Matematika

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 June 2017

Pelajaran itu lagi. Ya Matematika adalah pelajaran ke tiga hari ini, Bu shan menjelaskan tentang peluang secara panjang dan lebar. Kepalaku rasanya mulai pusing dan nyut-nyutan mendengarnya, semakin lama suara Bu Shan terdengar cempreng dan seolah-olah ia menjelaskan dengan bahasa Alien yang tak dipahami siapapun.
Tentu saja aku mulai tak mengerti penjelasannya. Aku sudah berusaha menyimak dengan baik, namun kali ini aku benar-benar tak paham.

Kualihkan pandanganku pada teman-teman sekelasku, semuanya tampak sibuk mendengar penjelasan Bu Shan sambil mencatat seperti yang kulakukan tadi. Baiklah, aku coba lebih tekun lagi.
Peluang uang logam yang dilempar sekali, 2 buah dadu yang dilempar bersamaan berapa peluangnya, dan bla-bla-bla. Oh Tuhan aku benar-benar pusing. Kepalaku terasa semakin berat.

Aneh, saat aku membuka mata tiba-tiba aku sudah berada di sebuah tempat yang amat asing bagiku. kulayangkan pandanganku ke sekeliling, tampaknya aku berada di sebuah hutan namun bentuk pohon-pohon di sana amat aneh. Bentuknya seperti angka-angka. Aku tersenyum karena merasa lucu dengan bentuk pohon-pohonan Alien itu.

Sekonyong-sekonyong tampak olehku beberapa orang kerdil yang berpakaian layaknya Kurcaci di dalam dongeng berlarian kocar-kacir dengan paniknya ke arah hutan tempatku berada.
“AYO CEPAT LARI, PENYIHIR DADU MENYERANG LAGI!!!” teriak salah satu dari mereka
Lari, Penyihir Dadu menyerang lagi!? Apa ini apa mereka ketularan materi peluang di kelas kami yang membahas tentang Dadu, uang koin, dan semacamnya. Aku tersenyum geli menyaksikannya.

Tiba-tiba seorang nenek tua berkepala kotak yang menaiki sapu terbang, terbang dengan sapunya ke arahku. Tetapi anehnya saat melihatku dia terkejut bukan main dan ia langsung lari terbirit-birit. Aku terheran-heran menyaksikannya, apakah aku seseram itu juga sampai-sampai Nenek mengerikan itu kabur melihatku.

“Wah, kau hebat. Kau pasti Ksatria berjubah kuning itu iya ‘kan!?” kata salah seorang Kurcaci, ternyata mereka belum lari terlalu jauh sehingga melihat adegan tadi.
Apa-apaan ini! Tadi Nenek berkepala kotak sekarang mereka mengira aku adalah seorang Ksatria!? Ksatria berjubah kuning!?
“Maaf namaku Imanuel, dan aku bukan Ksatria berjubah kuning yang kalian maksud. Kurasa kalian pasti salah orang,” kataku mencoba menjelaskan.
Tapi sekumpulan Kurcaci geleng-geleng kepala dan tetap yakin bahwa aku adalah Ksatria berjubah itu. walau aku menjelaskan berkali-kali pada mereka bahwa aku bukan orang yang mereka maksud dan aku hanya seorang gadis pelajar biasa, namun mereka masih keras kepala.
“Jika kau bukan Ksatria berjubah kuning, lalu mengapa kau berpakaian seperti itu?” tanya salah satu dari mereka.
Aku heran mendengar itu, tetapi alangkah terkejutnya aku saat aku melihat pakaianku. Setelan seragam sekolah SMA-ku kini telah berganti dengan gaun ungu yang panjangnya selutut dengan hiasan setangkai bunga mawar ungu di bagian dadanya dan sehelai jubah sutera kuning yang panjang menutupi punggungku. Di mana aku sekarang? Dan apa yang telah terjadi?

“Sudahlah sekarang kau harus membantu kami menghadapi Penyihir Dadu yang jahat itu. Sudah lama dia menteror kami, ia mengubah ketentraman negeri kami menjadi ketakutan. Bahkan pohon-pohon dan rumput pun ia ubah menjadi berbentuk angka-angka…” kata salah satu Kurcaci
“Iya, dia juga akan menyihir kami menjadi kodok jika kami tak lari,” tambah Kurcaci lain
“Memang apa masalahnya?” tanyaku

Salah satu kurcaci yang paling tua di antara mereka pun menceritakan padaku bahwa dulu negeri mereka aman dan damai, namun suatu hari Penyihir Dadu itu datang dan memberi mereka tantangan untuk menjawab soal-soal peluang dan jika mereka tak dapat menjawab soal-soal itu maka, ia akan mengutuk mereka menjadi kodok dan menteror mereka.
Tentu saja para Kurcaci tak dapat menjawab soal-soal dari penyihir itu dan sejak itulah negeri para Kurcaci diteror oleh sang Penyihir dan diburu olehnya untuk dikutuk menjadi kodok. Namun suatu hari mereka mendapat kabar bahwa hanya Ksatria berjubah kuning lah yang dapat menjawab soal-soal sang penyihir dan kini mereka yakin bahwa Ksatria itu adalah aku.

“Baiklah, jika begitu mana soal-soal itu biar aku coba jawab, ” kataku berinisiatif
Kurcaci yang tertua di antara mereka itu langsung menyerahkan selembar kertas berisi soal, kertas kosong untuk jawaban, dan sebuah pena padaku, aku pun mencoba memikirkan jawabannya. Ngomong-ngomong soal-soal ini hampir mirip contoh soal yang diberikan Bu Shan dikelas tadi hanya saja pertanyaannya yang berbeda. Butuh waktu kurang lebih 2 jam bagiku untuk memahami dan mengerjakan soal-soal itu dan kini aku selesai juga. Untung saja aku masih ingat rumus yang diajarkan oleh Bu Shan.

Setelah selesai aku mengembalikan kertas yang berisi jawabanku, kertas soal. dan pena pada Kurcaci tertua. Aku pun beserta Kurcaci tertua pergi ke tempat Penyihir itu berada lalu menyerahkan jawaban kami padanya. Penyihir Dadu itu pun kaget karena jawaban itu benar semua, ia pun langsung pergi meninggalkan negeri Kurcaci untuk selamanya.

Para Kurcaci amat gembira karena telah bebas dari teror Penyihir Dadu dan semua yang telah dikutuk oleh si penyihir kembali seperti semula termasuk pohon dan rumput yang berbentuk angka. Para Kurcaci juga amat berterima kasih padaku.
“Kalian tak perlu berterima kasih padaku sampai sebegitunya, sebab aku hanya siswi biasa yang masih harus belajar banyak…” kataku merendah sambil tersenyum manis.
Para Kurcaci pun terkagum-kagum padaku, tapi sekonyong-konyong kalimat kekaguman mereka berubah dan suara mereka juga berubah menjadi suara yang amat aku kenal.

“Imanuel, kamu tidur ya!? Ayo cepat maju dan kerjakan soal di papan tulis!!”
Aku segera terbangun dari mimpiku barusan. Ternyata dari tadi aku tertidur di kelas.
“Iya Bu!?” kataku
“Kerjakan soal di papan tulis!” perintah Bu Shan padaku.

Aku segera bangkit dari tempat dudukku dan maju ke papan tulis. Ya Tuhan! Ini kan soal yang kukerjakan di mimpiku tadi. Karena aku sudah mengerjakan soal-soal itu tadi jadi aku dapat mengerjakannya dengan mudah dan hanya perlu waktu sekitar 10 menit untukku mengerjakannya. Bu Shan sangat senang melihatku dapat menyelesaikan soal itu dengan cepat dan jawabanku benar semua. Semua pun terkagum-kagum denganku.
Apapun itu yang jelas aku sangat senang akhirnya aku dapat mengerti materi yang diajarkan oleh Guruku dan… Aku tak pusing lagi.

Cerpen Karangan: Imanuela.A.R
Facebook: Imanuela Asri Rahayu
Menulis cerita adalah hobiku. Berawal dari hobi membaca buku cerita sampai-sampai sekarang aku suka menulis cerita juga. Semoga ceritaku dapat bermanfaat dan menginspirasi…

Cerpen Matematika merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Number Of Death

Oleh:
Ada yang janggal dengan hari ini. Tidak seperti biasanya aku bersekolah, berangkat naik bus dan pulang pun naik bus. Namun, hari ini terasa aneh bahkan mungkin hari teraneh seumur

I Hate U Somad (Part 1)

Oleh:
Kenalin nama aye Somad ramdan, aye sekolah kelas 2 SMA. Aye anak pertama dari dua bersaudara. Sekarang aye lagi suka banget sama perempuan cantik di kelas, namanya Anggun. Dari

Dibalik Huruf N

Oleh:
Hujan turun dengan ria, menari bersama satu dengan yang lainnya. Mengingatkanku tentang masa ketika ku di smp, mengingatkanku tentang dia. Dia lah alasanku untuk tetap tegar. Dulu kami deket

Teman Bejatku

Oleh:
Sebenarnya aku muak melihat ulah mereka. Merok*k, pacaran, berkata kotor, hingga balap liar. Namun tanpa mereka, aku sepertinya tidak punya teman lagi. Aku memang bukan orang baru di daerah

Isi Batok Kepala Bertengkar

Oleh:
Seorang pengamen duduk di sisi trotoar perumahan sejenak melepas lelah setelah berteriak ‘menyanyi’ mencari selogam dua logam rupiah. Dipeluknya gitar dengan kedua lengannya, sebatang korek api terselip di sudut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *