Mesin Penghisap Pak Connor

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 21 July 2017

Pak Connor adalah walikota Bennijarre. Tak banyak yang tahu bahwa ia adalah seorang penemu yang… agak hebat! Dia mempunyai beribu ide, tapi sayang, satu idenya pun tak pernah terwujud. Pak Connor pun memiliki ruang khusus untuk menciptakan temuannya.

Sebentar lagi musim semi. Bunga-bunga mulai bermekaran. Semua peri menunggu-nunggu mekarnya bunga, apalagi bunga Claudyamonth, yaitu bunga tercantik dan terharum di seluruh penjuru Bennijarre. Hampir seluruh makanan tersempurnakan dengan nektar bunga Claudyamonth yang manis.

Pak Connor sangat antusias dengan mekarnya bunga kebanggaan Bennijarre itu. Maka dari itu, ia memanaskan otaknya dan mencari ide untuk membantu mengumpulkan nektar dari bunga Claudyamonth yang nektarnya cukup banyak.

“Kira-kira alat apa, ya? Aku harus membuat yang bagaimana?” Tanya Pak Connor yang sedari tadi mondar-mandir memainkan janggutnya.
Tiba-tiba, pintu kamarnya berbunyi. Tok… Tok… !!! Ia berjalan menuju pintu kamar dan…
“Wah, pai berry Amberblaze! Terima kasih, ya. Kebetulan, aku sangat lapar,” Ucap Pak Connor begitu membuka pintu dan melihat Itzel membawa keranjang pai
“Selamat siang, Pak Connor! Sama-sama. Apakah aku mengganggu waktumu?” Tanya Itzel ramah.
“Tidak, tidak! Kau datang di waktu yang tepat! Silahkan masuk. Kebetulan aku perlu bantuanmu!” Sambut Pak Connor.
“Terima kasih. Tapi, bantuan apa, ya?” tanya Itzel.

“Begini, aku butuh pendapatmu. Hanya kau rakyatku yang tahu aku sangat bermimpi untuk bisa menjadi penemu, bukan?” Kata Pak Connor memandang kertas kosong di atas meja kerjanya.
“Oh, tentu saja. Aku tahu kau sangat memimpikannya, Pak Connor. Jadi, apa masalahmu?” Tanya Itzel.
“Ehm… Aku ingin menunjukkan temuan pertamaku kepada seluruh penghuni Bennijarre. Jadi, aku ingin minta pendapatmu. Harusnya, aku bikin yang bagaimana agar bisa membantu mengambil nektar di bunga Claudyamonth? Kau tahu, kan, nektar bunga itu banyak, jadi… Daripada menyusahkan, lebih baik aku permudah. Tapi jangan sampai yang kali ini gagal!” Kata Pak Connor. Kumis tebalnya bergerak-gerak.
“Niatmu itu sangat baik, Pak Connor. Jika aku menjadi dirimu, aku akan membuat mesin penghisap. Sama seperti hidung lebah atau kupu-kupu yang menghisap nektar. Mungkin kau bisa mendapat inspirasi dari hidung mereka. Hanya itu, sih. Aku tak bisa menjelaskan lebih detail lagi,” kata Itzel.
“Oh, kau benar! Jenius! Terima kasih! Aku sudah melihat bagaimana alat ciptaanku nantinya di angan-anganku. Mungkin aku harus menangkap kupu-kupu agar tak keliru,” kata Pak Connor bertepuk tangan kepada Itzel. Ia mengucapkan selamat tinggal, dan segera menyerbu meja kerjanya.

Dia pun memulai menggambar sketsa mesin. Alat sedot, badan alat, dan tombol-tombol ribet tersusun tak karuan.
“Oh, bukan! Bukan ini yang kuinginkan!” Kata Pak Connor mundur agak jauh untuk melihat hasil rancangannya. Dia meremak kertas rancangan pertamanya itu dan membuangnya. Gagal yang pertama!
Dua jam kemudian, gagal yang kedua! Pak Connor mulai kesal. Dia menyerah. Mungkin besok akan dilanjutkannya lagi. Ia pun merebahkan badannya di kursi goyang. Tak lupa ia melahap pai pemberian Itzel yang tentunya tak lagi gosong. Tak butuh waktu lama, Pak Connor sudah terlelap dengan selai berry Amberblaze di sekitar… Kumisnya! Terlihat sangat lucu!

Esoknya, Pak Connor terbangun dengan cahaya silau di matanya. Ia membuka matanya pelan. Rupanya istrinya, Nyonya Elle, membuka tirai gorden yang menjulang tinggi di kamar kerja Pak Connor.
“Ouh! Sudah pagi? Aku harus melanjutkan tugasku! Besok adalah hari besarnya!” Kata pak Connor langsung berdiri.
“Sayang, kau sudah bangun! Aku sempat melihat proyek temuanmu itu. Bagus sekali! Semoga kau berhasil! Aku selalu mendukungmu,” kata Nyonya Elle. Mereka selalu saling menyemangati. Ouh, pasangan yang serasi!

Pagi sampai siang, Pak Connor terus mengasah otak tuanya. Ia merancang alatnya sampai tercipta dengan sempurna. Sampai sore itu sekitar pukul tiga, Pak Connor bernapas lega. Ia mundur beberapa langkah melihat rancangan alatnya dann… Yap! sempurna!
“Aku suka ini! Itzel harus melihatnya! Daann…” Belumlah melanjutkan ucapannya, pintu berbunyi lagi. Tok… Tok… !!!
“Itzel? Oh, terima kasih untukmu! Aku sudah merancang alatnya. Lihatlah! Lihatlah!” Kata Pak Connor menarik tangan Itzel.
“Oohh-ooohh… Pak Connor! Pa-pak Connor! Dengarkan aku!” Kata Itzel.
“… Dan coba kau lihat mesin penghisapnya! Iii…” Pak Connor terdiam.
“Semua biji pinus berjatuhan bukan pada waktunya. Sekarang, beribu bahkan berjuta biji pinus bertebaran ke mana-mana. Bahkan hampir menggelinding ke padang bunga,” kata Itzel terengah-engah.
“A-apa?!! Padang bunga? Tempat kesukaanku! Bagaimana bisa sampai berjatuhan begitu?!” Tanya pak Connor berkacak pinggang.
“Ehmm… Angin kencang mengacaukan semuanya. Datangnya dari arah timur,” adu Itzel.
“Ooh, bagaimana bisa begitu? Ayo, cepatlah, kita ke sana!” Kata Pak Connor bergegas.

Sesampainya di sana, semuanya benar-benar kacau. Ya, Itzel benar. Biji pinus bertebaran ke mana-mana. Bahkan, keranjang untuk memetik bunga pun, penuh dengan biji pinus.
Pak Connor harus menepi ke jalanan berbatu yang tidak terlalu dipenuhi biji pinus.
“Kalau sudah begini, kita harus bagaimana lagi?” Kata Itzel pasrah.
“Entahlah, yang pasti, kita tidak bisa merayakan musim semi,” kata Pak Connor ikut pasrah. Wajah semua peri kelihatan terkejut. Selama seratus dua puluh lima tahun kota Bennijarre berdiri, tidak pernah perayaan musim semi dibatalkan.
“Apa? Mana mungkin. Musim semi adalah musim terpenting di Bennijarre. Kita tak mungkin membatalkannya,” Bantah Itzel. “Pasti ada cara lain untuk mengumpulkan biji pinus ini dengan cepat!” Kata Itzel.
“Ya, beribu cara. Tapi kita tak tahu satu pun dari beribu cara itu,” kata Pak Connor.

Kemudian istrinya Pak Connor, Nyonya Elle datang dengan kebingungan.
“Ada apa ini? Kenapa biji pinus ini rontok semua?” Kata Nyony Elle heran.
“Ceritanya panjang. Intinya, kita tak bisa merayakan musim semi, sayang,” kata Pak Connor kepada Nyonya Elle.
“Ba–bagaimana bisa? Oo-oh tidak! Kita tak lakukan itu! Nektar Claudyamonth itu harus diserap. Nektar bunga itu segalanya buat kita!” Kata Nyonya Elle menggeleng.
“Aku akan cari cara untuk bisa merayakan musim semi,” kata Pak Connor. “Ngomong-ngomong untuk apa kau ke sini, sayang?” Kata Pak Connor.
“Oh, aku sampai lupa tujuanku. Kertas rancanganmu basah karena air, sayang. Aku harus memberitahumu,” kata Nyonya Elle.
“Ahh! Kau memberiku ide, Nyonya Elle! Mungkin alat penghisap nektar Pak Connor bisa membantu kita!” Kata Itzel. Semua peri yang hadir di kebun pohon pinus, memiringkan kepala.
“Bagaimana bisa alatku itu membantu biji pinus yang berjebun-jebun ini?” Kata Pak Connor.
“Alat itu kan bekerja dengan cara menghisap. Mungkin bisa membantu menghisap biji pinus yang bertebaran ini?” Kata Itzel.
“Mungkin… Tapi aku belum membuat alat itu,” kata Pak Connor. Semua peri tercengang. Apa yang mereka bicarakan?
“Tenanglah. Kalian akan tahu nanti,” kata Itzel sambil mengepakkan sayapnya. Ia, Pak Connor, dan Nyonya Elle terbang ke istana.

Sesampainya di sana, mereka bertiga langsung berjalan menuju ruang kerja Pak Connor. Benar saja, mejanya dan kertas rancangan Pak connor, ikut basah kuyup.
“Bagaimana ini? oh, sudahlah Itzel. Musim semi tak akan datang di Bennijarre,” keluh Pak Connor.
“Jangan menyerah dulu, Pak Connor. Aku bisa membantu mengeringkan kertasmu jika itu perlu. Tapi Sekarang, yang kita butuhkan bukanlah kertas itu, Tapi imajinasi kita!” Kata Itzel penuh wibawa.
“Apa maksudmu, Itzel? Kita tak bisa membuat alat itu jika tak ada kertas rancangan yang sudah kugambar,” kata Pak Connor. Itzel menggeleng.
“Musim semi besok, Pak Connor. Kita tak punya waktu untuk mengeringkan kertas itu,” kata Itzel. “jadi maksudku, kau buat saja rancangannya. Tak perlu kertas itu! kumpulkan saja bahan-bahannya!” Kata Itzel.
“Baik, aku mengerti! Tapi aku tak yakin alatku yang kali ini bisa sukses. Kurasa akan… Gagal lagi!” Kata Pak Connor.
“Jangan pikirkan alatmu yang dulu, Pak Connor. Aku yakin kali ini kau bisa!” Ujar Itzel menyemangati.
Pak Connor yang bijaksana, ingin menjadi bijaksana yang sesungguhnya. Ia ingin membantu musim semi datang bukan dengan cara berharap, tapi dengan bekerja.
Mendengar Itzel menyemangatinya, Pak Connor kembali semangat dan yakin bahwa ia bisa.

Pak Connor pun pergi ke tempat alat-alat berat di mana segala kebutuhan temuannya terdapat di situ. Ada kulit kayu jati yang tak terpakai, akar menjalar tanaman kentang yang seperti pipa, dan bahan tak terpakai lainnya yang sangat berguna bagi Pak Connor.
Ia mengambil beberapa dan segera merakit alatnya.

Dua jam berlalu, Pak Connor tak percaya ia berhasil kali ini. Alatnya bekerja dengan sempurna. Pak Connor mencoba untuk menghisap lembaran kertas menggunakan alat yang ia namakan ‘Alat Penghisap Benda’ itu, dan sllrrpp!! Terhisap!
Dia tak sabar untuk melihat wajah Itzel dan istri tersayangnya terpukau.

“Itzel! Sayang! Lihat ini! Itzel benar, aku tak perlu kertas basah itu. Sekarang ayo kita ke hutan pohon pinus!” Kata Pak Connor. Wajah Itzel berseri. Ia tahu walikota yang ia pilih dua tahun lalu, tak salah.
Ketika sampai di hutan pinus, para peri sedang mengumpulkan biji pinus yang jatuh dengan keranjang mereka. Tapi, begitu Pak connor datang, mereka sangat senang. Mereka bisa memakai alat temuan Pak Connor dengan mudah tanpa harus membungkuk memungut satu persatu biji pinus.
“Aku tahu kau bisa, sayang! Aku bangga padamu,” kata Nyonya Elle bertepuk tangan untuk Pak connor.
Pak connor tak yakin alat yang ia ciptakan kali ini sedang dipakai oleh rakyatnya. Ternyata cita-cita lamanya bisa tercapai juga.

Esoknya, yaa-pasti sudah bisa ditebak. Musim semi berlalu dengan sangat indah. Nektar bunga Claudyamonth ternyata tak bisa diserap dengan alat Pak Connor! Jadi terpaksa peri kebun seperti Itzel harus mengambilnya dengan bantuan para lebah dan kupu-kupu. Tapi, untungnya alat itu masih bisa berguna untuk satu hal yang lebih penting.

tamat

Cerpen Karangan: Livia Rossayyasy
IG: @liviarssy

Cerpen Mesin Penghisap Pak Connor merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Evanity

Oleh:
Saya selalu bercita-cita sebagai pemimpin, dalam segala hal. Tapi sering kali saya menyadari, bahwa saya tidak bisa dikatakan pantas untuk hal itu. Oleh karena itu, saya punya banyak cita-cita

Permen Uang Rasa Coklat

Oleh:
Mea dan ama sangat kesal siang itu, mereka tak bawa uang, ditambah lagi mereka sangat lapar karena tadi olahraga. “gimana nih, ma?” tanya mea pada ama. “mana aku tahu..

Arisan Permen Maika

Oleh:
Maika tersenyum, sambil tersipu malu ia menganggukan kepala ketika Bunda mengajak untuk menemaninya pergi kerumah Tante Diana. Sore itu Tante Diana mengadakan acara Arisan di rumahnya. Sesampai disana, Maika

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *