Matra

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 21 December 2021

Aku penjamkan mata sejenak. Menghela napas lelah setelah 5 hari dalam seminggu belakangan kerja gila-gilaan jadi budak korporat. Jumat malam ini aku memutuskan pulang lebih awal dari hari-hari sebelumnya meskipun masih terbilang lembur. Setidaknya aku sudah sampai gedung apartemen pukul tujuh malam ini. Ransel yang biasa aku bawa tersampir di pundak kiri. Badanku sengaja kusenderkan di dinding belakang lift. Aku seorang diri di kotak besi ini, kalau ditunggu seperti ini lama sekali rasanya. Unitku ada di lantai 17. Lift bergerak lambat, belum berhenti di lantai manapun. Aku melirik arloji di tangan kanan. Kupejamkan lagi mata meringankan denyutan di kepala yang mulai terasa.

Ting!
Lift berhenti di lantai…

Mataku mulai eror. Mana ada lantai 00 di gedung ini. Pintu terbuka menampakkan lorong panjang dan persimpangan di ujung sana. Aku tekan tombol penutup pintu berkali-kali, percuma. Tombol emergency pun tak berguna. Kupandang lekat kamera di sudut sana. Mati. Sialan!
Mereka ingin bermain-main denganku rupanya.

Pintu enggan menutup, terus terbuka seolah menyuruhku keluar. Aku berjalan menyusuri lorong panjang, sampai di ujung lantas belok kiri berakhir di sebuah pintu besi.

Aku sudah mendengar tentang penghuni gedung ini. Kalau beruntung bisa “bertemu” dengan mereka, katanya. Aku bahkan tidak mau kenal dengan mereka atau apapun itu. Sekarang malah diajak kenalan oleh mereka.

Aku hendak membuka pintu itu, tapi gagangnya sudah berputar sendiri. Pintu terbuka menampakkan ruang luas yang ditata megah layaknya ballroom hotel bintang lima. Nuansa marun berpadu emas mendominasi dekorasi ruang ini. Riuh rendah orang bercakap dilatarbelakangi musik yang pas, sungguh perpaduan yang bagus untuk sebuah jamuan pesta yang WAH.

Aku merasa berada di dimensi lain, faktanya memang begitu kan. Bajuku beda sendiri. Kemeja kuning pastel dengan jeans dan sneakers serta ransel, menjadikanku badut pesta yang sesungguhnya. Beda jauh dengan sosok-sosok tampan dan cantik di ruangan ini. Aku bahkan menahan napas memerhatikan tampilan mereka yang tidak main-main.

Aku menyadari satu hal, mereka bisa melihatku tapi seolah aku bukan makhluk asing di antara mereka. Mereka tersenyum sopan menyapaku. Meski tampilanku jelas melenceng dari mereka. Aku menuju meja panjang yang menghidangkan berbagai macam makanan. Tapi aku ingat untuk tidak memasukkan apapun makanan dari kaum mereka ke dalam mulutku. Padahal aku lapar sekali, mungkin kali ini mataku dulu yang harus berpuas diri.

Seorang pria menghampiriku dengan senyum khasnya. Dia pria lift. Aku sering bertemu dengannya di lift. Entah itu pagi buta, siang bolong, petang, atau tengah malam.

“Halo, Nes. Wah jadi penduduk baru ya kamu.”
Aku memutar bola mata malas, “Acara siapa sih ini?” bisikku.
Dierja malah menertawaiku.
“Labda.”
“Apa? Lada?”
Dierja melototiku garang, “Labda, Ganes. Trengginas Labda Taraka. Pernah dengar nama itu?”
Aku menggeleng, “Orang penting? Pejabat sini? Acara apa memangnya?”
Pria di sebelahku ini melongo dengan tangan yang menggantung di udara. Kue yang ia comot urung masuk ke lambungnya.

“Kamu kenapa bisa di sini?”
Aku mengedikkan bahu. Aku pun heran kenapa aku bisa “datang” ke sini. Kalau Dierja jangan ditanya, dia salah satu manusia beruntung yang bisa menjelajah dua dunia.

“Gimana caranya kamu datang ke sini?”
“Aku tadi ada di lift, berhenti entah di lantai berapa. Pintunya kebuka dan nggak mau nutup. Ya udah aku keluar ikutin lorong dan cuma ada satu pintu. Jadi aku masuk deh.”
“Begitu?”
Aku mengangguk mantap.
“Kamu tamu khusus,” lirihnya. Lalu matanya panik melihat sekeliling dan berhenti padaku.
“Ganes, dengar. Kamu tamu khusus yang diundang ke sini. Entah apa yang kamu lakukan hingga bisa diundang masuk ke dunia ini. Tapi, kamu tenang aja ada aku yang bakal tuntun kamu untuk beradaptasi di sini.”

“Kenapa aku mesti beradaptasi? Kenal sama Lada-lada itu aja enggak kok.”
“Ganes?!” tergurnya geram. “Mungkin bentar lagi mereka akan datangi kamu. Apapun yang mereka minta jangan kasih gitu aja. Pikirin dampaknya buatmu. Ka–”

“Ganes.”
Aku menoleh pada pria yang datang dari belakang Dierja. Pria dengan senyum sopan dan menawan. Dierja mematung, melirikku dari ekor matanya. Aku bertanya lewat tatapan pada Dierja, dia mengangguk pelan dengan kondisi muka yang sulit dideskripsikan.

“Selamat datang, Ganes. Maaf mengundangmu dadakan seperti ini.”
“Ah ya nggak apa-apa.”
Dierja di mana kamu? Bisa-bisanya menghilang di saat seperti ini.

“Maaf kamu siapa?” tanyaku ragu.
Dia terkekeh pelan, “Aku Labda. Bisa ikut aku? Ada sesuatu yang ingin aku beritahukan.”
Aku mengangguk ragu. Ternyata dia yang bernama Labda. Wajahnya agak familiar bagiku.

Aku mengekorinya berjalan menuju sudut ruangan. Tepatnya ke sebuah meja bundar dengan dua kursi.
“Silahkan duduk. Ingin minum atau makan sesuatu?”
“Nggak. Nggak usah.”
Agaknya aku terlalu cepat menjawabnya. Labda tersenyum maklum.

“Aku punya penawaran untukmu.”
“Penawaran?”
“Ya, penawaran. Bekerja untukku dan aku akan berikan akses keluar masuk dunia ini padamu.”
Aku diam meneliti wajah pria yang duduk di hadapanku ini. Terlihat serius dengan ucapannya.

“Kenapa aku?”
“Kamu punya privilege untuk terlibat dalam dunia kami.”
Jangan bercanda. Privilege macam apa yang aku punya? Lagipula untuk apa aku punya akses ke dunia mereka?

“Jadi mau bekerja denganku?”
“Aku… aku nggak yakin. Aku mau hidup biasa aja.”
“Ah hidup biasa saja. Baiklah. Tapi kapanpun kamu berubah pikiran. Temui aku.”
“Oke. Kalau aku berubah pikiran.”
Kami saling melempar senyum. Lalu dia berdiri, begitu pun aku refleks berdiri.

“Labda, gimana caranya aku kembali?”
“Keluar lewat pintu yang kamu masuki.”
“Oke. Terima kasih.”
Dia tersenyum dan berlalu pergi.

Aku mencari Dierja, namun nihil. Kuputuskan untuk keluar dari sini. Kembali ke pintu di mana aku masuki tadi. Sampai di lift hanya ada aku tentunya. Menekan angka 17. Pintu tertutup dengan mudahnya. Lagi-lagi aku menghela napas kesekian kalinya hari ini.

Rasanya baru sejenak aku membaringkan tubuhku. Hari beranjak pagi bahkan siang. Baru ingat kalau stok persediaan makanan di kulkas sudah habis. Jadilah aku keluar unit mencari makan di luar.

Pintu lift terbuka menampakkan sosok Dierja dengan pakaian santainya.
“Hai, Nes. Gimana semalam?”
“Hai. Biasa aja.”
“Labda, menawari kamu sesuatu?”
Aku sedikit memicing, “Ya. Tapi aku tolak.”
“Hah?!”
“Kenapa?”
“Kamu gila!”
“Maksudnya?”
“Menolak tawaran Labda sama aja bencana buatmu.”
“Kenapa bencana?”

Dierja melangkah keluar lift tanpa menjawabku. Aku mengekorinya berjalan sepanjang lobi gedung apartemen.
“Dierja, tunggu.”
Dia masih berjalan tanpa melihatku. Dia malah dengan cepat menghilang.

“Maaf, Pak.”
Aku berusaha membantu bapak-bapak cleaning service yang aku tabrak.
“Loh?!”
Aku pikir ini bercanda. Saat kurasa wajah Labda familiar ternyata ingatanku benar.

“Selamat pagi, Ganes.”
“Hmm… pagi juga. Maaf jadinya nabrak.”
“Tidak apa-apa.”
“Kalo gitu. Aku permisi.”
“Ya silakan.”
Aku pergi keluar gedung apartemen. Mencari warteg untuk sarapan merangkap makan siangku kali ini.

Seminggu terlewati, aku paham kata Dierja tentang bencana menolak tawaran Labda. Di manapun aku berada akan ada mereka yang seolah mengawasiku. Driver ojol dengan wajah mirip Labda. OB kantor yang tiba-tiba jadi Labda saat tersenyum. Kolega kantor yang ternyata orang suruhan Labda.
Terakhir yang paling mengesalkan Labda tahu persembunyianku.

“Sore-sore udara dingin nanti masuk angin.”
Aku mengehela napas kesal. Di mana-mana ada Labda. Bahkan di rooftop tempatku menepi pun ada dirinya.

“Belum berubah pikiran, heh?”
Aku mengedikkan bahu, “Kenapa aku?”
Dia terlihat menimang jawaban yang akan ia lontarkan.

“Begini, anggap aku sedang baik hati. Membagikan akses gratis salah satunya ya kamu.”
Aku diam tak tahu harus menyahutinya dengan apa.

“Nanti aku coba pertimbangkan.”
“Baiklah.”
Kami sama-sama diam menikmati penghujung senja yang mulai menjingga.

Ting!
Tong!
Ting!
Tong!
Ting!
Tong!

Siapa sih?!

Aku bergerak malas menuju pintu unit apartemen. Senin pagi begini aku berakhir mengenaskan di apartemen. Hari pertama tamu bulanan kadang buatku lemah tak berdaya. Hari ini saja aku sampai tidak masuk kerja. Lalu siapa sih pagi-pagi merusuh di tempatku?!

“Apa?”
“Halo, Mbak. Saya driver ojol nganterin barang buat Mbaknya.”
Aku mengernyit heran. Aku merasa tidak pesan apa-apa.

“Saya nggak pesan apa-apa loh, Mas.”
“Iya bener. Tapi kata Masnya yang pesen dianter ke unit 179.”
“Siapa nama yang pesen?”
“Labda Taraka, Mbak.”
“Oh yaudah sini Mas saya terima barangnya.”
Aku menerima dua kantung plastik belanja ukuran besar. Apa saja sih isinya?

“Udah dibayar, kan?”
“Udah kok, Mbak. Kalo gitu saya permisi.”
“Iya. Makasih, Mas.”

Aku menyeret dua kantung besar itu ke ruang tengah. Kegilaan apa lagi yang kamu lakukan, Labda?

Aku membuka salah satu kantung, ada sabun mandi cair, botol shampoo ukuran besar, conditioner-nya juga, pasta dan sikat gigi, detergen, sabun cuci piring. Paling tidak habis pikir dia juga membelikan pembalut pack besar. Merek yang sering aku beli pula. Ya salam, Labda!

Di kantung satunya ada berbagai macam camilan, mi instan, jus kotak, bahkan jamu datang bulan. Niat sekali dia!
Mau menyogokku dengan semua ini, heh?

Tidak berhenti sampai di situ saja, kiriman brownies aku terima sampai tak lama setelah kedatangan dua kantung yang pertama tadi.
Kenapa barang-barang yang sampai sama persis dengan kebutuhan yang ingin aku beli nanti? Tahu dari mana dia?

Ponselku berdering dari nomor tak dikenal.
“Hei, sudah kamu terima?”
Labda?

“Rak bukunya kemungkinan sore nanti baru sampai. Tolong diterima juga ya. Oh ya paketan buku-buku lusa nanti sampai.”
“Hah?”
“Sudah-sudah. Kututup ya, aku sibuk.”
Begitu saja sambungan terputus. Rak buku? Paketan buku-buku? Maksudnya apa? Dia tahu keinginanku dari mana?

“Argggggghhhhh LABDA sialan!”

Cerpen Karangan: Galiot Sastra

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 21 Desember 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Matra merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Air Yang Keluar Dari Mata

Oleh:
Saat itu pandora bertanya kepadaku “Kenapa kamu seperti makhluk yang terluka?” Aku menjawab “mungkin karena aku bertarung” sambil tersenyum “Tidakkah itu menyakitkan?” Tanyanya lagi, aku tersenyum kemudian menjawab “iya..

Di Ujung Telepon

Oleh:
Kelam, tak ada yang bisa dipandang, aku layaknya tunanetra. itu yang tergambar dari sorot mata, sewaktu aku terjaga di tempat ini. Entah itu dari tidur atau sesuatu hal lain,

Portal Jawaban

Oleh:
“Sinta, kamu kenapa?” “Enggak Tante, Sinta gak kenapa-kenapa,” Tanteku terlihat khawatir kepadaku. Namun aku tak bisa menjawab pertanyaannya dengan jujur. Apa yang akan dikatakan ibuku kalau mendengar jawabanku yang

Pesta

Oleh:
Sandra dan sally adalah dua gadis cilik yang tinggal di sebuah rumah mungil dekat taman kota. Setiap sore, jika tidak hujan, sandra dan sally diajak ibu mereka ke taman.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *