Maaf Aku Harus Balas Dendam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 2 May 2014

Gang sempit yang becek menjadi saksi bisu kejar-kejaran antara sekelompok pemuda dengan sekelompok preman. Bunyi picrat-picrat air yang menggenang menjadi irama adu cepat kejar-kejaran. Satu di antara sekitar belasan preman itu berteriak, memecahkan suasana hening malam yang sepi. Tak lupa senjata yang menyerupai tongkat baseball itu mereka acung-acungkan seakan-akan ingin menghabisi tiga pemuda yang berlari itu
Malam yang mengerikan buat trio pemuda itu, nyawa mereka akan melayang jikalau kalah berlari.

Pos satpam. Tertulis di plang kecil dan tergantung pada atap bangunan ukuran 3×2 itu. Namun, pos yang menjadi harapan satu-satunya hanyalah tempat berisikan tv yang bernyawa ketika dua satpam gempal terlelap tidur. Tak hayal bulu kuduk trio itu berdiri, dibarengi nafas letih mereka yang tidak letih-letihnya bersahutan.
“wah satpam edan, bukannya jaga keamanan, malah asik tiduran” ucap obeth yang bertubuh atletis dengan nafas ngos-ngosan
“anjrit itu preman, pake acara ngejar kita. Gara-gara lu mal, kita jadi kena sialnya” ucap ben yang merukuk terengah-engah
“eh ben, lo nyalahin gue? sebenarnya lo niat bantu gak? Ucap jamal setengah bentak
“eh bego, lo berdua pada berantem. Udah sembunyi saja dalam sini, itu preman-preman udah dekat”

Mereka sepakat bersembunyi dalam pos satpam, dengan konstruksi bata ruangan yang sedang mereka tempati terbilang kuat. Jamal sembunyi dengan mengenakan sarung sambil tengkurap di atas dipan. Obet menjorok di bawah dipan. Sedangkan ben di balik tanaman kaktus yang dapat menutupi wajahnya. Secara menyuluruh mereka hampir tak terlihat dari luar.

Para preman bertampang sangar, berhenti tepat di depan pos satpam. Ketua pengejaran mencurigai pos ini. Dua anggota preman diperintahkan masuk. Menggeledah pos satpam yang mereka tempati. Sedangkan sisanya berpencar.

Detak jantung jamal berdegub kencang. Ketika salah seorang preman berusah membalikan badan jamal yang sedang tengkurap. ‘dugs’ gerakan reflek kaki jamal berhasil mendepak perut si preman tersebut. Ia terjatuh. Tanpa sengaja ben menyenggol pot kaktus tadi dan “akhh” kaktus itu tepat mengenai mukanya. Alhasil preman itu dapat dilumpuhkan.

Tinggal satu preman lagi yang tersisa, ia mencoba mendekati jamal. Namun ada obet yang dengan sigap menahan kaki kiri, satu preman lainnya. Si preman itu pun terjatuh, tongkat yang ia genggam melayang ke tangan jamal. Dan ‘plakkk’ tongkat itu berayun menghantam kepala si preman. mereka berdua kini terkapar. Di saat trio pemuda itu mulai tersenyum.

Jamal bangkit dengan mengambil kampak, tongkat baseball di tangannya ia lemparkan. dengan sigap obeth menangkapnya. Di pojok ruangan ada sapu lidi, sekarang benda itu menjadi senjata ben. Ben cengengesan, melirik kedua temanya sambil menggengam tangkai sapu.

Sementara itu di tempat berbeda. Raisa, pacar jamal, harus merasakan mulutnya disekap dengan lakban. Kaki beserta tangannya dibaluti simpul tali. Di antara manusia bertubuh kekar berisi, dan tongkat baseball yang digenggam menjadi ciri khas mereka, raisa pun harus menerima nasibnya kini. Bahkan ia harus pula melihat beragam senjata yang mereka genggam, seperti pedang dan kampak yang seakan menebar ancaman pada dirinya.

Bos sang preman, tiba menampakkan diri. Pria dengan rambut rapi itu, muncul melangkah dalam kelamnya ruang penyekapan. Raisa super takut, bandannya bergerak-gerak berusaha melepaskan ikatan. Namun hasilnya jelas sia-sia, ia pun terlihat pasrah saat boss preman itu mendekat dan membelai rambut raisa.
“hai nona” ucapnya serak sembari menjambak rambut raisa. “Malam ini indah yah” ucap ia selanjutnya. Raisa terlihat kesakitan.
“kenapa..? Sakit? Ini belum seberapa, dibandingkan rasa sakit hati ku” ucapnya meninggi, suara seraknya samakin serak. “kamu tau kenapa?” raisa menggeleng tak menau. “Karena ‘pacarmu’ yang sok ‘pahlawan’ itu, telah mengijak-injak ku. Menghakimi ku saat bentokrokan seminggu yang lalu” tambahnya.
Raisa memandangnya, kini ia mulai membuka jaket yang memakai tudung kepala, terpampang wajah mengerikan. Dua jahitan di pelipis mata kiri. Sembilan jahitan di bibir bawah serta kelopak mata kirinya membengkak. Saat itu ia berbaik hati membuka lakban di mulut Raisa, namun secara paksa. Gadis pesakitan itu sontak merasakan betapa sakitnya saat secara paksa, lakban yang menempel di mulutnya dibuka. Mukanya sembab dan mulai menangis.
“aku… minta… maaf…” ucap raisa
Boss preman, kini berpura-pura terkejut. Lalu ia tersenyum. Sekejap saja wajahnya kembali meradang dan ‘cuihh’ liur itu pun terbang begitu saja, membercak di muka gadis pesakitan itu. Raisa yang sudah pasrah hanya bisa terisak kembali
“maaf..? Lo bercanda non?” nadanya meninggi, sekarang rambut raisa kembali dijambaknya. Ia tak kuasa menahan jambakan pria itu. “hai nona manis. Yang sedang kau nikmati ini bukan parodi..” ucapnya mengacuhkan tangis rasa sakit gadis malang itu. dengan nada meninggi ia kembali berujar “..Tapi sidang illegal yang sedang kau jalani dengan nada meninggi
Raisa tertekan, ketakutannya mengalir deras di seluruh organ tubuhnya. Bentakan kasar dan ludah pria menakutkan itu bisa menjadi trauma mendalam di kemudian hari. Pria beringas itu bangkit. Terdengar nada kesal mengiringi langkah kakinya.

Ia berjalan menuju sudut ruang kelam, dengan bersinarkan sekilas cahaya lampu yang hidup dari luar ruang tersebut. Dimana ada sebuah lemari, ia obrak-abrik lemari kayu yang sudah oleng, tak seimbang lagi. Tangannya sibuk melempar barang-barang yang tak perlu, yang dirasa mengganggunya. Disana ia dapatkan selembar foto, tampak ia membalikan badan dan berlalu meninggalkan lemari kayu usang tersebut.

Jamal, obeth, ben. Mulai mencari keberadaan raisa. Yang menghilang setelah mereka pulang menonton konser. Konser itu berubah menjadi kekacauan. Setelah jamal mencoba menghajar satu di antara orang yang dengan sengaja menatap mereka. Namun tak dikira jamal, aksinya itu mengundang kekesalan belasan preman, yang berdiri tidak jauh dari orang yang nyaris ia hajar. Mereka mencoba melawan, namun pihak mereka kalah jumlah. Raisa yang tak pandai melawan akhirnya tertangkap.

Kini mereka mempercepat langkah. Tangan mereka. mereka gunakan mengusai-usai apa saja yang menghalangi, entah itu kardus-kardus bekas, semak-semak tumbuhan liar hingga menjatuhkan tong sampah yang itu semua terletak di gang-gang sempit.

Jamal makin panik, namun fikirannya bersenandung. Mengingat masa-masa bahaginya dengan raisa, kekasinya. Terbayang saat mereka menggengam tangan, beriringan melangkah di sepanjang pantai. Sewaktu mereka berwisata pada waktu senggang. Dimana mereka berlarian menghampiri ombak, dan dengan sengaja gelombang yang bergulung menghempaskan tubuh mereka sehingga bermandikan air laut. Saat itu mereka tak sedetik pun melepaskan genggaman, malahan tertawa manis saling berpandangan, lalu hari itu di akhiri pelukan mesra saat senja mulai menghilang.

Rasa prihatin dan geram bercampur seperti adonan kue itu lahir dari hati Obeth. Ketika melihat mimik muka sobatnya sedih. Betapa tidak, sekejap saja. Pria yang ia maksud itu menitikkan air mata. Lalu sebuah tamparan ‘plakk’ melayang deras tepat di pipi jamal. Ya! Obeth menghadiahi jamal, sebuah tamparan. Kini, jamal yang sedih menjadi binggung atas tindakan sobatnya itu.
“hapus air mata lu” ucap obeth, langkah mereka pun berhenti. “jijik gue ngelihatnya” ucap obeth terus terang
“lu gak tau perasaan gue beth, raisa sekarang entah di mana. Entah masih bernyawa atau sudah tiada? Terus sekarang lu nampar gue? Mau lu apa?” mata jamal menatap tajam ke arah obeth. Sekarang yang terdengar hanya dengusan nafas, keluar dari hidung masing-masing pria yang sedang bertatap tajam.
“tangis bukan cara menyelamatkan raisa. Tangis hanya ungkapan kesedihan terjijik bagi gue” obeth menggenggam kerah kemeja yang sedang jamal kenakan.” Mana jamal yang dulu? Waktu kita sama-sama bentrok sama anak SMA Pelita, mana sang panglima bentrokan itu?” ucapnya sambil melepaskan kerah jamal.

Kini terbayang semua, masa-masa mereka dengan gagahnya menyerang anak-anak pelita. Dimana jamal menjadi momok utama penyerangan. Dimana derasanya hujan batu yang berterbangan, malahan sejengkal di atas tengkorak kepala mereka sendiri, tak sedikitpun mereka gentar, sebelum sma pelita lari terbirit-birit. Dan sekarang fikiran jamal terbelah menjadi tiga persimpangan. Raisa, masa lalu, dan Obeth yang kini sedang memancing keributan saat keadaannya labil.
Tiba-tiba, ada sebuah energi pada diri jamal. Energi yang mengalir dari kosa kata sobat kecilnya. Menjadi sebuah arus motivasinya, sehingga meledak jadi dorongan pada jiwa di tubuh pemuda bernama jamal. Lantas jamal mendorong tubuh obeth, pemuda yang sedang menampakan muka kesalnya.
“lu benar, ayo!! Kita lawan sampah masyarakat itu” ucap jamal menggebu-gebu
“ayo!!” jawab obeth,sambil menepuk pundak jamal sobat kecilnya. Sementara ben terpaku menyaksikan sebuah arti persahabatan, layaknya scane acting sebuah sinetron. Obeth hanya menatapnya sambil berkata
“kenapa lu?”
“gak… gue bahagia endingnya kayak gini. Gue kira lu berdua mau berantem”
“jijik gue ngelihat lu” ucap obeth
“yee.. biasa aja beth” ucap ben sambil manyun. Jamal akhirnya tersenyum.

Malam semakin menghantui perasaan raisa. Wajah panik yang jauh dari rasa bahagia melekat di wajahnya. Bos preman tadi melangkah lagi, mendekati raisa. Ia kembali terancam. Matanya reflek menutupi kisahnya malam ini.
“ini foto gue.. sebelum jahitan menusuk-nusuk muka gue” raisa tak melihat foto itu, pria yang sedang menghakiminya kini merasa diacuhkan. Ia emosi dan melayangkan tamparan keras berkali-kali.
Dengan berapi-api ia berucap “sakit..? Makanya kalau gue ngomong lihat. Ya… lihat” ia kembali menjambak rambut raisa, raisa mencoba tegar dengan menahan rasa sakitnya yang sedang ia hadapi.
Raisa membuka mata, dan ia dapati photo seorang pria. Tersenyum dengan baju putih berlambangkan sma pelita yang sedang pria itu kenakan
“reno” ucapnya terkejut, yang tak lain adalah mantan pacarnya.
“iya raisa, itu aku!!”
“reno… maafkan aku, seminggu yang lalu aku ingin melihat jamal…” raisa mencoba menyanggah.
“cemburu. Kan! Dasar hina kau, kau lah yang menyebabkan sma pelita saling bermusuhan dengan sekolah kau” ucapanya meninggi
“gak reno.. ini Cuma salah paham”
“apa yang salah? Suaranya mulai sedikit serak setelah sekian lama berteriak-teriak. “cara yang lu lakukan salah, gue sudah cukup tegar sewaktu lu pergi meninggalkan hati ini” ucap ia sambil menunjuk-nunjuk dadanya.
“aku tau aku hanya anak dari orangtua yang sederhana. Tapi begini cara lu membuat hidup dan wajah gue hancur. ‘Sh*t’ cewek picik”
Saat itu juga reno mengeluarkan sebuah belati tajam. Sekelibat saja wajah raisa seperti kehabisan darah, pucat dan semakin cemas. Ia coba memejamkan matanya, berharap ini hanya mimpi di tidur malamnya.

Jamal dan kawan-kawan akhirnya berhasil menemukan markas sekelompok preman yang mengejarnya. Kira-kira 200 meter setelah pos satpam. Tepatnya di rumah tua tak berpenghuni, yang terletak di tengah-tengah gang. Walau gemetaran, ia berlari diikuti ben dan obeth yang siap dengan senjata seadanya, menyerang preman yang berdiri di pintu utama rumah tua itu.

Pertarungan pun pecah, jamal menghempaskan 2 preman yang berjaga di sana. Tak hayal suara kesakitan 2 preman itu mengundang simpati dari rekanya. Alhasil belasan preman bertampang sangar dan keji keluar bergerombolan. Jamal menerjang mereka dengan kampak yang ia pegang. Meski sempat terkena sabitan pisau di pipinya, namun tetap ia tak tergoyahkan. Dalam hatinya ia berkata. ‘meski harus mati untuuk menyelamatkan raisa, aku mau’.

Obeth berjuang mmemukul sebisanya dengan tongkat baseball. Kakinya sempat tertendang, dan beberapa kali diterjang bogem mentah, namun kuatnya adrenalin dalam batin bisa mengalahkan sampah masyarakat itu.

Dalam keadaan gelap ben memutar-mutar sapu lidi yang ia bawa, tak terkira beberapa di antara mereka mengerang akibat matanya tertsuk lidi. Tak sulit baginya melumpuhkan preman-preman yang bertampang sangat arogan.

Ia dapatkan raisa dalam ruangan gelap yang dihiasi sebersit sinar lampu. Raisa mengeluarkan darah, perutnya di tusuk hingga beberapa kali. Jamal bergegas mencabut pisau yang tertancap di perut raisa. Sementara obeth dan ben sama-sama berjuang bertaruh nyawa, saling melepaskan tinjuan dan pukulan kepada preman yang masih bisa berdiri.

Jamal menahan perut raisa yang mengeluarkan banyak darah, dengan telapak tangannya. Raisa pun digendongnya keluar dari tempat gelap yang menjadi aksi adu nyawa. Ia lari ibarat kereta kencana, ia mencoba membawa raisa menuju sebuah poliklinik yang tak jauh dari lokasi rumah tua itu.

Namun seseok bayangan seperti manusia berpakaian serba hitam datang seperti jet tempur. Dari arah berlawanan jamal yang berlari membawa raisa dengan tergesa-gesa, menahan gesahan nafasnya yang sudah letih. Sebersit ada sebuah sinar yang berkilau datang dan menghantam perut jamal. Ternyata itu sebuah belati tajam. Sosok itu yang menusuk tubuh pria yang menggendong keksihnya itu. Dan jamal pun terkapar bersimbah darah.

Raisa terhempas ke aspal, ketika jamal terkapar pula di aspal. Sosok itu pun menapakkan wajahnya. Wajahnya yang dipenuhi jahitan dan luka memar. Di sisa nafasnya jamal pun mengetahui bahwa sosok itu adalah reno. Jamal teringat tentang pengeroyokan anak sma pelita seminggu yang lalu. Renolah yang paling banyak mendapatkan bulan-bulanan bogem mentah dari kawan-kawan satu smanya. Kini dalam sekarat ia menyadari kesalahannya. Ia hanya berharap ada kata maaf dari bibirnya yang sudah bermuntahkan darah.

Sosok itu pun tersenyum bahagia. Matanya menyala-nyala. Kepalan tangannya mengacung acung. Ia melangkah senang, dalam hatinya ia merangkai kata-kata yang mengakhiri jumpanya dengan raisa., ‘maaf aku harus balas dendam. Raisa. Kamu harus sama merasakanya terlebih dia. Jamal, si keparat itu. Lelaki hina yang telah merusak hari-hariku!!’.

Kini sosok yang bernama reno, mengeluarkan lagi belati tajamnya. Ia melangkah tegar, mendekati dua manusia yang siap dijemput malaikat itu. Ia kepal pisau itu di telapak tangannya, mukanya terlihat tegar cendrung pasrah. Namun tak disangka, pisau yang ia kepal, dengan sengaja ia menghempaskan keperutnya sendiri. ‘bragghk’ tubuhnya ambruk, terhempas, dan terkapar bersama sepasang kekasih yang sama-sama telah ia cabut nyawanya. Kini badan-badan tergeletak itu sama-sama menanti malaikat surga menjemput arwah mereka.

Cerpen Karangan: Yonanda Darmawilya
Blog: Nandngilerbaca.blogspot.com

Cerpen Maaf Aku Harus Balas Dendam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Orphanage House

Oleh:
“Elena, lakukan dengan benar!” Uh, ya ampun. Suara menggelegar Bibi Clara benar-benar seperti musik orkestra gratis yang berdesing di telingaku. Tidak elite sekali menyuruh seorang gadis untuk membersihkan seluruh

Akibat Mantra Sihir (Part 1)

Oleh:
“Aku sangat suka sekali dengan hal yang berhubungan dengan sihir” Kata Misa, sambil membetulkan letak kacamatanya yang sedikit bergeser, lalu mengerut-ngerutkan hidung, dengan wajah kemerahan dan pipinya yang menggembung

Peluru dan Brownies di Malam Tahun Baru

Oleh:
Malam tahun baruku tidak seperti tahun barumu. Mungkin saat ini kau sedang bergembira ria di suatu tempat. Bernyanyi, menari-nari, banyak makanan dan minuman yang enak-enak. Pulang pagi dan tertidur

Imajiner

Oleh:
Duduk di kursi kamarku, sangat merasa bosan hari ini, “huft.., apa yang akan kukerjakan hari ini…”, terlintas di benakku, kemudian kucoba membuka salah satu media sosial favoritku di telepon

Negeri Ajaib

Oleh:
Terlihat jelas suatu keindahan dari berbagai arah mata angin. Tempat yang masih hijau dan segar. Sebuah tempat yang membuat semua orang sangat nyaman saat berada di tempat tersebut. Pepohonan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Maaf Aku Harus Balas Dendam”

  1. princess says:

    Waww.. gw salut bwt orng yg bkn cerpen ini,, bagus banget,, salam y bwt orng yg bkn cerpen ini….!!

  2. Rahra Adela Aulia says:

    bagus lho. Aku suka ceritanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *