Magic is Gone

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 25 August 2015

“Apa yang sedang kau pikirkan?”
“Hmm…”
“Tunggu! Jangan kamu jawab dulu, biar aku membaca pikiranmu.”
“Oke.”
“Masa depan?”
“Iya, terus?”
“Kamu pengen mobil mewah warna merah dengan sayap dan jet yang bisa membuat mobil kamu terbang?”
“Kamu tahu segalanya.”

Kaki itu berjalan dengan lelahnya. Menetap di atas muka bumi yang dipenuhi dengan gravitasi tingkat tinggi. Tulang-tulang dengan pegalnya tetap berusaha untuk membuat tubuh si empunya tubuh tetap berdiri selayaknya orang-orang yang lewatinya dengan tanpa sedetikpun melihatnya. Ia merasa kacau. Ia merasa keajaiban telah hilang. Keringat berlinang dengan derasnya melewati pori-pori yang lalu membasahi baju dari kain berwarna putihnya. Tas warna hitam tambah membuat tubuhnya yang hampir sekarat menjadi semakin hampir sekarat.

“Andai kamu punya kekuatan, kamu mau punya kekuatan apa?”
“Nggak tahu, mungkin, jadi manusia yang bisa mengeluarkan es dari tanganku yang nanti bisa membuat orang yang aku benci menjadi beku dan akhirnya mati.”
“Bagaimana dengan orang yang kamu sayangi?”
“Aku bekuin juga.”
“Loh kenapa? Nanti kalau mati gimana?”
“Agar orang yang aku sayangi nggak kemana-mana, nggak ninggalin aku.”

“Hey!”

Tiba-tiba suara seorang gadis terdengar, dan membuat si tubuh hampir sekarat itu mengalihkan kepalanya menuju sumber arah, dan itu adalah… si pendingin.
“Kamu dari tadi ke mana aja? Aku cari kemana-mana nggak ketemu.”

Tiba-tiba, dengan suara si pendingin, dunianya menjadi dingin, tidak panas lagi. Tidak ada keringat lagi. Tidak ada baju basah lagi. Semuanya menjadi dingin. Semuanya menjadi ringan. Semuanya menjadi lebih mudah untuk dijalankan, lebih mudah untuk digerakkan, lebih mudah untuk dipahami. Dan, dia sudah paham dari dulu, bahwa gadis itu memang sebuah keajaiban untuknya. Untuk si tubuh hampir sekarat.

“Kalau kamu?”
“Kalau aku apanya?”
“Kamu mau punya kekuatan apa?”
“Bisa membuat orang tertawa, mungkin.”
“Itu bukan kekuatan, itu bakat.”
“Jadi apa dong? Aku bingung.”
“Gimana kalau…”
“Eh! Aku tahu! Mempunyai tangan panjang.”
“Bagus juga.”

“Maaf, tadi aku lupa kalau kita nanti mau beli buku, soalnya nanti aku ada acara keluarga gitu.” Kata si tubuh hampir sekarat yang sudah tidak hampir sekarat.
“Oh.” Si gadis itu menundukkan kepalanya, bibirnya yang tadi tersenyum manis melebihi gula dan permen manapun, sekarang menjadi secair air.
“Bagaimana kalau besok? Kalau besok aku bisa, toh besok akhir pekan, jadi pasti…”
“Nggak bisa, besok nggak bisa. Besok aku ada acara sama temen-temenku.”
“Acara apa?”
“Begitulah, acara yang kamu nggak perlu tahu.”
“Loh kenapa aku nggak perlu tahu?”
“Karena itu bukan urusan kamu.”

“Oh. Oke. Nggak apa-apa. Aku juga punya urusan besok.”
“Urusan apa?”
“Pikirkan urusanmu sendiri.”
Si gadis lalu melipat wajahnya. Melipat tangannya di depan dadanya. Lalu berkata, “Oke! Mulai sekarang, kita pikir urusan-urusan kita sendiri-sendiri!”
“Oke!”

Dan, si gadis berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan si tubuh yang tidak jadi hampir sekarat menjadi kembali sekarat. Udara yang dingin menghilang seketika bersama dengan langkah kaki yang diambil oleh si gadis.

Lalu, ia memutar kepalanya untuk melihat si gadis, dan tiba-tiba ia melihat sebuah truk berwarna merah dengan cepatnya menabrak semua benda yang ada di depannya seperti angin, dan truk itu berada di beberapa meter di depan si gadis yang sedang menundukkan kepalanya. Dengan cepatnya, ia berlari menuju si gadis, dan menariknya untuk minggir dan itu berhasil. Si gadis lalu tersenyum, dan si tubuh hampir sekarat yang untuk sekian kalinya tidak jadi hampir sekarat alias si tangan panjang itu juga tersenyum. Sebuah keajaiban datang kembali.

Namun tiba-tiba, bruuk!! Truk menabraknya. Darah merah berceceran di mana-mana, daging dan tulang berserakan bersama dengan teriakan semua orang, termasuk si gadis.

Keajaiban yang tadi datang, dengan usaha, hilang sudah, dalam seketika.

Cerpen Karangan: Wahyu Tio

Cerpen Magic is Gone merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


12.00 PM

Oleh:
“Maaf, Pak, tapi Bapak mengikuti saya dari tadi,” ujarku. Si tua itu malah memandangiku lebih intens di bagian dadaku. Aku benar-benar sangat terusik, rasanya aku ingin menggunakan jurus menghilangkan

Stopwatch

Oleh:
Saat di taman. Anto menemukan sebuah stopwach. Stopwach itu terdiri dari 2 tombol yang kiri berwarna merah sedangkan yang kanan berwarna hijau. Anto menekan tombol kiri, seketika semua berhenti.

Perjanjian

Oleh:
Sudah beberapa hari ini Rindi sedih dan merenung akan kegagalannya, dia gagal untuk menjadi juara olimpiade sains tingkat provinsi. Jujur sebenarnya ia sangat lelah jika dia harus baik-baik saja

Cahaya di Ujung Sana

Oleh:
Asap-asap rokok mengepul hebat, membumbung di udara lantas melebur bersama angin yang kemudian berdesir lembut. Asap-asap kopi tak mau kalah. Ia berlomba-lomba mengepul ke atas sana. Berampur dan melebur

The Secret Garden

Oleh:
Aku kembali memandangi pohon jati itu. Aku masih heran dengan pemandangan ini. Aku terus memandanginya di teras rumah. Di sekitar rumahku banyak pohon jati. “Kak Fia!” panggilku dari luar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *