Menemukan Lorong Waktu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 17 February 2016

Tadinya Adam hanya ingin pergi ke halaman belakang rumah, tapi pada saat dia baru tujuh langkah dari pintu, ada suatu kejadian aneh, Adam lari ketakutan, ia menemui adik-adiknya dan menceritakan semua kejadian itu. “Hei.. kalian tadi pasti tidak percaya apa yang kakak temukan di halaman belakang rumah tadi..” ujar Adam dengan sangat serius. “Memang apa yang Kakak temukan?” tanya Qeesa sambil membaca buku, tanpa sedikit pun ia menoleh ke hadapan kakaknya itu. Sementara Lingga sibuk dengan gadgetnya.

“Hei, Lingga, kamu percaya kan apa yang barusan Kakak ceritakan tadi?” ucap Adam sang kakak dengan berharap bahwa adik pertamanya si Lingga percaya kepadanya.
“Hmm,” jawab Lingga ia sangat sibuk dengan gadgetnya itu.
“Ya ampun, kalau Kakak kalian sedang bicara, diperhatikan kek jangan dikacangin gini,” pinta Adam dengan sedikit emosi. “Iya Kakakku tersayang,” jawab Lingga dan Qeesa bersamaan.
“Haaahh Kakak masak dulu yah..” ujar kakaknya dengan nada yang lembut.

Adam, Lingga, Dan Qeesa adalah tiga anak yang hidup di rumah mewah megah dan besar, orangtua mereka berada di luar negeri dan sibuk dengan pekerjaannya, sehari-hari yang menyiapkan makanan, yang membangunkan Lingga dan Qeesa ketika sudah pagi adalah sang kakak yaitu Adam. Kakaknya ini sangat menyayangi kedua adiknya tersebut.
“Nih, makanan sudah siap!!” ucap Adam sambil membawa makanan yang sudah ia masak tadi.
“Yeee, akhirnya.. hmm enaknya..” ucap Qeesa dengan sangat senang.
“Ya iyalah kan Kakak yang masak,” Mada dengan bangga memimpin doa sebelum makan.

Setelah selesai makan malam, Adam baru menyadari kalau pintu belakang rumahnya itu belum ditutup, karena Adam merasa takut, ia meminta kedua adiknya itu untuk menemaninya.
“Lingga, Qeesa, eee temenin Kakak tutup pintu belakang ya, Kakak lupa belum tutup pintunya, kan Kakak lari ketakutan tadi,” pinta Adam dengan nada rendah.
“Yaelah.. tutup pintu aja masa nggak berani,” ujar Lingga. Lingga ini orangnya pendiam, pemalu tapi bisa jadi pemberani, tidak suka bergaul, dia lebih suka sendiri.

“Ya udah kalau begitu, kamu aja yang tutup pintunya..” pinta Adam sedikit kesal. Lingga pun menuruti perintah kakaknya tersebut.
“Masa cuma tutup pintu aja takut sih, Kakak.. Kakak..” gumamnya dalam hati sambil berjalan menuju pintu belakang. Seketika suasana berubah, angin berhembus, kilat petir mulai terdengar. Lingga tidak merasa ada yang aneh, menurutnya itu biasa-biasa saja, ia pun dengan santai menutup pintu, kemudian ia mengambil gadgetnya dalam saku celana, terus ia pun selfie.

“Kak, udah Lingga tutup tuh pintunya, nggak ada apa-apa, masa Kakak takut sih,” Lapor Lingga ke kakaknya sedikit meledek. “Kamu tadi nggak menemukan sesuatu yang aneh gitu?” tanya Adam.
Adam adalah seseorang yang ceria, penakut, suka bergaul, dan penyayang, juga orangnya itu penasaran, bertolak belakang dengan Lingga.
“Nggak ada sesuatu yang aneh, biasa-biasa saja, yang aneh itu Kakak..” jawab Lingga semakin meledek kakaknya.
“Bodo ahh..” ucap Adam berjalan menuju kamar.

Kemudian Lingga pun mengunggah foto tadi di belakang rumah pada waktu berjalan menuju kamarnya, Lingga baru menyadari ada sesuatu yang aneh di fotonya itu, seperti ada pusaran hitam dikelilingi semacam listrik, di belakang dirinya itu. Walaupun Lingga sudah menyadari ada suatu keanehan di fotonya itu, namun ia tetap tidak merasa takut sedikit pun, ia berpikiran bahwa itu hanya ilusi optik. Adam yang berada di kamar terkejut, dengan foto yang diunggah oleh Lingga. Adam di kamar juga sedang Online, jadi tahu apa yang diunggah oleh adiknya itu. Kemudian Adam menghampiri Lingga.

“Heehh.. heehh Dik, kamu ngerasa ada yang aneh nggak sama foto yang kamu unggah barusan di Instagram?” tanya Adam dengan mimik muka sangat serius.
“Iya memang ada, seperti pusaran hitam yang sekelilingnya dikelilingi seperti petir atau listrik, iya kan?” ujar Lingga santai. “Nah, pas Kakak di halaman belakang rumah kita tadi dan kenapa Kakak lari ketakutan itu, karena Kakak melihat benda aneh itu yang berputar sangat kencang terus menghilang dengan sekejap begitu saja. Makanya Kakak lari ketakutan.” jelas Adam dengan panjang lebar.

“Hahaha.. Kakak, Kakak, aduh perut Lingga sakit, Kakakku tersayang itu cuma halusinasi Kakak aja atau mungkin itu hanya sebuah ilusi optik. Gitu aja takut, serius banget lagi Kakak nyeritainnnya.. aduh, aduh,” Dengan tertawa terbahak-bahak Lingga meledek kakakknya itu. Qeesa mendengar suara Lingga tertawa, ia pun beranjak dari kamarnya pergi menghampiri Lingga. “Waduh, waduh ada apa nih, kok ada yang ketawa bahagia banget. Memangnya ada apa sih Kak?” tanya Qeesa pada Adam sangat penasaran. Adam tidak menjawab, ia tampak sedang ngambek.

“Ini loh, foto Kakak yang ini kan di belakangnya ada seperti pusaran hitam nah itu yang membuat Kakak Adam lari ketakutan waktu tadi, ingat kan?” ujar Lingga pada Qeesa.
“Oh, iya Qeesa masih ingat, coba Qeesa lihat sebentar fotonya..” pinta Qeesa sambil mengambil gadget Lingga.
Qeesa adalah anak perempuan dari tiga bersaudara dia anak terakhir, Qeesa orangnya itu simple, sok pintar, terus dia itu mempunyai jiwa sosial yang besar.
“Ini kan cuma ilusi optik, hah ya udahlah Qeesa mau tidur dulu. Selamat malam ya Kakak-kakak,” ujarnya berjalan ke kamar. “Kakak juga mau tidur, Lingga kamu belum ngantuk apa, sudah larut malam nih, dah cepat sana tidur.” Adam sang kakak menyuruh Lingga untuk tidur karena sudah larut malam.

ADVERTISEMENT

Setelah pagi tiba, tiga bersaudara itu menjalankan aktivitas seperti biasanya berangkat sekolah, olahraga dan lainnya. Matahari mulai tenggelam menandakan hari sudah sore dan sebentar lagi akan menjadi malam. Adam yang penasaran dengan kejadian aneh itu pun mulai menyelidikinya sendiri namun ia adalah seorang yang penakut, jadi ia berpikir untuk mengajak Lingga dan Qeesa bersama-sama menyelidiki kejadian aneh itu.

“Lingga, Qeesa, sini sini, cepetan, Kakak mau ngomong sesuatu nih buruan!” pinta Adam melambai-lambai kan tangannya dengan suara pelan seperti sedang berbisik.
“Ada apa sih Kak, penting banget ya?” jawab Qeesa dengan mimik muka penasaran juga.
“Paling-paling Kakak takut dengan kejadian waktu itu, iya kan..” ujar Lingga meledek kakaknya itu.
“Haah.. terserahlah, Kakak masih penasaran dengan kejadian aneh hari itu, Kakak mau menyelediki tapi eee… Kkak sedikit takut makanya Kakak minta bantuan kalian, mau kan.. kalau nggak mau berarti kalian sama penakutnya dengan Kakak.” ucapnya seolah-olah seperti detektif.

“Ayo siapa takut, kapan kita mulai?” Timpal Lingga menatap Adam dan Qeesa.
“Kalau Qeesa ya setuju-setuju aja..” Qeesa menunjukan jiwa sosialnya untuk membantu kakaknya itu.
“Baiklah, pertama kita harus bisa memantau di halaman belakang rumah dengan CCTV, selanjutnya jika kita menemukan sesuatu yang aneh, kita bertiga harus siap untuk langsung menuju kejadian aneh tersebut. OK!!” Adam sang kakak memberikan instruksi kepada adik-adiknya bak seorang kapten tentara.

“Baik tidak masalah,” Qeesa dan Lingga pun nampak tidak gugup sedikit pun di raut wajah mereka berdua.
“Kita akan mulai besok saja, dan kalian berdua besok harus sudah siap. Mengerti!” Adam, Lingga, dan Qeesa pun berjalan menuju kamarnya masing-masing. Keesokan harinya. Mentari pagi muncul menghantarkan kehangatan cahayanya, jam sudah menunjukkan pukul 06:17 WIB, sementara itu Lingga dan Qeesa belum bangun. Adam sang kakak tentu saja sudah bangun dan menuju ke kamar Lingga.

“Lingga.. bangun udah pagi..” seru Adam sambil membuka selimut Lingga.
“Hmm.. apaan sih Kak, ini kan hari minggu, haah Lingga mau tidur lagi, dah Kakak pergi sana..” Lingga yang masih ngantuk itu melanjutkan tidurnya. Adam pun pergi ke kamar Qeesa.
“Qeesa.. bangun udah pagi, mau ikut jalan-jalan nggak..” pinta Adam, berharap Qeesa menuruti permintaannya.
“Haah, jalan-jalan ayo Kak cepat ayo, katanya mau jalan-jalan,” tingkah lucu Qeesa seperti anak TK itu membuat sang kakak tertawa.
“Hahaha..” Adam tertawa sumringah.
“Loh ko Kakak ketawa sih?” tanya Qeesa sangat bingung.

“Itu tadi strategi Kakak untuk bangunin kamu, eeh ternyata berhasil,” ucap Adam dengan santai.
“Apaaa, kalau begitu strategi Kakak tidak berhasil, karena Qeesa mau tidur lagi, hus pergi sana!!” Qeesa yang tampak kecewa itu langsung tidur lagi.
“Jangan tidur lagi dong, Kakak janji deh nanti kita jalan-jalan..” ucap Adam dengan nada yang lembut.
“Nah gitu dong.. itu baru Kakakku tersayang.” jawab Qeesa.

Adam menuju kamar Lingga lagi, setelah sampai, Adam terkejut ternyata Lingga sudah bangun.
“Wah, wah, wah, sudah bangun kau rupanya?” tanya Adam pada Lingga.
“Ya iyalah kan Kakak mau jalan-jalan, tadi Lingga dengar pembicaraan kakak sama Qeesa. Hehe,” jawab Lingga.
“Haah dasar..!!” ujar Adam. Adam dan adik-adiknya pun pergi jalan-jalan mengelilingi kota, perlu diketahui mereka jalan-jalannya hanya di sekitar daerah tempat mereka tinggal saja, jadi sudah pasti pulangnya cepet. Setelah pukul 14:27 WIB mereka tiba di rumah. Adam sang kakak baru teringat misinya malam itu.

“Oiya Kakak baru ingat kita kan ada misi, memantau halaman belakang rumah. Iya kan?” tanya Adam pada Lingga dan Qeesa. “Iya iya betul Kak.. tapi rada males,” jawab Lingga dan Qeesa dengan kompaknya.
“Kakak kan sudah ajak kalian jalan-jalan, lagi pula kalian kemarin dah janji, iya kan?” ucap Adam denga bangganya. “Oke.. lah kalau begitu.” jawab Lingga dan Qeesa.

3 jam kemudian. Pengintaian pun dimulai, tiga bersaudara itu berada di kamar Adam, dengan berbagai macam cemilan juga sebuah komputer yang mengarah ke CCTV yang ada di halaman belakang rumah, mereka bertiga memantau dengan sangat serius sambil memakan cemilan.
“Mana nggak ada apa-apa, hahh bosan..” gumam Lingga melihatkan wajah kecewa.
“Sabar dulu dong, pasti bentar lagi itu benda muncul,” jawab Adam dengan gagahnya. Karena sudah hampir satu jam mereka bertiga memantau, mereka pun mulai malas dan malah tiduran, Lingga yang dari tadi sudah bosan tidur lebih dulu kemudian Qeesa dan Adam juga ikut-ikutan.

Karena Lingga tidur lebih dulu maka ia juga bangun lebih dulu, namun ia terkejut ketika ia melihat monitor.
“Kak hei hei.. bangun.. Qeesa bangun, itu bendanya muncul… parah..” teriak Lingga sangat panik.
“Apa.. apa.., mana-mana..” jawab Adam dengan kagetnya.
“Itu Kak..” ujar Lingga. Ternyata benda pusaran spiral itu muncul dan yang lebih mengejutkan lagi benda spiral itu menarik semua apa saja yang ada di sekitarnya.
“Tuh kan, Kakak kan udah bilang, pasti akan muncul, akhirnya..” ucap Adam dengan rasa senang dan tidak menyangka kalau benda itu muncul juga.
“Ko Kakak seneng sih..” tanya Lingga penuh keheranan.
“Udah ayo kita ke halaman belakang, kita ke sana..” jawab Adam dengan menarik tangan Lingga.

Adam yang sifatnya penakut entah mengapa malah jadi sebaliknya, dan si Lingga yang mulanya adalah anak yang tidak penakut malah berubah drastis jadi anak yang penakut. Ketika Adam dan Lingga sudah sampai di halaman belakang mereka kebingungan. “Di mana benda itu, kok hilang sih..” Adam yang sangat penasaran dengan benda tersebut, sekejap langsung murung. “Huuhh…” gumam Lingga dengan leganya sambil mengeusap dada. Qeesa yang ada di kamar terbangun dan melihat monitor CCTV. Ia pun segera menuju ke tempat kedua kakaknya itu.

“Ada apa sih Kak?” tanya Qeesa pada Adam dan Lingga.
Dengan wajah yang murung Adam pergi ke kamarnya berjalan dengan pelan.
“Nggak ada apa-apa kok.” jawab Lingga sambil menepuk pundak Qeesa.
Setelah malam tiba Lingga menceritakan semua apa yang terjadi waktu pengintaian.
“Oh, jadi gitu ya Kak.” ucap Qeesa bernada pelan.

Kemudian Lingga dan Qeesa menuju ke kamar kakaknya, untuk berdiskusi agar kakaknya itu tidak menyerah mengintai benda aneh tersebut. Adam sang kakak pun menyetujuinya dan ketiga bersaudara itu pun akan memantau di kamar masing-masing. Setelah enam bulan berlalu, sekarang tiga bersaudara itu sudah mengetahui kapan benda aneh itu akan muncul dan kenapa benda itu ada di situ. Lingga menjelaskan kapan benda aneh itu akan muncul.

“Benda aneh itu akan muncul pada sore menjelang malam sekitar pukul 17:45 WIB, durasinya paling lama sekitar 3 menit dan paling cepet menghilangnya sekitar 59 detik,” ucap Lingga pada Adam dan Qeesa. “OK.. kerja bagus.” puji Adam pada Lingga. Qeesa menjelaskan kenapa benda aneh itu muncul di halaman belakang rumahnya.
“Pada dasarnya di halaman belakang rumah kita terdapat medan elektromagnetik, dan pada sekitar pukul yang sudah disebutkan kak Lingga tadi adalah waktu atau masa terkuat dari medan elektromagnetik tersebut makanya benda aneh itu terlihat dengan jelas.” jelas Qeesa pada Lingga dan Adam.
“Kerja bagus..” puji Adam pada Qeesa.

“Benda aneh tersebut, bisa dibilang Lorong Waktu, atau bisa disebut sebagai dimensi ruang dan waktu, entah itu mengarah ke masa lampau atau ke masa depan dan juga kemungkinan benda aneh tersebut juga terhubung dengan tempat-tempat yang ada di bumi ini.” jelas Adam pada Lingga dan Qeesa.
“Kerja bagus..” ucap Lingga dan Qeesa secara bersamaan sambil tersenyum.
“Terima kasih banyak atas pujiannya,” ujar Adam dengan gembira.
“Kalau begitu artinya kita bertiga Menemukan Lorong Waktu. Haha.” ucap Adam, Lingga dan Qeesa berbarengan dengan sangat kompak sambil tertawa bahagia. Kini ketiga bersaudara itu menjadi ilmuan terkenal.

Cerpen Karangan: Sidik Hidayat
Facebook: http://facebook.com/sidikgh

Cerpen Menemukan Lorong Waktu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


On Your Side

Oleh:
Jantungku berdegup begitu kencang saat aku melewati sebuah lorong di sekolah baruku. Aku kembali melihat tangan kiriku, di mana sebuah jam tangan hitam melingkar. Jarum pendeknya menunjuk angka 7

Waktu, Aku Dan Dia

Oleh:
Seperti biasa, ketika pandangan kami bertemu, waktu terasa berhenti. Dalam arti sebenarnya. Maksudku, pernah ada hujan deras ketika kami pulang sekolah, dan selagi menunggu hujan reda, kami duduk-duduk di

Kedana dan Kedini

Oleh:
Di sebuah desa yang indah, hiduplah sebuah keluarga. Keluarga itu terdiri dari 3 orang, Ibu, Kedana dan Kedini. Kedana dan Kedini itu anak yang nakal. Pada suatu hari Ibu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *