Kutukan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 7 January 2016

“Vio!! tunggu!! lo mau ke mana?” teriak Leo berusaha menghentikanku. Aku panik, aku bingung. yang bisa aku lakukan saat itu hanyalah berlari sejauh mungkin dari hadapan Leo.

“Bu… bu… cepetan dong!! lelet banget sih.” kataku kesal pada seorang pelayan kampus paruh baya.
“Iya, sabar mbak. Ini.” kata pelayan itu sembari memberikan jus alpukat pesananku dan Leo.
Karena terlalu buru-buru dan gugup, pelayan itu menumpahkan jus alpukat itu dan…

“BYURR!!” jus alpukat itu menimpa baju yang saat itu aku kenakan.
“Dasar bodoh, lo sengaja ya? lihat nih baju gue jadi basah. Lo harus ganti. Baju gue mahal tahu..” kataku penuh emosi. “Maafkan saya, mbak.. saya sungguh tidak sengaja..” ucap pelayan itu lirih.

Pelayan itu sangat ketakutan dan bingung harus berbuat apa. “Udah dong, Vio.. dia kan sudah minta maaf.. lagian kan itu nggak sengaja..” kata Leo membenarkan.
Tanpa menggubris apa yang dikatakan oleh Leo, dengan sengaja aku mendorong pelayan tua itu kemudian pergi ke kamar kecil. “Dasar pelayan ceroboh!” aku terus saja menghardiknya sembari mengeringkan bajuku di depan cermin.

Tiba-tiba saja seluruh kulitku memerah dan di bagian bawah hidungku terasa gatal sekali, sehingga aku menggaruknya hingga memerah. Setelah cukup lama aku menggaruk tiba-tiba saja di bagian bawah hidungku tumbuh kumis yang cukup panjang. Kemudian disusul kedua telingaku yang berubah menjadi aneh, kulit berbulu dan anehnya tumbuh ekor.. What! Ekor?
“Apa ini?” aku sungguh terkejut.
“Si..si..Siluman kucing!!!” teriak seorang wanita yang terkejut karena melihat wujudku yang aneh.

Aku mencoba menjelaskan sesuatu kepadanya, namun aku tak bisa berkata apa-apa, hanya satu kata. “Meong…” ya, aku hanya bisa mengeong seperti kucing. Cukup lama aku mengurung diri di kamar kecil kampusku. Aku takut, aku panik seperti anak kucing yang kehilangan induknya. Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamar kecil itu. Ya, itu Leo. “Vio! lo lama banget sih di dalem?” teriak Leo dari luar.

Aku semakin panik. Cepat-cepat aku menutupi semua perubahan aneh ini. Aku menutupi tubuhku yang berbulu dengan jaket yang sengaja aku ikat di pinggang. Sedangkan telingaku, aku menutupinya dengan topi kupluk dari jaket. Sehingga yang tersisa saat itu hanya ekor, karena aku menutup kumisku dengan kedua telapak tanganku. Dengan perlahan aku membuka pintu dan menemui Leo. “Vio.., lo kenapa? lo sakit?” tanya Leo sambil membolak-balikkan telapak tangannya tepat di dahiku. Aku takut jika Leo melihat perubahan ini, oleh karenanya aku lari pergi meninggalkannya.

Dengan sekuat tenaga, ku kayuhkan kaki mungilku cepat untuk sampai di rumah. Jarak rumahku dari kampus kurang lebih 2 kilometer. Cukup jauh bukan? Akhirnya dengan napas terengah-engah aku sampai di depan gerbang rumahku. Di sana ada pembantuku, namanya mbok Rondo. Melihat aku di depan gerbang, cepat-cepat ia membukakan pintu gerbang itu untukku.

“Aduh.. Non Vio, kok cepat sekali pulangnya?” tanya Mbok Rondo heran.
“Meong…” kataku.

Haduh aku lupa. Aku hanya bisa mengeong. Cepat-cepat aku masuk kamar. Setelah sampai di kamar, sesegera mungkin aku melepas jaketku dan merebahkan tubuhku di kasur kesayanganku. Dan kemudian tertidur. Di dalam tidurku aku bermimpi didatangi seekor kucing. Kusing tesebut meninggalkan pesan untukku. “Meong.. meong..” (Jangan sakiti kami!!) Mendengar perkataannya itu aku mengingat sesuatu.

“Dasar kucing jelek. Sana pergi!” ucapku sangat kasar pada kucing itu kemudian menendangnya.

“TIIDDAAKKKK.!!” aku terbangun dari tidurku.

Dan di sampingku ada mama, papa, mbok rondo, serta Dokter pribadi keluarga kami.
“Syukurlah sayang, akhirnya kamu sadar juga” ucap mamaku.
“Memangnya apa yang terjadi, Ma?” tanyaku setengah sadar.
“Sudah 2 hari kamu koma.” jelas Dokter.
“Apa?” aku setengah tekejut.

Aku sangat beruntung kutukan Itu tidak nyata, aku hanya bemimpi. Sejak saat itu aku tidak lagi berkata-kata kasar pada siapa pun. Bahkan aku mempunyai niat untuk merawat seekor kucing. Padahal mamaku sangat mengetahui sifatku. Ya, aku sangat benci dengan kucing. Sampai suatu saat mamaku menanyakan. “Mengapa sifatku berubah drastis?” lalu aku jawab, “Aku bermimpi dikutuk oleh kucing menjadi siluman kucing.”

The End

Cerpen Karangan: Dewi Sulistyowati
Facebook: Dewi Sulistyowati

Cerpen Kutukan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kunci Ajaib (Part 1)

Oleh:
Dulu saat aku masih kecil, Kakek selalu menceritakan kisah dongeng. Kakek menceritakannya dengan hati senang. Seolah-olah Kakek pernah ke sana. Kakek bilang, jika ingin pergi ke dunia dongeng. Kau

The Future

Oleh:
“Apa yang kau lakukan?” teriak seorang laki-laki. “Aku?” jawab laki-laki satunya. “Aku hanya mengambil apa yang aku ingin lakukan?” Sinis laki-laki tersebut. “Sebaiknya kau kembalikan! Kalau tidak…” sahut Suna.

Misteri Benda Melayang

Oleh:
Ayana puspita lestari yang biasa dipanggil ayana adalah anak sebatang kara dari bapak surtono wedyo purtomo dan ibu nurhayati suryati. Ayana adalah anak yang berani dan pintar. Suatu hari,

Knight of Blade Red Fire

Oleh:
Malam hari, telah tiba saatnya, bagiku untuk menghadap buku-buku pelajaran yang akan ku pelajari dalam ulangan harian besok pagi di sekolah, ku tarik kursi yang berada di hadapanku, dan

Dream Wanderer

Oleh:
Seorang pria tersentak dan tersadar, “apa yang barusan terjadi?” perasaan bingung menghantui pikirannya. Satu yang dia tahu, seseorang berusaha menyadarkannya dari sesuatu, ya sesuatu dari masa lampau. Pria itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *