Magang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 29 November 2018

Senang rasanya anakku Rizal sudah masuk perkuliahan. Semoga kelak dia menjadi anak yang mampu meneruskan tradisi Kaum Kasmi dan berguna bagi negara. Dulu saya tidak sempat merasakan bangku perkuliahan karena kata bapak, anak laki-laki pertama harus mewarisi sawah turun-temurun milik keluarga kami. Sebagai anak yang baik, saya harus nurut sama orang tua. Toh, juga akhirnya Rizal bisa kuliah karena hasil dari sawah.

“Siang Pak Dio.”
Oh Pak Bowo.
“Siang Pak Bowo” Kataku. Kami hanya berpapasan. Jam-jam segini dia sudah harus mengurus sawah kami. Keluarga pak Bowo ini sudah seperti keluarga kami sendiri. Anaknya Tia, dia sekolah SMA juga saya yang biayai.
Saya menyempatkan diri mengunjungi sawah. Sudah sekitar dua minggu saya di rumah saja. Nggak ngapa-ngapain. Sudah sekitar dua minggu juga Rizal nggak ngasih kabar.

Udara di sekitaran sawah masih sejuk. Sama seperti waktu saya kecil dulu. Sawahnya menghijau luas dengan pekerja sawah yang selalu menyapa jika saya lewat. Pak Bowo di gubug, sedang ngitung duit untuk beli hama. Lebih baik saya ke sana untuk ngobrol dengan dia.

Jalanan sawah cukup licin, karena saya tidak pakai sepatu. Saya pakai sandal wong tadi nggak kepikiran mau kemari. Saya berjalan dengan sangat hati-hati. Semakin dekat saya dengan gubug. Saya sudah hafal jalanan ini. Tapi kemudian ada kerikil tajam yang menembus sandal yang saya kenakan. Spontan saya mengangkat kaki. Namun memang karena sudah tua, berdiri di satu kaki bukanlah hal yang mudah. Saya terjatuh di sawah. Jatuhnya cukup lumayan sakit. Karena setelah bangun, –dibantu pak bowo– saya menyeka kepala untuk membersihkan lumpur yang ternyata bercampur darah. Kemudian lemas sekali badan saya. Setelahnya, semuanya gelap.

Saya berada di ruangan yang amat gelap. Kepalaku berputar kencang hingga akhirnya berhenti setelah beberapa detik. Samar-samar ada cahaya yang menuntunku untuk keluar dari ruangan ini. Suara Rizal terdengar.
“Maaf, aku nggak minum alkohol” Kata Rizal.
“Sedikit aja kok, bro. Ini perayaan novel kamu yang launching hari ini lho!” Kata temannya.

Ah tidak, anakku pasti tau bahwa sudah jadi tradisi keluarga kami untuk tidak mengkonsumsi apapun yang mengandung alkohol. Tapi sesuatu yang diluar dugaanku terjadi. Benar saja, teman Rizal mendekatkan gelas itu ke dekat bibirnya. Kemudian semua menjadi gelap.

Saya bangun. Sinar matahari terang, lebih terang dari biasanya. Sampai tidak bisa melihat sosok yang ada di dekatku ini.
“Pak…”
Oh ini anakku. “Nak, kamu sehat nak, bapak habis jatuh di sawah” Penglihatanku semakin membaik. Anakku tidak menjawab. “Bapak mimpi yang aneh-aneh semalam.” Anakku tidak menjawab.
Saya mencoba berteriak tapi tidak sampai. Udara yang melewati tenggorokan ku sempat tersendat. Tidak tau apa yang harus kulakukan, saya berusaha untuk diam. Namun rasa mencekik ini semakin kuat dan sekujur tubuhku lemas.

Saya kembali terseret di pusaran ruang dan waktu. Lebih tepatnya saya tidak tau lagi ke mana pusaran ini akan membawa ragaku. Tiba-tiba aku melihat tanah. Tepat di bawahku. Kepalaku terpelating keras namun aku tidak lagi merasakan sakit.
Ragaku tergeletak dengan seluruh indra kemanusiaanku berfungi sempurna. Aku dapat melihat langit biru yang lebih biru dan indah dari biasanya. Suara rerumputan saling bergesekpun terdengar olehku. Wewangian yang ditimbulkan oleh gesekan tersebut sangat membangkitkan gairah kehidupan.

Kemudian saya mencoba bangun. Tubuhku terasa lebih ringan dari yang biasanya. Ada sesosok orang tua duduk di sampingku. Saya kaget hingga hampir terjatuh.
“Siapa kau? Saya di mana?”
Sosok orang tua duduk bersila dengan pakaian khas luluhurku. Kain kuning emas terusan dari atas ke bawah. Kepalanya dibalut kain dengan warna yang sama, turun panjang hingga ke punggungnya. Sama seperti tradisi beribadah kaum Kasmi.
“Jalhamm..”
Saya kaget sekali sewaktu sosok itu menyapa dalam sapaan Kasmi. Apa dia orang Kasmi juga? Kalo begitu biar saya tanya..
“Jalham tawaare, bapak. Permisi, ini di mana ya?” Pak tua tersebut hanya tersenyum. Kedua matanya tertutup saat tersenyum. Kalo saya lari pas dia tertawa, dia nggak akan tau aku ke mana. Ah, kamu, klasik. “Bapak juga Kaum Kasmi? Dari keluarga mana? Kita pernah berjumpa? Senang sekali saya…”
“Ah, Dio, kamu ini banyak tanya… Tapi ya, wajar saja. Dulu sewaktu saya baru sampai juga banyak tanya. Baru setelah sadar betul, saya langsung diam lama sekali.”
Kemudian orang tua itu tertawa terbahak-bahak. Saya tidak paham dia bicara apa. Anehnya lagi, dia tau nama saya.

Dia kemudian berhenti dari tawanya. Kali ini dia duduk lebih dekat denganku “Coba diingat lagi, terakhir kali, kamu ngapain?”
Saya mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Baru kemudian semua ini masuk akal, setelah beberapa menit. Saya terdiam lama, masih tidak percaya. Saya meremas kepala, mengacak-acak rambut seolah tidak percaya kalo ini alam kematian. Saya sudah mati. Bayangan anakku yang disuguhi alkohol dan bayangan apapun yang akan menimpanya dikemudian hari terus menghantui. Semuanya menjadi lebih baik saat sosok tua itu menyentuh pundakku.

Nafasku terengah-engah. Saya melihat bapak itu, mukanya masih berseri. “Bapak siapa?” kataku.
“Saya? Hmmmm… Saya bisa siapa saja. Saya bisa kamu, saya bisa Rizal, atau Bowo atau siapapun”
“Terus kita ini di mana pak?”
“Oke, biar gampang, kamu mau ini di mana?”
“Hah?” Saya tambah bingung dengan bapak satu ini. Tapi sekelebat mata tempat ini berubah jadi halaman rumahku yang menghadap sawah. Saya lagi ingin sekali ada di situ. “Ini halaman rumah?” Mataku terbelalak tidak percaya. Hamparan putih yang dari tadi ada di sekeliling kami berubah menjadi halaman rumahku.
“Coba kamu pikirkan sebuah tempat yang lain, yang kamu ingin kunjungi. Selain ini.” Kata bapak.
Sekelabat mata, lagi tempat ini jadi sendang.. Sendang tempat Saya dan Asih, istriku, pertama kali bertemu.
“Tempat ini bisa jadi apapun yang kamu mau… Kamu mau apa? London? Amerika? Boleh. Tempat ini, sama seperti saya. Apapun.”

“Bapak ini Tuhan ya?” Saya tanya pelan-pelan.. setengah tidak percaya…
“Boleh jadi..”
Saya mau menyembah, tapi kaki sangat lemas, hingga membuatku susah untuk sujud.
“Kan, saya bilang tadi, Saya bisa jadi siapapun yang kamu mau, atau saya mau.”
Tampaknya memang sudah jelas ini kematianku. Tapi dihadapkan kepada Tuhan bukan sesuatu yang gampang untuk dijalani. Saya tidak tau harus ngapain. Saya harus pastikan satu hal.
“Jadi ajaran Kasmi, maha benar? Sedang agama yang lain itu salah?”
“Bisa iya, bisa tidak… Saya sudah bilang tadi.. Kamu yang menentukan atau saya yang menentukan. Karena pada dasarnya, tidak ada yang salah, semua diperbolehkan…” Kata Bapak.
“Lantas kenapa Bapak berpakaian seperti leluhur kami?

Kemudian seketika pakaiannya berubah. Angin kencang meniup mataku, seolah memaksa untuk menutup mata sekitar kurang dari satu detik. Kemudian orang yang mengaku Tuhan tadi berubah menjadi seorang wanita berambut panjang dengan kulit sawo. Dia mengenakan kain sari Khas India.
“Intinya, kamu sudah sampai di tempat ini. Selamat”
Saya semakin bingung apa yang harus saya lakukan. Saya beranikan diri.

“Saya punya pertanyaan..”
“Saya sudah tau..”
Saya menggaruk kepala bingung harus melakukan apa. Yang ada dikepalaku saat itu adalah sebuah pertanyaan arti hidup ini.
“Arti sebuah hidup, tujuan hidup itu ditemukan oleh kamu sendiri. Bukan yang lain. Bukan dari orangtuamu juga.”
“Anakku” Potongku, karena tiba-tiba aku teringat Rizal “Tolong selamatkan anakku, dia … akan dibujuk temannya minum alkohol. ”
“Dio…” Tuhan dalam sosok wanita India, tersenyum. Suaranya lembut “Tidak ada anakmu.. Tidak ada istrimu. Semua ini yang ada di dunia ini, kamu pusatnya. Sebentar lagi kamu tau kenapa.”
“Tunggu.. Jadi kau ciptakan semua ini untukku? Seorang? Tapi Saya cuma seorang petani, Tuhan.” Saya protes, merasa diperlakukan terlalu spesial. “Bukannya lebih baik membuat dunia ini dengan Gandhi di tengahnya, misalnya, atau Mandela?” Tiba-tiba saya merasa telah menyianyiakan hidup.

“Saya beri Dio, Gandhi dan Mandela kapasitas yang sama, sebagai manusia. Kamu memilih menjadi petani, dan yang lain memilih menyelamatkan dunia, itu nggak salah, Dio. Intinya, kamu ada di tengah. Dan mereka saya ciptakan untuk mengispirasi kamu. Well… mungkin menciptakan manusia, masih butuh riset lebih lanjut di antara kami.”
“Tunggu, Kami?” Kataku “Ada banyak di antara kalian? Dari agama lain juga kah?”
“Kami yang saya maksud adalah saya dan para pendahulu saya. Dan kamu, Dio.”
“Sa.. Saya? Kenapa?”

Wanita itu berubah sosok lagi. Bukan sebagai bentuk manusia, tapi lebih ke bentuk sebuah hewan bersayap. Sayapnya megah berwarna merah terang. Bentuknya seperti elang kali ini. Cakarnya mencengkeram kotak peti kecil yang ringan. Elang merah tersebut memberikannya kepadaku.

“Giliranku untuk mengawasi dunia, sudah selesai, begitu kamu sampai di tempat ini Dio. Sekarang giliranmu untuk memulai kehidupanmu dari sudut pandang tempat ini. Kamu bisa menggunakan semuanya demi apapun yang kamu bubuhkan kepada kehidupan kecilmu, yang ada di dalam kotak tersebut.”

Saya membuka kotak tersebut. Terlihat sebuah bola pendar kecil bersinar terang. Cukup terang untuk menyinari ujung ruangan kotak peti kecil ringan tersebut.
“Itu sistem kehidupan. Kembangkanlah. Lakukan apapun yang menurutmu pantas untuk dilakukan dan awasi perkembangannya.”
“Apa yang harus saya lakukan?” Kataku
“Apa yang harus kamu lakukan? Kau Tuhannya, kau yang menentukan sekarang.”
“Saya… Umm.. Paling tidak, beritahu apa yang terjadi pada saat kamu memulai.”
“Okay…”

Sosok hewan penuh wibawa tersebut berputar tak beraturan dan menggumpal menjadi… Sepertiku, persis. Aku melihat Dio yang lebih segar. Rambutnya lebih tertata. Suaranya mirip denganku.
“Saya suka memulai kehidupan dengan makhluk-makhluk yang penuh kedamaian. Jauh sebelum sistem tata surya kamu dibuat. Baru setelah dari titik itu, kemungkinan-kemungkinan terjadi. Hingga akhirnya, untuk mengakhiri satu tatanan sistem ketuhananku, saya ciptakan Bumi. Awalnya, saya ingin hanya Dinosaurus saja. Tapi itu bukan akhiran yang baik. Saya perlu mahkluk yang mampu menyaingi daya pikirku sebagai Sang Pencipta. Dan hal yang paling bisa saya lakukan adalah membentuk manusia.

“Nah, sekarang giliranmu. Dio…”
Suara terakhir menggema kencang di telingaku. Hingga akhirnya di sendang ini, hanya Saya dan kotak peti kecil ringan ini ada di tanganku.

Saya memutar-mutar bolanya. Keadaan di sekelilingku berubah drastis. Corak warna saling bergantian dengan sangat cepat. Saya putar lebih pelan lagi sehingga prosesnya bisa kulihat. Apa yang kupikirkan benar-benar terjadi. Semuanya berhenti, saya bisa melihat prosesnya dengan baik.

“Selamat datang, makhluk kecil, soy Dio.

Cerpen Karangan: Jene Pradana Wisanggeni
Blog: jenepradana.wordpress.com

Cerpen Magang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nigo The Little Dragon

Oleh:
“Huwaahh..” Nigo terbangun dari tidurnya. Ia terlihat masih mengantuk. “Apa kau masih mengantuk Nigo?”. Tanya ibu yang menghampiriku sambil membawa sepiring kue kesukaan Nigo. Yaps! Kue Nigo, kue manis

Noir dan Taman Anggrek

Oleh:
Banyak siswa dari luar kota yang memutuskan untuk bersekolah di Jakarta, Ibu kota Indonesia. Edward termasuk salah satunya. Edward berpenampilan seperti mahasiswa biasa yang berkacamata tebal. Ia berasal dari

Walaupun 1000 Tahun, Tak Masalah

Oleh:
Ini merupakan kisah seorang wanita. Wanita yang dengan begitu setianya terus menunggu, walaupun dia tahu telah tiba saatnya untuk berhenti. Terus menunggu, hingga janji yang dia terima dapat terlaksana.

Rara and Ray

Oleh:
25 Mei 2000 Bertepatan dengan hari ulang tahunnya Rara bersama sang ayah pindah rumah di bandung, berat rasanya meninggalkan kota cirebon, kota dimana ia dilahirkan. Di sebuah rumah dekorasi

DOT (Part 1)

Oleh:
Aku terbangun, yah sudah tiga hari sejak aku memasuki ruangan itu. Sebuah ruangan yang berisi banyak buku, penuh misteri, dan mungkin hanya aku yang tahu. Sejak saat itu tanpa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *