Mati Dalam Angan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 8 April 2014

Kami berenam langsung berlari keluar dari lubang perlindungan menuju tempat yang direncanakan. Sementara Kapten Ade berlari ke arah lain untuk memancing perhatian regu tembak dan berhasil, semua tembakan langsung mengarah padanya. Aku sempat melirik Kapten Ade, sungguh luar biasa. Dia berlari meliuk-liuk menghindari tembakan seperti sedang bermain kejar-kejaran dengan anak kecil. Aku jadi penasaran siapa sebenarnya Kapten Ade ini? Sepertinya dia berbeda dari yang lain. Tapi sekarang tidak ada waktu untuk memikirkannya, aku harus fokus pada tugas.

Begitu sampai di tempat yang dimaksud Jaja langsung memberikan instruksi.
“Andi, siapkan senjatamu. Bagitu kuberi aba-aba aku beserta yang lain akan segera memberikan tembakan ke arah musuh dan kau langsung melakukan tugasmu. Dan yang paling penting setelah Andi melakukan satu kali tembakan, mau kena atau tidak kita langsung bersembunyi lagi di sini. Paham?”
“Ya!!” kami menjawab bersamaan, lalu bersiap mengambil posisi.
“Sekarang!!!” teriak Jaja.

Jaja beserta timnya segara keluar dari tembok memberikan tembakan beruntun pada musuh. Aku menarik napas panjang, lalu ikut keluar dari situ. Aku mengambil posisi berlutut satu kaki dan mulai membidik. Kuyakinkan diri sendiri bahwa sasaranku sudah terkunci, lalu dengan satu hembusan nafas teratur kutarik pelatuk senjataku dan Tsssiiiuuu peluruku berhasil mengenai kepala pemegang MG-42 itu. Dia langsung ambruk dengan darah bercucuran, untuk sementara tembakan maut MG-42 berhenti.

“Kembali ke tembok!!!” perintah Jaja, kami segera bergerak.
“Bagus Andi, kau melakukannya dengan benar” puji Jaja, yang lain menepuk pundakku. “Sekarang kita akan mengincar yang lain” lanjut Jaja.
“Bukannya tugas kita hanya ini? Tadi kapten bilang sisanya dia yang urus” tuntut Febri.
“Kau percaya kata-kata kapten tadi? Bagaimana cara dia membereskan sisanya? Sekarang saja tidak terlihat dimana posisinya, mungkin saja kapten sudah…” Jaja tidak menyelesaikan dugaannya.
“Ya, kau benar” dukung Febri.
“Eh, tunggu sebentar. Apa kalian tidak merasa heran?” kata Ragil tiba-tiba.
“Kenapa?” tanya Jaja heran.
“Aku belum mendengar suara tembakan lagi sejak tadi, bukankah ini aneh. Memang berapa lama sih untuk menggantikan prajurit yang mati ditembak Andi tadi. Harusnya sekarang tembakan MG-42 sudah dimulai kembali.” kata Ragil serius.
Benar apa kata Ragil, harusnya sekarang tembakan sudah dilanjutkan kembali. Tapi sekarang kenyataannya tidak ada bunyi desingan peluru sama sekali kecuali di tempat lain. Kami saling pandang lalu bersama-sama mengintip dari balik tembok dan melihat pemandangan yang membelalakkan mata.
“Apa aku salah lihat?” gumam Jaja.
“Tidak aku juga melihatnya.” Arip membenarkan.
“Aku juga lihat” kataku ikut mendukung, begitu juga dengan yang lain.
“Bagaimana dia bisa melakukan itu?” Jaja bertanya heran dengan mata tetap melihat pemandangan tersebut.
“Aku tidak tau, tanyakan saja padanya nanti” kataku menyarankan, karena memang tidak tahu harus bagaimana menjelaskan semua ini. Menjelaskan Kapten Ade yang berdiri gagah memunggungi kami di atas sana, di tempat musuh sebelumnya berada.
“Hei, kalian!!! Kenapa diam saja!!? Cepat suruh semuanya bergerak maju!!! Musuh kita masih banyak!!!” teriak Kapten Ade dari atas sana.
“Ah.. Iya. Siap kapten!!!” kata Jaja tersadar dari keheranan lalu berteriak kepada prajurit lain di belakang “Semua maju!!!”

Kami kembali merasakan ketegangan perang setelah maju lebih jauh dari pantai. Kini musuh yang dihadapi makin banyak namun sedikit seimbang karena banyak lubang pelindung yang bisa digunakan. Baku tembak terdengar dimana-mana disertai jeritan saat prajurit dari kedua belah pihak mulai berjatuhan. Lama kelamaan jumlah prajurit di pihak kami tidak sampai 100 orang. Walau dari pihak musuh juga banyak yang tewas tapi perbandingan kami tidak seimbang.

“Kapten, apa kita akan terus begini? Kita sudah semakin terdesak!” kataku disela-sela menembak.
“Tidak. Harusnya angkatan udara sudah datang sekarang untuk membantu kita merebut daerah ini.” jelas Kapten Ade.
“Lantas mengapa belum datang juga? Kita sudah terlalu banyak kehilangan prajurit” tuntutku sedikit kesal.
“Sebentar, aku akan hubungi mereka melalui frekuensi radio. Siapapun tolong gantikan posisiku sebentar di sini, aku mau menghubungi angkatan udara!!!” perintah Kapten Ade, dengan segara Jaja menggantikan posisi Kapten Ade menembaki musuh, setelahnya Kapten Ade duduk tenang di dasar lubang pelindung. Dia mengeluarkan radio, mengotak-atiknya sebentar lalu berkata keras.

“Untuk angkatan udara Rajawali 26… Untuk angkatan udara Rajawali 26… siapapun yang mendengar pesan ini tolong bicara!!”
“Di sini angkatan udara Rajawali 26… Indentifikasikan dirimu” jawab seseorang dari radio
“Ini Kapten Ade M. W. dari pasukan pendahulu Harimau 47 identifikasi selesai” kata kapten Ade. Selama beberapa detik tidak ada jawaban, maka Kapten Ade mengulang perkataannya “Ini Kapten Ade M. W. dari pasukan pendahulu Harimau 47 identifikasi selesai”
“Oh, Ade toh.. ana apa de? Ini q-ta Yudi” jawab suara di radio. Suasana percakapan tiba-tiba berubah aneh.
“Yudi Wachu tah?”
“Iya, ada apa?”
“Woi, Chu ira ana ning endi?”
“Di kapalnya Rifky di laut lepas de, napa sih?”
“Pantesan bae, Q-ta tungguin ga datang-datang. Masih pada di kapal jadi. Gagian mene Chu, pasukan Q-ta udah terdesak pisan”
“Emange ira lagi dimana sih de? Kayae buru-buru pisan. Qta, Ian, Oky, Rifky lagi minum kopi sambil bahas buat penyerangan ke pantai besok.”
“Wong edaaaaan!!! Q-ta ning kene dibrondong peluru ira malah enak-enakan ngopi!!! Penyerangan bukan besok tapi sekarang woi!”
“Jih, yang bener ira? Jare Adam besok!”
“Besok ndasmu!! Pokoke ira kudu mene bari Ian sekien! Awas bae sampe telat teka! Misal Q-ta mati, Qta bakal jadi hantu buat nyamperi ira-iraan siji-siji!!!”
“Haha.. iya-iya, Q-ta meluncur sekarang haha..”

Percakapan radio yang aneh itu pun terhenti. Aku semakin heran dengan Kapten Ade dan teman-temannya yaitu Kapten satu skuadron tempur udara Rajawali 26 Yudi serta wakilnya Ian, juga Kapten satu tempur samudra Hiu 16 Rifky dengan wakilnya Oky. Kudengar sebelum perang ini dimulai mereka adalah teman sepermainan, bahkan pimpinan perang Adam L. juga termasuk golongan mereka yang akhirnya masuk ketentaraan karena keadaan siaga perang. Namun yang membuatku heran, kenapa semuanya bisa menempati jajaran teratas di masing-masing angkatan? Ada rahasia apa di antara mereka dengan petinggi pemerintahan? Tapi sudahlah itu tidak terlalu penting untuk kupikirkan. Sekarang aku harus fokus bagaimana cara untuk merebut daerah ini dari musuh.

“Hei, jangan melamun saja!!! Tembaki musuhmu!!!” bentak Kapten Ade, aku tersadar dari lamunan.
“Ah.. Iya, maaf kapten!” kataku lalu fokus bertempur kembali.

Pertempuran kini memasuki babak yang makin kritis, jumlah kami makin sedikit tidak sampai 80 orang. Kami sudah makin kewalahan menahan gelombang serangan musuh yang bertubi-tubi tanpa henti. Keadaan makin diperparah dengan mulai habisnya amunisi yang kami pakai sedangkan suplai amunisi musuh tidak berhenti. Tapi kami tidak menyerah dan terus berjuang tanpa henti walau mungkin sia-sia saja. Jumlah peluruku sendiri sepertinya hanya tinggal delapan lagi, setelah ini habis aku tidak akan bisa menggunakan penembak jarak jauh lagi yang menjadi andalanku. Maka aku usahakan untuk membidik orang-orang tertentu agar mental musuh menurun.

Kamera bidikku mulai mencari-cari sasaran yang tepat, setelah menemukan dan mengunci target, pelatuk langsung kutarik dan musuhku ambruk seketika. Aku terus melakukan itu hingga jumlah peluruku tinggal tiga, berarti tiga peluru ini tidak boleh terbuang sia-sia. Sadar akan hal ini aku semakin memilih-milih target bidikan, aku mencari kesana-kemari berusaha menemukan musuh yang berpangkat tinggi namun tidak kutemukan. Aku tidak menyerah dan terus mencari sampai kamera bidikku menangkap sesuatu yang membuatku menegang seketika. Aku segera meninggalkan posisi dan berteriak sekencangnya
“Ada tank!!! Cepat keluar dari sini!!!”

Teriakanku langsung membuat semua orang berhamburan keluar dan mundur ke belakang. Selang beberapa detik setelah teriakanku tadi, lubang persembunyian hancur meledak oleh serangan tank baja. Kini kami benar-benar dalam kondisi dititik terakhir tidak tahu harus bagaimana lagi. Setelah tank datang, semua harapan kemenangan kami musnah terbawa angin. Kulihat keadaan teman-temanku sesama prajurit, mereka satu persatu mulai menjatuhkan senjata dan menangis seolah menyesali ini semua. Begitu juga aku yang mulai marah dengan keadaan ini, bagaimana mungkin kami yang awalnya berjumlah 500 bisa dipreteli menjadi sekitar 80an orang saja. Ini sungguh tidak adil, kami seolah dijadikan umpan untuk mengetahui kekuatan musuh, setelahnya petinggi militer akan mengirim pasukan lagi dengan strategi yang lebih matang. Aku marah, marah sekali pada semuanya. Namun tidak tahu harus melampiaskan kemarahan ini pada siapa.

Akhirnya aku ikut menjatuhkan senjata dan menjatuhkan diri ke pasir yang warnanya sudah berubah merah serta berbau amis menyengat. Aku menyerah, aku tidak ingin melanjutkan pertempuran sialan ini. Sempat kulihat hanya Kapten Ade dan beberapa orang yang masih gigih memberikan perlawanan dengan melemparkan granat ke arah musuh. Lemparannya sangat jitu hingga mampu membuat musuh tertahan di garisnya tanpa bisa maju selangkah pun terutama lemparan Kapten Ade. Tapi apa gunanya? Saat tank itu datang kemari Kapten Ade sekalipun tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dia tetaplah manusia yang akan hancur berkeping-keping bila terkena bom. Tanpa kusadari air mataku deras mengalir melewati pipi yang penuh pasir. Aku kesal, marah, kecewa, dan sakit hati. Aku tidak ingi mati di sini, aku takut mati, tapi tidak bisa lari dari neraka dunia ini. Aku memejamkan mata pasrah menunggu kamatian menjemputku. Selamat tinggal dunia.

“Ngeeeenggg… Siiiaaauuu… Glarrrr…” suara itu mengagetkanku dari keputusasaan. Suara yang memberikan harapan padaku juga lainnya untuk tetap hidup dan menyelesaikan misi ini. Suara yang mengalun indah bagai musik pengiring kemenangan perang. Kubuka mataku dan langsung disuguhi pemadangan indah dari langit, sekitar 25 pesawat tempur pimpinan Kapten Yudi telah tiba. Mereka terbang kesana-kemari bagai burung elang dan tanpa ampun membombardir area musuh dengan rudalnya. Kami berteriak girang menyaksikan pemandangan yang sebenarnya kejam namun terlihat indah karena merasa lega bisa lolos dari kematian, tidak terkecuali diriku. Hanya Kapten Ade yang terlihat biasa-biasa saja, tidak terlihat senang atau reaksi lainnya, sangat datar dan sulit ditebak.

Setelah sekitar 15 menit serangan udara dihentikan, dan Kapten Ade menyuruh kami semua maju.
“Semuanya, maju!!! Kita tuntaskan misi ini!!!”
Kami langsung merangsek ke depan dengan semangat dan senjata yang ada. Keadaan sekitar sudah benar-benar hancur lebur berantakan namun masih menyisakan beberapa prajurit musuh yang selamat. Kami menawan prajurit itu dan melakukan pembersihan besar-besaran selama sekitar satu jam. Setelahnya armada angkatan laut Kapten Rifky tiba dan langsung mengerjakan tugasnya dengan cepat. Pergantian tugas pun dimulai, kami sebagai regu pendahulu dipersilahkan istirahat melepas lelah dan ketegangan.

“Sekarang kalian bisa santai, biar angkatan laut yang mengurus sisanya!!!” kata Kapten Ade, kami pun langsung bubar.
Aku lebih memilih berjalan-jalan sebentar ketimbang langsung istirahat bersama teman-teman lain, lagipula suasana sangat berisik sejak angkatan laut datang. Aku berjalan menyusuri dinding laut melihat pantai yang tampak sangat mengerikan karena warna darah dan tubuh hancur dimana-mana. Sungguh tidak kusangka bahwa untuk menaklukkan daerah sekecil ini saja bisa memakan korban sangat banyak. Tidakkah ini seperti pembuangan nyawa sia-sia? Kupikir harusnya para petinggi benar-benar menyusun strategi yang matang sebelum menerjunkan kami ke neraka ini. Andai saja mereka melihat dan merasakan apa yang aku dan pastinya semua parajurit lain lihat dan rasakan saat awal tiba, pastilah mereka tidak akan mau berada di kapal itu. Tapi sudahlah, seandainya aku menyalahkan petinggi juga tidak ada gunanya, karena kesalahan utama adalah adanya perang gila ini.

Aku memejamkan mata sebentar meresapi kembali semua yang telah kulalui hari ini, lalu kembali menatap pantai dan bersumpah bahwa kejadian ini akan selalu kukenang dan kuceritakan kepada anak cucuku. Agar mereka tahu bahwa perang apapun alasannya selalu membawa penderitaan tersendiri. Bahwa lebih dari 200 orang prajurit yang berada dalam satu armada pendahulu pimpinan Kapten Ade tewas tanpa sempat menyelesaikan tarikan nafasnya, dan lebih dari 200 sisanya luka parah serta cacat bahkan mungkin sudah banyak yang meninggal sekarang di tenda medis. Sungguh sebuah kejadian yang tidak bisa dibilang kenangan manis.

Aku beranjak dari dinding laut dan duduk di reruntuhan bekas gudang senjata musuh untuk sejenak duduk beristirahat. Kulihat kesana kemari tempat itu, sudah tidak berbentuk bangunan lagi, lebih mirip dinding yang didirikan asal-asalan. Aku hendak menyandarkan diri saat kulihat sesuatu yang aneh di balik tembok yang rubuh. Kudekati tembok itu dan menyingkirkannya, ternyata ada mayat musuh di baliknya. Aku memandangi mayat itu penuh emosi, bahkan setelah mati pun mereka tetap terlihat mengesalkan. Kutendang mayat itu hingga terguling ke samping, bersamaan dengan itu tampak sebuah benda yang membuatku kaget setengah mati dari balik mayat tadi. Aku langsung pucat dan menegang.
“Aaaaaaa…”

Aku membuka mata secara tiba-tiba, nafasku memburu sangat cepat disertai keringat dingin yang mengalir cukup deras, padahal aku sedang berada di bawah mercusuar di pinggiran laut. Aku mencoba mengatur nafasku menenangkan diri. Tidak kusangka bahwa aku akan tewas dalam hayalanku sendiri. Tewas karena terkena ledakan granat yang berada di balik mayat musuh itu. Ternyata mayat musuh yang kutemukan berfungsi untuk menahan pemicu granat yang tentunya akan meledak saat daya penahannya yang berupa mayat itu hilang. Aku tersenyum lebar hingga akhirnya tertawa keras seperti orang gila. Sungguh konyol apa yang barusan kulakukan. Mencoba membayangkan diriku ikut dalam sebuah perang yang adegannya kuambil dari sebuah film. Walau tentunya tidak sepenuhnya sama seperti film yang pernah kutonton itu. sayangnya setelah melakukan apa yang diajarkan guruku pun belum bisa memberikan sebuah jawaban tentang kematian yang menjadi pertanyaanku.

Dalam hayalan, bisa saja aku menjadi seorang pemberani sejagad raya atau malah sebaliknya. Dalam hayalan semuanya terasa mudah dan instan karena sebagian besar dikendalikan oleh otakku sendiri. namun bagaimana bila di kenyataan? Aku tidak tahu. Mungkin memang harus menunggu sampai ada kejadian yang mendekatkanku pada kemungkinan kematian yang tinggi, baru aku bisa menjawab pertanyanku tentang siap dan ikhlaskah bila aku harus mati lebih cepat dari orang lain? orang lain yang kukenal tentunya. Kembali aku menghela nafas panjang untuk sekian kalinya dan bangkit dari tempat dudukku. Kulihat laut untuk terakhir kalinya, lalu berbalik pulang meninggalkan sebuah misteri di belakang.

Selesai.

Cerpen Karangan: Affiantara Marsha Yafenka
Facebook: Amy (Affiantaramarshayafenka[-at-]rocketmail.com)

Cerpen Mati Dalam Angan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Keikhlasan Hati Amir

Oleh:
Glkkglkkk.. “Uhhh leganya..” dalam benak amir. Melepas hausnya dengan air dari keran masjid… Hari ini dia berjalan menyusuri jembatan gantung itu, di bawah teriknya matahari yang begitu menyengat siang

Kesempatan Ke Dua

Oleh:
“Oh duduk Bu Rinta, langsung saja. Saya memecat anda.” Jleb. “What, tapi kenapa pak? Apa kesalahan saya?” Tanyaku saat sudah bisa mengatur emosi. “Karena anda tak percaya partner, ingat

Kontes Mengerikan

Oleh:
Pada zaman dahulu, di pagi yang cerah. Ratu Ishielya (baca: Ishelya) sangat bosan. Dia mengadakan sayembara mencari mutiara dalam batu tua di hutan. Namun, sayembara itu batal karena di

Cerita yang Menyeramkan

Oleh:
Setiap orang punya hak untuk percaya bukan? Aku harap kau juga percaya dengan kisah yang akan aku sampaikan ini. Tentu sebelum kisah ini kuceritakan kau harus tahu darimana kisah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *