Menaklukkan Naga (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 5 February 2016

Madfire si naga merah tiba di ibukota. Sesaat ia terlihat terbang berputar-putar di atas istana, seolah mengamati. Lalu si naga terbang lebih rendah. Geramannya menggema memekakan telinga siapa saja yang mendengarnya. Menyebar ketakutan. Pasukan istana menyiagakan diri. Beberapa kesatria mulai bersiap di garis paling depan. Naga merah ini besar, meski tidak sebesar naga-naga yang terdapat dalam kisah-kisah lama.

Hampir seluruh tubuhnya dilapisi sisik keras yang sempurna sebagai tameng. Hanya bagian leher ke bawah yang berupa lapisan kulit tanpa sisik. Di bagian tersebut, dahulu para pemburu naga mengarahkan serangan mematikan untuk menghabisi musuh raksasanya tersebut. Para kesatria terus mengamati gerak-gerik si naga, yang masih terbang naik turun. Belum terlihat akan menyerang.

“Naga ini mau bermain-main dengan kita,” kata Armed.
“Kita tunggu saja apa maunya,” sahut Bernain. “naga itu ingin membuat kita takut.”
“Sepertinya itu berhasil, Komandan.” Bernain menarik napas dalam dan menghembuskannya cepat. “Jangan gentar!” teriaknya memberi semangat. “Kalaupun kita mati, kita mati dengan bangga karena bertarung sampai tetes darah terakhir untuk negeri kita!” Serempak seruan lantang seluruh pasukan terdengar menyahut pidato dari Bernain.

“Untuk Upperhill!” seru Bernain sekali lagi. Sahutan serempak terdengar menggelegar. “Untuk Upperhill!”

Tak lama kemudian si naga merah terlihat terbang merendah, lurus menuju ke arah pasukan di benteng depan. Bahkan Bernain dapat melihat jelas, tenggorokan si naga merah mulai menyala. “Tembakan panah!” seru Bernain, dan diikuti oleh komandan yang lainnya. Ribuan anak panah melesat ke udara. Beberapa terlihat mengenai si naga merah, tetapi tidak melukai si naga merah sedikit pun, bahkan setelah ribuan panah berikutnya menyusul.

“Bidik sayapnya!” seru Bernain. “Bidik lehernya!” Sekali lagi ribuan panah melesat memenuhi udara di atas kastil. Beberapa anak panah berhasil melukai sayap si naga merah, yang serta-merta meraung marah dan menyemburkan napas apinya ke arah pasukan di benteng terdepan. Sekejap membuat barisan pasukan porak-poranda. Dinding-dinding benteng menghitam dan runtuh sebagian. “Mundur ke benteng kedua!” beberapa komandan menyeru serempak. “Kembali ke barisan! Kembali ke barisan!”

Laure meminta Glorind untuk terbang lebih cepat. Menembus awan, akhirnya ibukota Upperhill terlihat. Di benteng pertahanan, pasukan kerajaan tampak mulai bergerak. Ribuan anak panah sudah dilepaskan ke arah si naga merah, yang kemudian meraung dan menghembuskan napas apinya ke arah benteng. “Lebih cepat Glorind!” seru Laure. Si naga emas mengikuti perintah penunggangnya. Ia mempercepat terbangnya. Membuat Vermund merasa seperti ditampar-tampar oleh angin yang menerpa wajahnya. Ia mengeratkan pegangannya di pelana. Di dalam hatinya berkata, “aku harus punya satu yang seperti ini.”

Si naga merah bergerak dengan sangat ganas. Dua alat pelontar berhasil dirusak olehnya. Beberapa prajurit tewas dan terluka. “Bantu yang terluka ke tempat yang terlindung!” perintah Armed. Dua orang prajurit mengangguk dan bergerak cepat membantu rekan-rekan mereka yang terluka. Sementara, di sisi benteng yang lain, Bernain dan kesatria lainnya tengah bertarung sekuat tenaga mereka. Si naga merah masih terlihat baik-baik saja, justru semakin ganas menyerang setiap kali anak panah atau batu mengenai tubuhnya.

Setiap kali si naga merah terbang mendekat ke benteng, cakarnya direndahkan hingga dapat meraih beberapa orang prajurit, yang kemudian dilemparkannya ke tanah. Lebih dari separuh pasukan kerajaan porak poranda. Sebagian dari pasukan yang tersisa mulai kehilangan keberanian mereka. Pasukan kerajaan berhasil dihancurkan. Kini si naga merah sibuk merusak alat-alat pelontar batu. Bernain melihat sekelilingnya. Pasukan yang dipimpinnya telah dihancurkan. Jumlah pasukannya menyusut dengan cepat, sementara musuhnya belum juga terlihat melemah. Namun demikian, ia tidak boleh putus harapan. Jubah yang dikenakannya sudah separuh hangus, lengannya pun sudah mulai lelah karena berkali-kali melontarkan anak panah ke udara.

Dalam keadaan lelah, tiba-tiba Bernain mendengar teriakan seorang prajurit, yang diikuti oleh pandangan semua orang ke arah yang ditunjuk oleh prajurit tersebut. Semua mata terbelalak. Seekor naga keemasan terlihat terbang mendekat. Ukuran naga tersebut bahkan lebih besar dari si naga merah. Hati Bernain mencelos. Bagaimana bisa, ada seekor naga lagi yang terbang mendekat, sementara si naga merah belum dikalahkan. Bernain berseru sekali lagi untuk memposisikan ulang pasukannya.

Dari punggung Glorind, Vermund bisa melihat semua orang di benteng tengah bertarung sekuat tenaga. Namun barisan pasukan sudah porak-poranda. Bahkan sebagian dinding benteng pertama sudah runtuh. Si naga merah, Madfire, terlihat sibuk merusak alat pelontar batu satu per satu dengan cakarnya, dan sesekali dengan semburan napas apinya. Kemudian pasukan di barisan sayap selatan tampak diposisikan ulang oleh seorang komandan. Pasukan tersebut mengarahkan busur mereka tepat mengarah padanya.

“Sepertinya ada kesalahpahaman di sini, Vermund,” kata Laure. “Kau harus segera mencegah mereka, atau mereka akan menembakkan anak panah pada kita.”
“Aku mengerti,” sahut Vermund. “minta Glorind untuk terbang lebih dekat dan lebih rendah, agar aku bisa melompat ke atas benteng.” Laure terlihat berbicara kepada Glorind dengan lembut dan penuh hormat. Sang naga pun sekali lagi mengikuti kemauan penunggangnya.

Bernain baru saja hendak memerintahkan pasukannya untuk melepaskan anak panah, ketika si naga emas mendekat dan terbang rendah ke dinding benteng. Namun kemudian terdengar teriakkan dengan suara yang dikenalnya. “Tunggu!” suara itu nyaring. “Jangan tembak!” Sosok gelap terlihat melompat turun.
“Vermund!” kejut Bernain. “Aku pulang, Komandan.”
“Bagaimana kau bisa?”
“Aku akan cerita nanti.”
“Vermund, aku harus segera menghadapi si naga merah,” kata seseorang di atas punggung si naga emas menyela.
“Kita bertemu nanti, Laure!” balas Vermund. Si naga emas bersama penunggangnya pun terbang menuju ke naga merah, sementara Vermund bergabung dengan Bernain dan pasukan kerajaan.

“Jangan tembak!” teriak Bernain memberi peringatan kepada seluruh pasukannya.
“Si naga emas datang untuk membantu kita!” Kesatria yang lain segera naik ke menara tertinggi untuk membawa berita gembira tersebut. lalu Bernain meraih terompet dari sabuknya, dan meniupnya. Suara terompet yang ditiup Bernain membahana ke segala arah. Sekali lagi, pasukan kerajaan Upperhill berseru lantang, dan menata ulang barisan mereka.

Laure bersama Glorind terbang cepat ke arah si naga merah. Ketika menyadari kehadiran mereka, si naga merah meraung, dan meninggalkan pasukan Upperhill, seolah kehilangan ketertarikannya. Dalam hitungan menit, dua ekor naga raksasa berhadapan di udara. Pemandangan yang tidak pernah terlihat lagi di Dataran Utama sejak para Penunggang Naga menghilang begitu saja beberapa tahun yang lalu. “Bertarunglah sesuai nalurimu, kawan,” kata Laure pada Glorind.

Si naga emas menyahut ucapan Laure dengan raungan yang membahana, dan secepat anak panah melesat maju menghambur ke si naga merah. Cakar bertemu cakar. Taring bertemu taring. Begitulah pertarungan naga digambarkan. Suara raungan dari kedua naga tersebut luar biasa memekakan telinga. Membuat pasukan Upperhill yang menyaksikan pertarungan dahsyat tersebut menutup telinga. Kedua naga itu saling memecutkan ekornya. Sesekali terlihat bergumul di udara.

“Kau bodoh, naga emas!” seru si naga merah.
“dengan seorang penunggang di punggungmu, kau tidak dapat bergerak sebebas aku!”
“Namaku Glorind!” balas Glorind. “dan kau harus mengingatnya, makhluk tak bernama!” Si naga merah meraung, dan detik berikutnya menyemburkan napas apinya ke arah Glorind, yang dengan cekatan bergerak menghindar. “Kita harus mengalahkannya dengan cepat, Glorind,” kata Laure melalui pikiran. “Mungkin aku harus membunuhnya, Laure?”
“Jangan, jika tidak harus. Bagaimana pun juga, dia makhluk yang sama denganmu.”
“Tapi aku jauh lebih pintar.” Laure mendengus geli.

Si naga merah kembali menerjang. Beberapa kali ia mengarahkan cakarnya ke Laure. Berniat membunuh si Penunggang. Namun si naga merah tidak mengenal Glorind, apalagi Laure. Sebagai naga dan penunggang, keduanya sudah melebur menjadi satu pikiran, satu hati, dan satu jiwa. Sudah memahami satu sama lain. Keduanya juga saling menjaga dan melindungi. Apalagi, sebagai salah seorang kesatria Silvarian, Laure mempunyai keberanian yang melebihi manusia, juga ketepatan yang tidak diragukan lagi. Mengikuti gerak terbang naga tunggangannya, Laure menarik satu anak panah dari sarung di punggungnya, dan memasang anak panah tersebut di busurnya. Lalu ia membidik sasaran dan melepaskan tembakan. Si naga merah meraung kesakitan.

Anak panah Laure tepat menghujam mata kirinya. Menit selanjutnya, Glorind menerjang, meraih leher si naga merah dengan moncongnya yang bertaring tajam. Dan sebelum si naga merah mulai melawan, Glorind terbang menukik, dan membanting si naga merah ke tanah. Menimbulkan suara dentuman yang membahana. Di tanah, si naga merah masih melakukan perlawanan. Kedua naga pun kembali melanjutkan pertarungan. Kedua naga saling menyemburkan napas api. Si naga merah maju menyerang. Cakar depannya bergerak cepat, disusul dengan moncongnya yang berniat menerkam Laure. Namun Glorind bergerak lebih cepat dan berhasil menghindar. Ekor berdurinya menghantam tubuh si naga merah hingga terguling.

“Aku terpaksa harus membunuh si merah ini, Laure.”
“Kalau menurutmu itu memang jalan satu-satunya… lakukanlah dengan cepat, Glorind.”

Si naga emas meraung panjang. Sebelum si naga merah mampu berdiri, Glorind kembali menerjang tubuhnya hingga terjengkang. Si naga merah meraung marah, tetapi tidak mampu membalas serangan Glorind. Cakar-cakar Glorind dengan cepat menghantam dadanya sebelum ia sempat menyemburkan napas apinya. Meski terus melawan, si naga merah mulai melemah. Glorind melihat kemenangan di depannya, tanpa ragu mengayunkan moncongnya ke leher si naga merah hingga taring-taringnya menembus tenggorokan si naga merah, yang kemudian meraung, menggelepar dan akhirnya terkulai tidak bergerak lagi. Setelah beberapa saat hening, Glorind pun meraung panjang untuk kemenangannya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Dee Anne
Facebook: https://www.facebook.com/dee.anne.5

Cerpen Menaklukkan Naga (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kahaani

Oleh:
Hari ini adalah hari yang melelahkan bagiku, saat aku benar-benar muak dengan semua hal yang terjadi hari ini. Setiap hari keseharianku hanya seperti ini. Malam ini pun mataku enggan

Sheila: The Last Day (Part 1)

Oleh:
Apa yang dilakukan saat ajal menjemputmu? Menangis. Tak ada yang dapat ku lakukan kecuali menangis sepuas-puasanya. Setiap saat. Selama tiga hari belakangan, setidaknya hingga bayang kengerian tentang kematian kering

The Weather (Part 1)

Oleh:
Cuaca buruk beberapa hari ini sedang melanda Cornwall, membuat kota itu terlihat lebih sepi tak seperti hari-hari sebelumnya, cuaca nampak tak mendukung untuk melakukan aktivitas lebih banyak. Akibat lainnya

Kebebasan Merengguk Keadilan

Oleh:
Ketika senja menggeser sinar mentari perlahan-lahan, seorang bocah gendut terduduk di teras rumahnya menatap momen tersebut. Ari namanya. Memandang kosong kapas-kapas yang terbendung di langit. Saat hari beranjak gelap,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *