Langit Hijau

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 5 June 2013

Suatu ketika, aku bertemu dengan sebuah bintang jatuh. Aku bertanya kepadanya, “Hei, apakah Kau mau menemui langit hijau?”

Dia menjawab, “Langit hijau? Apa itu?”

“Langit di mana Kau bisa terbang bebas. Aku ingin kau kesana jika aku sudah menemukannya.”

Dia heran dan mengacuhkanku. Dia kembali berenang menjauh dariku. Berenang di langit biru. Aku ingin dia suatu saat berenang di langit hijau.

Di sebuah pagi yang sejuk, aku menemui burung-burung bermain di sekitar awan. Gumpalan awan yang terlihat manis. Kemudian mereka memakan awan itu, menikmati kelezatannya.

“Hei, ikutlah dengan kami,” ajak burung kepadaku.

“Maaf, aku tidak bisa,” jawabku. “Aku lebih ingin memakan awan di langit hijau.”

“Langit hijau? Apa itu?” Tanya burung tadi.

“Ya, langit hijau, akan ku ajak Kau ke sana saat aku menemukannya, untuk menikmati awan kapas yang nikmat,” Jawabku.

Burung itu tampak keheranan kemudian mengacuhkanku. Aku ingin sekali ikut dengannya, tapi aku tak bisa.

Saat berjalan di tepian sungai, aku melihat bayanganku yang terpantul dari kejernihan air yang begitu cerah. Terpancar begitu memukau saat di belakangnya terlihat langit biru. Aku ingin menemuinya.

“Mau bermain bersamaku?” Ajaknya.

“Maaf, aku tak bisa. Aku tak bias masuk ke sana,” Tolakku.

“Kenapa?” Balasnya.

“Aku ingin Kau berada di langit hijau,” Jawabku.

“Langit hijau? Apa itu?” Balasnya.

“Aku akan mengajakmu ke sana jika aku sudah menemukannya,” Jawabku.

Setelah itu aku membiarkannya. Aku ingin bermain dengannya, tapi aku tak bisa. Aku ingin melihatnya lagi ketika aku sudah menemukan langit hijau.

Aku mencari, terus mencari. Bertanya ke sana kemari. Kepada seseorang dan beberapa orang. Bertanya, “Apakah pernah mendengar langit hijau?” Atau, “Apakah pernah melihat langit hijau?” Tak ada yang menjawab iya. Aku terus berusaha.

Aku mencoba mencarinya. Tak tahu kapan akan bertemu dengannya. Mereka kemudian menertawakannya. Betapa bodohnya aku. Betapa aku mencari yang tak pernah terdengar dan terlihat oleh mereka. Walau begitu aku tak ingin menyesal. Walau tak pernah, tapi aku tetap akan mencarinya.

Walau mereka menyesal, aku tak ingin menyesal. Sekali saja, aku ingin menemukannya kemudian mengajak bintang jatuh berenang di sana. Mengajak burung memakan awan kapas yang sangat lezat dan mengajak bayanganku bermain di dalam pantulan air sungai. Di langit hijau.

“Anak muda, kita sudah pernah bertemu,” kata seseorang.

“Benarkah? Kenapa tidak ada yang mengatakan pernah mendengar atau melihatmu?” tanyaku.

“Aku tak ada di manapun,” jawabnya. “Cukuplah aku di dalam pikiranmu dan hanya sekali saja kita bertemu. Begitu bukan, yang Kau inginkan?”

“Benar. Tapi aku tak ingin menyesal. Aku ingin mereka melihatmu pula. Walaupun hanya sekali,” jawabku.

“Aku sudah cukup tua untuk bertemu begitu banyak orang. Maaf, aku tak bisa berlama-lama bertemu denganmu,” balasnya.

“Sebelum pulang, bisakah aku meminta sesuatu darimu?” Pintaku.

“Apa itu?” Balasnya ingin tahu.

“Aku ingin kau menyampaikan salamku, kepada bintang jatuh yang ku ajak berenang di langit hijau, kepada burung yang ku ajak memakanawan kapas yang sangat lezat di langit hijau, dan kepada bayanganku yang terpantul di air sungai yang ingin bermain bersamaku di langit hijau. Aku ingin kau menyampaikan salamku, bahwa aku telah menemukan langit hijau,” pintaku.

“Tentu saja, kenapa tidak?” Jawabnya.

“Terima kasih telah menemuiku, walau hanya sekali,” pamitku.

Apa yang kudapatkan? Apa yang kuhilangkan? Sudahlah, aku sudah tak perlu menyesal. Aku sudah menemukannya. Dia sudah tua dan tak ada lagi yang memerhatikannya. Walaupun begitu, dia cukup baik. Dia tak ingin ada yang menemukannya, tetapi dia akan mendatangi orang yang mencarinya. Walau tak pernah di dengar ataupun di lihat, dia cukup baik, dan dia tak ingin menyesal. Dia menitipkan sesuatu padaku. Dia ingin aku terus mencarinya, walau tak ada yang kedua kali, walau aku sudah menemukannya, dia tak ingin mereka menyesal karena belum pernah bertemu dengannya, langit hijau. Aku ingin kembali seperti dulu, ketika langit hijau waktu itu.

Cerpen Karangan: Renaisan Esaeliem
Blog: puisirnaisan.blogspot.com
Seseorang yang ingin tulisannya dibaca. masih pelajar

Cerpen Langit Hijau merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seruling Ajaib Dimas

Oleh:
Matahari bersinar dengan teriknya. Dimas, Bagas, Satria, dan Ludvi berjalan pulang sekolah menuju rumah Ludvi. Mereka akan mengerjakan tugas kelompok. Saking panasnya, Bagas mengeluh, “Mataharinya panas banget. Dimas, jajanin

Dunia Di Bawah Tanda (Part 2)

Oleh:
Mobil terus melaju nanjak dan perlahan mulai berjarak cukup jauh dari patung itu “ya ampun!” kata ardi ngeri “ada apa” sahut dani juga “patung itu hilang!” Dani yang tidak

Kedana dan Kedini

Oleh:
Di sebuah desa yang indah, hiduplah sebuah keluarga. Keluarga itu terdiri dari 3 orang, Ibu, Kedana dan Kedini. Kedana dan Kedini itu anak yang nakal. Pada suatu hari Ibu

Derita Annamarie

Oleh:
Mentari pagi yang telah membangunkan tidurku, segera aku bergegas menuju kamar mandi dan bersiap menginggat Hari ini hari kedua ku melaksanakan MOS di SMA Tunas Bangsa yang dilaksanakan selama

Ketika Sapu Penyihir Jahat Patah

Oleh:
Di pulau Saman terdapat panti asuhan yang bernama Panti asuhan kurcica, dinamakan kurcica karena, pulau saman ditinggalkan oleh Kurcaci. Anak-anak di panti asuhan kurcica diantaranya adalah, Razen, seorang kurcaci

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *