Mencoba Mentradisikan Tradisi Lama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Budaya, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 24 May 2021

Awan putih dan hitam masih terus bergantian mencampakkan. Langit yang biru kadang pula berubah menjadi langit yang hitam pekat. Matahari yang terang benderang menyinari bumi, kadang juga pula berubah tidak tampak, disebabkan ditutupi berbagai varian awan hitam. Begitupun dengan dunia masih terus berputar menyusuri arus alurnya semesta alam. Mungkin alam sekarang sudah tak lagi sama dengan alam terdahulu, ditambah dengan semakin canggihnya teknologi yang semakin hari bertambah dan terus dikelabuhi para penikmatnya.

Sama seperti yang dilakukan anak kecil di dalam sebuah kamar berukuran 4 kali 6 meter. Dengan berbagai varian yang ditampilkan kamar anak kecil tersebut, mulai tempat kasur tercanggih, predator thronosa atau kita bisa menyebutnya kursi gaming termahal.. Pintu dua dimensi dan berbagai alat canggih lainnya terdapat dalam kamar anak kecil tersebut. Zaman sekarang sudah tak main lagi dengan namanya rasa letih, segala aktivitas bisa dengan efesien dikerjakan. Intinya dengan ucapan semua bisa dilakukan.

“Ah boring.. di rumah terus.” Anak kecil tadi mendesah beranjak pindah dari kursi gamingnya. Sebut saja namanya Gatan Ganesa. Gatan pindah dari tempat semulanya itu, tidak dengan berjalan. Dia menggunakkan sandal terbangnya. Dan langsung terbaring tempat di kasurnya.

Sejenak mata Gatan meenerawang keatas seolah dia menemukan ide. “Aha.. gue ngajak temen ngumpul ah.” Begitulah ide yang Gatan temukan. Kemudian tangan kanan Gatan ditaruh ke arah depan dua matanya, dan mengusap-ngusap. Muncullah sebuah layar tembus pandang dihadapannya, dan menggulirkan jari jemarinya mencari sosok kontak bernama farel. Layar yang semula menancapkan beberapa aplikasi, kini muncul sosok anak sebaya dengan Gatan, bernama Farel tersebut.

“Woi gabut cuy… ngumpul ke kafe yok?” Ajak gatan dibalik layarnya. Sosok farel lengkap dengan poster tubuh yang sangat jelas dihadapan layarnya itu tersenyum.
“Gas kuen Tan.” Balas farel yang lagi asyik duduk di sofa emmpuk rumahnya. Sama dengan yang keadaan farel, terlihat sosok Gatan jelas dibalik layar miliknya.
“Woke, jangan lupa, yang lain ajak yo.” tambahnya Gatan. Farel pun membalas dengan acungan jempol tangan kanan serta disusul dengan lambaian tangannya. Dan kemudian Gatan pun memencet tombol merah, menandakan berakhirnya obrolan mereka berdua.
Masing-masing dari mereka pun, bersiap-siap untuk pergi ngumpul ke kafe.

Lalu lalang penghuni bumi terus berputar, dengan berbagai alat kecanggihan yang sudah terobsesi oleh mereka semua. Tak milih anak kecil, anak dewasa, orang tua semua sudah terhipnotis dan bisa mengaplikasikannya. Jika zaman Dulu para penghuni bumi ingin mengambil foto dengan kamera flim, atau kamera digital ataupun smartphone, sekarang tidak lagi. Jika dulu mereka ingin melangkahkan kakinya atau sekedar beranjak dengan perantara kaki atau kendaraan, sekarang tidak lagi. Jika anak sekolah dulu belajar menyimak penjelas guru kemudian menulis di atas kertas, sekarang tidak lagi. Dan intinya semua tidak lagi sama seperti zaman dulu, cukup dengan sebuah ucapan dan sebuah alat bantu canggih (mesin) semua bisa dilakukan. Entah saking canggihnya dan cepatnya perbuhan alat di dunia ini, membuat segala aktivitas tampak lebih senang dan gampang dikerjakan.

Sudah tibalah zaman sekarang dengan sebutan zaman fase keempat atau bisa menyebutnya dengan revolusi industri 4.0. Dimana sudah tergambar oleh kehidupan anak bernama Gatan dan teman-temannya saat ini. Mereka semua berkumpul di sebuah kafe. Tampak robot-robot berseragam sama sedang melakukan aktivitasnya. Ya mereka adalah pekerja kafe, tidak lagi dengan namanya pekerja seorang manusia, semua telah tergantikan oleh robot.

Gatan, Farel dan tiga temanya saat ini, sedang duduk santai melingkar disalah satu tempat yang disajikan oleh kafe. Sistem pemesanan tidak lagi dengan menghampiri pelanggan. Dengan layar virtualy di meja makan, Gatan dan temannya memasan makanan dan minuman yang mereka sukai. Kemudian masing-masing dari mereka saling becanda ria, mengobrol sesukanya.

Lantas Gatan dan temannya itu tidak sekolah kah? Sekolah, ya mereka sekolah tapi tidak dengan tatap muka dengan seorang guru, mereka sekolah masih tetap dengan layar virtualy.

Empat menit berlalu datanglah tiga robot mebawa makanan serta minumana yang dipesan oleh Gatan dan yang lain. Sebuah mangkok dan gelas terisi dan kehormatan diberikan kepadanya. Kemudian mereka berlima langsung menerimanya, dan menyantapnya.

Sempat terlintas dalam pikiran anak kecil beranama Gatan itu tentang anak-anak seusianya zaman dulu. Apakah sama dengan yang telah dunia alami saat ini atau tidak? Dan mengira-ngira permainan apa yang dimainkan.

“Oh iya kawan, mungkin kalian tahu permainan anak-anak dulu seperti apa?” Gatan mencoba bertanya tentang pikiran yang sempat terlintas tadi. Farel dan tiga temannya saling bertatap muka dan menggelengkan kepala.
“Kenapa gak tanyakan ke mbah gogle aja Tan.” Saran satu teman Gatan anak bernama Yogi.
“Iya tuh.” Tambahnya Reza dan Kamil bersamaan.

Tanpa pikir panjang Gatanpun langsung memencet layar virtualy miliknya dan mencarinya di aplikasi gogle. Perlahan Gatan mengetik dengan bacaan permainan anak zaman dulu. Pertama mucul sebuah deskripsi plus dengan gambar permainan anak zaman dulu. Empat teman lainnya yang awalnya fokus sama makannan dan minuman, kini mereka juga terbelalak melihat dan membaca deskrisinya.

Diantaranya deskripsi dan gambar yang disajikan dari layar virtualy gatan;
Petak umpet: satu anak menjadi penjaga dengan menutup mata sesuai waktu ditentukan. Dan yang lain mencari tempat bersembunyi …
Gundu atau kelereng: bentuk bola kecil, warna kaca bening. Caranya dengan menyentil gundu dengan mengarahkan gundu milik musuh. Dan jika mengenai maka ia mendapatkan.
Egrang: dua tongkat panjang yang bagian tengahnya diberi pembatas. Caranya dengan naikkan kaki pada pijakan enggrang, kemudian berjalan, jika jatuh diberi hukuman …
Gobak sodor: permaianan dibagi dua kelompok dengan masing-masing kelompok menjaga benteng …
Engklek : permaianan yang dialkuakan perorongan. Menggambar kotak-kotak terlebih dahulu kemudian setap orang memainkannya dengan cara melompati kotak-kotak tersebut secara bergiliran dengan satu kaki …
Layang-layang: sebuah maianan yang dibuat dari irisan bambu serta dengan kertas yang dibentuk apa saja. Caranya dengan menerbangkan ke udara …

Seusai Gatan, dan empat tema lainnya membaca dan melihat ilustrasi gambar tersebut, mereka semua menggangguk. Dilihat dari sektor mimik wajah mereka kegirangan ingin mecoba. Tapi apalah zaman sekarang sudah tidak lagi seperti zaman dulu. Mungkin cara mentradisikan tradisi lama itu susah.

“Coba nonton videonya Tan, kayaknya seru deh” usul Farel kepada Gatan. Gatan pun langsung menggulirkan layarnya dan memencet tombol bacaan video kemudian muncul berbagai video pemainan zaman dulu. Seperti deksripsi di atas. Dengan berurutan Gatan menyetel video paling atas yakni tentang permaiana petak umpet.

Sorotan mata anak kecil kelima ini teralih dengan penuh kefokusan pada video di hadapannya tersebut. Video yang menampilkan lima anak zaman dulu sedang memainkan petak umpet. Tak disangka Gatan dan temannya itu terbayang seakan mereka authornya (lima anak pemain petak umpet). Tampak masing-masing dari wajah mereka tersenyum dan bahagia yang tak terduga.

Seketika itu Gatan menyadari kalau pemainan anak zaman dulu adalah permainan yang sangat mengasyikkan, terbaik dan tidak bisa tergantikkan dari permaianan zaman sekarang. Begitupun dengan teman-teman Gatan ikut sadar tentang hal sebenarnanya.

“Woi … gimana kita mainkan yang aslinya atau kita berlima ini mari mengaktifkan kembali permaiana anak zaman dulu” gatan berusul dengan kesemangatan yang terpancar dalam dirinya.
“Setuju” jawab bersamaan mereka berempat dengan kompak dan wajah yang penuh seri-seri.
Dari persetujuan kelima anak kecil ini, telah menjadikann sebuah tanda menuju bukti untuk mengenallkan permainan zaman dulu yang telah terkuburkan.

Cerpen Karangan: Nur Hasan
Blog / Facebook: SAN EL-QHOYRY

*PAKONG PAMEKASAN MADURA
BIONARASI
Nur Hasan, di panggil Hasan atau Ahsan. Asal kota Jember, tinggal di Pamekasan Madura dengan tanggal lahir 25 April 2004. Sekarang, tengah duduk di bangku kelas 10 IPA 2 Taruna MA Mambaul Ulum Bata-bata.
Anda bisa menyapanya di no/WA 085236281802 FB/IG san el-qhoyry.

Cerpen Mencoba Mentradisikan Tradisi Lama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kertas Putih

Oleh:
Malam ini tubuhku lelah sekali. Mungkin seharian tadi aku melayani banyak pelanggan. Benar kata Aris, bisnis kedai kopi memang masih laris sampai saat ini. Penikmat kopi baik kalangan muda

Shadow

Oleh:
Hari ini, tepatnya pukul 8 pagi, bayanganku tiba-tiba bergerak. Keadaan sekitarku asing, penuh tepuk tangan penonton seraya mengelu-elukan namaku. Dan aku sadar sepenuhnya, aku sedang berada di sebuah arena

Catatan Sejarah

Oleh:
“Alisa… bangun!” Aku tergelak, mencoba membuka mata. Di depanku sudah berdiri guru sejarah. “Dasar!” umpatku dalam hati. Aku tertidur lagi saat jam pelajaran sejarah. Pasti Bu Ayu akan menyuruhku

Pohon Cinta

Oleh:
Pohon tersebut tumbuh besar dalam dua hari, Aku sangat terkejut melihat perkembangannya yang sangat cepat, ia tumbuh di belakang rumahku, Berbentuk seperti pohon cemara. Tiga minggu pun berlalu, pada

Topeng

Oleh:
Pada suatu ketika hidup seorang pria dengan sebuah topeng di tangannya, topeng yang sangat berat buatnya, dengan topeng itu, dia bisa menyembunyikan wajahnya, kemanapun dia pergi dia selalu menggunakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *