Kristal Luciferin (Cahaya Keabadian)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 7 April 2017

Pada zaman dahulu kala, hiduplah para ajudan di suatu kastil. Mereka menghabiskan hidupnya untuk melindungi suatu hal yang sangat penting yang dimiliki oleh raja mereka, raja Inshiq.

Raja Inshiq, merupakan raja yang bersahaja, beliau tidak sombong dan tidak menghinakan bawahannya. Beliau terlihat bijaksana di mata ajudan-ajudannya, dan rumor yang beredar, raja inshiq ini sangatlah kuat. Maka dari itu, para ajudannya betah melayani raja yang mulia ini.

Akan tetapi sesungguhnya para ajudan raja inshiq tidak mengetahui hal penting yang harus dilindunginya tersebut, apakah hal penting itu berupa senjata pemusnah umat, atau hanya sebatas kekayaan yang begitu besar, yang hanya mereka tau ‘hal penting’ itu ada di suatu tempat di kastil kediaman raja inshiq ini.

Karena memang tidak ada yang tahu pasti tentang hal itu, rumor tentang ‘hal penting’ ini meluas ke penjuru negeri dan membuat orang lain menjadi penasaran. Sehingga tidak sedikit perampok yang menyusup ke dalam kastil untuk mencari-cari ‘hal penting’ itu. Tetapi karena pengawasan yang ketat oleh ajudan-ajudan raja, para perampok itu berhasil ditangkap atau bahkan dibunuh jika perampok memberikan perlawanan yang keras.

Raja inshiq menyadari kekacauan yang semakin menjadi-jadi di kastil kediamannya. Bahkan tidak jarang ada ajudannya yang terbunuh jika ada penyusupan. Mengetahui kejadian-kejadian yang seperti ini raja Inshiq tidak bisa tinggal diam saja.

Pada suatu pagi, Nukka, salah satu ajudan raja Inshiq sedang berlatih mengayunkan pedangnya di halaman belakang kastil.

“Tidak, tidak, masih ada yang kaku dalam ayunan pedangku.” Gumam Nukka sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Aku harus banyak berlatih lagi.”
“Kau itu memang pendekar pedang yang terbaik di kastil ini Nukka, sepertinya kau sudah melebihi Lorda.” Tiba-tiba suara muncul dari belakang Nukka.
Suara itu membuat Nukka refleks melihat ke belakangnya.
“Yang mulia, Anda mengagetkan aku saja.” Nukka memberikan salam penghormatan kepada sang raja, “Lorda masih lebih piawai memainkan pedangnya,”
“Dari dulu kau selalu berkata seperti itu Nukka, dan akan terus begitu.” Raja Inshiq tersenyum melihat tingkah Nukka yang rendah hati. “Nukka,” sekali lagi raja memanggil namanya.
“Iya yang mulia?”
“Bisa ikut ke ruangan bersama saya?”
Dengan penuh pertanyaan di pikiran Nukka, Nukka menerima ajakan rajanya.
“Bisa yang mulia.”

Nukka dan Raja Inshiq akhirnya beranjak dari halaman belakang kastil ke suatu ruangan bawah tanah yang berada di kastil ini. Ruangan bawah tanah ini diterangi oleh obor-obor di sepanjang dindingnya. Hingga mereka ke suatu pintu.

“Apakah kau pernah melihat kamar ini Nukka?”
“Jangankan kamar ini yang mulia, kastil ini memiliki ruang bawah tanah saja aku baru tahu.”
“Haha, jawabanmu persis seperti Lorda,”
“Lorda?”

Raja Inshiq membukakan pintu kamar tersebut, dan di sana sudah ada Lorda yang menunggu kedatangan mereka.
“Lorda, bagaimana kau bisa ada di sini?” Heran Nukka
“Saya diajak lebih dulu oleh raja, setelah menuntunku sampai sini, beliau menyuruhku untuk tetap di sini menunggu beliau mengajakmu Nukka,” jawab Lorda.
“Oh, aku mengerti.”

Setelah perbincangan itu, raja Inshiq menghampiri kursi yang berada di kamar itu dan duduk. Lorda dan Nukka menatap wajah raja dengan penuh pertanyaan, untuk apa mereka dipanggil ke ruangan bawah tanah ini. Di kamar ini hanya ada kursi yang diduduki oleh raja, obor-obor di setiap dinding-dindingnya, dan suatu peti tua yang tidak begitu mencolok keberadaannya.

“Apakah kalian tahu cahaya keabadian?” Raja Inshiq membuka pembicaraan.
“Cahaya keabadian?” mereka berdua menyerngit saling menatap bingung. “Kami tidak tahu yang mulia.”
“Sepertinya sekarang sudah tidak perlu saya tutup-tutupi kepada kalian berdua,” Ujar raja Inshiq menghelakan nafas yang panjang.
Mendengar hal itu membuat Lorda semakin penasaran dengan cahaya keabadian.
“Apa yang Anda maksud dengan cahaya keabadian yang mulia? Apakah itu matahari?” Lorda celetuk bertanya.
“Bukan Lorda, cahaya keabadian itu bukan berasal dari api yang sedang menerangi kamar ini, atau sinar bulan, juga bukan dari teriknya matahari yang kau pikirkan, tetapi cahaya keabadian berasal dari suatu kristal. Kristal itu disebut dengan kristal luciferin, pancaran cahaya dari kristal tersebut tidak akan pernah redup selama-lamanya,” Raja Inshiq melanjutkan sambil menunjuk peti tua yang terlilit oleh tali dengan wajah yang sedikit cemas, “Di dalam peti tua ini ada kristal luciferin. Hanya kita bertiga saja yang tahu keberadaan kristal tersebut, yang lain tidak mengetahuinya. Saya takut jika ada selain dari kita bertiga yang tahu, informasi ini akan menyebar, dan akan mengakibatkan peperangan. Bisa-bisa umat saling membunuh hanya karena memperebutkan kristal luciferin ini.”
“Sebegitu berharganya kristal luciferin sampai bisa membuat umat saling membunuh?” Tanya Nukka.
“Di dunia ini tidak ada penerangan yang abadi Nukka, bahkan semua umat sekarang memakai obor atau pelita untuk menerangi ruangannya. Mereka akan padam apinya jika bahan bakarnya habis. Bayangkan ada suatu penerangan yang tidak membutuhkan bahan bakar dan tidak pernah padam, sangat menguntungkan sekali bukan? Mungkin harga kristal ini dapat membeli dua buah negeri.” Jawab raja Inshiq.

Lorda dan Nukka menelan ludah dan termenung mendengar penjelasan oleh sang raja, sekaligus membayangkan betapa megahnya pancaran cahaya keabadian itu jika menyinari kamar ini. Sekarang mengetahui dan merahasiakan keberadaan kristal luciferin merupakan beban dan tanggung jawab yang harus diembani.

“Saya mengatakan hal ini kepada kalian karena kalian berdua adalah pengawal kepercayaan saya, dan saya tidak ingin ajudan-ajudan saya berfikir bahwa kematian teman-temanya itu sia-sia. Lorda dan Nukka mengetahui keberadaan kristal ini bagi saya itu sudah sangat cukup untuk meyakinkan mereka memang ada ‘hal penting’ yang harus dilindungi. Jagalah peti ini hingga saya kembali.” Ucap Raja inshiq sembari menepuk pundak kedua ajudannya.
“Memang yang mulia hendak pergi ke mana?” Tanya Nukka penasaran.
“Kali ini ada hal yang harus saya kerjakan di negeri seberang, itu akan memakan waktu selama enam hari sampai saya kembali ke kastil ini lagi. Apakah kalian sanggup menjaga kastil dan peti ini untuk saya?”
“Sanggup yang mulia!” Keduanya serempak mengucapkan dengan tegas.

Sudah empat hari semenjak raja Inshiq pergi dari kastilnya.
“Tidak terasa ya sudah dua hari lagi raja kan kembali,” ucap Nukka kepada Lorda.
“Hei Nukka, aku jadi penasaran bagaimana bentuk kristal luciferin itu,” celetuk Lorda mencoba mengajak Nukka ke ruangan bawah tanah.
“Hei, hei hei, apa yang akan kau lakukan Lorda?” tahan Nukka.
“Aku hanya penasaran saja, lagi pula apa salahnya kita melihat kristal yang berada di Peti tua itu?“ Lorda memberikan alasan yang masuk akal kepada Nukka.

Mereka berdua memasuki ruangan bawah tanah lalu masuk ke kamar yang terdapat peti tua itu. Dengan gugup mereka mendekati peti itu.
“Apa kau yakin akan hal ini Lorda?” Tanya Nukka sambil memegang obor di tangan kanannya.
“Ya-kin,” dengan nada yang agak sedikit dipaksakan.
“Lorda, aku jadi berpikir dengan bentuk kristal ini.”
“Hm. ya.” Lorda sibuk menguraikan tali yang meliliti peti tua tersebut.
“Lorda, aku baru saja membayangkan cahaya yang terpancar dari kristal luciferin.”
“Hm.”
“Apakah akan berwarna putih seperti bulan, atau merah seperti obor ini?”
“Nukka! Bisakah kau diam sebentar, dan kenapa jadi kau yang lebih penasaran daripadaku? Ngomong-ngomong dekatkan obormu, kau berdiri terlalu jauh. Aku kesulitan untuk mengurai tali-tali ini.”
“Hehe, maafkan aku.”

Akhirnya Lorda berhasil menguraikan lilitan tali itu. Lorda menatap ke belakang kepada Nukka. Nukka mengangguk mengiyakan keputusannya. ‘Klak’, peti tua itu pun terbuka.

“APA? KOSONG?” sontak Lorda kecewa, “Aku sudah menduganya, kita melindungi suatu hal yang tidak ada, yang kita lakukan selama ini sia-sia!”

Nukka hanya tertegun tidak percaya dengan apa yang dilihatnya juga.

“Jadi selama ini kita melindungi apa? Melindungi hal yang tidak ada? Dasar raja pembunuh!” Kesal Lorda, “Awalnya aku mau direkrut oleh raja karena raja ingin melindungi sesuatu yang penting, sampai aku bertanya-tanya, apa ‘hal penting’ itu, dan akhirnya kita diberi tahu bahwa ‘hal penting’ itu adalah kristal Luciferin. Akan tetapi kenyataannya semua yang dikatakannya dusta.”

Nukka meneteskan air matanya, bertapa teganya sang raja jika berbohong kepada ajudan-ajudannya. Sudah puluhan ajudan raja Inshiq jika dijumlahkan dari dulu hingga sekarang yang terbunuh akibat memberikan perlawanan kepada perampok yang mencoba memasuki kastil untuk mencuri barang-barang yang berharga. Walaupun pada akhirnya perampok itu tertangkap, tetapi merupakan pukulan yang sakit melihat teman sendiri dibunuh oleh perampok. Apalagi sekarang tahu bahwa ’hal penting’ itu ternyata nihil.

“Kalian berdua adalah pengawal kepercayaan saya.” “Jagalah peti ini hingga saya kembali.” Tetapi kata-kata rajanya itu tiba-tiba teringat di dalam pikiran Nukka.

“Pegang obor ini sebentar Lorda,” Nukka memberikan obornya kepada Lorda
“Apa yang kau lakukan Nukka?” Tanya Lorda melihat Nukka membereskan petinya menjadi seperti keadaan semula.
“Kita akan tetap melindungi peti tua ini hingga raja kembali!”
“Apa kau gila Nukka?!” Lorda kecewa lagi. “Apakah kau tidak melihat sendiri kristal luciferin tidak ada? Dengan ini aku menyimpulkan keberadaan kristal luciferin itu hanya kebohongan, Semua yang dikatakan oleh raja itu dusta agar kita tetap menjadi bawahan setianya! Bahkan kita sekarang tidak tau dia pergi ke mana. Cahaya keabadian itu hanya dongeng belaka Nukka!”
“Ta.. tapi.”
“Tapi apa? Jangan bilang kau masih percaya dengan cahaya keabadian itu? Jangan bodoh.”
“Aku tidak merasa raja Inshiq membohongi kita lorda! Untuk apa waktu itu kita ditunjuk oleh raja ke tempat ini? Untuk apa beliau menjelaskann kristal itu? Apakah kau tidak melihat wajah beliau sewaktu menjelaskan begitu cemas akan masa depan yang akan kita hadapi? Semua itu hanya sekedar membohongi kita? Itu tidak masuk akal!”
“Aku pun berfikiran seperti itu, tetapi ini kenyataannya!” Lorda menunjuk peti tua itu, “Peti ini kosong!”
“…” Lagi-lagi Nukka tertegun menatap peti yang kosong itu, “Mungkin saja yang dimaksud kristal luciferin adalah sesuatu yang tersirat?”
“Konyol sekali kau Nukka. Itu tidak mengubah fakta bahwa raja telah berbohong kepada kita tentang isi dari peti tua ini!”

Lorda memberitahu kepada ajudan-ajudan lain bahwa tidak ada yang harus dilindungi dari kastil ini, tidak ada alasan lagi untuk melindungi ‘hal penting’ raja inshiq, dan mengikuti raja pendusta dan pembunuh itu.

Semua ajudan bingung, tetapi percaya dengan perkataan Lorda karena memang Nukka dan Lorda merupakan komandan tertinggi mereka di bawah raja Inshiq.

“Kami berdua menjadi saksi atas ketidakadaan ‘hal penting’ itu, kami melihatnya dengan mata kepala kami sendiri!” Ucap Lorda dengan lantang kepada ajudan-ajudan yang lain.

Nukka hanya bisa diam terpaku tidak tau harus berbuat apa, ia mengerti akan perasaan Lorda dan para ajudan, tetapi di lain sisi juga ia merasa raja Inshiq tidak membohonginya, hati kecilnya masih percaya dengan beliau.

“Ayo kita tinggalkan kastil ini!” Ajak Lorda kepada para ajudan.
Merasa kesal juga karena mereka ditipu oleh raja Inshiq, para ajudan yang lain menyetujuinya, “Ayo!”

Lorda yang pertama meninggalkan kastil, disusul dengan ajudan-ajudan yang lain. Nukka melihat para ajudan pergi satu per satu meninggalkan kastil secara berbondong-bondong. Hingga hanya dia yang tersisa, sendiri di dalam kasti.

Pada dua hari terakhir kepergian raja inshiq, perampok bertubi-tubi berdatangan ingin mencuri barang berharga dari kerajaan karena kastil tersebut terlihat sepi.

“Rasakan ini!” “Hyaaa,” “Jangan sekali-kali kau berharap bisa memasuki kastil ini orang asing!” Nukka bertarung melawan perampok-perampok yang mencoba menyusup.

Tetap saja perampok bersikeras melawan Nukka yang hanya sendirian di depan kastil. Sehingga Nukka harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan para perampok yang berdatangan.

“APA? KOSONG?” “Jadi kita selama ini melindungi apa?” “Itu tidak mengubah fakta bahwa raja telah berbohong kepada kita tentang isi dari peti tua ini.” “Cahaya keabadian itu hanya dongeng belaka Nukka!”

“Kau itu memang pendekar pedang yang terbaik di kastil ini Nukka.”
”Lorda masih lebih piawai memainkan pedangnya.”
“Dari dulu kau selalu berkata seperti itu Nukka, dan akan terus begitu.”

“Apakah kalian tahu cahaya keabadian?”
“Cahaya keabadian?”
“Kristal itu disebut dengan kristal luciferin, pancaran cahaya dari kristal tersebut tidak akan pernah redup selama-lamanya.”

“Haha, jawabanmu persis seperti Lorda” “Bisa-bisa umat saling membunuh hanya karena memperebutkan kristal luciferin ini.” “Kalian berdua adalah pengawal kepercayaan saya.” “Jagalah peti ini hingga saya kembali.”

Perkataan-perkataan tersebutlah yang masih terngiang-ngiang di dalam pikiran Nukka, perkataan dari Lorda dan rajanya.

“Yang mulia, apakah benar semua perkataanmu, kecemasanmu, senyumu, bahkan tertawamu itu adalah bohong?” Nukka berbicara di dalam hatinya sambil menebas musuh dengan pedangnya. “Tapi bagaimana jika Anda memang berbohong?” “HAAAAA…” Nukka teriak menghabisi perampok di hadapannya.

Dua hari pun berlalu, raja Inshiq akhirnya pulang dari suatu negeri. Di sampainya di pintu gerbang, beliau terbelalak melihat Nukka berlumuran darah dan penuh luka masih menghunuskan pedangnya dengan posisi kuda-kuda siap tempur berdiri tegak di depan kastil!

“Apa yang terjadi Nukka? Di mana yang lainnya? Di mana Lorda?” Raja Inshiq berlari mendekati Nukka.
“Oh, ternyata Anda raja, selamat datang,” Ucap Nukka dengan suara yang lirih. “Semua baik-baik saja yang muli…” Tiba-tiba Nukka terjatuh.

“Dimana aku?” Tiba-tiba Nukka terbangun dari tempat tidur.
“Kau sudah beristirahat selama tiga hari,” Ujar seseorang memakai perban di kepalanya dan di tangannya.
“Kamu sia..? yang mulia!? Kenapa Anda bisa sampai seperti ini?”
“Lebih baik pikirkanlah diri kamu sendiri Nukka. Saya sangat tidak apa-apa jika dibandingkan dengan kau tiga hari yang lalu. Apakah kamu merasa lebih baik?”
“Sekarang aku merasa lebih baik yang mulia.”
“Syukurlah.”
Nukka terhenti sejenak mengingat-ingat, “Bagaimana dengan perampok dan penjahatnya?”
“Sepertinya sudah tidak ada lagi penjahat yang datang.”

Mendengar hal itu membuat Nukka refleks beranjak dari tempat tidur untuk melihat perkarangan depan kastil lewat jendela kamar. Setelah membuka gorden, Nukka terkejut terhenti nafasnya, membayangkan seberapa kuat sebenarnya raja Inshiq ini. Ternyata sudah banyak puluhan mayat yang tidak dikenal tergeletak di perkarangan kastil!

“Nukka, di mana yang lainnya? Dimana Lorda?”
Mendengar pertanyaan raja Inshiq dari arah belakangnya membuat Nukka mengingat lagi akan suatu hal yang ingin diklarifikasi oleh rajanya.

“Apakah benar Anda berbohong yang mulia?” Nukka membalikan badannya.
“Maksudnya?”
“Iya Anda berbohong, tidak ada hal penting yang harus kita lindungi sebenarnya. Kristal Luciferin hanya karang-karangan yang Anda buat!” Nukka hampir kehilangan kontrolnya.
“Tidak Nukka, yang saya katakan itu benar.” Tetapi raja Inshiq membalasnya dengan tenang.
“Peti tua itu kosong!” Sentak Nukka.

Mendengar hal itu Raja Inshiq terhenti sebentar,
“Oh saya mengerti, jadi kalian berdua sudah melihat isi peti itu ya?” Ujar Raja inshiq sambil menghelakan nafas, “Apakah kau mau ikut denganku lagi Nukka? Lagi pula saya sudah mengambil keputusan.”
“Keputusan apa?”
“Ikuti saja saya dahulu.”

Nukka diajak oleh raja Inshiq ke ruangan bawah tanah yang terdapat peti tua itu lagi.
“Untuk apa kita ke sini lagi yang mulia? Bukannya cahaya keabadian itu hanyalah dongeng?”
Raja Inshiq mengabaikan perkataan Nukka dan bertanya, “Apakah kau bisa mendorong peti ini Nukka?”

Mendengar pertanyaan aneh dari rajanya, Nukka penasaran mencoba mendorong peti tua itu, tetapi sekeras usaha yang dilakukan oleh Nukka tidak bisa.
“Saya tidak bisa melakukannya yang mulia,” jawab Nukka
“Memang tidak akan bisa melakukannya, karena peti ini memiliki fondasi.” Ujar raja Inshiq
“Fondasi?”

Raja menguraikan tali yang membelit pada peti tua itu dan membukanya.
“Tali yang membelit peti ini pun tidak melingkari peti secara vertikal kan? Hal itu memang tidak bisa dilakukan karena peti ini menempel pada lantai.”
“Oh iya betul juga.” Nukka masih mencari inti dari penjelasan raja.
“Lalu perhatikan peti tua yang terbuka ini Nukka, terdapat lubang kecil di pojok kiri, itu merupakan lubang kunci untuk membuka alas peti tua ini.”

Mendengar hal tersebut membuat Nukka sontak kaget.

“Ohh! Jadi jangan-jangan kristal luciferin yang dimaksud ada di bawah peti tua ini?” Tanya Nukka mengklarifikasikan hipotesisnya.
“Ya tepat sekali Nukka, dan yang bisa membuka alas peti ini hanya saya,” Raja Inshiq mengeluarkan kunci yang dikenakan di kalunganya. “Tetapi jika perampok cukup jeli bisa saja alas peti ini didobrak dengan sesuatu yang sangat berat.”

Raja Inshiq mulai memasukan kuncinya ke lubang kecil itu, Nukka yang dari tadi dikagetkan oleh sang raja hanya bisa merinding membayangkan bentuk kristal luciferin yang akan ia lihat ternyata benar-benar ada. Alas peti itu pun terbuka dan langsung terdapat cahaya yang memancar ke atas hingga ke langit-langit ruangan. Lagi-lagi Nukka sontak kaget dengan pancaran cahaya tersebut, sedangkan raja Inshiq mengambil benda yang ada di dalam peti tua tersebut.

“Sangat indah bukan kristal luciferin?” Raja Inshiq menunjukannya kepada Nukka. “Kristal ini memancarkan cahaya berwarna kuning kehijau-hijauan. Begitu cerahnya.”

Melihat kristal itu air mata Nukka sudah tidak bisa dibendung lagi, Nukka pun menangis.
“Maafkan aku yang mulia, aku hampir meragukan Anda sebagai rajaku sendiri” isak Nukka, “Aku selalu percaya kepada Anda, sampai Lorda menunjukan bahwa peti tua ini kosong sehingga kepercayaan saya goyah. Aku mencoba tetap percaya tetapi Lorda menekanku, dan lebih lagi saya tidak tega jika rekan-rekanku mati sia-sia yang mulia.”
“Tetapi kau tetap di sini Nukka, terimakasih karena tetap percaya kepada saya. Saya mengerti betul perasaan yang kamu rasakan.” Ucap lembut sang raja.

Nukka tetap menangis.

“Oleh karena itu saya sudah mengambil keputusan untuk menanamkan kristal ini kepadamu.”

Ucapan raja inshiq lagi-lagi membuat Nukka sontak.

“Maksudnya?, dan kenapa harus aku?”
“Iya saya sudah berpikir matang-matang, Awalnya saya ingin memusnahkan kristal ini, akan tetapi itu mustahil. Keberadaan kristal luciferin di dunia ini bukanlah suatu dosa, tetapi suatu anugrah. Maka dari itu saya memutuskan untuk menanamkannya kepada seseorang, itu merupakan solusi terbaik untuk menutupi keberadaan kristal ini, dan orang itu adalah kau.”
“Tetapi kenapa ak..”
“Karena kau rendah hati,” dengan cekat raja merespon Nukka. “Kau memiliki hati yang sangat baik. Sehingga mungkin setelah aku tanamkan kristal ini kepadamu, kau akan dianggap mahkluk yang luar biasa dan kau akan disanjung. Tetapi itu tidak membuat kamu menjadi sombong.”

Mendengar perkataan yang bijak dari raja inshiq, Nukka hanya bisa pasrah dengan keputusan beliau. Beliau pun menanamkan kristal luciferin itu ke dalam tubuh Nukka.

“Lihatlah dirimu, sekarang tubuhmu bersinar, sungguh indah.” Senyum raja inshiq begitu takjub.
“Aku makhluk biasa, sama seperti yang lain yang mulia,” tanggap Nukka.

Mendengar hal itu raja inshiq tersentuh. Beliau tidak salah memilih orang.

“Mungkin anak keturunan kau akan memiliki tubuh yang bersinar juga.”
“Sungguh?”
“Bimbing mereka agar menjadi sepertimu.”

Akhirnya Raja inshiq menutup kerajaannya, mereka berdua menjalani hidup seperti biasa di suatu desa. Walaupun warga desa awalnya kaget dengan Nukka yang memiliki tubuh yang bersinar, akan tetapi karena kerendahan hati Nukka, lama-kelamaan warga desa di tempat itu menjadi terbiasa.

Puluhan tahun pun berlalu, rumor tentang seseorang yang bersinar itu menyebar ke seluruh bagian negeri. Lorda yang mendengar rumor tersebut jadi teringat dengan perkataan rajanya dahulu. Mungkin orang yang bersinar itu dampak dari kristal luciferin, jangan-jangan orang itu adalah sang raja atau Nukka pikirnya.

Setelah itu, sepanjang hidup Lorda dihabiskan untuk merantau mencari raja Inshiq, Nukka, dan kristal luciferin, akan tetapi sampai akhir hayatnya ia ditakdirkan tidak dipertemukan dengan mereka.

Sebelum keberangkatan merantaunya, Lorda pernah bercerita kepada anak cucunya tentang cahaya keabadian persis seperti raja Inshiq dulu bercerita kepadanya. Lorda meyakinkan anak cucunya bahwa kristal luciferin itu benar-benar ada di dunia ini.

Berabad-abad telah berlalu, anak keturunan Lorda masih mencari ‘cahaya keabadian’ yang pernah diceritakan oleh nenek moyangnya. Anak keturunan Lorda saat ini disebut laron. Mereka tidak tahu bahwa kristal luciferin itu sudah tertanam di kunang-kunang yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya sejak dulu, yaitu Nukka.

Inilah dongeng tentang kenapa laron selalu mendekati cahaya dan kenapa kunang-kunang memiliki tubuh yang selalu bersinar.

TAMAT

Cerpen Karangan: Pradipta Alamsah Reksaputra
Blog: pradiptaar.wordpress.com

Cerpen Kristal Luciferin (Cahaya Keabadian) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Golden Ages of Gaia

Oleh:
Pada awal pembentukan dunia. Tercipta dewi yang bernama Gaia. Dewi tersebut menciptakan seluruh isi bumi. Yang pertama diciptakannya ialah bangsa Elf yang diciptakan dari cahaya bintang kejora. Bangsa itu

Dunia Di Bawah Tanda (Part 1)

Oleh:
“kring kring…” bunyi telepon rumah milik keluarga dani berbunyi, siapa pula pagi-pagi gini telepon, nggak ada waktu apa “ya halo” kata dani sambil menahan kuap “siapa nih” “oi dan,

Kereta Masa Lalu (Part 1)

Oleh:
Di dalam hutan yang lebat bernama hutan sunyi, Romi sedang menunggu di atas rumah pohonnya. “lama sekali, sial!” gumamnya sambil terus mencari sasarannya menggunakan teleskop yang ada pada senapannya,

Tarian si Kulit Besi

Oleh:
Rabu siang, keramaian di salah satu dusun terpencil di kota ini membuat rasa penasaran ku semakin membludak. Terlihat banyak orang berbondong-bondong menyaksikan penemuan mayat seorang bocah laki-laki yang mengambang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kristal Luciferin (Cahaya Keabadian)”

  1. looki says:

    Anak cucu nukka kunang kunang,

    Sedangkan anak cucu lorda adalah Laron
    istrinya nukka dan lorda serangga ya?????

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *