Kunci Ajaib (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 4 September 2015

Dulu saat aku masih kecil, Kakek selalu menceritakan kisah dongeng. Kakek menceritakannya dengan hati senang. Seolah-olah Kakek pernah ke sana. Kakek bilang, jika ingin pergi ke dunia dongeng. Kau harus memiliki kunci ajaib dan cermin ajaib.

Namun di usia 12 tahun. Kakekku meninggal. Sebelum meninggal, Kakek memberikan sebuah kalung liontin berbentuk kunci keemasan dan dihiasi permata Pink. Kakek mengatakan hal terakhir padaku.
“Nina, gunakanlah kunci ajaib itu dengan baik. Jangan sampai penyihir jahat itu bebas dan mendapatkan kunci ajaib.” Kata Kakek.
“Penyihiir?” Nina tak paham maksud perkataan Kakeknya.
“Suatu hari, kau akan paham sayang.” Kata Kakek.

Nina sudah kelas 2 SMP. Dia memiliki sahabat bernama Tiara, Nana, Radit dan Andi. Mereka sangat kompak.

“Nin, kalung kamu bagus. Beli di mana?” Kata Nana.
“Oh, ini. Kalung pemberian dari Kakek aku.” Kata Nina. “Kakek bilang ini kunci ajaib.”
“Kunci ajaib? Benaarkah?” Tiara ikut mendengarnya.
“Kalau bener itu kunci ajaib. Kenapa kita gak coba?” Kata Radit.
“Tapi àda yang kurang. Kita mesti butuh cermin ajaib. Untuk masuk dunia dongeng.” Kata Nina.
“Ah, serius? Emang lu tahu cermin ajaibnya di mana?” Kata Tiara.
“Di rumah Kakek.” Jawab Nina.
“Gimana kalau pulang sekolah? Kita ke sana. ” Ajak Nana.
“Setuju banget. Eh, jangan lupa ajak si Andi.” Kata Tiara.
“Bereees.”Sahut Radit.

Pukul 12.00 siang, bel berbunyi menandakan jam pulang sekolah. Nina dan temannya minta izin pergi. Pergi ke rumah Kakek Nina. Sesampai di sana. Nina dan the gengnya, sibuk mencari cermin ajaib.
“Nin, kita udah nyari. Tapi gak ada cermin yang lu ceritain. Yang ada cuma cermin biasa.” Keluh si Nana.
“Aku yakin banget. Cermin ajaib itu ada.” Kata Nina. Tiba-tiba saja, kalung Nina bercahaya.
“Nin, kalung kamu bercahaya?” Kata Andi.

Sebuah lemari kecil bergambar bunga warna pink. Celah-celahnya mengeluarkan cahaya pink. Nina mencoba buka lemari itu dengan kunci ajaib. Lemari itu terbuka lebar. Cahaya pink melayang di depan kami. Lama kelamaan cahaya itu berubah menjadi cermin ajaib yang dihiasi permata besar berwarna pink sama seperti kunci ajaib. Semua temannya kagum menyaksikan kejaiban yang mustahil.

“Wah! Keren…” Kata Radit.
“Nin, ayoo. Kita masuk dunia dongeng kayak gimana?” Ajak Tiara yang dari tadi matanya berbinar.
“Oke.” Nina menarik napas panjang. Kunci itu dimasukkan ke lubang permata besar.

Treek!Suara tanda cermin terbuka. Cermin mulai menggumpal seperti awan putih. Seputih kapas semakin lama berwarna biru laut dan berawan.
“Kalau dilihat, mirip kayak kita berada di luar angkasa. Bumi dilihat dari luar angkasa sama persis.” Kata Andi yang paling pintar di sekolah.
“Iya yah.” Kata Nana.
“Aah, lu! Semua banyak ngomong. Kapan kita masuknya?” Kata Radit gak sabaran.

Nina meraba cermin itu dengan hati-hati. Tangannya menembus ke dalam cermin. Radit mendorong Nina cukup jauh.
“Aaaah!!” Teriakkan Nina sangat keras. Disusul temannya dari atas. Mereka terbang tak karuan.
“Gilaaaa..” Kata Tiara.
“Ini sama aja bunuh dirii.” Jeriit Tiara lagi. Mereka mendarat sangat mulus di padang rumput seperti rumah balon. Rumput itu empuk sekali. Tidak sakit sedikitpun.
“Kalian semua gak apa-apa kan?” Tanya Nina.
“Gue pikir, kita bakal mati di sini.” Kata Radit.
“Gak bisa ngebayangin tadi. Di dunia kita mungkin udah mati.” Nana gemeteran ketakutan.
“Betuul.” Sahut Andi.

Hanya Ninalah yang tidak merasakan seperti temannya. Dia malah memperhatikan sebuah rumah berbentuk pohon jamur.
“Nin, kita di mana?” Tanya Andi.
“Di rumah 7 kurcaci.” Jawabnya.
“Kurcaci?” Serempak.
“Wah, senengnya bisa ketemu kurcaci sungguhan. Biasanya aku liat di TV.” Kata Nana.
“Ayoo. Kita ke sana.” Pinta Tiara.

Nina memakai kalung itu dan menyelipkan ke dalam jaketnya. Semua berjalan menuju rumah kurcaci.
“Wah.. pemandangannya keren banget.” Kata Nana. “aku foto aah.. Loh, kok gak ada sinyalnya.” Keluh Nana.
“Yaiyalah.. Na. Di dunia dongeng mana ada sinyal.” Kata Andi.
“Yah. Gak bisa ngasih tau temen kelas donk.” Kecewa.

Segerombol kurcaci datang membawa keranjang buah dan makanan. Salah satu kurcaci menjerit histeris saat melihat kami. Langsung ngumpet di kolong bebatuan. Ada yang menakuti kami dengan pisau besar. Nina tersenyum dan membungkukkan badannya.

“Hallo.. Saya Nina Budiman.”
“Aha. Kamu cucu Amin Budiman yah?” Kata kurcaci pakaian berwarna merah dan berkacamata. Memiliki janggut sangat lebat dibanding kurcaci lainnya.
“Saya Jerry pemimpin kurcaci.” Katanya. Jerry membalikkan badannya. “Hooi, kalian tak perlu takut. Mereka bukan bagian dari penyihir.” Memberitahu temannya.
“Penyihir?” Tiara jidatnya berkerut. “Emang tampang kita kayak nenek sihir yah?” Bisiknya.
“Hehehe.. Emang tampang lu kalau lagi marah mirip banget kayak nenek-nenek.” Goda Radit.
“Buuk.” Pukulan maut mengenai kepala Radit. Radit pun meringis kesakitan. Tiara cemberut.

Nina dan temannya istirahat di rumah kurcaci. Kurcaci menceritakan tentang kisah negeri dongeng. Di dekat rumahnya ada sebuah istana cermin berlian milik seorang penyihir baik. Penyihir itu menciptakan cermin-cermin yang menuju dunia berbeda. Bisa membawa ke dunia putri salju, Cinderella, Rampuzel, dunia peri, dunia penyihir dan lainnya. Kecuali cermin paling ujung dilarang masuk. Karena cermin itu adalah dunia penjara. Tempat penyihir jahat dan kejam.

“Kalian boleh mengunjungi tempat lainnya dengan kunci ajaib. Hanya satu cermin yang tidak boleh dibuka. Kalau penyihir itu bebas dunia kita dan kalian dalam bahaya.” Jerry memberi amanah yang sangat penting ke pada kami.

Cerpen Karangan: Riyatmi Djoyosoewito
Facebook: riatmi_mimi2001[-at-]yahoo.com

Cerpen Kunci Ajaib (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hutan Pinus Bersuara

Oleh:
Entah kenapa malam ini aku sangat sulit sekali tidur… badanku pun sudah sangat kelelahan setelah seharian beraktifitas disekolah… ya,,,,aku cukup sibuk akhir2 ini karna akan ada acara Pentas seni

Selamat Jalan Nia

Oleh:
“ih kenapa nia gak pernah mau balas surat aku?” tanyaku sambil kesal dalam hatiku. “dan kenapa mulai beberapa hari ini nia berubah?” tanyaku lagi dalam hatiku. Lalu aku menulis

Lemari Tua

Oleh:
Pada saat pagi hari yang terik aku terus berjalan menyusuri jalan raya menuju rumahku, keringatku terus bercucuran karena matahari yang sangat menyengat hingga menusuk ke kulit pori pori kulitku

Sang Detektif

Oleh:
Hari ini, Indri menangis. Handphone baru pemberian Ayahnya hilang. “Sebelum salat, aku letakkan di dalam tas. Saat selesai salat, handphone itu hilang. Huhuhu.” ucap Indri sambil menangis. Wali kelas

Sasa Anak Yang Baik

Oleh:
“Sasa, ayo cepat!” perintah Ibu Sasa yang sudah berkepala tiga. “Iya ibu” ucap Sasa. “Ini ya, dagangannya kalau pulang jangan sampai maghrib” perintah Ibu Sasa lagi. “iya” balas Sasa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *