Live As A Robot

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 18 May 2016

Gelap. “Di mana aku?” aku terus bertanya-tanya. Aku tidak dapat merasakan apa-apa. Tidak ada secercah cahaya sedikit pun di sini. Sangat gelap. Tuhan apakah aku telah mati? Tuhan, bahkan aku tidak bisa melihat diriku sendiri. Yang aku lihat hanyalah Kegelapan. Tidak. Tidak hanya kegelapan, bayangan aku dengan Ibuku yang sedang bermain-main di depan teras selalu saja terlintas. Apakah aku sedang bermimpi? Atau lampu di rumahku sedang padam? Otakku selalu saja dipenuhi dengan pertanyaan yang sama setiap harinya. Ah bahkan aku tidak tahu ini hari apa, tanggal berapa, dan pukul berapa ini? Aku selalu menunggu untuk bisa membuka mataku, rasanya sulit sekali untuk membuka mataku.

Tiba-tiba.. Perlahan tapi pasti, astaga aku mulai bisa membuka mataku. Tapi mungkin ini akan membutuhkan waktu yang lama. Ya. Agak sakit mataku karena menerima cahaya yang begitu terang. Sekarang aku sudah membuka mataku, tunggu. Di mana aku? Kenapa Aku ada di dalam sebuah lemari kaca transparan? Dan.. mengapa aku tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhku? Bahkan mulutku enggan membuka. Hanya mataku saja yang dapat digerakkan. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menggerakkan kaki dan tanganku. Tapi, nihil.

Tak lama kemudian ada seseorang yang masuk ke ruangan ini. Dia menggunakan jas putih layaknya seorang profesor. “Astaga, kau sudah sadar!” ucapnya terlihat kaget saat melihat mataku yang sudah terbuka. Telingaku bisa mendengarnya berbicara padaku. Ingin sekali aku ke luar dari kotak kaca ini. “Tenanglah, besok kau bisa ke luar dari kotak itu.” katanya seolah-olah tahu apa yang ada di pikiranku.

Aku menunggu. Menunggu datangnya hari esok, hari dimana aku bisa ke luar dari sini. Tapi ini terasa sangatlah lama. Aku menyadari sesuatu yang janggal. Aku tidak bisa tertidur! Bagaimana bisa aku tidak merasa mengantuk padahal ini sudah larut malam. Jam dinding telah menunjukkan pukul 1 malam. Mungkin aku insomnia, pikirku begitu. Jam dinding kini memutar arah jarumnya ke angka 9. Aneh sekali. Aku bisa bertahan sampai pukul 9 pagi tanpa rasa mengantuk sekalipun. Aku melihat gagang pintu yang bergerak, pasti orang yang kemarin ingin menepati janjinya. Ternyata benar dia datang lagi tidak sendirian melainkan dengan dua orang lagi.

“Tolong pindahkan dia ke luar,” perintahnya pada kedua orang itu. Dua orang itu mulai mengangkatku.
Oh Tuhan sekarang aku benar-benar berada di luar kotak. Tapi masih saja tubuhku belum bisa digerakkan.
“Baiklah kita mulai merangkai kabel-kabelnya,” ucapnya sambil membawa peralatannya dan menuju ke belakang tubuhku. Astaga jadi aku ini sebenarnya..
“Hufft, sudah selesai. Felicia, coba katakan sesuatu padaku,” tanyanya.

“Apakah aku sedang bermimpi?” ucapku, ah aku bisa berbicara.
“Tidak Felicia,” jawabnya sambil tertawa.
“Jadi aku seorang robot?” tanyaku lagi.
“Benar, kau seorang robot. Sebelumnya, kenalkan aku Profesor Robert,” ucapnya memperkenalkan namanya.
“Bagaimana bisa aku menjadi robot?” tanyaku sekali lagi.

Prof bercerita banyak tentangku saat aku berlatih menggerakkan tubuhku. Seharusnya aku berterima kasih padanya mungkin tanpanya aku tidak bisa melihat dunia lagi. Dan dia menyelamatkan Ibuku, tetapi dia mengalami koma karena tertimpa bangunan yang runtuh akibat gempa dahsyat. Selain itu ternyata ini adalah perintah Ibuku agar dia masih bisa melihatku saat ia terbangun dari tidurnya. Ada yang ganjil lagi, aku tidak bisa merasakan sedih.

Hari demi hari telah terlewatkan dan aku hanya berada di dalam Lab milik Profesor. Ingin rasanya melihat dunia luar. “Profesor apakah aku boleh ke luar berjalan-jalan?” pintaku padanya.
“Boleh saja, tetapi harus ada yang menjagamu,” jelasnya.
“Baiklah tak apa, siapa dia?” tanyaku penasaran.
“Alfred masuklah!” teriak profesor. Dia kemudian masuk, dia terlihat sebaya denganku. Profesor kemudian berbicara dengannya, aku tidak bisa mendengarnya karena mereka berbisik-bisik.

“Wah indah sekali kota ini, berapa lama aku berada di dalam lab itu?” tanyaku pada Alfred.
Orang-orang sekitarku menatapku dengan raut wajah yang aneh. Apakah mereka tahu bahwa aku ini adalah robot? “Sekitar tiga tahunan.” ucap Alfred singkat. “Ah lihat bajuku, apa aku menggunakan baju ini selama tiga tahun?” tanyaku lagi pada Alfred yang berada di sampingku.
“Hmm.. bisa dibilang begitu,” jawabnya seraya menunjukkan deretan giginya yang rapi.
“Kalau begitu, ayo belikan aku baju baru.” pintaku. Kemudian Alfred mengajakku ke sebuah mall. Di sana aku memilih-milih pakaian dan Alfred selalu di dekatku, menjagaku dari segala bahaya.

Saat sedang memilih-milih tiba-tiba ada seseorang mendekatiku sepertinya seumuran denganku. “Felicia? Kau baik-baik saja, ah syukurlah.” ucapnya yang kemudian memelukku secara tiba-tiba. Tubuhku kaku aku tidak bisa melepas pelukannya. Mengapa dia tahu namaku? “Ini aku Joseph.” ucapnya lagi lalu melepas pelukan. Alfred kemudian datang dan merangkulku sambil berkata, “Maaf ini pacar saya, tolong jangan ganggu dia.” dengan tegasnya dan mengajakku pergi dari orang yang bernama “Joseph”. Aku tidak mengingatnya sama sekali, yang aku ingat hanyalah Ibuku. Apakah profesor menghapus semua ingatanku?

Kita berdua telah sampai di sebuah Rumah Sakit untuk menjenguk Ibuku, setelah kejadian tadi aku jadi teringat dengan Ibuku. Dia masih terbaring dengan sebuah selang di hidung dan satu lagi di tangannya. Terdengar suara mesin pendeteksi jantung dengan gambar garis seperti rumput berantakan di layar monitor itu. Kali ini aku bisa merasakan sedih, satu-satunya orang yang selalu ada di ingatanku dan satu-satunya yang aku kenal adalah Ibu.

“Profesor jika Tuhan tidak menghendaki Ibuku untuk melihatku dan jika Ibuku menghembuskan napas terakhirnya, aku ingin menutup mataku juga untuk selama-lamanya. Aku hanya ingin selalu bersama Ibuku hingga di alam akhirat nanti, aku tidak ingin hidup sebagai robot jika tidak bersama Ibuku.” ucapku menjelaskan pada profesor selepas pulang dari Rumah Sakit. Profesor mengangguk setuju memahami keadaanku.

Keesokannya, Tuhan benar-benar mengambil nyawa Ibuku. Aku merasakan sakit, seakan-akan ibuku pergi jauh meninggalkanku, tapi itu memang benar. Lantas aku langsung berbicara dengan profesor. Kemudian profesor dengan dua orang seperti biasanya sudah siap dengan semua peralatannya untuk mencabut semua aliran kabel dalam diriku. Ah Alfred pun hadir, aku bisa melihat senyuman manisnya untuk terakhir kalinya. Gelap. Tuhan, aku ingin melihat Ibuku, aku ingin bersamanya. Tiba-tiba aku melihat ibuku datang dan juga dengan ayah mereka memakai pakaian yang sama, berwarna putih bersih. Tuhan mengabulkan doaku dengan cepat.

Cerpen Karangan: Hasna Asjad Allamah
Twitter: @HasnaAsjad1
Ig: hsn.aa
[u can do it]

Cerpen Live As A Robot merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Knight of Blade Red Fire

Oleh:
Malam hari, telah tiba saatnya, bagiku untuk menghadap buku-buku pelajaran yang akan ku pelajari dalam ulangan harian besok pagi di sekolah, ku tarik kursi yang berada di hadapanku, dan

Imprecnable (Part 1)

Oleh:
Angin bertiup kencang menerpa pohon-pohon besar di malam yang amat gelap itu. Seorang wanita berlari dengan menggendong seorang bayi perempuan. Sementara bayinya terus menangis wanita itu tetap meneruskan pelariannya

Tanpa Putih dan Abu Abu

Oleh:
Inilah kisahku, kisah yang berbeda. Ya! Memeng berbeda. Mereka yang hidup di bawah keterangan. Mereka yang hidup di bawah terangnya cahaya matahari, terangnya cahaya rembulan dan kerlap-kerlip bintang-bintang indah

Peluru dan Brownies di Malam Tahun Baru

Oleh:
Malam tahun baruku tidak seperti tahun barumu. Mungkin saat ini kau sedang bergembira ria di suatu tempat. Bernyanyi, menari-nari, banyak makanan dan minuman yang enak-enak. Pulang pagi dan tertidur

Doppelganger

Oleh:
“Hei, Rika, kemarin sombong banget sih,” Ujar Dika sambil membalikkan badannya, menatap seorang gadis bersurai cokelat ponytail yang baru saja duduk di meja di belakangnya. “Maksudnya?” Iris caramel Rika

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *