Mentari Terbenam dalam Genggaman Seorang Perempuan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 23 March 2021

Sore itu Pono melihat seorang perempuan bergaun merah di tepi danau, sedang menikmati mentari terbenam di ujungnya. Lelaki kurus itu berpaling untuk membeli kopi instan dan menyulut rokok, lalu memperhatikan kembali si perempuan yang tadi dilihatnya. Sedang enak-enaknya menikmati isapan rokok dan kopi, kemudian ia melihat si perempuan, terjun begitu saja, ke dalam air danau dan tenggelam.

Lelaki kurus itu tidak keheranan, melainkan menunggu dan menunggu di tepi danau, sampai kemudian si perempuan keluar dengan sinar terang dalam genggamannya. Perempuan itu begitu bersinar, Pono masih memperhatikannya, di antara orang-orang lain yang sama sekali tak peduli pada perempuan itu.

“Hei! Hei, kamu! Lihatlah Akhirnya aku dapat meraih mentari terbenam.”

Pono menyapanya, ingin melihat cahaya dalam genggamannya. Cahaya itu begitu menyilaukan mata. Begitu putih bersih. Saat perempuan itu kemudian hendak pamit pergi sambil menggenggam cahaya mentari terbenam, Pono masih sempat menanyakan namanya,

“Panggil saja Pono.” jawab si perempuan sambil berlalu pergi, menyisakan tanda tanya dalam kepala Pono.

Pono begitu tertarik oleh sinar terang matahari terbenam itu. Lalu mencoba lari mengejar, tapi perempuan itu begitu cepat menyeberang, sampai kemudian masuk ke tengah kerumunan orang-orang di sebuah pasar.

Pono terus masuk ke dalam Pasar, melihat semua orang berwajah sama. Begitu kebingungan ia dibuatnya. Mereka memiliki wajah persis dengan wajah perempuan yang tadi dilihatnya. Pakaian, ukuran tubuh, jenis kelamin, usia, barangkali bisa berbeda, namun wajahnya tetap sama. Pono menanyai mereka satu per satu.

“Kamu yang bernama Pono?”

Semua orang yang ditanyainya mengangguk, dan ia makin kebingungan. Ia terus masuk ke dalam pasar dan melihat sosok perempuan itu. Ia mengenali pakaian yang dikenakannya, perempuan itu mengenakan gaun berwarna merah, dan lebih yakin lagi, sebab terdapat cahaya mentari terbenam dalam genggaman tangannya.

“Pono!” Panggil Pono.

Semua orang di sana menoleh ke arah Pono. Memandangi lelaki kurus itu dengan tatapan heran. Sementara perempuan bergaun merah itu terus berlari.

Diikutinya terus si perempuan bergaun merah yang berjalan dengan langkah tergesa. Pono di belakangnya, keduanya melewati trotoar dengan orang-orang yang berjalan berlainan arah, namun lagi-lagi wajah-wajah mereka semua sama. Persis seperti wajah perempuan bergaun merah itu.

Keduanya tiba di kolong jembatan, tempat di mana Pono biasa menghabiskan waktu untuk tidur siang. Di sana, terlihat bertumpuk-tumpuk kardus, triplek, juga berjajar gerobak-gerobak. Terlihat kemudian orang-orang dengan pakaian usang berwajah lelah. Remaja, tua, kanak-kanak, duduk melingkar. Wajah-wajah mereka sama. Persis seperti wajah perempuan bergaun merah itu.

Malam telah datang dengan sempurna, ketika perempuan bergaun merah meletakkan cahaya mentari terbenam di tengah orang-orang yang duduk melingkar. Begitu terang-benderang. Pono juga ikut duduk di sana, mereka memberikan tempat untuknya, dan begitulah, sepanjang malam itu kedua Pono dan orang-orang yang duduk melingkar itu mendengarkan cahaya mentari terbenam bercerita.

Diceritakannya tentang kegelapan yang berusaha menghabisi cahayanya dengan sempurna. Diceritakannya pula kekelaman dengan pasukan kegelapannya yang terus memburunya. Berusaha terus membuat dunia gelap tanpa cahaya. Diceritakannya perihal manusia-manusia yang setiap hari berdoa agar matahari segera musnah saja dari semesta. Diceritakannya apa saja yang telah dilakukannya selama ini, diceritakannya pancaran cahayanya lah yang menghalau segala kegelapan, dan diceritakannya pula tentang orang-orang yang masih percaya bahwa sang mentari takkan membiarkan malam kelam menguasai jagad raya.

Cahaya mentari terbenam masih saja terus bercerita, sementara orang-orang telah terlelap. Terbuai dalam mimpi, padahal cahaya mentari terbenam belumlah selesai menceritakan kisah panjangnya.

Pono melihat perempuan yang mengaku bernama Pono itu mendekat pada sang cahaya mentari terbenam. Ia membisikkan sesuatu,

“Fajar harus datang lagi.”

Cahaya mentari terbenam merajuk, mencoba mengobarkan letupan-letupan api, ia merajuk karena ia belumlah selesai bercerita. Masih banyak cerita yang ingin diceritakannya, namun perempuan yang mengaku bernama Pono itu terus merayunya,

“Nanti, di ujung sore, kujemput kau kembali, lepas itu, kau bisa melanjutkan ceritamu.”

Sang cahaya mentari terbenam akhirnya luluh juga. Digenggamnya kembali, oleh si perempuan, yang kemudian melemparkannya kembali ke ufuk Timur.

“Sebentar lagi fajar datang. Sekarang kita juga harus mencoba memejamkan mata.” Ucap Pono pada Pono.

Cerpen Karangan: Nafrisme
Blog: nafrisme.wordpress.com
Lahir di Jakarta, penulis aktif juga menulis di blog dan laman kompasiana, sampai saat ini masih berusaha menyelesaikan program studi Sastra Indonesia di Universitas Pamulang

Cerpen Mentari Terbenam dalam Genggaman Seorang Perempuan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Tidak Buta Tak Juga Tuli Ataupun Bisu

Oleh:
Bumi adalah tempatku dilahirkan. Bumi pulalah tempatku berpijak sehingga aku dapat berdiri dan melangkahkan kaki untuk menjalani setiap detik waktuku. Selama hidupku, aku tak pernah mengenal kata ‘persahabatan’. Tak

Game Mengantarkan Cinta

Oleh:
Saat siang hari aku ingin pergi ke toko game untuk membeli game yang baru rilis, sesampainya di toko game tersebut aku mencari cari game yang seru, aku menemukan satu

The Constellation Stories: Target (Aquarius)

Oleh:
Mengurus sebuah pelabuhan bukanlah hal yang mudah. Keluargaku mendirikan perusahaan ekspor-impor dan aku adalah CEO perusahaan tersebut menggantikan ayahku. Selama beberapa tahun terakhir, aku masuk ke daftar orang buron.

Tarian Bella Si Peri

Oleh:
“Bentar lagi ujian ballet nari nih”, kata teman-teman Bella. Bella cemberut. Ya, sebentar lagi sekolah ballet peri, akan mengadakan ujian. Pada ujian itu, akan dipilih murid yang berbakat untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *