Live a Life (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 19 October 2018

Setelah berusaha begitu keras, akhirnya ayah angkatku mengizinkan Nat untuk ikut latihan bersamaku di markas pusat, dan bahkan membiarkanku menjadi pelatih Nat.

Mengingat bahwa Nat memiliki sepasang sayap, kurasa aku dapat melatihnya untuk menyerang dari udara. Dia juga dapat terbang dengan kecepatan tinggi, yang berarti sangat membantu dalam penyampaian pesan, pengirimiman, dan penyerangan. Aku juga mendapati bahwa bulu-bulu pada sayap Nat amatlah kuat seperti baja sehingga kedua sayapnya dapat menjadi perisai baginya.

Intinya, memasukkan Nat ke dalam pasukan adalah hal yang sangat menguntungkan bagi kami, namun tidak bagiku.

Nat sangat lihai dalam pertarungan jarak dekat, juga sangat tajam dalam pertarungan jarak jauh dengan menggunakan senapan. Dalam pertarungan jarak dekat, dia mampu menang melawan segerombolan prajurit yang berjenis kelamin laki-laki, sedangkan dalam pertarungan jarak jauh, dia mampu menembak target, tepat sasaran, dalam jarak kurang lebih 100 meter.

Namun, berada dalam pertarungan mungkin bukan lah hal yang bagus bagi Nat, karena hal itu hanya memicu nafsu membunuhnya. Lagipula, aku tidak ingin pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan dirinya.

“Andy!” Panggil Nat. Yah, Nat selalu memanggilku Andy.
“Ada apa?”
“Mereka mulai menyerang. Tembok Pertahanan bagian selatan mulai hancur karena sudah lapuk.” Lapornya dengan wajah datar dan tidak peduli. Karena penglihatannya yang tajam, aku memintanya mengawasi para mutagener yang mulai mendekati area penduduk. Walau kami telah membangun tembok-tembok pelindung, aku tetap berfirasat buruk.

“Baiklah. Terima kasih, Nat,” aku berbalik dan menatap para prajurit yang kini berbaris rapi di hadapanku. “Perhatian semuanya! Hari ini kita membawa harapan seluruh umat manusia! Hari ini, kita akan menentukan, apakah kita akan bebas, atau kita akan tetap terkurung di balik pelindung masing-masing! Siapapun yang merasa takut, aku tidak melarang kalian untuk pergi. Namun, kuharap kalian menyadari seberapa besar tanggung jawab yang kalian pikul di pundak kalian. Tanggung jawab bagi yang kuat untuk melindungi yang lemah! Tanggung jawab untuk melindungi keluarga kita! Teman kita! Saudara-saudara kita!”

Para prajurit itu bersorak-sorai terbakar semangat. Yah, hanya inilah yang kubisa. Sisanya kuserahkan pada mereka dan kemampuan mereka.

Kelemahan para mutagener terletak pada otak dan jantung mereka. Namun, kulit mereka yang sekeras logam mempersulit kami sehingga senjata kami terbuat dari logam terkuat di dunia yang baru ditemukan 15 tahun yang lalu. Logam ini mengeluarkan hawa panas yang dapat melelehkan logam biasa, termasuk kulit mutagener. Karena itu, kami menyebutnya Phoenixmetal. Peluru-peluru kami pun menggunakan logam itu sebagai selongsongnya.

Perang berlangsung dengan cepat namun brutal. Dalam sekejap, pasukan kami berkurang hingga setengahnya.

1 hal yang paling mengerikan dari mutagener adalah fakta bahwa mereka mengincar jantung manusia. Mereka dapat dengan mudah menembus kulit manusia dan mencabut jantungnya, lalu memakannya. Karena itu, mayat-mayat prajurit yang gugur di tempat ini akan ditemukan dalam keadaan berlubang pada dada kirinya. Ironis bukan? Mereka memakan jantung sementara kelemahan mereka terdapat di jantung juga.

Tunggu dulu, di mana Nat?

“Nat! Kau di mana?” Seruku seraya sibuk menembaki para mutagener yang mulai mengepungku. “Nat!”

Bayangan hitam melesat di atasku, dan kemudian membabat habis para mutagener yang mengepungku.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Nat saat mendarat.
“Seperti yang kau lihat,” kataku sembari menarik nafas. “Bagaimana situasi di bagian Timur?”
“Pasukan kita mulai dapat mengendalikan situasi, namun itu tidak akan bertahan lama,” sahutnya. Dia menatapku dengan kekhawatiran yang tidak seperti biasanya. “Berjanjilah kita akan pulang dengan selamat…”

Aku menghela nafas, lalu berlutut di hadapannya. “Dengar, kita akan pulang dan berjalan-jalan di pusat kota. Aku akan membelikan apapun yang kau mau, lalu kita akan makan waffle. OK?”
Nat mengangguk patuh.

“Untuk sekarang, berhentilah bertarung. Kau harus pergi ke puncak gunung itu dan beristirahatlah di pondok. Aku akan segera kembali untuk menjemputmu,” perintahku selembut mungkin.
“Tidak! Aku akan tetap bertarung bersamamu!”

“Kalau begitu, tolong maafkan aku,” aku memeluknya, dan kemudian menyetrum tengkuknya dengan stun-gun khusus mutagener.

Setelah Nat pingsan, aku segera menggendongnya dan pergi ke atas gunung. Di sana ada sebuah pondok kayu kecil yang merupakan pintu masuk markas kami. Markas itu terletak di bawah tanah, tepatnya 30 meter di bawah permukaan tanah.

Seorang wanita yang memakai blus biru muda dan rok pensil selutut dengan jas laboratorium menyambutku. Dia adalah Grace, kepala laboratorium dan medis.

“Grace, aku titip Nat padamu,” kataku seraya menyerahkan Nat padanya.
“Kau yakin?”
“Dia sudah kuanggap adikku sendiri. Aku tidak mungkin membiarkan adikku bertarung di medan yang amat sangat berbahaya,” jawabku dengan mantap, walau aku merasa benar-benar takut.
“Kalau aku mati, kumohon padamu agar Nat tidak mengetahuinya, juga agar kau merawatnya hingga dia cukup dewasa untuk tinggal seorang diri.”
“Tapi-”
“Tidak apa. Aku memang seharusnya sudah mati. Nat-lah yang membuatku mampu bertahan hidup hingga detik ini,” potongku sebelum Grace mengatakan apapun yang dapat membuat tekadku kembali goyah.

Tanpa berbicara lagi, aku segera berlari kembali ke neraka itu. Bertempur melawan sesama manusia yang kini sudah seperti monster sejenis zombie. Berjuang untuk mempertahankan kebebasan kami, karena selama ini “kota” kami dibuat di dalam benteng-benteng baja yang tersebar di seluruh dunia.

Semakin lama, para mutagener maupun tentara telah berkurang drastis. Tumpukan mayat dan kubangan darah bertebaran di mana-mana.

“Kapten!” Panggil seorang tentara. “Kita telah berhasil! Para mutagener yang tersisa berhasil dihalau, dan perbaikan benteng-benteng yang rusak maupun pembangunan shelter-shelter baru dapat segera dilaksanakan.”

Akhirnya… segalanya telah usai. “Segera kumpulkan pasukan yang terluka. Bawa mereka ke tenda pengobatan. Bagi pasukan yang telah gugur, segera identifikasi mayatnya dan hubungi keluarganya. Kita akan memakamkan pasukan yang gugur itu dengan penuh penghormatan besok,” perintahku padanya.

Tentara itu menghormat padaku dan segera melaksanakan tugasnya.

Dari kejauhan, aku melihat Nat melayang ke arahku dengan berlinang air mata bahagia. Dia memelukku dengan erat. “Seharusnya kau tidak pernah meninggalkanku. Apa kau tahu seberapa takutnya aku tadi? Aku pikir aku akan kehilangan kakakku satu-satunya,” omelnya seraya diselingi isakan tangis bahagianya.
Aku menepuk-nepuk kepalanya dan balas memeluknya. “Sudahlah. Ayo kita pulang,” kataku, melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan kecilnya.

Saat aku hendak berbalik, aku melihat seorang mutagener yang nyaris meraih Nat dan hendak mencabut jantungnya.
Spontan aku menarik Nat dan menerima tusukan itu di dadaku. Darah memenuhi kerongkonganku dan aku memuntahkannya.

“Andreas!” Pekik Nat panik.

Mutagener itu meraih jantungku dan menariknya hingga lepas. Rasanya sakit sekali. Aku memandangi Nat di hadapanku, mencoba tersenyum untuk yang terakhir kali.

Nat menendang mutagener itu dengan keras hingga terpental dan menghempas sebuah batu besar.

Pandanganku mulai menggelap, dan Nat masih berteriak padaku, memanggil namaku terus-menerus. Aku memejamkan mataku untuk menghadapi kematian ini.

Maaf Nat, kurasa aku tidak bisa menepati janjiku lagi padamu.

Seluruh memoriku tentang Nat seolah disiarkan ulang di dalam otakku. Saat aku pertama kali bertemu dengannya di atas atap. Saat aku makan bersamanya di rumahku. Saat kami pergi ke pusat kota di akhir pekan. Saat kami berlatih bersama-sama. Saat aku berhasil membuat Nat tertawa. Dan saat kami terpisah di tengah keramaian, Nat menangis tidak henti-henti sehingga aku berjanji padanya agar tidak akan pernah meninggalkannya lagi.

Kini, janji itu kembali kulanggar. Maafkan aku, Natasha.

5 tahun setelah perang besar yang mengakibatkan kurang lebih 1.583 korban jiwa, termasuk Kaptennya, Andreas Lanne, vaksin untuk merehabilitasi penduduk yang terkena efek radiasi berhasil ditemukan.

Natasha Lanne, adik angkat Andreas yang merupakan setengah mutagener, mengorbankan dirinya sebagai bahan pencobaan vaksin tersebut. Rupanya, vaksin itu cukup ampuh untuk menghilangkan efek mutagenesis, walau butuh sedikit waktu hingga efek tersebut hilang seutuhnya.

Namun, Natasha menolak untuk menghilangkan sayapnya dan bersumpah akan menggunakannya untuk melindungi umat manusia. Karena itulah kini Natasha menjadi kapten Pasukan Pemberantas Mutagener, menggantikan posisi kakak angkatnya yang telah tewas dalam pertarungan.

Hari ini adalah hari peringatan akan terjadinya perang besar itu, dan Nat memutuskan untuk pergi ke tempat peperangan itu. Di sana telah didirikan sebuah tugu peringatan yang diberi nama “The Last Stand”. Tugu itu berupa patung perunggu setinggi 16 meter. Dinamakan demikian karena saat itu adalah satu-satunya harapan bagi umat manusia demi mendapatkan kebebasan mereka kembali, juga peringatan bagi gugurnya sang kapten tim. Patung itu menggambarkan sang kapten, Andreas Lanne, dengan sebelah tangan mutagener menembus dada kirinya. Di hadapan sang kapten, terdapat patung seorang gadis mungil nan cantik serupa boneka yang memiliki sepasang sayap malaikat yang cantik, di mana gadis itu berusaha menggapai sang kapten.

Ya, gadis itu adalah Nat, dan peristiwa dalam patung itu adalah peristiwa saat kakak angkatnya menyelamatkan nyawanya.

Nat mengepakkan sayapnya dan mendekati patung Andreas yang tersenyum tulus pada patung Nat.

“Hei, sudah 5 tahun kau tiada. Bagaimana rasanya di sana? Apa kau sudah menemukan orangtua kandungmu?” Tanya Nat lirih. Air matanya kembali mengalir di pipinya.
“Rasanya benar-benar sengsara, Nat, karena kau tidak ada di sana.”

Nat terkejut dan saat dia berbalik, Andreas telah berdiri di bawahnya, tepat di samping patung Nat, dengan seulas senyum tulus yang persis seperti di patungnya. Nat melayang turun dengan tidak percaya.

“Kau… benar-benar Andreas…?”
Andreas menarik Nat ke dalam pelukannya. “Ini aku. Setelah kau mengira aku telah mati, Grace menyelamatkanku. Dia mentransplantasikan jantung seorang mutagener hingga aku dapat hidup kembali. Karena efek mutagenesis itu, aku koma selama 5 tahun ini, dan hal pertama yang kupikirkan saat akhirnya aku bangun adalah adikku yang pasti telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik,” bisiknya di telinga Nat.

Nat memeluk kakak angkatnya dengan perasaan bahagia, terharu, dan terkejut. “Kau menepati janjimu.”
“Ya, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, selamanya.”

-fin-

Cerpen Karangan: Charissa. E
Blog / Facebook: Choco Caramella

Cerpen Live a Life (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mata Merah Jambu

Oleh:
“Abi, kenapa para Kiyai besar datang hari ini? Buya kan, lagi di rumah Ami.” “Ada sesuatu yang harus dibicarakan Felly. Lagipula, bukannya kamu ada kelas Fiqih ya, sekarang? Kenapa

Makna Kehidupan

Oleh:
Indahnya tahun baru 2014 meskipun pada detik pertamanya, alam menyambutnya dengan tangis haru. Suka cita dan bangga langit kota menyambutnya dengan turun Gerimis nan indah. Bak bidadari yang turun

Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)

Oleh:
“Kalau kalian mau, kalian bisa bantu-bantu berdagang bersama kami, dari pada kalian menjadi gelandangan di luar sana,” sahut Ibu Rain lagi. Joe tersenyum. “Terima kasih, anda baik sekali,” katanya.

Hutan Misteri (Part 2)

Oleh:
“Mereka sebuah pohon!!” Aries menggaruk kepalanya, wajahnya dipenuhi kebingungan. “Tapi bagaimana bisa mereka mempunyai tangan dan kaki? Bahkan mata dan mulut layaknya manusia” Untuk sesaat kami sibuk dengan pikiran

Kecebong

Oleh:
Mataku menyusuri setiap detail jalanan yang bersimbah darah. Dua tiga orang tergeletak lemas, satu di antaranya sudah tak berbentuk lagi kepalanya. Orang-orang mengerumuni, bergumam dan menutupi wajah. Sirine lampu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *