Mas Roy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 2 May 2015

Siang di Kota Surabaya. Hari itu batas hidup dan mati sudah berjarak lebih tipis ketimbang sehelai kertas. Di tengah-tengah suara desingan dan ledakan, aku, Mas Roy serta ratusan laki-laki lainnya pontang-panting menghindari hantaman biji-biji peluru mortir yang jatuh dari langit.

Peluru-perluru altileri berat itu jatuh meledak dahsyat, membongkar tanah dan menghamburkan serpihannya ke segala penjuru. Beberapa diantaranya menghantam tubuh rekan-rekan kami yang kurang beruntung hingga hancur dan tercerai. Sementara suara pesawat-pesawat pembom terdengar berputar-putar di atas langit kota.

“Mundur!”
“Mundur!”
“Bawa persenjataan yang memungkinkan saja!”
“Ke Gunungsari! Ke Gunungsari!”

Tanpa pikir panjang kami segera mematuhi komando dari pimpinan pasukan, segera lintang-pukang sekencang-kencangnya. Sementara peluru-peluru mortir terus memburu kami, jatuh meledak-ledak di belakang punggung dan meninggalkan lubang hitam yang menganga besar di permukaan tanah.

“Inggris Set*n! Ibl*s!”

Di tengah-tengah gelegar ancaman maut, lamat-lamat kudengar suara Mas Roy yang memaki-maki.

“Monyet pengecut! Inggris set*n!”

Aku tak habis pikir, dalam kondisi genting seperti ini masih saja sempat manusia satu itu merapalkan umpatan-umpatan khas miliknya. Dasar orang gila.

Belum selesai pikiranku sejenak tersita oleh Mas Roy, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara desingan panjang yang memekakkan. Suara itu ditutup dengan sebuah letusan dahsyat menggelegar melumat telingaku. Aku dihempaskan ke depan oleh dorongan angin panas yang sangat kuat.

Tubuhku terbanting keras, mataku gelap, pusing, telingaku berdenging-denging. Tak tahu berapa lama aku terkapar. Tulang-tulangku terasa remuk, kulitku perih, bahu kiri ku nyeri luar biasa. Hanya indra penciumanku yang tampaknya masih berfungsi. Terhirup olehku udara beraroma mesiu dan daging yang terbakar.

Suara denging panjang masih mengisi telinga, lalu perlahan hilang dan samar-samar digantikan oleh suara teriakan seorang lelaki memanggil-manggil namaku. Aku rasa ia berusaha mengangkat tubuhku. Sekuat tenaga kubuka mata, rupanya Mas Roy yang berusaha memapahku lari. Kulirik bahu kiriku yang nyeri, ternyata lenganku telah kutung sampai bahu dan mengucurkan darah.

“Bertahanlah, Dik!”
“Mas, tinggalkan saja aku! Larilah, Mas!” teriak ku padanya lemah.
“Tak usah banyak bicara! Ayo lari!”

Tiba-tiba sebuah ledakan kembali menggelegar begitu dekat dengan tubuh kami. Kilatan cahaya dan angin panas menyambar. Aku jatuh tertelungkup lalu kemudian gelap. Ketika terbangun tiba-tiba aku sudah berada di sebuah barak perawatan yang dipenuhi oleh pejuang-pejuang yang terluka.

Peristiwa itu terjadi 64 tahun yang lalu, namun masih membayang jelas dalam otakku. Tak terlupakan. Lengan kiriku tak pernah kulihat lagi sejak hari itu, juga Mas Roy sahabatku yang mencoba menyelamatkanku itu, hilang begitu saja. Hilang maksudku benar-benar hilang. Nasib Mas Roy setelah serangan itu tak diketahui lagi.

Kusno dan Dirman yang berhasil kembali ke reruntuhan pertahanan kami untuk menyelamatkan aku dan sisa-sisa pasukan lainnya yang terluka mengaku tak melihat jenazah Mas Roy di sekitar tempat itu. Hingga kini aku tak tahu kabar Mas Roy, entah hidup atau telah mati.

Aku jadi ingat saat pertama kali melihat Mas Roy. Akhir tahun 1944, aku dan beberapa orang teman menemukan seorang pemuda terkapar di pinggir Kali Mas tak sadarkan diri. Kondisinya berantakan dengan jaket dan pakaian yang telah robek-robek di beberapa bagian. Jaket dan pakaian yang dipakainya mengherankan kami, terutama bentuk dan bahan kain dari celananya, sungguh tak lazim terlihat.

Kami bawa pemuda itu ke rumah majikanku Haji Mustafa, saudagar kain keturunan Arab yang terkenal suka bersedekah. Haji Mustafa pun mau menampung pemuda asing itu di rumahnya hingga ia sadar dan dan dapat diantarkan pulang.

Setelah siuman pemuda itu mulai bercerita tentang dirinya. Sayang sekali ia mengaku tak bisa mengingat banyak hal. Dia ingat namanya adalah Roy, tinggal di daerah Krembangan tapi ia lupa di mana persis alamat rumahnya. Ia tak bisa mengingat jelas tentang keluarganya. Ia juga menyebut-nyebut pos pendakian Gunung Semeru. Sungguh mengherankan, mengingat Gunung Semeru jauh dari Kota Surabaya.

Semua informasi dari mulut pemuda itu tak beraturan dan malah menambah kebingungan kami. Sebagian dari kami mengira dia hanya orang gila yang kebetulan pingsan di pinggir Kali Mas. Ada juga yang berpikir mungkin saja dia adalah anak pungut seorang Belanda yang disiksa lalu dibuang karena melakukan kesalahan. Kami juga heran dengan nama pemuda itu. Roy, nama yang tak lazim untuk orang Surabaya yang berkulit Jawa pada zaman itu, lebih mirip nama orang-orang Eropa.

Setelah dirawat satu minggu lebih di rumah Haji Mustafa, pemuda itu kemudian diajak pegi ke Krembangan yang diakui sebagai daerah tempat tinggalnya. Namun sia-sia, ia lupa di mana persis dia tinggal, bahkan ia mengaku tak mengenal daerah itu. Lebih aneh lagi, di sepanjang perjalanan dia bertanya-tanya apakah ini Kota Surabaya. Dia yakin kota ini bukan Kota Surabaya, ia mengaku ingat betul bentuk Kota Surabaya, bukan seperti apa yang dilihatnya waktu itu.

Tak menemukan alamat rumah pemuda itu, akhirnya Haji Mustafa memutuskan untuk menampung dia di rumahnya hingga ingatannya pulih. Demikianlah, bersama diriku, pemuda itu selanjutnya bekerja membantu Haji Mustafa berdagang kain di Pasar Turi. Dari sanalah persahabatanku dengan Mas Roy dimulai.

Tak banyak yang mau berteman dengan Mas Roy. Sebagian orang menganggapnya kurang waras karena pribadinya amat pemurung, terkadang bicara dan mengumpat-umpat sendiri. Aku sendiri mulanya sedikit risih harus berkerja bersama orang seperti Mas Roy. Namun pelan-pelan aku mulai terbiasa.
Lalu di sebuah pagi dalam sebuah perbincangan ketika kami sedang berdagang, Mas Roy mulai menyebut-nyebut tentang tahun 2009.

“Mengapa kau selalu saja tampak resah dan murung, Mas?”
“Kau pikir kenapa? Apa kau bisa tertawa kalau kau jadi aku? Bisa kau tersenyum saat kau terdampar di tempat yang tak kau kenal lalu tak ingat dimana kau tinggal dan siapa keluargamu?”
“Terdampar katamu? Ini Surabaya, Mas. Kotamu. Kau mengaku orang Surabaya, kan?”
“Sudah dari awal aku ceritakan padamu ini bukan Kota Surabaya yang aku kenal. Surabaya yang aku kenal adalah kota metropolitan yang megah dan ramai, bukan seperti ini.”
“Metro… apa?” keningku berkerenyit.
“Halah… kau tak mengerti…”
Kami terdiam sejenak saat beberapa tentara Jepang berjalan masuk ke dalam pasar melakukan patroli keamanan.
“Mengapa ada tentara-tentara itu di sini?”
“Tentara Jepang. Mereka patroli, Mas.”
“Maksudku, mengapa masih ada tentara Jepang di Surabaya ini?”
“Maksudmu? Jepang kini yang berkuasa di Surabaya, Mas, bukan Belanda lagi.”
“Terakhir kali yang kuingat, tak ada lagi tentara-tentara Jepang semacam itu di negeri ini. Indonesia sudah lama merdeka, Surabaya juga merdeka.”
“Hussh.. Mas! Jangan keras-keras bilang kata-kata merdeka, kau bisa ditangkap!”
“Aku tak bohong, Dik. Negeri ini sudah merdeka. Agustus 1945 Indonesia merdeka”
“Merdeka, Negeri Hindia ini? Maksudmu bagaimana? Bebas dari Jepang? Belanda? Bulan Agustus? Ini baru Juli, Mas”
“Dengar, Dik, dalam ingatanku aku hidup di tahun 2009. Di Tahun itu tidak ada lagi Jepang, Belanda, atau negeri manapun yang menjajah. Negeri kita sudah merdeka, Dik. Tak ada lagi Negeri Hindia, yang ada Negara Republik Indonesia.”
“Tahun 2009?”
“Ya, 2009.”

Aku tertawa mendengarnya. Herannya, Mas Roy ikut tertawa, bahkan lebih keras ketimbang tawaku. Dasar gila.

“Ngimpi kamu, Mas! Gila! Ini kan tahun 45.”
“Memang semua hanya mimpi. Semuanya, kota ini, pasar ini, tentara Jepang, Haji Mustafa, juga kau. Atau memang aku yang mungkin sudah gila.”
“Tahun 2009…?” aku masih menahan geli.
“Dengar, Dik, kalau memang ini tahun 45. Bulan depan tanggal 17 seharusnya Jakarta akan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Kau buktikan saja kata-kataku.”
“Negeri kita merdeka? Tapi bagaimana bisa? Bulan depan?”
“Bulan depan Jepang kalah perang.”

Satu bulan kemudian aku benar-benar terkejut. Kata-kata Mas Roy terbukti, proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan bulan Agustus tanggal 17 di Jakarta. Jepang kalah perang, Indonesia merdeka. Persis seperti yang diramalkan Mas Roy. Bahkan lebih aneh lagi ramalan Mas Roy tentang akan terjadinya peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Oranye juga terjadi tak lama setelah berita kemerdekaan sampai ke Surabaya.

Kemampuan Mas Roy meramal sungguh luar biasa. Namun Mas Roy bersikeras bahwa dia bukan meramal, melainkan semua yang dikatakannya itu telah menjadi sejarah di alam tahun 2009-nya. Mas Roy juga mengaku jadi bingung ketika semua ramalannya terwujud. Ia mulai ragu apakah benar ia tidak sedang hidup di tahun 1945.

Lalu, September 45, kapal-kapal perang sekutu telah mendarat di Pelabuhan Ujung. Kehadiran Sekutu yang diwakilkan oleh tentara Inggris membuat situasi Surabaya menjadi panas. Gejolak revolusi telah membuat pribumi menjadi sangat anti dengan kedatangan bangsa asing. Tentara Inggris diyakini hendak mengembalikan penjajahan Belanda ke tanah air. Pemuda-pemuda bergerak cepat mendahului, gudang-gudang senjata Jepang diserbu dan dilucuti sebelum Inggris melakukannya.

Segera saja pertempuran melawan Inggris pun pecah di Kota Surabaya. Seluruh pemuda terlibat dalam perjuangan, tanpa terkecuali aku dan Mas Roy. Perlawanan pribumi membuat Inggris terdesak hingga akhirnya pengecut-pengecut itu mengundang pemimpin-pemimpin dari Jakarta agar datang ke Surabaya supaya kami semua mau diajak melakukan gencatan senjata

Aku ingat saat aku dan Mas Roy menyaksikan iring-iringan mobil pemimpin-pemimpin Jakarta datang ke Surabaya melewati Jalan Tunjungan. Aku lihat Mas Roy terkesima ketika mobil yang membawa Presiden lewat di depannya. Matanya melotot terpaku, mulutnya ternganga lebar ketika wajah Soekarno terlihat dari balik jendela mobil.

“Sulit kupercaya, Dik… itu… itu Sukarno… Sukarno, Dik…” bisiknya pelan mirip suara igauan orang yang sedang tidur, kepalanya menggeleng-geleng pelan.

Lalu di sore harinya, kami berbincang-bincang. Gencatan senjata membuat kami dapat sedikit rehat dari pertempuran. Di senja itu aku sempat bertanya tentang nasib revolusi, kemerdekaan dan masa depan negeri ini kepada Mas Roy.

“Perang belum usai, Dik. Aku ingat sesuatu, perang besar segera akan terjadi di Surabaya.”
“Perang besar? Maksudmu?”
“Akan ada Jenderal Inggris yang mati oleh kita lalu Surabaya akan diserbu dengan kekuatan besar.”
“Yang benar saja, Mas? Kapan itu terjadi?”
“Tanggal sepuluh bulan sebelas nanti. Dan kita kalah dalam peperangan”
“Kau jangan bercanda, Mas!”
“Kau tidak percaya? Kau lupa aku ini datang dari tahun 2009?” lalu ia terbahak-bahak membuatku jengkel.
“Kalau kita kalah, bagaimana nasib negeri ini, Mas? Perjuangan kita selama ini?”
“Kita kalah, tapi kita tetap menang. Negeri ini akan tetap merdeka sampai tahun 2009.”
“Kau mengingat banyak hal dari tahun 2009-mu itu. Tapi kau tetap tak bisa mengingat keluargamu dan tempat tinggalmu. Yang kau ingat hanya tanggal-tanggal kejadian di tahun ini? Aneh..”
“Entahlah, Dik..”

Aku terdiam menatap wajah Mas Roy sambil mengusap-usap karaben(1) -ku hasil rampasan dari markas Kempetai(2) . Rasanya aku tak percaya kami bakal kalah dalam pertempuran besar yang diramal Mas Roy bakal datang dalam jangka waktu dekat.

Dan lagi-lagi ramalan Mas Roy terbukti. 10 November, Surabaya diserbu Ingggris dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Aku mengenang hari kelima pertempuran itu. Di hari itu, Aku dan Mas Roy bersama ratusan pasukan lainnya sedang mempertahankan front pertahanan di Viaduct bagian timur. Sebuah tank Inggris terus bergerak mendesak dan menghajar pertahanan kami. Mesin perang itu benar-benar membuat kami tak berkutik dengan tembakan kanon dan senapan mesinnya. Gerakan majunya membuat kami terpaksa mundur perlahan.

“Kono! Kono!”
“Iya, Mas!”
“Cepat kemari!”

Kuhampiri Mas Roy dengan berlari membungkuk menghindari ciuman timah panas.

“Ada apa, Mas?”
“Berikan granat tempel punyamu!”
“Kau mau apa, Mas?”
“Berikan saja granatnya padaku! Monyet!”

Pemandangan selanjutnya adalah merupakan sebuah adegan yang tak terlupakan dari dalam ingatanku. Setelah menyambar granat tempel dari tanganku, Mas Roy melesat lincah mendekati tank Inggris. Di luar dugaan kami semua, Mas Roy bergerak begitu dekat ke arah tank. Senapan mesin tank itu segera mengarahkan tembakan ke arah tubuhnya. Entah beruntung atau apa, tak ada satu butir peluru pun yang mengenai tubuh Mas Roy, hingga ia akhirnya berhasil mengaktifkan granat dan menempelkannya pada salah satu rantai roda tank.

Tak lama granat pun meledak menghancurkan rantai dan membuat susunan roda-roda tank berantakan. Mas Roy berhasil menghentikan pergerakan tank, namun belum bisa menghentikan tembakan-tembakan kanon dan senapan mesinnya. Mas Roy kemudian memanjati badan tank, lalu membuka paksa tutup palka tank dan menarik caling granat tangan sebelum melemparkannya ke dalam ruang kemudi tank. Mas Roy melompat turun, granat pun meledak membunuh pengemudi tank di dalamnya. Tank itu berakhir selamanya.

Begitulah sahabatku itu. Sejak perang besar itu meletus, aku melihat pribadi Mas Roy berubah menjadi begitu ganas di medan pertempuran. Tidak seperti sebelumnya. Ia seorang pejuang yang sangat berani menantang maut demi membunuh musuh-musuh republik. Ia pernah berkata padaku, “Andai kau tahu bagaimana rasanya alam merdeka, maka kau akan sama seperti aku. Kita butuh pengorbanan dan keberanian yang lebih banyak demi membayar harga kemerdekaan”.

“Kalau ini memang tahun 45, maka aku pastikan kita bakal kalah dalam perang ini. Tetapi paling tidak aku bisa mati membela negeriku,” demikian katanya 64 tahun yang lalu.

Hari ini aku masih hidup, nafasku masih menghirup dan menghembus udara tahun 2009, tahun yang berkali-kali disebut Mas Roy 64 tahun yang lalu. Mas Roy benar, kami kalah dalam perang itu, namun republik ini tetap merdeka hingga saat ini. Hari ini kuingat sebuah kata-kata Mas Roy pada sebuah pagi kira-kira empat jam sebelum datang serangan mortir Inggris yang menghancurkan lenganku dan memisahkan kami

“Aku ingat semua, Dik. Akhirnya aku bisa mengingat semuanya. Aku ingat nama lengkapku Roy Adisaka. Aku ingat tempat tinggalku, aku ingat keluargaku, aku ingat kampus kuliahku. Aku ingat terakhir kali aku sedang mendaki Gunung Semeru bersama teman-teman,” kata Mas Roy sambil tersenyum girang.

“Saat itu, tiba-tiba saja badai berpasir terjadi di Semeru. Aku terpisah dari teman-teman. Aku terhempas dihisap dan digulung angin yang sangat kencang, hingga akhirnya semuanya gelap, lalu tiba-tiba saja aku bersama kalian di Rumah Haji Mustafa,” sambung Mas Roy dengan penuh keyakinan.

“Aku tahu sekarang, Dik! Aku tahu sekarang! Di Gunung Semeru pasti ada Lubang Cacing, Dik! Lubang Cacing, Dik. Kau mengerti Lubang Cacing? Ah, aku lupa, kau tentu tak mengerti apa artinya,” aku hanya melongo mendengarnya.

“Lubang Cacing memungkinkan orang atau benda apa saja untuk melintasi waktu, pindah dari satu masa ke masa yang lain. Dan aku terlempar ke masamu, tahun 45, Dik,” Mas Roy menutup penjelasannya dengan tawa gembira.

Kata-kata itu membingungkanku 64 tahun yang lalu. Tapi hari ini, kata-kata itu membuatku terkesiap, jantungku terasa berhenti sejenak sesaat setelah cucuku membacakan sebuah berita di koran. Koran hari ini mengabarkan bahwa: seorang mahasiswa Surabaya, Roy Adisaka, hilang dalam pendakian di Gunung Semeru. Astaga…! Mas Roy, kau kah itu!?

Palembang, November 2009

CATATAN:
(1) Karaben: jenis senjata api laras panjang
(2) Kempetai: Polisi Militer pada masa kolonial Jepang

Cerpen Karangan: Alkaton
Facebook: https://www.facebook.com/katon.AT

Cerpen Mas Roy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Teleportasi

Oleh:
Sang raja siang mulai menjabat posisinya kembali. Hasilkan peluh bercucuran di kening. Es batu sekalipun pasti akan leleh terkena hasil pemerintahannya. Apalagi si bayu tak ingin bekerja sama dengan

Taman Rahasia

Oleh:
Hay namaku husnul. Orangtuaku meninggal 2 hari yang lalu sekarang aku tinggal bersama bibi jauhku, aku saja baru tahu kalau aku punya Bibi jauh di sini rumahnya sederhana tidak

Like A Dreams (Menunggu)

Oleh:
Angin sejuk berhembus di rindangnya pepohonan di hutan deluge. Dari tempat tersebut, dapat terlihat sebuah kastil besar nan megah yang berdiri di tengah hutan tersebut. Kastil tersebut sudah sangat

Pengulangan

Oleh:
Hujan rintik rintik turun beberapa saat setelah Jenazah Kakakku dimasukkan ke dalam ruang peristirahatannya yang terakhir. Isak tangis yang masih terlihat di beberapa sanak saudaraku termasuk orangtuaku belum terhenti.

GARIS (Part 1)

Oleh:
Jumlah pengangguran di Indonesia ini masih cukup banyak. Baik mereka yang berpendidikan maupun tidak. Dan yang menimbulkan ironi dalam benakku adalah, lulusan sarjana yang menganggur dan melapuk. Tidak untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Mas Roy”

  1. Khairunnisa Pertiwi says:

    Karya yang keren! 🙂 semangat berkarya ^^

  2. Uliana says:

    keren sekaliii

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *