Lima Jari Segenggam Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Gokil
Lolos moderasi pada: 18 May 2016

Suatu hari seorang kakek sedang berbincang-bincang dengan cucu laki-lakinya, Bramastra Arjuna.

“Cu, mau denger dongeng bagus gak?”
“Mau, Kek. Cepet, Kek! Aku dah gak tahan niech.”
“Oke. Here we go. Gini, jadi pada zaman dahulu, hiduplah seorang wanita bernama Sinjariani Senja Hari Ini. Ia hidup bersama keempat anaknya. Suaminya meninggal sebelum dia mengandung anak pertamanya.”

“Ah mana bisa, Kek. Kakek bohong ah. Kzl deh.”
“Wkwk. Canda, Cu. Oke Kakek lanjutin. Jadi gini ceritanya. Suaminya itu meninggal karena tersedot black hole.”
“Ah gak realistis banget sih kek.”
“Ya namanya aja dongeng. Jangan protes lah! Yang penting dia sudah meninggal. Titik. Oke Kakek lanjutkan. Suatu saat, sang ibu hendak mencuci baju di pinggir sungai, tepatnya di Kali Laundry. Sudah sampai di tengah perjalanan, ia lupa membawa baju yang hendak ia cuci. Lalu ia menghubungi anaknya via suara. “U….COOOKKKK!”

Suaranya menggema ke seluruh angkasa raya. Si Ucok yang sedang tiduran di atas tikar yang berada di bawah tempat tidur pun merasakan hawa yang tidak enak. Jantungnya berdetak kencang. Suara itu tidak asing di telinganya. Awalnya ia kira itu hanyalah halusinasi atau suara cicak kejepit pintu. Namun suara itu berulang-ulang terus terjadi dan kekuatannya semakin meningkat. Akhirnya ia tersadar bahwa itu adalah suara ibunya. “UCOK! Ambilin baju yang mau dicuciin! Di kantong plastik dekat meja makan. CEPET!” Karena ingin menikmati keindahan hidup lebih lama, Ucok segera bergegas menuruti perintah sang pemilik surga di telapak kaki itu.

Oh iya, jarak antara Kali Laundry dengan rumahnya kira-kira 10 meter. Ucok adalah anak sulung dari 4 bersaudara. Setiap ada kerepotan yang dialami ibunya, ialah yang jadi sasarannya. Ada piring pecah, Ucok yang ngurusin. Ada air yang tumpah, Ucok yang ngurusin. Ada badan gemuk kayak gajah, Ucok yang ngurusin. Tapi Ucok adalah orang yang dewasa. Dia sudah tahu kewajiban seorang anak terhadap orangtua. Good job Ucok.

Lanjut ya, setelah mencucikan pakaiannya di Kali Laundry, Bu Jari langsung menuju ke pasar apung di dekat situ untuk membeli sate. Jadi di pasar apung itu semua pedagangnya memakai pelampung dan mengapung di sungai. Sedangkan barang dagangannya diletakkan di pinggir sungai. Wkwk. Oh iya malah lupa. Bu Jari pergi bersama putrinya satu-satunya, Rosi. Rosi adalah kembaran Dante, anaknya yang lain. Hanya saja mereka berbeda gender. Walau kembar, karakter mereka sangat bertolak belakang bagai plat nomor depan dan plat nomor belakang. Rosi adalah cewek yang lembut, manis, anggun, cantik, dan sangat pendiam. Bahkan saking pendiamnya, saat ia sedang tidak diam, dia diam. Lanjut.

Sedangkan Dante lebih memiliki karakter liar, nakal, dan brutal. Membuat semua orang menjadi gempar. Setiap ada masalah yang melibatkan dirinya, ia tak mau bertanggung jawab dan selalu menunjuk orang lain. Namun ada satu sisi baik dari Dante, yaitu sifatnya yang pemberani dan aktif. Setiap ada kesempatan, ia selalu memanfaatkannya. Terakhir kali dia menunjukkan keaktifannya adalah saat sedang mengikuti seminar “Menjadi Tokoh Cerpen yang Sukses” di sekolahnya. Saat sesi tanya jawab, terdapat 5 kali kesempatan bertanya untuk penanya. Dari 5 kesempatan itu, semua disikat oleh Dante. Itu (pakai nada Mario Teguh).

“Pak, satenya 23 tusuk ya. Tapi jangan ditusuk. Jangan dibakar juga.”
“Siap, Bu. Tumben, Bu, bawa anaknya. Biasanya bawa kambing. Wkwk.”
“Iya nih, Pak. Sekalian ngelatih anak biar besok expert belanja di pasar. Hah? Enak aja bawa kambing. Muka Bapak itu mirip kambing. Setiap hari pacaran sama daging kambing terus. Tapi kambing yang ganteng Pak. Hahahaha. Hoek.”
“Ah Ibu bisa aja. Nyari diskon ya? Burung gagak burung garuda. GAK ADA!”
“Bunga Kamboja Buah kedondong. Ya biasa aja, dong. Nih duitnya. Emang dikira sini gak ada duit apa. Ih! Kzl.”

Setelah melakukan transaksi panas itu mereka lalu pulang menuju rumah. Ya iyalah. Di rumah, telah menanti keluarga mereka, Ucok, Dante, dan Keling. Keling adalah anak Bu Jari yang paling kecil, baik kecil dari size tubuhnya maupun kecil angka usianya. Bu Jari merasa senang rumahnya sudah dalam keadaan bersih. Ini semua adalah perbuatan Keling yang telah berjanji akan membersihkan rumah kalau dibelikan sate. Dan dia benar-benar menepati janjinya. Itulah yang orang-orang suka dari Keling. Dia sangat menepati janji.

Bu Jari dan Rosi langsung menuju dapur untuk menggoreng minyak biar jadi minyak goreng, membakar kayu biar jadi kayu bakar, dan memasak air biar mateng. Wkwk. Enggak, enggak. Bu Jari hendak memasak makanan untuk makan siang. Saat sudah melakukan lima langkah, tiba-tiba dia tersandung botol air mineral bekas. Di dalam botol bekas itu ada selembar kertas kecil berukuran 4×4 sentimeter, sempat tidak sempat hatiku padamu tak akan muter. Wkwk (pantun itu. Pantun). Di sana ada tulisan gosok berhadiah.

“Bu, gosok aja Bu. Siapa tahu kita dapat hadiah hidup yang lebih baik.” Kata Rosi tiba-tiba. Tapi karena dia pendiam, setelah ngomong itu dia langsung diam.

Bu Jari pun mengeluarkan sebuah koin dengan menggunakan sulap. Rosi terkagum dan memberikan standing applause. Lalu Bu Jari menggosok kertas tersebut. Namun saat digosok, keluar sesosok jin berwarna putih sambil tertawa terbahak-bahak. Rupanya ia sedang membawa buku humor. “Hahaha! Aku adalah Jin dari kertas gosok itu. Sudah 3 tahun aku berada di tempat jelek itu. Sekarang kamu sudah membebaskanku. Mintalah sesuatu dariku, maka keinginanmu akan aku kabulkan. Hahaha.” Bu Jari berpikir sejenak. Kelihatannya sedang memikirkan apa yang hendak ia minta. Hingga akhirnya mulutnya pun terbuka mengeluarkan suara high pitch.

“Aaaaa…..” Semua tutup telinga.
“Aku ingin kamu musnah di dunia ini. Kalau aku ingin sesuatu, aku akan minta kepada Tuhanku, bukan kamu. Kamu hanya akan merusak hubunganku dengan Tuhan. Sekarang aku ingin kau musnah secepatnya!”
“Aaaaa!” Jin itu sebenarnya tidak mau mengabulkan permintaannya. Namun ini sudah menjadi sebuah sistem. Dia sudah masuk dalam sistem itu dan harus patuh dengan sistem itu. Permintaan Bu Jari benar-benar terjadi. Jin itu pelan-pelan hilang. Namun sebelum musnah, dia sempat mengutuk Bu Jari.

“Kau! Kau wanita sialan! Akan aku kutuk kau, anakmu itu, dan seluruh anakmu. BIM SALABIM! Mulai sekarang kau aku kutuk menjadi jari tangan manusia. Kau tak akan bisa hidup bebas lagi. Hahaha!” Setelah itu dia benar-benar hilang. Demikian juga dengan Bu Jari dan keempat anaknya. Dan setelah itu mereka benar-benar berubah wujud menjadi jari-jari manusia. Gitu, Cu, ceritanya.” Bram terdiam sejenak sambil ngangguk-ngangguk, mengerutkan dahi, menempelkan tangannya ke dagu, memanyunkan bibir, lalu selfie cakep.

“Hmm, jadi lima jari di tangan kita itu merepresentasikan kelima orang dalam cerita itu ya, Kek?”
“Bahasa lo tinggi banget, Cuy.”
“Cu!”

“Iya, bahasa lo tinggi banget, Cu. Pakai kata merepresentasikan segala. Betul. Seratus. Kelima jari tangan kita merepresentasikan lima orang tersebut. Pertama ibu jari, kenapa dinamakan ibu jari? Karena berasal dari namanya, Ibu Jari. Lalu lihatlah jari telunjukmu sama jari manismu. Tingginya hampir sama kan? Itu adalah Dante dan Rosi yang merupakan anak kembar. Dante adalah orang yang suka menunjuk dan aktif, maka dari itu jari telunjuk digunakan untuk menunjuk dan mengacungkan jari apabila ingin bertanya sebagai tanda keaktifan.

Lalu kenapa dinamakan jari manis? Karena itu adalah Rosi yang merupakan wanita yang manis. Maka dari itu jari manis jarang digunakan, hanya digunakan untuk tempat cincin. Karena wanita suka perhiasan. Kemudian jari yang paling kecil itu, dinamakan kelingking karena itu berasal dari nama Keling. Tambahan “king” mungkin karena orang iseng aja. Wkwk. Keling kan orang yang sangat tepat janji, maka dari itu kini jari kelingking digunakan untuk mengikat janji atar manusia. Dan yang terakhir, anak yang paling besar. Siapa?”

“Nganu, Kek. U…COOOKk!”
“Ya biasa aja keleus. Ada buaya kena sinar, Ya benar. Itulah kenapa jari tengah memiliki tinggi yang lebih dari yang lain, karena dia adalah anak paling besar. Dan dinamakan jari tengah karena sikapnya yang dewasa dan bisa menjadi penengah saat ada masalah. Itu (pakai nada Mario Teguh). Sekarang kamu coba menggenggam.” Bram pun menuruti perintah kakeknya yang gak penting itu.

“Sudah? Sekarang lihat. Keempat jari menekuk ke dalam. Sedangkan ada satu jari yang tetap di luar dan berusaha melindungi empat jari itu, yaitu ibu jari. Bahkan setelah dikutuk, Ibu Jari tetap berusaha melindungi anaknya. Itulah cinta seorang ibu kepada anaknya. Tak akan hilang sampai akhir zaman. Cintanya kepada kita itu gak bisa dihitung. Bahkan ada kan lagu yang ngomong, kasih ibu kepada kita itu tak terhingga sepanjang masa, bagai sang surya menyinari dunia. Jadi sayangi ibu kita. Cintai ibu kita. Ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada ibu kita. Itu (kali ini gak pakai nada suara Mario Teguh). Oke, sekarang cabuti rumput di kuburan ibumu ini dan bersihkan. Lalu taburi bunga ini. Kemudian kita berdoa bersama-sama untuk ibumu.”

“Orang karaoke digigit tokek, Oke Kek.” Dengan semangat, Bram membersihkan makam ibunya. Setelah itu mereka berdoa bersama. “Nah, Kek udah selesai. Ngomong ngomong ceritanya tadi bagus banget kek. Emangnya cerita itu kakek dapet dari ma….” Dia terdiam
“Kek. Kakek… kakek… kakek!”
Tiba-tiba kakeknya hilang. Lalu Bram merasakan ada yang menepuk bahunya dari belakang.
“BA!” Kakeknya mengagetkannya. Cuma iseng aja sih. Akhirnya mereka tertawa dan kembali ke rumah. Itu (Pakai nada suara Mario Teguh gak hayooo). Sudah mengucap terima kasih kepada ibu?

Cerpen Karangan: Listya Adinugroho
Facebook: Listya Adinugroho
Nama saya Listya Adinugroho. Makasih.

Cerpen Lima Jari Segenggam Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Warung Internet (Part 1)

Oleh:
Gue terbangun dari tidur cantik, eh salah, tidur ganteng gue. Sialan! gue kaget bukan main setelah mendapati diri gue yang masih di warnet! Di depan umum! Di kursi kehormatan

Rahasia Logam

Oleh:
Ini untuk pertama kalinya aku berulang tahun di negeri orang. Tidak ada teman, saudara, atau tetangga sebelah rumah yang bisa kuajak merayakannya. Ah, tapi tak apa-apa. Aku masih punya

Pertanyaan Besar

Oleh:
Setiap zaman pasti memiliki karakteristik masing-masing, hal itu disebabkan oleh makhluk yang hidup pada zaman tersebut. Seperti zaman yang dialami di Pulau Teru. Pulau yang memiliki pemandangan indah, melimpahnya

Cerita Tak Berujung

Oleh:
Pada suatu malam yang sunyi. Suasana sepi senyap di bumi. Tak ada sama sekali penerangan yang diterapkan. Di hutan yang gelap, hiduplah seorang manusia. Ia kerap disapa dengan sebutan

Negeri Islamcholic

Oleh:
Adriana fatin fatimah siswi kelas 5 sekolah bunga bangas, Ia bingung dengan tugas yang diberikan oleh ibu alsa, wali kelasnya. “Kalian harus berimajinasi untuk mengunjungi negeri. Tapi bukan sembarang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

6 responses to “Lima Jari Segenggam Cinta”

  1. adlan says:

    Lumayan bagus 🙂

  2. Rizki says:

    ahahahahah kakeknya alay!

  3. Sorano Mato says:

    ceritanya bagus kak … realistus juga ( realistus bukan realistis ) jadi makin nge-fans ama kak listya … tetap semangat kak ! Ganbatte !
    LovenhugSoranoMato

  4. amin says:

    Kocak anjir, tapi nyambung. Kerenlah.

  5. Nanda says:

    Hebat ceritanya kak. Udah gokil,lucu inspiratif lagi. Next karyanya kak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *