Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 17 June 2017

Hari itu, aku lihat.
Darah, api, orang mati.
“Sayap kiri diserang. Ganti.”
“Bzzt.. Bzzt”
“Tolong! Tolong!”
“Aaaarghh. Ayo kawan. Bangun!”
Gelap. Pandanganku gelap.

“Apa yang terjadi? Bau apa ini? Di mana yang lain?” Aku menemukan tubuhku terbangun di ruangan penuh kaca
“Tolong tenang, Anda berada di ruang steril.” Ucap pria berjubah putih dengan masker napas dan sarung tangan seakan jijik kepadaku.
“Aw!” Tanganku dimasukkan benda berujung tajam dan tipis. Terasa cairan yang bersatu dengan darahku. Gelap. Pandanganku gelap.

Aku membuka mataku. Matahari sudah berada di langit Kryptodia dan angin terus membelai halus pipiku. Ah, aku mimpi aneh lagi. Namaku Fan. Udah gitu aja. Gak ada kepanjangannya. Entah karena kedua orangtuaku malas atau karena mereka memang tidak peduli. Oh iya, kedua orangtuaku bercerai dan sekarang aku dirawat oleh tante Diana yang ke sini hanya 3 kali sebulan untuk mengecek keadaanku. Mereka bahkan tidak memperebutkan hak asuhku.

“Ting!” Heningnya pagi dihancurkan oleh suara pesan yang masuk ke tablet segi enamku.
“Selamat pagi! Kamu pasti sedang bermimpi aneh itu lagi kan? Jangan telat ke sekolah!”. Siapa ini? Dari nomor 56755? Apa mungkin Rei? Oh dia ganti nomor lagi.
“Sekolah ya? Jam berapa sekarang?” Tanyaku sambil melihat ke arah jam dinding.
“Hah! Jam 7?” Aku langsung bergegas mandi dan segera ke sekolah.

“Kamu telat lagi Fanny!.” Ejek Rei.
“Namaku Fan! Jangan diganti-ganti!” Balasku sambil membenarkan posisi duduk.
“Mimpi aneh lagi?”
“Iya, tapi kali ini lebih panjang. Aku melihat diriku tergeletak di ruang kaca. Setelah itu aku dibius dan bangun.”
“Lain kali kamu tulis ceritanya dan jadikan novel atau cerpen, Fanny!” Ucap Rei sambil tertawa.
Rei masih saja bercanda di saat serius. Tak lama guru datang dan kelas dimulai.

Sekolah berakhir. Aku ikut klub dan nama klubnya adalah klub langsung pulang ke rumah hahaha. Sampai di rumah langsung kulempar tasku. Tanpa mengganti seragam, aku langsung tidur karena tak sabar menunggu kelanjutan ceritaku.
Tapi yang terjadi malah aku tidak mimpi apa apa!. “Ting!” Muncul suara dari tabletku yang ditempeli pesan bertuliskan “Kenapa diam saja? Ada yang harus kamu lakukan. Bangunlah!”
Hah! Aku kaget dan langsung sadar. Tadi adalah mimpi! Aku langsung melihat tablet dan tidak ada pesan masuk di sana. “Benar-benar mimpi yang aneh” Gumamku.
Tak lama tabletku berbunyi lagi. Ada pesan masuk dari nomor yang tak kukenal. “Kunjungi taman kota di kryptodia. Ada sesuatu penting di sana!”.
“56755? Rei?”

Karena pesan tadi, dengan bodoh aku datang ke taman kota satu-satunya di kryptodia. Ramai sekali. Pohon-pohon virtual, anak-anak bermain dengan sepatu jetnya, dan ada orang-orang yang duduk di kursi terbang. Rei adalah salah satunya. Benar, ternyata pesan itu dari Rei. Niat untuk menghampiri Rei pun terhenti ketika melihat dia memegang benda terang berwarna biru. Kristal?. Karena penasaran, aku hampiri dia.
“Hai Rei!” Sapaku sambil menghampirinya.
“Hai Fan. Sedang apa?” Dia menyebut namaku dengan benar dan memasukkan batu itu ke kotak inventarisnya.
“Kamu yang menyuruhku datang ke sini kan?” Balas ku sambil duduk di sebelahnya.
“Eh? Aku tidak menyuruh kamu Fan. Tapi gak apa deh dari pada sendirian.”
Lalu kalau bukan dari Rei, pesan itu dari siapa? Jangan-jangan aku diteror. Aku langsung melihat kiri dan kanan.
“Ada apa Fan?” Ucap Rei
“Gak apa-apa Rei.”
“Fan. Kamu pernah punya sesuatu berharga tapi yang dianggap berharga itu justru merugikan orang lain?”
“Eh? Maksudnya?” jawabku sambil menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal.
“Gak jadi. Gak usah dihiraukan. Aku benci kota ini.”
“K..kenapa?” Tanyaku bingung.
“Pemerintah yang serakah, tidak adil.”
“Benar juga ya.”
“Aku pergi dulu. Ada yang harus dilakukan. Sampai bertemu besok di sekolah Fanny!”
Rei berjalan menjauh menghilang di batas garis horizon pandanganku. Benar yang dikatakan Rei. Pemerintah yang serakah. Oh iya, benda yang dimaksud Rei itu apa ya? Dan kristal itu untuk apa? Ah, sudah mau gelap. Harus cepat pulang.

Sampai di rumah aku langsung mengganti baju, mengerjakan PR, makan, minum susu coklat, seakan ingin menjalani malam yang panjang. Mengerjakan PR saja sudah habis 2 jam. Malam ini sepertinya malam yang panjang karena PR. Sekitar jam 10 aku tidur dan berharap akan melanjutkan mimpi kemarin malam.

Aku terbangun di ruangan kaca yang sama seperti kemarin malam. Tepat di sebelah tangan, ada tablet segilimaku yang tiba-tiba berbunyi dan sudah tertempeli pesan dari nomor aneh itu lagi. 56755.
“Masukkan kode seperti nomor ini! Tepat di pojok kanan ruangan. CCTV sudah mati. Cepat! Sebelum sistem pulih!.”
Aku langsung berjalan ke pojok kanan ruangan dan memasukkan kode 56755. Pintu bergeser dan terbuka. Ting!. Muncul pesan dari tabletku.
“Ikuti saja jalannya. Aku tunggu di depan gerbang.” Akhirnya aku jalan melewati koridor besi dengan alas yang empuk. Lampu merah tanda darurat menerangi jalan, membantu memandu ke pintu keluar.

Sampai di pintu keluar aku berlari ke arah gerbang super besar. Ternyata sudah malam. Di sana berdiri pria berumur kira kira 30 tahun dengan pakaian serba hitam. Mungkin merasa kuperhatikan, dia melihat balik. Dengan cepat ia langsung menarik tanganku dan berlari jauh dari tempat itu.
“Tu.. tunggu ada apa sebenarnya?” Kataku sambil dibawa lari oleh pria itu.
Setelah lama berlari, akhirnya pria itu berhenti dan melepas tangannya dari tanganku. Ia menatap kiri dan kanan dan meletakkan jari di ujung bibirnya. Ia berhenti di tengah hutan.
“Dengar, aku akan menyelamatkanmu. Tolong percayalah, aku akan membawamu ke tempat yang aman.” Ucapnya dengan nafas terengah.
“Baiklah, tapi sampai di sana jelaskan semuanya!” Balasku dengan tatapan kesal. Kenapa mimpi ini ribet sekali sih?.

Ia memasukkanku ke dalam mobil van hitamnya. Tak sepatah kata pun terucap dari mulut kami. Hening. Akhirnya, kami sampai di depan rumah kecil berwarna coklat. Kami turun dan masuk ke dalam rumah itu. Tak seperti yang kubayangkan. Suara buih cairan kimia memenuhi telinga, monitor-monitor hologram, semuanya mengalihkan pandangan dari maksudku datang ke sini.
“Masuk sini” Pria itu sudah ada di depan pintu yang sebelumnya tidak ada di situ.
“Jangan macam-macam ya!” Kataku sambil berjalan ke arah pintu itu.
“Bukan waktunya bercanda.” Ia menutup pintu tadi dan kami masuk ke dalam tempat yang sepertinya ruang kerjanya.

“Apa ini?” Mataku beralih pandang ke monitor besar di depan yang menunjukkan rekaman tempat yang tadi aku lewati, di dalam mobil van, sampai di ruangan ini. Untuk apa dia memasang CCTV di ruangan ini?.
“Diam, duduk di sana, biar kuceritakan.” Dia menyuguhkan secangkir teh. Aku ambil dan duduk di kursi di depannya.
“Huh..” Dia menghembuskan nafas berat.
“Kryptodia hancur. Orang mati di mana-mana. Ini semua karena ada pemberontak kerajaan dan pemberontak ini membawa sebuah benda berbentuk Kristal yang di dalamnya terdapat bahan peledak yang sampai sekarang belum ada yang bisa menjinakkan. Tapi sayang, pemberontak itu belum lama mati membusuk di penjara. Ini fotonya, dan kristalnya.” Dia menunjukkan foto si pemberontak itu.
“Tunggu sebentar, kok kaya kenal ya?” Aku berfikir sejenak mengingat wajah ini.
“Tidak, tidak mungkin.” Kataku setelah mengingat tentang wajah ini.
“Aku tau kamu kenal, justru karena itu aku mengajakmu ke sini.”
“Reiza Grisky? Tidak mungkin. Dia sahabat SMA saya. Dia orang baik-baik.”
“Tapi terakhir saya liat dia bawa benda warna biru Kristal ini.” Lanjutku.
“Karena memang dia orangnya.”
Hah? Rei buronan? Hahaha lagi pula ini cuma mimpi.
“Ini bukan mimpi. Aku yang membawamu kemari, dan kamu harus mencari tau bagaimana cara mengatasi Kristal peledak itu.” Katanya dengan tatapan tajam sambil memegang pudakku.
“A.. apa!? Bukan mimpi? Hahaha anda lucu sekali.” Aku tidak percaya.
“Aku akan mengantarkanmu kembali ke duniamu.” Ia tidak menghiraukan kata-kataku.
“Cari tau tentang Kristal peledak itu. Cepat berbaring di sana.” Dia menunjuk ke tabung besar dengan panjang 2 meter.
“Makan pil ini. Kamu harus rileks, aku akan menempelkan ini agar kamu gampang kembali lagi ke sini. Semacam pengatur mimpi.” Pria itu menempelkan alat berbentuk bulat pipih di kepalaku dan membuka tabung besar tadi.
“Sekarang, berbaringlah. Waktu kita tidak lama.” Aku melihatnya berbicara dengan wajah khawatir. Pintu tabung tertutup. Gelap. Pandanganku gelap.

Aku membuka mata dan terbangun di alas empuk ini, bukan di ruang kaca, atau di tabung. Terbaring juga tabletku di atas kasur. Ting!. Pesan masuk ke tabletku dengan nomor 66765. Datang ke kafe dekat sekolah. Siapa ini? Kemarin 56755, sekarang 66755.

Akhirnya sampai juga di kafe terdekat dengan sekolah. Kafe Tokio. Oke, saatnya masuk ke dalam dan mencari tau siapa pengirim pesan tadi. Di dekat pintu masuk ada meja untuk 2 orang tapi hanya terisi oleh 1 orang. Terisi oleh Rei. Kenapa ada dia? Kemarin dia bilang bukan dia yang mengirim pesan. Tapi kalo dipikir-pikir ini kesempatan bagus buat nanya tentang kristal itu.

“Rei, kok di sini?” Tanyaku langsung duduk di depan Rei.
“Hai, kita ketemu lagi Fani!” Sapa dia tanpa menghiraukan pertanyaanku.
“Pesenin minuman dong hehe” Ucapku mencairkan suasana.
“Oke, tapi bayar sendiri yaa”
“Gimana kalo aku yang pesen sendiri tapi kamu yang bayar?”
“Boleh, aku bayarnya pake duit kamu ya?” Balasnya dengan wajah meledek.
“Ish. Aku lagi sedih tau!” Maaf Rei, aku bohong.
“Sedih? Kenapa? Cerita aja.”
“Tadi, orangtuaku datang, bukannya nyenengin anaknya, mereka malah berantem masalah pekerjaan. Kayanya uang lebih berharga daripada anak mereka.” Sekali lagi, maaf Rei aku harus bohong.
“Aku ngerti rasanya lebih memilih suatu barang dari pada orang yang kita sayangi.”
“Maksud kamu Rei?”
“Ah, tidak jadi”
“Jangan gitu Rei, aku tau yang kamu maksud Kristal itu kan? Aku liat pas di taman kota. Kalo ada masalah cerita aja Rei, kita sahabat loh.”
“Hah!? Kamu tau? Aduh, gimana ini. Ya udah deh tapi ini khusus kamu dan aku ya. Jangan cerita-cerita!” Dia menyodorkan jari kelingkingnya dan aku balas yang berarti kami sudah berjanji.

“Kristal itu sebenernya buatan aku, dan kakakku saat kami kecil. Umur kami beda 3 tahun.” Dia berhenti sejenak. Aku tak tau Rei punya kakak.
“Sebelum kami menyelesaikannya, kakakku membuat kalung kecil dengan Kristal itu. Tapi aku marah ketika tau kalo kami kekurangan Kristal. Semenjak itu kami tidak pernah melanjutkan pembuatan kristalnya lagi. Kakakku pergi untuk bekerja di pemerintahan Kryptodia di bidang keamanan. Padahal dia lebih cocok jadi seorang peretas situs pemerintah, dari pada menjadi bagian di dalamnya. Sampai sekarang kami tidak pernah bertemu. Sudah 5 tahun.” Cerita Rei panjang lebar.
“Dia, seorang peretas?” Tanyaku bingung.
“Iya, sejak kecil ia sudah meretas beberapa situs pemerintah. Diam-diam saja ya.”
“Tunggu, nama kakakmu siapa?”
“Dean Grisky.” Rei berhenti berbicara.
“Ada satu hal yang belum kuberi tau kepada kamu. Dia pernah menyukai perempuan yang sama denganku. Itu juga yang menjadi alasan kami saling bertengkar.” Wajahnya memerah.
“Wah beruntung sekali perempuan itu! Di rebutkan 2 laki-laki.”
“Kamu tau siapa dia? Dia sedang duduk di depanku sekarang.” Dia memalingkan pandangannya keluar.
“Umm… Rei, aku ada urusan penting, aku harus pulang. Bye Rei, kamu bayar dulu ya, besok aku ganti di sekolah.” Kataku dengan wajah yang mungkin sudah memerah.

Aku berlari menjauh meninggalkan kafe dan Rei. Aku benar-benar malu. Kenapa dia harus mengungkapkannya sekarang sih?. Aku harus kembali ke mimpi untuk menjelaskan semuanya kepada pria itu. Ngomong-ngomong, aku belum sempat tau nama pria itu. Baiklah, sekalian saja aku tanya nanti.

Pintu tabung terbuka, aku sudah ada di dalam mimpiku lagi. Pria itu melepas alatnya dari kepalaku dan menuntunku duduk di kursi.
“Bagaimana? Apa yang kamu dapat?” Tanyanya dengan wajah serius dan ingin tahu.
“Tunggu, kita belum berkenalan. Nama aku Fan. Anda siapa?” Aku menyodorkan tanganku.
“Maksudmu?”
“Mempermudah dalam berkomunikasi” Jawabku dengan senyum lebar.
“Mm.. Baik, tapi pertama beri tau dulu apa yang kamu dapatkan tadi?”
“Anda jawab dulu pertanyaan saya.”
“Baiklah, Namaku Dean. Dean Grisky. Sekarang kamu sudah tau kan siapa aku? Ceritakan semuanya” Ucapnya sambil menyodorkan tanganya ke aku. Sudah kuduga kenapa dia tidak semudah itu mengungkapkan namanya.
“Senang bertemu dengan anda, Dean.” Balasku dengan senyum.
“Baiklah, sebenarnya alasan saya..”
“Gunakan aku-kamu saja.” Dean memutus pembicaraanku.
“Baik, sebenernya alasan kenapa aku menanyakan namamu itu karena Kristal ini berhubungan denganmu.” Ucapku sambil mengangkat foto Kristal tadi.
“Hubungan? Hubungan apa?”
“Kamu lupa? Ini kamu sendiri yang buat bukan?” Tanyaku balik. Dean sepertinya berfikir keras.
“Membuatnya? Ah iya! Jangan-jangan ini Kristal yang aku dan adikku buat?” Ia melepaskan tangan dari jidatnya dan langsung menoleh ke arahku.
“Hm…hm..” Kataku sambil mengangguk.
“Seingatku, ada sedikit lubang di sana. Karena aku membuat kalung ini.” Dean mengeluarkan kalungnya dari dalam baju.
“Menurutku, kita harus mengebalikan potongan itu, maksudku kalungmu ke Kristal itu.” Kataku sambil menunjuk ke arah kalung itu.
“Baiklah, tapi kita harus hati-hati. Jika kamu mati atau tertangkap di sini. Keberadaanmu tidak akan pernah ada di dunia yang sebenarnya.” Dean berhenti sejenak.
“Begitu juga aku, tubuhku yang sebenarnya masih tertidur, dan kita sedang berada di alam seperti mimpi tapi sebenarnya ini yang akan terjadi di masa mendatang.” Lanjutnya panjang lebar.
“Maksudnya?” Tanyaku bingung.
“Kita harus hati-hati.”
“Oke.” Jawabku sambil berjalan keluar ruangan dan bersiap menuju ke sana.

Kami sampai di depan gerbang tempat kami bertemu. Dean memarkirkan van nya dan menyusulku yang sudah masuk. Kami masuk diam-diam, bisa dibilang seperti penyusup.
“Tetap di belakang.” Kata Dean kepada ku.
“Iya, bawel.”
“Umur berapa aku sekarang?” Kataku memecah keheningan.
“Bukan saatnya. Sekarang saatnya diam.”
Aku mengangguk dan diam.
“27 dan sudah menikah.” Tiba-tiba Dean menjawab pertanyaanku.
“Me.. menikah? Dengan siapa?” Aku kaget tapi mencoba untuk tidak membuat keributan.
“Nanti tau sendiri. Sekarang kita sudah berada di depan tempat Kristal itu berada.” Karena asyik mengobrol, ternyata kami sudah berada di depan tempat Kristal itu berada.

Kami masuk dan melihati Kristal itu berada di dalam tabung bening. Dean memasukkan kode dan membuka tabung tersebut. Ia mengeluarkan kalungnya.
“Jika terjadi apa-apa, larilah.” Dean memasang wajah khawatir.
“Iya, kau juga. Bersamaku.”
Dean segera memasukkan kalungnya ke dalam Kristal itu. Seketika Kristal mengeluarkan percikan listrik dan cahaya sangat terang. Ruangan sekitar menjadi panas. Keringat mengucur dari tubuhku. Suara gemuruh memenuhi ruangan.
“Lari!!” Teriak Dean.
“Bagaimana denganmu!?”
“Aku akan mengurusnya!”
“Tidak, kita ke sini bersama sa..” Aku mendengar banyak suara langkah para penjaga gedung ini.
“Lari, tolonglah. Kamu tidak boleh mati, demi adikku!” Teriak Dean sekali lagi dan mungkin untuk terakhir kali. Kata-kata itu sekejap membuat aku meneteskan air mata dan segera lari keluar. Aku tau dia juga menangis.
Aku berlari sekuat tenaga dan sampai di luar bangunan itu. Tiba-tiba saja
“DUUAARRR!!!” Meledak. Bangunan itu meledak.
Aku terjatuh di tanah. Aku melihat darah, api, orang mati. Aku mendengar keributan, seperti… radio.
“Sayap kiri diserang. Ganti.”
“Bzzt.. Bzzt”
“Tolong! Tolong!”
“Aaaarghh. Ayo kawan. Bangun!”

Aku terbangun di kasurku. Entah karena jam wekerku yang terus berunyi atau karena mimpi semalam yang melelahkan. Ting!. Ada pesan 2 masuk dari 46755
“Hai, ini Dean. Nomor ini adalah tanggal pesan ini di kirim. Tapi aku tidak menjamin akan langsung sampai. Kamu akan dapat pesan-pesan dariku selanjutnya. Jangan bosen ya!”
“Benar, 4 Juni 755, 5 Juni 755, 6 Juni 755. Bodoh. 4 Juni adalah hari ini.” Kataku sambil melihat kalender tahun 743. Tahun ini.
“Aku punya firasat kamu akan bertanya. Jawabannya denganku. Kamu akan menikah denganku. Ini memalukan, tapi ya sudahlah. Sampai bertemu nanti!”
Aku tersenyum lebar dan langsung menitikkan air mata. Iya, dia sudah tidak ada di sana. Begitu juga di dunia ini. Ingatan orang-orang terdekatnya, ingatan adiknya, ingantanku tentangnya juga akan hilang. Sebentar lagi. Oh sudah jam 8. Waktunya berangkat sekolah.

Sekolah sama seperti biasa. Guru-guru yang hanya mengajar dari layar hologram dan alas tulis yang biasa disebut komputer. Membosankan. Setelah sekian lama belajar, akhirnya bel pulang berbunyi. Aku dan Rei berencana untuk pulang bersama.
Di perjalanan kami berbicara sedikit tentang apa yang akan dilakukan selama liburan musim panas ini. Tentang rencana menghabiskan waktu selama musim panas.

“Aku akan liburan ke pantai mau ikut?”
“Wah! Enak nyaa. Aku juga mau ikut tapi aku pasti di suruh ikut kelas tambahan karena nilaiku banyak yang remedial. Hehehe. Ngomong-ngomong kamu ke sono bareng siapa?”
“Bareng Orangtua, dan kakakku yang 5 tahun sudah berpisah denganku!.”
“Kakak? Kamu punya kakak?”
“Ah, iya ya. Kenapa tiba-tiba nyebut kakak. Aku bahkan anak satu-satunya. Aku pengen banget punya kakak biar bisa diajak bercanda.”
Kami diam karena angin musim panas berhembus menerpa rambutku dan rambut Rei. Langit sudah mewarnai diri menjadi oranye. Kami harus segera pulang. Walaupun aku tau di rumah tidak ada yang menunggu kedatanganku.

Aku dan Rei berpisah di persimpangan biasa. Ingin rasanya berlari ke rumah dengan cepat. Ingin cepat-cepat tidur. Ingin cepat-cepat bertemu seseorang tapi tak tau siapa. Akhirnya aku sampai di rumah dan mengganti baju bersiap untuk tidur. Aku berharap bermimpi seperti hari sebelumnya walaupun aku tdak tau mimpi apa itu. Sebelum tidur tabletku berbunyi karena ada pesan masuk

“Sudah sampai rumah? Selamat tidur! Sampai bertemu di mimpi. Hehe” Ternyata dari Rei aku kira dari Dean. Aku langsung meletakkan tabletku di meja belajar dan melemparkan tubuh ke kasur. Tunggu, tadi aku menyebut nama Dean? Dean itu siapa?.

Cerpen Karangan: Fanov!
Facebook: www.facebook.com/lala.n.dewi.1
Hai!!
Aku nulis cerpen awalnya gara gara tugas, tapi lama lama gatel juga pengen ngepost.
Jadi, Kalo ceritanya agak ga jelas mohon di maapkeun yaa ^^

Cerpen Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perdamaian Untuk Pedalaman (Part 2)

Oleh:
“Aarrghh!!!” Alex mencoba menerjang pria besar itu dengan seluruh tubuhnya, untuk membebaskan Sandra. Pergulatan pun tak terelakkan. Tubuh Sandra terjepit di antara tubuh Alex dan Pria itu yang sedang

Paint Without Hand

Oleh:
Dimas bingung apa yang ada di pikiran guru lukisnya itu. Guru lukisnya selalu mengajarkan melukis seseorang di kanvas yang indah namun tanpa sepasang tangan. Setiap Ia melihat lukisan teman-temannya,

Bizarre Car dan Penyelamat Cinta

Oleh:
Bizzarre car atau mobil yang aneh. Mobil ini berkelakuan sangat aneh dan jarang kita bisa menemukannya. Mengapa mobil ini bisa berada dibumi?. Mobil asal luar angkasa telah mengguncang bumi,

Nigo The Little Dragon

Oleh:
“Huwaahh..” Nigo terbangun dari tidurnya. Ia terlihat masih mengantuk. “Apa kau masih mengantuk Nigo?”. Tanya ibu yang menghampiriku sambil membawa sepiring kue kesukaan Nigo. Yaps! Kue Nigo, kue manis

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *