Masa Yang Aneh (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 29 July 2017

“Sepertinya di sana ada magab yang berbeda dari yang lain.” Tanya Arga
“Iya, dia disebut sebagai pemuntah. Karena dia bisa memuntahkan cairan hitam yang mematikan dan juga bisa meludahinya hingga jarak 3 meter” jawab Neo.
*dor-dor*, *zret-zrot* “makan tuh!”, “Yaa! Musnahlah!” Seru Zadam.
*cuih* diludahinya Zadam oleh pemuntah.
“ou, hampir saja. Hai bodoh, kau sangat tidak sopan!” teriak Zadam sambil mengayunkan pedang ke arah pemuntah, “Yaa!”
*sret-srat-srot* tiga kali tebasan pemuntah itu pun habis.
“Heh…” sombong Zadam.
“Cepat sekali gerakannya” kata Arga
“Yaa, itulah mengapa dia terpilih menjadi jendral” balas Bob
“Dan mengapa dia bisa melompat tinggi seperti itu?” tanya Arga
“Setiap jendral mendapatkan sepatu khusus yang dapat melompat tinggi. Dan hanya jendral yang memilikinya” jawab Bob, sambil terus menembak dan sesekali melirik Zadam.
“Ayo! pemuntah sudah dijatuhkan! baiknya kita bergegas!” seru Zadam

Dan mereka pun berkumpul lalu pergi meninggalkan tempat itu. Setiap mereka berjalan, selalu ada magab-magab baru yang mermunculan. Mengejar mereka terus menerus. Meneror mereka seperti mimpi buruk.

“ha..hu..ha..hu”, “sepertinya kita tak bisa terus-terusan kabur. Kita perlu istirahat” kata Bob yang mulai kelelahan
“Ya, tapi di mana?” tanya Neo
“Kita cari. Kau masih kuat kan Arga?” tanya Zadam
“Ya, tenang saja. Kau tak perlu terlalu mengkhawatirkanku” jawab Arga sambil mengisyaratkan tak apa-apa.

Mereka melanjutkan perjalanan, menerobos magab yang menghalang. Namun beberapa menit kemudian, kepala Arga mendadak sakit. Bunyi mendengung menguasai kepalanya.
“Akh!” sakit Arga
“Arga! Kamu kenapa?” tanya Zadam yang langsung menahan badan Arga yang terjatuh.
“Kepala… sakit..” balas Arga yang tersiksa.
“Hey, aku menemukan tempat yang aman!” teriak Bob
“Ayo! Kita beristirahat di sana”, “Arga, sepertinya kau perlu istirahat. Kau terlihat sakit” kata Zadam yang menggendong Arga masuk

“Arga, teruslah maju. Kamu bukanlah pecundang yang dulu lagi. Kamu adalah harapan. Sang penyelamat yang diramalkan. Wujudkan doa kami, kek.” kata seorang gadis dalam pikirannya Arga, “Aku ada di hatimu”
Suara itu rupanya berasal dari seorang gadis yang Arga temui di rumah sakit yang sekarang menggentayangi pikiran Arga. Lagi-lagi Arga mendapatkan gambaran kota yang hancur dengan langit merahnya. Namun di satu titik, Arga mendapatkan keganjilan. Ada sebuah bendera hitam dengan logo putih berkibar di sana. Entah bendera apa itu, yang penting sepertinya ada maksud tersembunyi di dalamnya. Argapun bangun dan mengatakan apa yang dia dapat.

“Memangnya, sekarang ini tanggal berapa ya?” tanya Arga
“Sekarang itu tanggal 1 juni 2115” jawab Zadam yang melihat tanggal yang ada di ponselnya.
“Ha!? 2115? Aku tidak salah dengar?” bantah Arga
“Iya, memangnya ada apa?” tanya Zadam yang terlihat bingung
“Seingatku sebelum pingsan, saat itu masih tanggal 1 juni 2015. Lalu kok ketika aku bangun, aku ada di tempat aneh, di abad 22 lagi. Itu makanya gadis itu memanggilku kek tadi.”

Zadam mulai mengingat sesuatu. Dia mulai terlihat curiga dengan apa yang dikatan Arga. Dan yap, Zadam sudah mengingatnya. Untuk lebih jelas, Zadam adalah salah satu dari beberapa orang terpilih untuk mencari seseorang yang telah diramal. Perguruan chetahanta, adalah perguruan silat yang mengutamakan kelincahan dan kecepatan. Zadam adalah salah satu murid di sana. Terdapat guru besar, seorang petua pula seorang peramal. Dia bilang kepada murid-muridnya yang terpilih, untuk menyebar ke penjuru negeri untuk mencari seseorang, seseorang yang telah diramal lebih tepatnya. Dia bilang bahwa dia telah meramalkan akan datangnya seseorang yang bisa mewujudkan mimpi umat manusia saat ini. Yang datang dari masa lalu dan hadir di masa sekarang sebagai orang yang tak tau apa-apa. Petua itu menyebutnya sebagai “Sang penyelamat”. Namun petua itu tidak bilang bahwa sang penyelamat itu bayi ataukah apa.

“Akankah dia?” tanya Zadam dalam hati.
“Arga, kalau aku boleh tanya. Kamu lahir tanggal berapa?” tanya Zadam yang mulai mendekati Arga
“Aku.. aku lahir tanggal 10 februari 2000”
“Ha..ha..ha!? kau serius Arga!?” tanya Neo dengan tiba, “Itukan satu abad yang lalu!”
“Iya makanya kok kenapa bisa sekarang tahun 2115!? Apakah aku berteleportasi? tapi aku pingsan seingatku… Atau jangan-jangan, aku koma selama 100 tahun!?
“Yasudah, sebaiknya kita tidur terlebih dahulu mengistirahatkan tubuh. Kita bermalam di sini dahulu” rujuk Zadam, “Aku dan Bob akan berjaga. Tapi, Bob kau tidur saja duluan, nanti kita tukar shift”
“Ohh baiklah mas, kalau ada apa-apa bangunkan saja. Kalau lelah juga bilang saja tak apa” balas Bob

Waktu terus berjalan. Zadam masih memikirkan tentang hal tadi. Dia masih teringat-ingat perkataan gurunya yang mengatakan bahwa, orang yang datang dari masa lalu dan hadir di masa sekarang sebagai orang yang tak tau apa-apa.
“Itukan mirip dengan Arga” gumam Zadam.

Matahari telah datang memberi cahaya. Dan sepertinya magab-magab itu juga telah pergi. Waktu yang pas untuk melanjutkan perjalanan.
“Jadi sepertinya kalian ini apa?” tanya Arga
“Kami? Kami bisa dibilang adalah sebuah pergerakan” balas Bob
“Kami berjalan kesana-kemari, menyebar untuk mencari dan mengumpulkan orang-orang yang sehat tak terjangkit kedalam satu kawasan” tambah Neo
“Iya, kami sebuah pergerakan yang menampung warga-warga serta memberikan perlindungan dari magab dalam satu kawasan” tambah Zadam pula, “kami membuat benteng yang besar yang sekiranya dapat memberikan lahan luas agar manusia masih bisa hidup selayaknya. Dikarenakan hukum tak berlaku di daerah yang terjangkit, kami membuat koloni kami sendiri beserta pemerintahan dan juga militer”
“memangnya negara tidak mengungsikan warga?” tanya Arga lagi
“Bisa dibilang ya dan tidak. Negara memang mengungsikan warga dan memasukannya ke dalam benteng sama seperti apa yang kami lakukan. Namun negara hanya menyelamatkan orang-orang kaya, pejabat tinggi, orang penting, tapi membuang rakyatnya yang miskin dan yang tak mampu membayar masuk sebagai rakyat Doma dengan alasan tak cukup tempat” jelas Zadam
“Ahh? persetan sekali negara. Pandang bulu hanya karna duit, orang macam itu cepat musnah” kesal Arga, “Tapi apa maksudnya rakyat Doma?”
“Karena sebagian besar wilayah negara telah terjangkit, negara membangun Doma atau kurungan besar untuk melindungi daerah yang aman. Sebenarnya di pulau lain dia tidak terlalu pandang bulu. Namun untuk di pulau jawa saja dia sangat menyebalkan. Karena ibu kota telah dipindahkan, dia membangun doma di daerah Jogja sebagai ibu kota baru” jelas Zadam
“Sebentar lagi kita sampai mas” sahut Bob
“Kenapa bisa begitu?” tanya Arga lagi
“Pokoknya ceritanya panjang Ga. Kalau diceritakan semua, bisa menjadi buku novel nanti” balas Neo yang bercandaan dengan Arga.

Setibanya di sana, mereka tercengang. Karena mereka disuguhkan oleh pemandangan mayat-mayat yang bertebar. Bukan magab, melainkan rekan mereka sendiri. Tempat yang seharusnya menjadi penampungan sementara, malah menjadi ladang jasad. Namun di tengah-tengah sana tertancap sebuah bendera hitam berlogo putih berkibar dengan gagahnya.
“Itu, mirip dengan bendera yang aku lihat di mimpi!” seru Arga

berlanjut

Cerpen Karangan: Sudae
Facebook: sudi.andreano[-at-]gmail.com

Cerpen Masa Yang Aneh (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Keynes (Part 1)

Oleh:
Aku pernah berpikir, apakah cinta bisa membunuhku? Bagaimana caranya ia bisa membuatku menutup kedua mata, berjalan tanpa arah dan melepaskan nyawaku untuk berkelana dalam kegelapan? Aku ingin tahu. Satu

Gadis Cantik Dari Dunia Bawah

Oleh:
Di sebuah kota yang ada di negara yang terletak di belahan bumi bagian barat, tercipta sebuah hukum yang sangat aneh dan sama sekali tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadialan.

Pesan Dari Bunda

Oleh:
“Ayah, ayok kita naik gajah bledug!” Kata Ara bersemangat. “Tapi Ara harus cium dulu pipi ayah,” balas suamiku menggoda anak kami satu-satunya. Tanpa berpikir panjang, Ara pun menuruti kemauan

I Have a Dream

Oleh:
“Ini… di mal?” Anne melihat ke sekelilingnya dengan tatapan tak percaya. Di sekelilingnya terdapat banyak toko-toko dengan lampu menyala-nyala. “Yup!” Seseorang membalas gumamannya, ternyata dia seorang gadis yang sangat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *