Live a Life (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 27 September 2018

Aku menatap bentangan pemandangan kota yang luas dari atap gedung tinggi ini, lalu menatap ke bawah.

Tinggi sekali, sekitar 126 meter dari atas tanah.

Angin malam berhembus kencang. Segalanya terasa dingin hingga menusuk ke tulang. Sekali lagi, aku berpikir. Jika sekarang aku terjun ke bawah, aku akan langsung mati akibat gegar otak dan patah tulang. Ya, itu pasti tidak akan terasa sakit.

“Apa yang kau lakukan?”
Aku nyaris menjerit-jerit histeris saat seorang anak perempuan tiba-tiba muncul.

“Aku tanya, apa yang kau lakukan?” Ulangnya dengan nada tidak peduli.
“Aku akan bunuh diri,” sahutku cepat.
“Oh…” gadis itu menduduki pinggiran atap dengan santai. “Kalau begitu mati saja, mengapa kau menunggu?”

Aku tercekat. Anak kecil sepertinya tahu apa arti bunuh diri? Yah, dia tidak sekecil itu, melainkan seperti anak berusia 10 tahun. Tapi tetap saja, dia itu anak kecil.

“Kenapa kau diam saja? Bukankah kau ingin segera mati dan mengakhiri segalanya?” Nada dingin yang terkandung di dalam suaranya seolah-olah menusuk hatiku. Gadis itu menatap langit malam yang berawan. Rembulan menyembul dari balik awan. “Kalau kau takut, berhentilah. Kau tidak dilahirkan untuk mati. Kau pikir semua masalah dapat selesai dengan kematian dirimu? Setelah ini pun, masalahmu hanya akan berpindah ke keluargamu. Lagipula, jika kau bunuh diri, harga jiwamu bahkan lebih rendah dibandingkan binatang. Jiwa seorang pembunuh pun jauh lebih berharga dibandingkan dirimu.”

Kali ini kata-katanya membuatku tertohok. Aku memang sudah tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku lelah, takut, dan marah akan dunia ini. Dunia ini, seakan-akan telah berubah menjadi neraka. Segala harapan yang ada menghilang, dan keputusasaan merajarela di seluruh penjuru dunia.

12 tahun yang lalu, segalanya baik-baik saja. Saat itu adalah ulang tahunku yang ke-8. Ibuku memanggang seekor kalkun besar dan senampan penuh biskuit madu, serta sebuah kue tart yang besar. Kakak perempuanku memberiku hadiah video game terbaru, ayahku memberiku bola berbahan kulit yang cukup mahal, sedangkan ibuku memberiku sepasang kostum superhero yang sudah lama kuinginkan. Hari itu adalah hari yang sempurna bagiku. Namun, aku tak menyangka, bahwa saat itu sedang terjadi suatu bencana aneh yang pada akhirnya menyebabkan kehancuran permanen pada dunia ini, mutagenesis.

Saat itu, sebuah meteor yang teramat besar berhasil menembus atmosfer Bumi hingga akhirnya jatuh ke suatu area. Untungnya, area itu sudah kosong karena para pekerja diliburkan selama 1 hari akibat sedang terjadi kerusakan. Namun, radiasi yang disebabkan oleh meteor itu menyebar secara perlahan tanpa disadari oleh para penduduk.

Penduduk yang terkena radiasi akan mengalami mutasi pada tubuh dan otaknya, sehingga mengalami peningkatan sistem tubuh dan halusinasi yang membuat penderitanya “Gila”. Mereka akan melihat manusia sebagai monster yang harus dimusnahkan, dan karena sistem tubuhnya telah meningkat, mereka jauh lebih kuat secara fisik. Dalam sekejap, populasi manusia di seluruh dunia telah berkurang hingga kurang dari setengahnya, sedangkan yang terkena radiasi semakin meningkat jumlahnya.

Kami, orang-orang yang berhasil selamat, bertahan hidup di bawah tanah selama bertahun-tahun. Keluargaku telah dibunuh oleh sekelompok mutagener, sebutan bagi orang-orang yang terkena radiasi, tepat saat aku meniup lilin terakhir. Aku selamat karena melarikan diri, kemudian seorang petinggi militer mengasuhku dan bahkan melatihku untuk menjadi pembasmi mutagener.

Namun hari ini, saat aku dan timku sedang berpatroli, kami diserang oleh banyak sekali mutagener, hingga akhirnya hanya aku yang tersisa. Sahabat karibku, Danny, mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku. Aku merasa, hidupku sudah tidak ada gunanya lagi.

“Lebih baik aku mati daripada menjadi orang yang tidak berguna!” Emosiku menyala-nyala di dalam tubuhku. “Apa kau tahu? Karena diriku, seluruh anggota timku mati sia-sia! Karena diriku, rencana yang telah kami susun sejak setahun yang lalu gagal!”

Gadis itu menatapku dengan sorotan matanya yang dingin. “Lalu apa bedanya dengan ‘kau mati saat ini’ dan ‘kau tidak pernah mati sama sekali’?” Tatapannya semakin menusuk. “Tidak ada perbedaannya sama sekali, kecuali kau adalah presiden atau sejenisnya.”

“Aku adalah seorang kapten Tim Pertahanan Mutagenesis. Jika aku mati, timku akan hancur,” tegasku.
Gadis itu tertawa sinis. “Tadi kau bilang seluruh anggota tim mu mati.”

Aku terdiam, malu.

“Sepertinya aku harus memberitahumu beberapa hal. Pertama, namaku Natasha, kau boleh memanggilku Nat. Kedua, sayangnya aku juga sempat terkena radiasi dan mengalami mutagenesis,” ujarnya dengan wajah datar.
“Apa maksudmu? Kau kan tidak…” aku ingin melanjutkan, namun merasa tidak enak untuk mengatakannya.
“Menggila?” Sambungnya. Aku mengangguk. “Hanya tubuhku yang terkena radiasi itu, dan inilah hasilnya.”

Dia berbalik hingga memunggungiku. Dari balik baju terusan putihnya yang berenda, keluarlah sepasang sayap besar yang berwarna putih gading dan berkilau keemasan, seperti sayap malaikat. Sayapnya bersinar di tengah kegelapan ini, dan entah mengapa hal itu membuatku tenang.

“K…kau… bisa menggerakkannya…?”
Dia menggunakan sayapnya untuk menyelimuti dirinya. “Mudah sekali, seperti saat akan menggerakkan tangan atau kaki.”
“Sejak kapan?”
“Sejak aku berusia 5 tahun.”
“Kau bisa terbang dengan itu?”

Dia mengepak-ngepakkan sayapnya hingga melayang beberapa meter dari tanah, bergerak memutariku, dan kemudian mendarat kembali di sampingku. “Jangan remehkan aku.”
“Maaf.” Selama beberapa menit yang terasa seperti bertahun-tahun, kami terjebak dalam keheningan yang sangat tidak mengenakkan.

“Apa sekarang kau akan membunuhku?” Tanyanya tiba-tiba, memecah keheningan yang ada.
Aku meliriknya, sedikit merasa tersinggung. “Memangnya kenapa kau harus dibunuh?”
“Aku ini mutagener. Di saat-saat tertentu, aku juga dapat menggila,” sahutnya dengan datar, walau aku dapat menangkap nada sedih yang tersirat di wajahnya.
“Tenanglah. Aku akan melindungimu dari apapun dan siapapun,” hiburku. “Ngomong-ngomong, namaku Andreas.”

Nat tidak menjawab, melainkan hanya memeluk kedua lututnya dengan raut wajah yang datar dan dingin. Sepasang sayap malaikatnya terlipat rapi di punggungnya.

“Emm… aku ingin menanyakan beberapa hal padamu,” aku berusaha bicara padanya.
“Silahkan.”
“Berapa usiamu saat ini?”
Dia menatapku dengan keheranan sebelum menjawab, “15.”
Aku melongo. “Kukira kau baru berusia 10 tahun.” Habis badannya mungil dan nampak seperti boneka porselen bagiku. Rambutnya adalah hal yang paling menonjol darinya, karena warnanya abu-abu keperakkan. Rambut itu berkilau tertimpa cahaya, panjang dan lebat hingga sepinggang. Namun, matanya yang berwarna biru safir terlihat begitu dingin dan kelam, menyiratkan hawa kesepian yang begitu kuat. Hidungnya kecil namun sempurna, bibir mungilnya sewarna dengan buah peach, dan pipinya merah merona.

Dia benar-benar terlihat seperti boneka porselen yang dibentuk sempurna. Sayang, dia sama sekali tidak menyiratkan kebahagiaan, kehangatan, maupun kehidupan. Seolah-olah, dia hanyalah boneka sungguhan yang tidak dapat hidup.

“Sudah kubilang, jangan meremehkan diriku,” tegasnya.
“Maaf,” kataku lagi. “Di mana rumahmu? Biar kuantar kau pulang.”
Tanda-tanda kehidupan dari gadis itu semakin meredup. “Aku tidak punya tempat yang dapat disebut ‘rumah’. Kalaupun ada, aku tidak ingin ke sana.”
“Kau ingin ikut denganku? Aku tinggal sendirian sejak masuk militer, dan di rumahku ada kamar kosong,” tawarku.
“Baiklah,” sahutnya cepat dan kurasa tanpa pikir panjang.
“Kau tidak khawatir aku akan bersikap kurang ajar padamu?”
“Memangnya kau akan bersikap kurang ajar padaku?”
Aku terdiam. “Tidak.”
“Karena itu aku tidak khawatir. Aku yakin kau tidak mengundangku untuk tinggal denganmu hanya karena kau ingin mencari masalah denganku.”

Setelah itu, aku mengajaknya pulang ke rumahku. Rumahku sebenarnya dapat disebut apartemen, karena memang dalam 1 gedung terdapat sekitar 10 “rumah” yang dibagi menjadi 2 lantai. Aku tinggal di lantai 2. Rumahku cukup luas untuk sebuah apartemen. 3 kamar tidur, 2 kamar mandi dalam, ruang tamu, dapur, dan ruang makan. Aku menempati kamar terbesar yang memiliki kamar mandi dalam, dan mengalihfungsikan 1 kamar yang tidak memiliki kamar mandi sebagai gudang, sementara 1 kamar lagi kubiarkan kosong.

Setelah kubersihkan isinya, kamar itu siap dihuni oleh Nat.

Sehari-hari kami jalani dengan cukup menyenangkan. Aku beradaptasi dengan mudah akan kehadiran Nat di rumahku. Lagipula, kehadiran Nat rupanya sangat menguntungkan bagiku, karena ternyata Nat adalah pecinta kebersihan dan itu membuat rumahku nyaris selalu bersih. Dia juga pandai memasak, jadi aku tidak perlu membeli makanan di luar. Setiap pagi, sebelum aku berangkat ke perbatasan kota untuk patroli, Nat membuatkanku sarapan dan bekal makan siang. Saat aku pulang, aku dapat mencium bau harum masakannya bahkan sebelum aku masuk.

Akhir-akhir ini, Nat bahkan mulai sering tersenyum dan bicara. Walaupun dia sempat membuatku nyaris bangkrut untuk membelikannya pakaian baru beserta seluruh kebutuhan perempuan yang tidak kumengerti, kehadirannya mengingatkanku untuk lebih menghargai nyawaku setiap kali aku pergi untuk membasmi para mutagener.

Namun, kini aku benar-benar merasa ketakutan untuk menghadapi hari esok.

Sebulan lagi akan ada perang besar-besaran untuk membasmi para mutagener. Nyaris seluruh pasukan yang ada dikerahkan untuk berpatisipasi dalam perang ini.

“Tak apa. Kau pasti bisa,” Nat menyentuh tanganku yang sejak tadi gemetaran hebat. “Kau berhasil melalui sebuah keputusasaan yang begitu besar dalam dirimu, dan sekarang kau akan menghadapi keputusasaan seluruh manusia di muka Bumi ini untuk mendatangkan kembali harapan yang nyaris menghilang. Kau adalah harapan semua orang. Harapanku.”
Aku menatapnya dengan penuh rasa terima kasih. “Kaulah yang menjadi alasanku untuk berjuang, dan aku tidak akan mengecewakan harapanmu.”
“Bagaimana kalau aku pun berpatisipasi dalam perang itu?” Tanyanya tiba-tiba.
Aku mendelik padanya dengan marah sekaligus khawatir. “Tidak! Kalau kau mati, aku tidak tahu lagi apakah aku dapat menjalani hidup ini atau tidak!”
“Dan aku tidak bisa diam saja menunggumu yang sedang berperang mati-matian dengan perasaan cemas yang hampir membuatku ingin mati!” Balas Nat dengan berurai air mata.

Aku segera mendekap Nat dan menenangkannya. “Baiklah, tapi kau harus berlatih terlebih dahulu. Besok aku akan membujuk ayah angkatku untuk mengizinkanmu ikut latihan bersamaku.”
Anak itu langsung berhenti menangis, namun aku sendiri tidak yakin dengan Nat. Ayah angkatku sangat membenci mutagener karena mereka telah merenggut istri dan anak kandungnya. Aku pun tidak tahu bagaimana membujuk seseorang yang begitu keras kepala.

Semoga saja aku dapat melunakkan hati ayah angkatku, dan semoga aku dapat menjadi lebih kuat lagi untuk melindungi Nat beserta seluruh manusia di muka Bumi ini.

Cerpen Karangan: Charissa. E
Blog / Facebook: Choco Caramella

Cerpen Live a Life (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Namaku Dananjaya

Oleh:
Di atas puncak gunung lawu tingalah seorang petapa sakti dan seorang cucu laki-lakinya. Si petapa oleh orang-orang sering dipanggil ki Lawu sedangkan sang cucu bernama Dananjaya. Dua puluh tahun

Separuh Dari Satu Yang Utuh

Oleh:
Langit malam yang tadinya hitam kelam, kini memerah, yang sepertinya menandakan pertukaran malam menjadi pagi. Langkah jarum jam seakan terdengar begitu keras pada malam menjelang pagi itu. Yang kemudian

Saga World, Adventure Start (Part 1)

Oleh:
Bumi adalah sekumpulan lapisan tanah yang saling bertumpuk dan di dalamnya hidup berbagai makhluk hidup mulai dari hewan tumbuhan dan terutama manusia, manusia adalah makhluk mendominasi di planet bumi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Live a Life (Part 1)”

  1. Liemey I Lumempouw says:

    Kereeeennn… Suka sama cerita nyaaa.. alur dan penggambaran kharakternya dapat banget.. Setiap situasi terbayang. Masuk ke topik Radiasi aku lngsg excited banget.. Mantep betul pokoknya.. Worth to read..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *