Menaklukkan Naga (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 31 January 2016

Sang Raja hendak meninggalkan balkon, ketika seorang kesatria berlari ke arahnya dengan wajah cemas. “Ada apa, Winger?”

“Yang Mulia, dari setiap laporan yang kami terima dari pasukan pengintai, bisa dipastikan, Madfire terbang lurus menuju ibukota.” Sang Raja mendesah. Apa yang menjadi firasatnya ternyata benar. “Tarik pasukan yang berada di dekat ibukota untuk membantu kita,” katanya memberi perintah. “dan siapkan baju besi dan pedangku.”
“Siap, laksanakan, Yang Mulia,” sahut Winger, yang bergegas berbalik pergi. Menatap ke luar istananya, sang Raja dapat melihat ada makhluk terbang yang sosoknya semakin lama semakin mendekat. Tanpa membuang waktu lagi, Raja Darien pun melangkah pergi menuju ruang senjata dan bersiap untuk bertempur.

Vermund mengikuti langkah Laure dalam diam. Ia berusaha menahan diri, meskipun banyak pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Semakin ke dalam, pepohonan yang menaungi semakin rapat. Menambah pekat gelap yang mulai merayap turun. “Apakah masih jauh, Laure?” tanya Vermund akhirnya. “Sebentar lagi kita sampai,” sahut Laure tenang.
“Hari sudah mulai gelap, dan aku harus kembali ke ibukota.”
“Aku mengerti,” Laure pun menghentikan langkahnya.

Mereka tiba di bagian terdalam hutan yang mulai jarang pepohonan. Hamparan rerumputan yang mendominasi di bawah kaki Gunung Batu, yang membentang di antara dua hutan tua, yaitu Greenwood dan Folkbottom. Dan ketika Vermund menatap ke depan, ia terlonjak ke belakang beberapa langkah. Empat cakar besar terlihat jelas di antara tingginya pepohonan. Cakar itu dilapisi sisik-sisik besar berwarna emas. Tampak menyala di dalam gelapnya hutan.

“Ma-makhluk apa itu, Laure?” Laure berjalan mendekati makhluk besar tersebut dan mengelus lembut salah satu cakarnya. Lalu muncul sebuah kepala -yang terlihat seperti kadal raksasa bertanduk- dari rimbunan pepohonan. Vermund terkesima. “Jangan takut, Vermund,” ucap Laure seraya mengelus cuping hidung makhluk besar tersebut. “Itu-itu–”
“Ini adalah naga tungganganku, Glorind.”
“Na, naga tunggangan apa?”
“Sepertinya, teman lamamu ini terlalu terkejut melihatku, Laure,” sebuah suara berbisik menggema.
Laure tersenyum dan mengelus sisik di bawah mata naganya. “Siapa yang tidak akan terkejut melihatmu, Glorind.”
Vermund menatap Laure dan si naga emas bergantian. Ia tidak menyangka, naga bisa berbicara bahasa manusia. Itu membuat rasa takutnya perlahan memudar.

“A-aku Vermund,” ucap Vermund seraya membungkuk hormat.
“Senang berkenalan denganmu, makhluk kecil,” balas Glorind menganggukkan kepalanya. “Namaku Glorind.”
“Kau mau mengelusnya, Vermund?” tanya Laure. “A, apakah tidak apa-apa?” Vermund balik bertanya.
Laure mengangguk. “Aku tidak akan menggigitmu, makhluk kecil, jangan cemas.”

Vermund melangkah dengan sedikit ragu. Namun tangan kanannya terangkat. Ia bisa melihat sosok tinggi besar si naga emas. Cakarnya yang kekar, tubuhnya yang tertutup sisik tebal berkilauan, leher dan ekornya yang berduri, sayapnya yang lebar, juga bola matanya yang bening keemasan. Glorind yang tidak sabar melihat Vermund yang takut-takut, dengan sengaja menyundul tangan kanan Vermund dengan moncongnya. Vermund yang terkejut, terlonjak ke belakang.

Laure tertawa kecil melihatnya. “Lihat, Vermund,” katanya. “kalian berdua akan cocok satu sama lain. Kalian sama-sama tidak sabaran.” Si naga emas mendengus hingga dari lubang hidungnya ke luar udara hangat. Vermund tersenyum. “Terima kasih, sudah mengizinkanku mengelusmu, Glorind.”
“Teman Laure adalah temanku juga.” Vermund kembali membungkuk hormat.

“Apa yang kau lihat di langit, Glorind?” tanya Laure kemudian.
“Seekor naga merah tengah terbang cepat menuju utara, ke perbukitan Upperhill,” sahut Glorind.
“Itu sungguh tidak baik,” kata Vermund cemas. “aku harus segera kembali ke ibukota.”
“Kau bisa berkendara lebih cepat bersamaku, Vermund.” Vermund menatap Laure dengan pandangan “yang benar saja”, dan beralih menatap Glorind yang menjulang tinggi.
“Kalau aku pergi bersama kalian, lalu bagaimana dengan kudaku?” tanya Vermund. “Aku bisa menuntunnya pulang,” sahut Laure. Sesaat Vermund terdiam.

“Semakin lama kau berpikir, maka semakin dekat si naga merah dengan tempat tinggalmu, makhluk kecil,” gelegar Glorind. “Kau benar sekali,” ujar Vermund. “kalau begitu, aku akan ikut kalian.”
“Bagus sekali!” geram Glorind. “Aku sudah tak sabar untuk bertarung.” Laure dan Vermund saling tatap, lalu tersenyum. “Cepatlah kau urus kuda kecil itu, Laure,” kata Glorind. “meringkuk di hutan begini, membuat sayap-sayapku pegal.”
“Baik, baik,” sahut Laure, lalu berpaling pada Vermund. “ini tidak akan lama, tunggulah di sini.”
Vermund mengangguk. Dalam sekejab, Laure sudah melesat, dan menghilang di balik rimbun pepohonan.

Beberapa pasukan kembali berjalan melewati gerbang kota Whiterocks, ibukota Kerajaan Upperhill. Mereka yang bertugas di dekat ibukota telah diperintahkan untuk kembali. Sejumlah pasukan lain, yang tersebar di seantero Upperhill juga diminta kembali ke ibukota. Hanya saja, apakah mereka akan tiba di ibukota tepat waktu -tidak ada yang tahu. Setiap pandangan yang menengadah ke langit sudah melihat sosok naga merah yang terbang semakin dekat.

Meskipun mereka semua, para prajurit dan para kesatria, dikenal sebagai orang-orang pemberani, mereka tetap saja memiliki rasa cemas. Karena yang akan mereka hadapi adalah seekor naga, yang ukurannya tidak kecil, dan dengan napas apinya dapat menghancurkan apa saja yang disentuhnya. Setiap orang meningkatkan kewaspadaannya. Sementara di ruang senjata, sang Raja sedang memakai baju besinya. Seorang ksatria membantunya.

“Kau percaya pada Rajamu, Armed?” tanya sang Raja sambil menyandang pedangnya di pinggang.
“Dengan segenap jiwaku, Yang Mulia,” sahut Armed.
“Madfire tidak akan berhenti menyerang, sebelum menghabisi semuanya,” ujar Raja Darien. “kita sudah melihat setiap desa dan kota yang telah diserangnya.. tak bersisa.”
“Apa pun yang akan terjadi hari ini, Yang Mulia, aku dan kesatria lainnya akan tetap berada di samping anda,” sahut Armed. “Vermund, ku harap anak itu juga segera kembali..”
Raja Darien menepuk pundak Armed. Kemudian keduanya melangkah meninggalkan ruang senjata, menuju medan pertempuran.

Setelah Laure kembali, Glorind bersiap. Glorind mengulur rendah lehernya. Kemudian dengan gerakan ringan, Laure melompat naik ke pelana di pangkal leher sang naga.
“Kau juga segera naiklah, Vermund,” kata Laure. Vermund mengangguk dan mengikuti gerakan Laure.
“Pastikan kau berpegangan dengan kuat, makhluk kecil,” geram Glorind. “aku tak mau sahabat penunggangku tergelincir jatuh.” Laure menanggapi ucapan Glorind dengan senyuman. Kemudian ia mengelus leher si naga emas sambil berseru, “Terbanglah!” Hentakan sang naga membuat Vermund tersentak. Ia dapat merasakan kibasan angin yang menghempas keras wajahnya ketika Glorind mengepakkan sayap besarnya, dingin. Dalam hitungan detik, mereka telah mengudara. Vermund bisa melihat petak bekas Glorind merebahkan diri. Sang naga kemudian melesat terbang menuju ibukota.

“Siagakan alat pelontar!” seorang kesatria memimpin pasukan di benteng istana. Sepeleton prajurit segera menempatkan alat-alat pelontar di benteng depan istana dan di menara-menara tertinggi. Disusul oleh pasukan pemanah yang mulai sibuk memposisikan diri di barisan paling depan. Para kesatria tengah memberikan instruksi pada pasukan yang mereka komando. Mereka harus memastikan istana dan sang Raja terlindungi. Namun mereka semua terkejut ketika melihat sang Raja muncul bersama Armed.

“Yang Mulia!” semuanya memberi hormat. “Aku akan bertarung bersama kalian.”
“Tapi, Yang Mulia,” seorang kesatria dengan janggut kelabu muncul dari balik barisan pasukan pemanah dan berjalan mendekati sang Raja.
“seharusnya anda berada di gua perlindungan bersama dengan–”
“Tidak, Bernain,” sahut sang Raja cepat. “di sinilah tempatku seharusnya.. bertempur berdampingan dengan kalian semua.”

Vermund merasakan sensasi yang luar biasa. Tidak pernah ia menyangka, menunggang naga sungguh pengalaman yang mengesankan dan hebat. Ia merasa sangat beruntung, bisa duduk di punggung si naga emas. Ia merapatkan jubahnya untuk menahan hawa dingin yang terasa makin menusuk di ketinggian. “Kau berhutang banyak cerita padaku, Laure!” Vermund sedikit berseru, karena khawatir Laure tidak mendengar ucapannya. “Aku tahu itu!” balas Laure.

Vermund berteriak kaget ketika Glorind terbang menukik lebih rendah. Laure tertawa, dan sang naga mendengus geli. Glorind kemudian kembali terbang lebih tinggi hingga menembus awan untuk menyembunyikan sosok besarnya. Di cakrawala, langit terlihat memerah. Matahari sudah mulai terbenam. Ini belum lewat pukul lima sore, tetapi waktu titik balik matahari di musim dingin membuat gelap lebih cepat datang.

Glorind kembali menukik turun, hingga Vermund dapat melihat hamparan di bawahnya. Ia merasakan ada duka dan kemarahan bercampur aduk di dalam hatinya. Upperhill sudah banyak kehilangan wilayahnya karena ulang si naga merah. Di punggung naga emas saat ini, Vermund mengucap permohonan dalam hati. Ia berharap, sang naga emas dapat memukul mundur si naga merah yang kejam, sehingga kotanya terselamatkan.

Bersambung

Cerpen Karangan: Dee Anne
Facebook: https://www.facebook.com/dee.anne.5

Cerpen Menaklukkan Naga (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Misteri

Oleh:
“Liana!!” kata seseorang yang mengagetkanku dari mimpi indahku “apa ma!” kataku “ayo cepat bangun hari ini mama akan mengantarkanmu ke pendaftaran sekolah barumu itu!” kata mamaku “sebentar lagi ma”

Evanity

Oleh:
Saya selalu bercita-cita sebagai pemimpin, dalam segala hal. Tapi sering kali saya menyadari, bahwa saya tidak bisa dikatakan pantas untuk hal itu. Oleh karena itu, saya punya banyak cita-cita

Tidaaak!

Oleh:
New York, USA “Kau siap?” tanya seseorang dengan jas putihnya “Siap prof” “Tapi resikonya tinggi. Keluargamu tak akan mengenalimu lagi” “Tak apa, demi misi ini aku rela mempertaruhkan nyawa

Perempuan Ini

Oleh:
Matahari terus bersinar dengan bangga, Ryan menatap ke atas satu kata yang pasti terlintas di otaknya “Panas” cukup untuk menggambarkan keadaanya yang begitu mengenaskan. Anak laki-laki ini hanya menatap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Menaklukkan Naga (Part 3)”

  1. Nggak sabar buat lanjutannya..

  2. AdamdCyadow says:

    kalau mnurutku, nanti ada beberapa variasi lanjutan. pertama, smua pasukan dan raja menganggap glorind adalah madfire. ketakutan, smua akhirnya tergesa2 menyerang dan glorind terluka. setelah itu madfire datang dan mereka menyesal telah salah menyerang dan lanjutannya… kedua, baik laure maupun vermund berhasil meyakinkan bahwa glorind bukanlah madfire, dan bersama2 mereka melawan madfire. ketiga, glorind datang terlambat dan kota dalam keadaan setengah hancur. dalam keputus asaan, glorind datang dan melawan madfire sendiri. dibantu oleh yg tersisa, madfire dapat dikalahkan. keempat, hampir sama seperti ketiga, namun, yg menjadi perbedaan adalah glorind terluka parah dan akhirnya mati. semenjak itu kota menggunakan sosok naga emas sebagai simbolnya untuk mengenang jasa glorind dalam perang tersebut. trims.

    • Dee Anne says:

      ide yang luar biasa ya, hehehe… tapi sejak awal gimana jalan cerita dan endingnya sudah terancang sedemikian rupa. thanks for your attention 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *