga sering mengantar koran pagi, jadi dia hapal sekali jalanan Bennijarre. Kau tak perlu cemas, Itzel!” ujar Silvana. “Sudahlah, tinggalkan sepedamu, Nyonya Cashmire akan mengantarnya!” Silvana menarik tangan Itzel. Sebenarnya, Itzel tidak terlalu yakin dengan nyonya Cashmire yang Silvana bawa itu. Dia hanya seperti… ibu rumah tangga? Badannya gemuk, dia juga memakai kacamata, dia kelihatan tak mengerti hal semacam itu.

“Apa kau benar-benar yakin dengan nyonya Cashmire itu? Kurasa dia tidak terlalu mahir melayani pembeli,” ujar Itzel di perjalanan. Mereka menaiki kereta kuda yang merupakan kendaraan umum di Bennijarre. Kereta itu tidak mempunyai atap, hanya seperti gerobak yang bisa mengangkut 5-6 orang dan ada satu atau dua kuda yang menariknya.
“Aku sangat mengenalnya, Itzel. Dia gesit dan juga pandai memasak. Kau punya buku resep kan? Aku sudah menyuruhnya untuk melihat buku resepmu jika ada pelanggan yang ingin membeli. Tenang saja,” Itzel harap itu benar. Dia berusaha mengosongkan pikirannya dari kekhawatiran tentang tokonya.
“Baiklah, jadi tentang lomba itu… aku tak yakin dengan masakanku di sana. Kurasa aku tak akan menang,” kata Itzel.
“Tak akan menang? Jangan terlalu merendah! Endemmo tahu denganmu, Itzel! Dia pasti tahu kau adalah Itzel Vancarry yang terkenal dengan pai berry amberblazenya!” ujar Silvana dengan sedikit keras.
“Jangan terlalu keras, Silvana, di sini banyak orang!” bisik Itzel.
“Kenapa tidak? Biar semua orang tahu denganmu,” Silvana malah membalasnya dengan keras.

Diam-diam, Avery mendengarkan perbincangan mereka. Dia adalah koki amatir yang juga mengikuti kontes memasak Endemmo dan dia ingin sekali memenangkan kontes memasak itu. Kini dia tahu siapa yang harus disingkirkan.

“Kafe apa ini? Sepertinya kafe yang bagus,” tanggap Itzel ketika mereka sudah sampai.
“Ini kafe milik Endemmo!” balas Silvana. “Oh, hai! Kau juga ikut kontes ini, ya?” ujar Silvana ketika tahu salah satu penumpang tadi juga di tujuan yang sama.
“Iya,” jawabnya singkat.
“Baiklah, semoga beruntung!” kata Silvana lagi. “Cuih, wajahnya semrawut begitu ketika berbicara denganku,” kata Silvana ketika dia sudah pergi.
“Mungkin dia gugup sama sepertiku. Jadi… di sini kontesnya? Aku baru tahu Endemmo punya kafe di Bennijarre,” kata Itzel tak percaya.
“Iya, baru saja buka! Makanya Endemmo mengadakan kontes memasak ini sebagai tanda pembukaan kafenya. Saat kontes memasak sudah selesai, akan dilanjutkan dengan pemotongan pita merah.” kata Silvana. Mereka melangkah maju ke dalam kafe.

Di sana sangat ramai. Itzel tambah gugup saja ketika melihat banyaknya yang berpartisipasi mengikuti lomba itu. Tapi, siapa itu? Endemmo! Itzel tak percaya ia bisa melihat langsung koki idolanya itu.
“Itzel, lihatlah! Itu Endemmo! Dia kelihatan lebih gemuk dari yang biasa kita lihat di koran, ya,” canda Silvana.
“Jangan hina idolaku,” ujar Itzel sinis. Dia sangat tergila-gila dengan semua masakan yang Endemmo buat. Dia sangat kagum dengan tangan Endemmo. seakan-akan sangat ajaib!

“Perhatian kepada seluruh peserta, harap segera berkumpul di area memasak!” sebuah toa memekakkan telinga. Itzel sangat gugup. Setelah megambil nomor peserta, Itzel segera memasuki area memasak. dia mendapat meja paling depan yang artinya, ia bisa melihat Endemmo paling dekat dari peserta lain, tapi siapa di sebelahnya? Avery!
“Oh hai, Itzel, bukan? Aku kenal dengan pai amberblazemu. Itu kedengaran enak. Kuharap kau beruntung di kontes ini!” Itzel tak percaya! Endemmo mengajaknya berbicara! Dan dia bilang, dia kenal dengan pai amberblazenya! Itzel tak percaya.
“Benarkah? Terima kasih,” jawab Itzel. Setelah bilang begitu, peserta di sebelah Itzel, yap! Avery, mengajak Endemmo berbicara, Itzel tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
“Hai, Endemmo! Aku Avery, bagaimana aturan kontes memasak ini? Dan kami harus memasak apa?” ujarnya. Pertanyaan yang tak perlu dijawab kerena jika dia tadi mendaftar ulang, dia akan tahu apa yang harus ia lakukan ketika kontesnya mulai.
“Kau tak lihat peraturannya, ya? Hmm, baiklah, kalian akan membuat kue kering hari ini. ketika peluit berbunyi, kalian akan mengambil bahan makanan sebanyak yang kalian butuhkan untuk membuat kue. Waktunya hanya satu setengah jam, peluitku akan berbunyi kedua kalimya ketika waktu sudah selesai,” ujar Endemmo. Avery mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Endemmo masih berkeliling di area memasak dan mengobrol sebentar dengan pesertanya. Dia memang koki yang ramah!

“Baiklah, waktu peregangan sudah selesai,” Endemmo melihat stopwatchnya.
“Baiklah, bersiap-siaplah, satu, dua, tigaa… mulai!” Peserta segera mengambil bahan-bahan masakan sesuai selera mereka dengan keranjang yang telah disediakan. Itzel tidak akan memasak pai berry amberblaze, karena ia tak punya amberblazenya, tapi dia masih ingat resep biskuit apel neneknya. Biskuit itu sangat enak menurut Itzel dan Itzel akan mencoba membuatnya hari ini.

Waktu mengambil bahan masakan sudah selesai, peserta pun mulai membuat masakan mereka masing-masing. Itzel pun sangat menekuni memasaknya.
“Go, go, go, Itzel! Go Itzel!” teriak Silvana. Dia penonton yang paling seru. tiba-tiba Silvana terbelalak, Avery, gadis yang satu kereta dengannya tadi memasukkan bubuk misterius di dalam sebuah botol secara diam-diam. Padahal jelas sekali peraturannya bahwa peserta tidak boleh memakai bubuk instan dalam masakannya. Seharusnya Avery sudah didiskualifikasi sejak awal. Tapi Silvana tidak langsung memberi tahu Endemmo, dia akan melihat gerak-gerik gadis itu mulai sekarang hingga akhir kontes.

“Waktu tersisa 30 menit lagi!” teriak Endemmo kepada seluruh peserta. Itzel makin bergerak cepat, biskuit apelnya belum selesai di oven dan dia harus segera menyiapkan piringnya. Sementara dengan Avery, dia kewalahan membuat kuenya sendiri. Dia sudah memanggang biskuitnya dua kali, namun selalu saja gosong, sekejap, Silvana merasa lega melihatnya.
Ting! Oven Itzel berbunyi dan jam menunjukkan 15 menit lagi waktu akan selesai, itu waktu yang tepat dan cukup. Itzel tidak melihat kiri-kanan lagi, dia hanya sibuk menghias dan mendekor piringnya. Namun, Silvana merasa aneh dengan tingkah Avery. Bukannya khawatir dengan kue gosongnya, tapi dia malah bersikap santai seperti tak ada masalah. Silvana tambah curiga dengan anak satu ini.

“Piiiiitt!!! Waktu selesai! Tinggalkan masakan kalian di atas meja, aku akan menilainya satu-satu, sementara kalian bisa menunggu sampai waktu pengumuman dimulai,” ujar Endemmo. Semua peserta keluar dsri area memasak. Mereka bisa pergi ke mana pun mereka mau asalkan tidak terlambat datang ketika Endemmo akan mengumumkan pemenangnya.
“Hei Itzel! Kerja bagus! Kau tak punya masalah dengan kuemu, kan?” tanya Silvana.
“Tidak ada, semuanya berjalan lancar,” kata Itzel. Fiuh, Silvana lega sekali mendengarnya.
“Baguslah! Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu,” Silvana mulai berbisik. “Kau tahu Avery, bukan? Peserta di sebelahmu, yang satu kereta dengan kita!”
“Iya, dia yang tidak senyum ketika kau sapa itu, kan?” Itzel meyakinkan.
“Nah, yang itu! Aku selalu memperhatikannya selama kontes memasak dimulai, entahlah, dia aneh sekali! Dia selalu menengok ke mejamu ketika lomba, ya setidaknya setiap 5 menit sekali. Lalu ketika di tengah-tengah lomba dia memasukkan sebuah bubuk berwarna pink ke masakannya, jika itu bubuk instan, seharusnya dia sudah diskualifikasi, kan? Dan lihatlah, kuenya! Gosong. Dia sama sekali tidak khawatir atau cemas ketika tahu kuenya tidak berhasil,” ujar Silvana panjang lebar.
“Ah, Silvana, kau terlalu berlebihan. Dia hanya kontestan yang sama gugupnya dengan yang lain! Wajar saja dia selalu menengok ke lawannya, aku tak mempermasalahkan itu, kok, Dan soal kue gosong, mungkin dia sudah menyerah dan putus asa dengan kerjanya. Lagipula jika dia ingin membuat ulang, dia tak punya waktu yang cukup,” kata Itzel.
“Ya ampun, kau tak punya pemikiran yang kritis, ya? Jelas saja dia aneh! Kau tak memperhatikannya ketika lomba!” kata Silvana bersikeras.
“Sudahlah, Silvana. Ayo, kita menunggu sambil mencicipi beberapa menu di sini,” Silvana dan Itzel pergi. Sementara mereka tidak ada, Avery pun mulai menjalankan misinya.

“Perhatian kepada seluruh peserta, harap segera memasuki area memasak, karena kontes akan segera diumumkan!” toa itu bersuara lagi. Itzel dan Silvana segara datang ke area memasak. “Hmm.. baiklah, kuharap semua peserta ada di sini. Jadi aku sudah mencicipi semua kue kering yang kalian buat, walaupun tidak semuanya sempurna, tapi aku sudah tahu siapa pemenangnya hanya dengan melihat masakan yang ia buat. dan dia adalah… selamat kepada… Avery Roselily! Biskuit apelnya enak sekali!” a-apa? Biskuit apel? Jelas-jelas itu biskuit Itzel! Apa dia memasak makanan yang sama? Tapi dengan keadaan gosong begitu? Bagaimana dia bisa menang!
“A-apa? Aku menang? Waahh!! Aku tak… tak percaya!” semua peserta lain bertepuk tangan untuknya, Avery pun mendekati Endemmo untuk mendapat hadiahnya.
“Itzel, bagaimana bisa?! Biskuit apel itu milikmu, bukan? Kenapa dia pemenangnya?” kata Silvana.
“Mungkin dia memasak makanan yang sama denganku. Sudahlah, aku sudah bilang jika aku tak berniat mengikuti kontes ini, kan?” Itzel pasrah, mereka lari dari kerumunan orang-orang.
“Tidak! Yang salah itu dia! Aku akan meminta klarifikasi Endemmo. Ini tak bisa dibiarkan, Itzel! Jangan diam begitu saja!” ujar Silvana.

Belumlah dia menemui Endemmo, Endemmo lah yang menemui mereka duluan.
“Aku tak percaya nona Canvarry. Aku tebak kaulah yang bersinar di sini, namun semua orang bisa berbuat kesalahan, bukan? Kuharap biskuit gosong itu tak akan terulang lagi,” Itzel dan Silvana terkejut.
“Tidak! Itzel tidak memasak kue gosong! Dialah yang membuat biskuit apel itu! Biskuit apel itu miliknya! Entah siapa yang menukar kue gosong itu dengan Avery!” ujar Silvana dengan agak keras sehingga semua perhatian menuju kepadanya sekarang.
“Apa? Menukar dengan masakanku? Sudahlah, jika kau kalah, kalah saja. Jangan menipu kebenaran!” ujar Avery yang kebetulan juga mendengar.
“Tapi itu memang benar, Itzel tak memasak kue gosong, dan yang aku lihat, kaulah yang memasaknya! Apa jangan-jangan kaulah dibalik semua ini?” kata Silvana. Avery terkejut dengan perkataan Silvana.
“Tunggu, nona-nona. Tolong beri aku penjelasan, aku tak mengerti,” kata Endemmo.
“Endemmo, jika kau benar-benar lihat bagaimana dia memasak, kau akan sadar siapa pemenangnya. Dia juga memasukkn bubuk misterius ke dalam masakannya! Aku melihatya sendiri!” kata Silvana.
“Bubuk apa maksudmu? Aku tak akan melakukan perbuatan sebodoh itu! Jangan dengarkan dia Endemmo, dia tak menerima kekalahan temannya itu,” hasut Silvana.
“Kau memang mencurigakan sejak awal, Avery!” ujar Silana. Itzel tak bisa berbuat apa-apa karena dia tidak melihat yang aneh dari Avery.
“Hmm… baiklah, lagipula aku menemukan ini di bawah meja nona Roselily,” Endemmo memegang sebuah botol kecil berisi bubuk pink dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Semua peserta terkejut. “Kurasa dia benar, Avery memang sedikit mencurigakan, yang kulihat adonan biskuitnya tidak sesempurna itu,” kata Endemmo.
“Benda apa itu? I-itu bukan milikku!” elak Avery.
“Avery, katakan yang sejujurnya. Apa kau berbuat curang?” tanya Endemmo.
“Tentu saja tidak! Mereka berbohong, Endemmo!” elak Avery.
“Lalu bubuk macam apa yang tergeletak di bawah meja memasakmu?” tanya Silvana.
“Itu merica, aku menggunakannya untuk adonanku!”
“Merica berwarna pink? Dan lagipula kau menggunakan merica untuk kue kering?” kata Silvana.
“Avery, tak ada merica seperti itu di sudut bahan-bahan. Jadi kuputuskan… kau didiskualifikasi!” kata Endemmo. Wajah Silvana berseri-seri. Itzel yang tadinya murung menjadi tersenyum. Dan semua peserta menjadi kebingungan. “Aku akan mencari tahu siapa yang menukar kue Avery dengan Itzel dan kini kita punya pemenang yang sebenanrnya! Itzel Canvarry!!” ujar Endemmo. Semuanya bertepuk tangan untuk Itzel. Itzel merasa tak percaya dan Avery…
“Ini tidak adil! Akulah pemenangnya! Itzel tidak menang! Tidak!” Avery melepas selempang bertuliskan ‘Pemenang Kontes Memasak Endemmo’ itu, dan juga melempar semua hadiah yang tadi miliknya semua. Lalu dia bergegas pergi menahan malu.
“Lihat? Dia malu sendiri. Aku suka ekspresinya,” ujar Silvana tersenyum puas.
“Maafkan aku, nona-nona. Aku salah memilih pemenang. Harusnya aku tahu siapa juaranya,” kata Endemmo.
“Tidak apa, Endemmo. Ini bukan salahmu, kok,” kata Itzel.
“Kalau begitu, ambillah ini,” Endemmo mengambil selempang dan hadiah-hadiah yang dijatuhkan Avery dan memberinya kepada Itzel.

“Apa kubilang? toko rotimu baik-baik saja saat ditinggal, kan. Nyonya Cashmire memang yang terbaik!” kata Silvana.
“Ya, baguslah kalau begitu. Itu artinya aku akan memintanya menjadi pegawai di toko rotiku nanti,” canda Itzel.
“Pelangganmu juga sangat puas saat tahu pesanan mereka diantar dengan cepat, kan?”
“Iya, mereka bilang Nyonya Cashmire lebih baik jika menjadi kurir di toko rotiku,” kata Itzel. Mereka terus memuji Nyonya Cashmire dengan kerjanya yang baik itu.
“Itzel, kau tak rugi memenangkan kontes memasak itu. Creampuff ini enakkk sekalii!!” puji Silvana. Silvana sampai menjilati jari-jarinya yang tercecer oleh krim.
“Ya, Endemmo bilang paduan susu sapi Bull Bennijarre dan telur ayam grizzle membuatnya enak,” ungkap Itzel.
“Jenis hewan apa itu? Pakai saja susu sapi dan telur ayam yang biasa dijual di kedai-kedai kecil,” kata Silvana menyendok creampuffnya.
“Tidak bisa, Silvana. Jika hanya dengan susu dan telur biasa, bukan masakan koki legenda seperti Endemmo namanya,” canda Itzel.

Triingg! Lonceng di pintu kafe berbunyi. Padahal jelas-jelas ada tanda tutup di pintu kafe.
“Avery? Sedang apa kau di sini? Kafeku tutup,” kata Itzel.
“Iya, kau tak bisa lihat, ya? Mau apa kau?” tanya Silvana.
“A-ku.. mau… minta maaf soal kejadian kemarin,” katanya terbata-bata. Silvana dan Itzel saling bertatap-tatap.
“Untuk apa orang sepertimu minta maaf? Paling permintaan maafmu hanya bercanda,” kata Silvana.
“Sstt.. diamlah Silvana,” ujar Itzel, “Apa kau benar-benar ingin minta maaf dengan tulus?”
“Tentu saja! Aku sangat menyesal dengan perbuatanku kemarin. Aku.. aku sebenarnya mengikuti kontes itu untuk memberi kejutan ulang tahun untuk ibuku yang sedang sakit. Dia sangat mengidolakan Endemmo dan ingin sekali mencicipi royal blue creampuff yang merupakan masakan andalannya. Dia pasti akan sangat senang jika aku yang tak bisa memasak ini dapat, membuatkannya dengan sama persis seperti buatan Endemmo. Tapi nyatanya aku tak memenangkannya,” kata Avery. “Dan soal bubuk pink itu, itu… itu adalah pemanis yang ibuku buat, dia bilang setiap masakan yang ditaburi itu akan menjadi enak, yah, aku mengambil itu dari dapur ibuku dan menghabiskan setengahnya,”
“Oh, aku turut sedih kalau begitu,” kata Itzel, “Kebetulan, aku baru saja membuat creampuffnya. Ini masih hangat, jadi ambillah dan berikan pada ibumu, ya. Aku turut mendoakan kesembuhannya,” ujar Itzel.
“Oh, kau baik sekali! Terima kasih, Itzel, Silvana! Kau memang pantas menjadi pemenangnya!” kata Avery. Avery pun pulang dengan satu bungkus creampuff royal blue buata Itzel, dia dan ibunya pasti akan sangat senang.

“Wah, aku tak menyangka orang yang berbuat curang seperti itu masih sayang dengan ibunya,” kata Silvana.
“Tentu saja! Setiap anak pasti sayang pada ibunya, Silvana. Aku senang sekali dia menyadari perbuatannya dan meminta maaf padaku,” kata Itzel.
Keduanya melanjutkan memakan creampuff dan sibuk mengobrol sambil tertawa, melupakan apa yang menimpa mereka kemarin.

tamat

Cerpen Karangan: Livia Rossayyasy
IG: @liviarssy

Cerpen Kontes Memasak Endemmo merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Dark Fire 2 (Nightmare Part 2)

Oleh:
“Kyaaa!” Sebuah tengkorak keluar dari sana. Tengkorak itu terjatuh seketika ke tanah. Aku hanya bergidik ngeri. Perlahan, aku mulai masuk ke dalam peti kuno itu. Setelah masuk, ku tutup

Pembangkang

Oleh:
Pada suatu pagi disaat bel tanda masuk dibunyikan anak anak segera masuk kelas “Hey ayo cepat masuk!!” banyak anak anak yang terburu buru masuk kelas. Tetapi ada satu anak

Dunia Buku

Oleh:
Airin memandang sekelilingnya dengan takjub. Buku, buku di mana-mana. Rumah, meja, kursi, bantal dan bahkan televisi pun terbuat dari buku. Penduduknya? Tetap manusia. Anehnya, meski disenggol atau kejatuhan barang,

Biarkan Aku Membalas Kebaikanmu

Oleh:
Pria itu berjalan perlahan dengan tumpukan kayu bakar di punggungnya. Berat memang, tetapi ia tidak boleh kedinginan malam ini. Ia terus melanjutkan langkahnya, walau mulai tampak kepayahan. Menapaki jalan

Jangan Sakiti Hatinya

Oleh:
Suara tangisan bayi terdengar di sebuah Rumah sakit. Wanita yang ditinggal suaminya itu menangis melihat putri tunggalnya yang sekejap tadi lahir dengan sehat dan sempurna. Sanak saudara bertepuk tangan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kontes Memasak Endemmo”

  1. @Amyamy says:

    Aku suka sekali dengan semua cerpen yang kau buat. Aku ada rencana untuk membuat audio drama dari salah satu cerpen mu. Jika kau melihat ini bisakah kau menghubungi ku lewat email arroisifahmy[-at-]gmail.com atau media sosial seperti facebook atau Instagram @Amyamy ( Arroisi Fahmy ) ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *