Masihkah Ku Hidup Hari Ini?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 27 November 2016

Entah sebuah pengalaman atau pernyataan aku tak seberapa paham akan hal itu. Namun pada dasarnya aku sendiri merasakan kejadian aneh dalam hidupku. “Dejavu” istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan situasi dimana pernah dirasa sebelumnya akan tetapi tak ingat betul secara rinci. Kadar “Dejavu” setiap orang berbeda. Mungkin sebagian besar orang di luar sana hanya mengalami “Dejavu” beberapa kali saja. Itu sangat berbeda denganku. Hampir setiap waktuku seolah pernah merasa berada persis dalam kondisi seperti yang telah lalu. Sedikit membingungkan memang. Tapi itulah yang selama ini selalu aku rasakan.

Sama seperti remaja lain yang menghabiskan sebagian besar waktu untuk bersenang-senang bersama teman. Adakalanya juga untuk serius memikirkan masa depan. Banyak rencana indah yang sengaja kususun rapi di atas kertas putih untuk bekal perjalanan kehidupan. Mulai dari jenjang pendidikan, jabatan pekerjaan hingga terciptalah satu keluarga bahagiaku bersama si “dia”. Ya, “dia” yang kini masih dirahasiakan nama serta latar belakangnya oleh Sang Pencipta Semesta. Bayangan akan kehidupan mendatang sungguh terlihat sangat menyilaukan. Meski kutahu tidak semua yang kuinginkan terjadi. Setidaknya semua itu bisa menjadi motivasi untukku sendiri.

Sosok wanita penyayang dengan sikap lembut dan pria dengan sikap yang amat disiplin namun menyenangkan. Merekalah kedua orangtuaku yang membesarkan penuh dengan kasih sayang. Tak lupa juga adikku yang cantik juga periang tapi tak jarang pula menyebalkan. Inilah bukti nyata keluarga idaman. Aku merasa sangat beruntung menjadi bagian dari keluarga kecil yang hangat tanpa ada pertengkaran. Segala permasalahan dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Tiada sesal ku dilahirkan meski cukup banyak orang yang bilang kalau saja aku ini memiliki kelainan. Tak tahu pasti sejak kapan mereka menganggapku demikian. Tanpa mereka tahu apa yang selalu kurasakan.

Saat pertama kali keluargaku berpindah tempat tinggal semua terasa berbeda. Perbedaan bukanlah terletak pada sesuatu yang kasat mata. Melainkan satu hal yang jelas kurasa. Pantulan cermin menggambarkan aku tapi sebenarnya bukanlah diriku. Kalaupun hanya perasaan, mungkin selang beberapa waktu akan hilang. Tapi rasa ini seakan ingin terus bersarang. Tanpa kupikir panjang segera kulalaikan akan perubahan. Sebisa mungkin kucoba bertingkah seperti biasa. Dan sepertinya keluargaku tak menyadari akan kejanggalan yang ada pada diriku. Sungguh merasa tidak nyaman dengan kepribadian baru. Semenjak itu, sering terjadi perdebatan dalam hatiku.

Di sisi lain daripada semua, aku juga merasa suka dengan seseorang yang sedari kecil bersama kemudian sempat berpisah dan sekarang kembali ku bisa menyapa. Entah pertemuan ini memang terjadi secara tak disengaja atau mungkin sudah terencana. Gadis sepermainan yang dulunya manja kini telah tumbuh menjadi pribadi yang cukup berselera. Sangat terlihat jelas dari penampilan maupun riasan yang mempercantik wajahnya. Meski sebenarnya ku lebih suka bertabur bedak tipis tanpa warna lipstick merah menyala. Karena semua itu membuatnya terlihat sangat dewasa dan tak sebanding dengan usia yang seharusnya.

Banyak cerita masa lalu yang membuatku sedikit rindu dengan suasana saat itu. Tiada beban yang penuhi fikiran dan tiada pula tuntutan yang mengharuskanku bergulat dengan jadwal yang begitu padat. Bagaimanapun juga semua harus berjalan mencapai tujuan. Satu masa dimana tiada seorangpun yang mengetahuinya. Hanya usaha dan doa yang akan membuka tabir rahasia. Selalu ada keluh kesah yang mengiringi setiap harinya. Namun semua itu dapat diatasi dengan cara sederhana yaitu tertawa. Dengan tertawa seolah beban seketika sirnah meski tak selamanya. Hidupku semakin indah saat ku kembali bertemu dengannya. Bersama ia, merasa ku di ruang nostalgia.

Ungkapan memiliki kelainan dari tetangga lamaku sepertinya mulai aku rasakan. Setelah cukup lama tak terfikirkan kini kembali pada kenyataan. Sering kali ku bermimpi tentang banyak hal dan tak selang lama, semua yang ada dalam mimpiku terjadi. Jika hanya sekali atau dua kali mungkin bisa kuanggap kebetulan. Tapi berulang kali hingga sempat ku tak bisa membedakan antara mimpi dan memang telah terjadi. Dalam kondisi seperti ini tak lagi ku bisa berfikir jernih. Semua yang aku rasakan kuceritakan pada Ibuku. Yang benar saja Ibuku pun tak percaya. Ketenangan diri semakin tak terkendali. Kegelisahan selalu menghantui. Sampai di satu malam takut mataku tuk terpejam. Tak ingin ku terperangkap dalam mimpi yang kelam.

Disebut sebagai kebiasaan bukanlah kata yang cocok dan bukan pula disebut kemampuan. Mungkin sedikit khayalan dari berjuta kemungkinan yang berhasil mengacaukan logika dalam fikiran. Seperti ku merasa gila. Benar-benar tak bisa dicerna dengan seksama. Ingatan yang selalu kuandalkan kini dipenuhi dengan banyaknya pertanyaan untukku sendiri. Nurani yang dulu bertindak sebagai penentu solusi seolah tiada hak lagi. Misteri akan diri yang semakin tak bisa mengontrol emosi. Ingin sekali ku pergi hingga tiada lagi mimpi itu mengikuti. Mimpi yang tak pernah kuharap akan kedatangannya. Tapi selalu saja mengikuti tiap kali ku tertidur. Kesalahan apa yang pernah kuperbuat hingga ku merasa dihantui oleh para penghuni alam mimpi.

Tiada hari tanpa adanya mimpi yang kemudian lekas terjadi. Sungguh membosankan jika hidupku akan terus seperti ini. Terhapus warna pelangi dan terganti dengan kelabu yang terus menutupi. Warna kelabu berhasil merampas semua yang kumiliki. Ku merasa tengah memikul beban yang luar biasa berat dan tiada beruhenti. Dimana ku harus mencari jawaban atas kejadian yang saat ini ku alami. “Adakah seorang yang ingin membantuku keluar dari semua masalah ini?” Ah pengharapan yang sia-sia. Sungguh percuma.

Tinggal menghitung hari menuju perayaan hari ulang tahunku. Meski usia menunjuk kata dewasa tetap saja diperlakukan seperti anak kecil yang belum cukup untuk usia sekolah. Bayangan akan kemeriahan pesta seolah semakin nyata ditambah dengan kehadiran teman kecilku yang sekarang tidak lagi memiliki sifat manja seperti sedia kala. Dalam kebisuan malam mataku terbuka entah mengapa. Tidak seperti biasanya kurasa. Mungkin saja tak sabar untuk menanti pesta. Banyaknya teman yang ikut serta merayakan akan membuatku sangat senang. Bukan sebuah kado yang kuharapkan. Hanya sebuah kehadiran. Ya, cukup kehadiran menjadi sesuatu yang berharga dan berkesan.

Tiba saat hariku yang cukup lama kutunggu. Namun tiada seperti yang kuduga. Persiapan perayaan tak terlihat sama sekali. Bahkan semua beraktifitas seperti biasa. Lupakah mereka akan hari ini? Benar tak seperti sebelumnya. Ketika siang berganti senja, beberapa kebiasaan yang tak seharusnya dilakukan pun terjadi. Adikku yang biasa tak hentinya menebar senyuman kini terlihat tersedu dalam renungan. Ayah pun seolah menatap jauh ke angkasa raya. Ibu dengan mata berkaca menahan air mata secara diam-diam memandangi adikku dari balik pintu. Kudekap erat Ibu dan menanyakan tentang hari ini. Tanpa ada jawaban, Ibu pergi begitu saja seolah menganggapku tiada. Adikku berlari hingga menabrakku namun seakan ia lari tanpa adanya penghalang meski jelas kurasa telah tertabrak olehnya. Semua indraku peka. Ku merasa ada yang salah hanya saja ku tak mengetahuinya.

Selepas itu, terlihat teman masa kecilku keluar rumah dengan senyuman yang sungguh indah beserta rangkaian bunga yang tergenggam di tangannya. Rasa penasaranku muncul tiba-tiba. Kuikuti langkah demi langkah hingga terhenti pada sepetak gundukan tanah. Betapa terkejutnya ketika kuketahui namaku tertulis di atas batu nisan dengan tahun kematian 8 tahun silam. Sungguh tak bisa kupercaya. Kucubit lenganku, terasa sakit. Ini bukan mimpi tapi mengapa tiada seorangpun melihatku dan menganggap akan kehadiranku. Kalau saja ini benar terjadi. Lalu, apa aku sekarang? Bukan lagi manusia melainkan arwah? Ah mana mungkin aku telah tiada? Tidak! Ini hanya mimpi. Tolong tarik aku keluar dari dunia mimpi ini. Ingin kulanjutkan kehidupan. Banyak hal yang belum sempat kulakukan. Berilah 1 kesempatan yang akan kujanjikan tiada lagi kewajiban yang terlewatkan. Inilah pengharapan terakhirku.

Cerpen Karangan: Risa C A

Cerpen Masihkah Ku Hidup Hari Ini? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cake Land

Oleh:
Halo, namaku Reyka Himuro ya seperti yang kalian kira, kalau aku ini orang jepang ya memang benar aku orang jepang. Nah aku punya sahabat yang namanya Nina Aoyagi. Aku

Maafkan Aku Vino

Oleh:
“Kenapa sih lo itu gak pernah bisa jauhin gue? Sehari aja, lo gak deketin gue!”, teriak Alya “Gimana gue bisa jauhin lo Al, dari kecil kita emang dijodohin. Jadi

SKY

Oleh:
Aku berdiri di sebuah jembatan kayu panjang yang mulai tua. Sendirian aku di tengahnya. Di ujung jembatan ku merasakan seorang laki-laki sedang memandang ke arahku. Aku tak ingin melihatnya.

My Beloved Hana (Part 1)

Oleh:
Dingin. Aku kedinginan, aku takut. Aku berada dimana? Aku bingung. Seseorang tolonglah aku! Malam yang dingin menghiasi sebuah kota yang berada di daratan Inggris. Seorang lelaki muda berjalan lesu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *