Menghancurkan Tembok Pemisah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Budaya, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 2 September 2015

Di Indonesia, uang, dan budaya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Tanpa uang, orang tidak dapat mempelajari dan menikmati keagungan budaya. Sebaliknya, tanpa budaya, orang akan sulit menghasilkan uang. Orang tidak berbudaya tidak dapat memperoleh pekerjaan dengan jabatan tinggi. Tidak berbudaya di sini bukan berarti tidak mempunyai sikap yang baik, tetapi memang benar-benar tidak tahu tentang budaya.

Dua minggu yang lalu aku kehilangan pekerjaan. Perusahaan tempatku bekerja telah mengganti semua satpamnya dengan robot-robot penjaga. Aku sudah menduga bahwa suatu hari hal ini akan terjadi, berbeda dengan para atasan yang kepandaian dan pengetahuan akan budayanya tidak dapat digantikan oleh para robot. Keadaan keuangan yang tipis memang sudah biasa bagiku, tetapi tidak dengan perasaan muak akan peran budaya saat ini. Budaya hanya dijadikan tembok pemisah antara orang kaya dan miskin. Orang kaya akan menghasilkan keturunan orang kaya, demikian sebaliknya. Aku ingin membuat perubahan. Setelah siap dengan segala konsekuensi yang akan terjadi, aku dibantu para rekan kerjaku merencanakan sesuatu yang besar, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mencuri budaya!

Keesokan harinya, aku dan Tono pergi ke Salon Rezeki yang ada di seberang GBI (Gedung Budaya Indonesia). Sementara Tono potong rambut, aku melakukan tujuan utama datang ke salon ini, mengamati GBI di seberang jalan. Kaca besar setinggi pria dewasa yang menghiasi dinding depan salon membuatku tidak perlu keluar ruangan untuk menunaikan tugasku.

Bentuk GBI sangat sederhana, hanya berbentuk balok yang memanjang ke atas dengan baluran warna putih, putih mengkilap. Bentuk yang sederhana bukan berarti tidak istimewa. Gedung Budaya Indonesia terbuat dari kaca satu arah, mulai dari pintu, dinding, hingga langit-langit. Aku tahu hal itu hanya dengan sekali lihat, karena di perusahaanku dulu kaca kantor pengawas juga terbuat dari bahan yang sama. Kaca tersebut menyebabkan orang di luar gedung tidak dapat melihat ke dalam, hanya terlihat warna putih yang mengkilap, namun orang di dalam gedung dapat melihat keluar. Di sisi gedung yang menghadap jalan, yang terdapat pintu masuk dan keluar, terdapat dua orang satpam dan sebuah robot penjaga. Sementara sisi-sisi lainnya tidak dapat kulihat dari salon.

Jam menunjukkan pukul satu siang, anak-anak dari SMP Agwiyarso membeludak keluar sekolah. Kepadatan para murid merambat hingga di depan GBI, yang berada tepat di sebelah SMP tersebut. Sepatu mengkilap, memakai seragam keren, jam tangan mahal menghiasi pergelangan tangan, gadget canggih dalam genggaman, benar-benar sangat kontras dengan dengan masa laluku saat seusia mereka. SMP Agwiyarso memang tempat bersekolahnya anak orang kaya dan pejabat. Pelajaran budaya menjadi pelajaran wajib di sekolah ini, tidak seperti di sekolahku dulu, ingin belajar pun dilarang. Maklum, sekolah yang tidak mempunyai SIMB (Surat Izin Mengajar Budaya) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Modern dilarang keras mengajar pelajaran budaya.

“Bim, ada rupiah kah? Aku lupa bawa KTP.” kata Tono. Suaranya yang berat membuatku kembali ke permukaan setelah tenggelam dalam berbagai macam pikiran.
Kuulurkan tangan kiriku, menyerahkan KTP (Kartu Tanda Penduduk) milikku dengan berat hati ke Tono. Aku rasa dia hanya pura-pura tidak bawa KTP agar tidak mengeluarkan rupiah. Tetapi aku hanya memendam pikiran itu dalam hati, toh aku yang menyuruh dia untuk potong rambut.
“Pip!” Sebuah suara yang tidak asing bagiku terdengar, tepat setelah sebuah sinar merah menabrak barcode yang tercetak di KTP-ku.
Suara itu disusul oleh kemunculan foto KTP-ku di layar monitor kasir. Saldo rupiah di KTP yang berkurang tidak membuat semangatku juga berkurang. Dengan mengantongi berbagai informasi, aku dan Tono pergi ke rumah Ino untuk menyusun rencana.

Dua hari setelah pengintaian itu, aku dan Tono memakai baju lusuh sebelum pergi ke GBI. Ino, Rizal dan Kevin makan di Karang Resto yang berada di seberang SMP Agwiyarso. Kami mulai beraksi pada pukul empat sore, ketika para orang kaya tersebut datang ke GBI untuk menghadiri acara kuis rumah adat Indonesia.
“Ton, waktunya beraksi!” kataku dengan penuh semangat, menyembunyikan perasaan takut di hati.

Aku dan Tono berjalan pelan ke arah GBI, sangat berkebalikan dengan jantungku yang berdetak sangat cepat. Kami melumuri wajah kami dengan kotoran, membuat ekspresi wajah seperti orang idiot, dan berjalan sempoyongan. Pokoknya kami buat diri kami semirip mungkin dengan orang gila. Setelah dekat dengan GBI, kami berdua lari menuju tembok di samping pintu masuk. Kami berdua pura-pura penasaran dan melihat melalui tembok kaca apa yang terjadi di dalam. Satpam yang ada di sebelahku terkejut melihat tingkah kami berdua. Dua orang satpam menghampiriku, salah seorang satpam itu mengangkat pemukulnya tinggi-tinggi, lalu mengayunkan ke arah punggungku dengan sekuat tenaga.

“Dasar orang gila, menyusahkan saja! Kalau kalian berani menyentuh gedung ini lagi, maka lain waktu kalian tidak akan selamat.” ujar satpam berkumis sambil terus memukuliku.

Kejadian ini tidak sesuai dengan rencana, aku kira hanya akan dipukul satu dua kali, ternyata malah diberi lebih dari cukup. Melihatku dipukuli tanpa belas kasihan, Tono segera melarikan diri. Dia berlari ke arah timur. Robot penjaga yang menjaga sisi timur GBI ikut mengejar Tono. Tono terus berlari, melewati SMP Agwiyarso, kios es, halte tua, dan terus ke timur, sampai aku tidak dapat melihatnya lagi. Satpam yang memukulku bingung, karena robot-robot penjaga mengejar Tono yang sudah tidak terlihat lagi. Robot-robot tersebut dirancang untuk melakukan tindakan secara otomatis, jadi tidak ada cara untuk menyuruhnya kembali. Dia lalu menyuruh satpam satunya yang dari tadi bengong untuk mengejar mereka menggunakan motor.

Kesempatan yang kutunggu datang, kedua satpam ini panik dan lengah. Kutempelkan dua tabung kecil pada sabuk belakang satpam tersebut. Tabung pertama berisi virus mengantuk, satu tabung kecil dapat membuat orang dalam satu ruangan tertidur. Tabung kedua berisi kabut pembeku, ketika tabung itu dibuka atau pecah, maka zat yang di dalamnya dengan cepat bereaksi dengan udara di sekitarnya untuk menurunkan suhu. Kabut pembeku berguna agar robot tidak dapat melihat kita. Robot penjaga melihat manusia menggunakan detektor wajah dan detektor panas tubuh, dirancang demikian agar dapat membedakan antara manusia dan gambar.

Awalnya, aku berencana untuk membuat satpam tersebut masuk ke dalam GBI setelah menempelkan kedua tabung tersebut. Aku akan membuat alasan bahwa kemarin ada salah seorang temanku yang menyusup masuk. Dan ketika satpam itu masuk untuk memeriksa, Rizal di seberang jalan akan meledakkan kedua tabung kecil yang ada di sabuk satpam tersebut. Namun rencana tinggal rencana, kaburnya Tono membuat semua menjadi kacau.

Tiba-tiba pintu terbuka, seorang pria setengah baya berperut buncit keluar.
“Negara tidak membayar kalian untuk memukuli orang, tangkap dia dan masukkan ke penjara!” pria buncit itu berteriak.
“Ba, baik pak.” jawab satpam berkumis tergagap.

Mendengar kata penjara, aku langsung berlari menuju Karang Resto di seberang jalan. Aku yakin bahwa Ino, Rizal dan Kevin yang dari tadi mengamati kami telah paham bahwa misi ini gagal. Aku harap mereka dapat langsung kabur bersamaku setelah aku sampai di seberang jalan. Namun, sebelum aku menyeberang jalan, terdengar suara Rizal dari arah timur.
“Bima, ikuti aku, sebelum robot penjaga dari sisi lain kemari. Kabut pembeku tidak akan efektif di luar ruangan!”

Orang-orang yang ada di pinggir jalan melihat ke arah kami dengan tatapan heran. Maklum, tidak biasanya ada orang yang bernyali merampok budaya, karena akibatnya adalah hukuman mati.
“Jika kalian ingin budaya Indonesia tersebar ke seluruh kalangan, bantu kami menghadapi satpam itu!” teriak Rizal.

Seketika itu, orang-orang di pinggir jalan berlari ke arah satpam yang mengejar kami. Melihat diserbu banyak orang, satpam itu berhenti di tempat dan mengambil senapan listrik yang tergantung di punggungnya. Sementara kami terus berlari, satpam tersebut masih sibuk mengancam kerumunan massa dengan senapan listrik, hal tersebut membuat jarak kami dengan satpam semakin jauh. Tiba-tiba, satu per satu orang dalam kerumunan ambruk. Awalnya, aku mengira satpam tersebut yang menembaki mereka dengan senapan listrik, tetapi setelah melihat satpam itu sudah ambruk, aku baru tahu apa yang terjadi.

“Tenang saja, kita sudah di luar jangkauan virus tersebut. Ikuti aku!” kata Rizal.

Dia berbelok ke arah SMP Agwiyarso, aku mengikutinya tanpa bicara, walau sebenarnya aku memiliki banyak pertanyaan. Lalu dia memanjat pohon tinggi yang ada di sebelah pagar, merangkak di dahan yang menjulur ke arah sekolah, dan melompat ke atap lantai dua sekolah. Aku terpaku di bawah pohon, masih tidak percaya Rizal dapat melakukan hal seperti itu.
“Cepat kemari!” kata Rizal sambil melambaikan tangannya.
“Buat apa kita kemari? GBI ada di sebelah tahu!”
“Nanti aku jelaskan, jangan-jangan kau tidak dapat memanjat pohon.” ledeknya.

Aku memang agak takut dengan ketinggian, namun aku tidak mau harga diriku jatuh. Dengan memberanikan diri aku memanjat pohon tersebut. Punggungku yang baru saja dipukul habis-habisan terasa sakit sekali, namun aku berusaha untuk mengabaikannya. Pelan tapi pasti, setelah beberapa saat akhirnya aku sampai di dahan tempat Rizal melompat.
“Jangan melihat ke bawah!” teriak Rizal dari atap.

Aku merangkak ke ujung dahan dengan sangat hati-hati. Lalu, dengan bermodal kenekadan dan harga diri yang tinggi, aku melompat ke atap sekolah. Siapa sangka aku dapat mendarat di atap sekolah dengan mulus, aku mengira hanya sebelah tanganku yang berhasil menggapai atap dan Rizal menarik sebelah tanganku itu dengan sekuat tenaga, bagaikan adegan pada film-film aksi zaman dahulu.
Tidak ingin membuang banyak waktu, setibanya aku di atap, Rizal langsung melompat turun ke balkon di lantai dua yang berada di bawah atap. Aku sangat terkejut ketika sampai di balkon, di sana sudah ada Ino dan Kevin yang menunggu.

“Jadi, mau apa kita ke sini?” kataku.
“Sabar, akan kujelaskan,” kata Ino, “ketika Tono kabur ke arah timur, robot yang menjaga GBI di sisi timur ikut mengejar Tono. Saat itulah terpikir olehku untuk menyusup ke sekolah ini yang berada tepat di sebelah timur GBI. Karena tidak ada penjaga di luar, kita dapat masuk tanpa ketahuan. Para murid sudah pulang pada siang hari, jadi kita tinggal membereskan penjaga di dalam sekolah saja.”
“Lalu kau sudah membereskannya? Dan untuk apa kita susah-susah menyusup ke sekolah ini?” kataku semakin bingung.
“Tentu saja kami sudah membereskannya, kalau cuma satpam sekelas mereka sih, satu pukulan saja sudah cukup. Apa kau benar-benar tidak dapat menebak kenapa kita ke sini? Ternyata kamu tidak sepintar yang kupikirkan.”

Kata-kata pedas itu menyerang langsung ke hatiku. Dasar mulut beracun, awas saja kalau rencananya jelek!
“SMP Agwiyarso ini adalah salah satu SMP yang memiliki SIMB (Surat Izin Mengajar Budaya). Maka dari itu…”
“Maka dari itu, sekolah ini pasti mempunyai data tentang materi budaya. Dan kita tinggal mencuri data itu setelah semua petugas berhasil dilumpuhkan. Benar begitu?” aku menyela penjelasannya. Setelah itu aku melirik Ino dengan penuh kemenangan. Ino hanya diam, tapi wajahnya mengatakan bahwa dia dongkol setengah mati.

Setelah berputar-putar mengelilingi sekolah, akhirnya kami dapat menemukan ruang pusat datanya. Jaringan pengaman dengan mudah dilolosi oleh Kevin si dewa komputer.
“Bagian mana yang akan kita curi?” kata Kevin sambil memainkan jarinya di monitor. “Rumah dan baju adat, makanan tradisional, bahasa daerah, etika berperilaku di masyarakat, atau …”
“Semua!!!!” aku, Ino, dan Rizal berteriak serempak.

Dua bulan sudah terlewati sejak kami mencuri budaya, selama itu kami habiskan waktu kami untuk bersembunyi dari kejaran aparat keamanan. Kami dianggap sebagai teroris, karena mengunggah seluruh dokumen materi budaya ke internet. Tetapi aku tidak menyesal, karena sekarang semua warga Indonesia dapat mengerti budayanya sendiri. Sekarang aku mengerti bahwa memberi sesuatu sebaiknya menggunakan tangan kanan, aku dapat mempelajari huruf hanacaraka yang keren, membuat jajan tradisional yang lezat, dan lain-lain, budaya Indonesia sangat menakjubkan!

Aku tidak paham dengan para orang kaya, mereka belajar budaya yang baik namun sikap mereka tidak menunjukkan hal itu sama sekali. Apa ilmu pengetahuan yang tinggi membuat hati mereka menjadi tumpul? Sepertinya mereka hanya belajar budaya untuk mengisi tes tertulis saat melamar pekerjaan atau hanya sekedar lulus pelajaran di sekolah. Menyedihkan sekali.

Dua tahun kemudian, terjadi reformasi di Indonesia. Demo besar-besaran terjadi di mana-mana. Rakyat menuntut adanya persamaan hak dalam memperoleh pengetahuan akan budaya. Walaupun menimbulkan banyak kerusuhan, akhirnya keinginan rakyat dapat terkabul. Presiden berganti, Justin Tri Yahya turun jabatan dan digantikan oleh Tomas Bintaro.

Seiring berjalannya waktu, ditemukan fakta mengejutkan tentang kejadian satu abad yang lalu. Pada saat itu, Indonesia dipimpin oleh presiden Ayu Bagaswati. Indonesia masih miskin dan belum semaju sekarang, belum ada robot-robot berkeliaran, kendaraan bertenaga air, sawah bawah tanah, dan segala kehebatan teknologi yang aku ketahui saat ini. Untuk keluar dari jurang kemiskinan, Indonesia harus mempunyai iptek yang memadai agar dapat bersaing dengan negara-negara lain. Sedangkan untuk meningkatkan iptek, butuh dana yang besar untuk membangun tempat riset, tempat pendidikan dan lain-lain.

Bu Ayu membuat jalan keluar dari kebuntuan tersebut dengan menciptakan Gerakan Membangun Indonesia. Gerakan ini menuntut warga Indonesia untuk tidak menurunkan budayanya kepada keturunannya. Siapa yang melanggar akan mendapat hukuman penjara, tidak peduli dia orang kaya ataupun miskin, pejabat ataupun rakyat biasa. Seluruh budaya Indonesia dijadikan sebuah dokumen yang bernilai jual tinggi. Lalu pihak pemerintah menjual dokumen tersebut kepada orang kaya di luar negeri yang tertarik. Budaya Indonesia yang tidak dapat dilihat lagi di negara asalnya justru membuat banyak pihak menjadi penasaran, banyak turis dari mancanegara datang ke Indonesia untuk melihat keadaannya.

Budaya Indonesia mendadak menjadi pembicaraan di dunia global, dokumen tersebut laris bak kacang goreng meskipun harganya setinggi langit. Banyaknya turis asing yang datang dan penjualan dokumen yang laris membuat devisa Indonesia naik setinggi langit. Awalnya, banyak pihak menentang Gerakan Membangun Indonesia. Namun satu per satu pihak oposisi menjadi bungkam setelah melihat pembangunan-pembangunan dan segala kemajuan yang terjadi sejak GMI (Gerakan Membangun Indonesia) diberlakukan.

Kesejahteraan rakyat Indonesia menjadi meningkat, Indonesia menjadi negara maju yang disegani.
Empat generasi telah berlalu sejak GMI dimulai. Budaya Indonesia tetap menjadi rahasia negara. Tidak ada lagi warga Indonesia yang tahu tentang budayanya sendiri. Rasa haus akan keingintahuan tetang budayanya sendiri membuat para orang kaya membeli dokumen budaya Indonesia dari pasar gelap di luar negeri. Untuk mencegah transaksi gelap semakin menjamur, maka pemerintah membuat kebijakan baru. Sekolah-sekolah bertarif tinggi diberi izin untuk mengajarkan budaya, namun mereka tidak dapat memberikan ilmu tersebut kepada kalangan lain.

Kebijakan itu berjalan tanpa halangan, sampai aku dan teman-temanku mangacaukannya. Budaya Indonesia adalah milik semua warga Indonesia, bukan hanya milik orang kaya semata. Aku rela menjadi buron asalkan tujuanku tercapai. Menghancurkan tembok pemisah!
Merdeka!

Cerpen Karangan: Ekrido
Facebook: ekrido.blogspot.com

Cerpen Menghancurkan Tembok Pemisah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Imprecnable (Part 2)

Oleh:
“Katakan apa yang kau ketahui tentangku?” tanya Asrah. “Sebaiknya kau yang menceritakan semuanya padaku,” “Kau tahu kalau aku bukan manusia?” tanya Asrah lagi. “Dua tahun yang lalu di malam

Tears Of The Phoenix (Part 3)

Oleh:
Buummmm.. Gunung itu meledak memancarkan kepulan asap hitam yang tebal menjulang tinggi ke angkasa. Prilly ikut terlempar ke atas langit lalu terjatuh di antara awan-awan putih di sekitar sana.

The Adventure Princess Sofia

Oleh:
Pada suatu hari, di kerajaan Crystal Palace hiduplah seorang putri bernama Sofia, ibunya bernama Miranda dan ayah nya bernama Vernando. Sofia adalah putri tunggal, Sofia tinggal di castle bersama

Misteri Kamar Rahasia

Oleh:
Namaku Adinda Nasywa Azalea, kalian bisa memanggilku Dinda. Aku punya satu misteri di rumahku yaitu ruangan sebelahku. Aku penasaran, tapi ketika aku bertanya pada bunda, bunda malah menjawab, ‘Tunggu

Pedang Kehidupan

Oleh:
Bocah itu bernama Kochi, hanya Kochi. Banyak orang mengalamatkan pertanyaan prihal nama itu. Kochi membisu. Mana sempat ia bersapa apa lagi bertanya prihal asal-usul namanya, orang tuanya saja ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Menghancurkan Tembok Pemisah”

  1. Muhammad Aldino says:

    wih bagus banget ceritanya,saya baca sekilas aja sampai hanyut terbawa suasana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *