Misteri Jasad Dalam Air (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 13 November 2017

Tepi Situ Elok Pernasidi yang landai menjelang sore itu masih ramai ditongkrongi para pemancing kampung meski tak sesemarak pagi tadi. Memang sejak lima purnama lalu, semenjak disebarkannya beratus-ratus kati berbagai jenis ikan oleh Kepala Kabupaten, yang di dalam itu terdapat arti tersirat bahwa pemilihan Bupati mendatang beliau akan mencalonkan lagi dan kebaikan diberikannya ikan-ikan ini haruslah mendapat timbal balik untuknya kelak. Maka sejak itulah tepi situ, setiap hari, dari pagi sampai sore tak pernah sepi pemancing.

“Ahai…!” pekik seorang pemancing dari arah sudut tenggara situ. “Nila lagi… Nila lagi… mantap…!” katanya sembari mengangkat ikan yang baru didapatnya dan kemudian memain-mainkan di depan wajah teman di sampingnya bermaksud pamer. “Daud! Mana ikanmu…?! Dari tadi kailmu anteng-anteng saja macam patung bagong di depan Pendopo Kabupaten ha… ha… ha…!”
Orang yang diejek merengut. “Kentut kau Kalmin! Diam sajalah… lihat saja kalau nanti aku dapat paus, kutindih tubuhmu biar gepeng!”
Mendengar itu, orang bernama Kalmin kembali keluarkan tawa bergelak.
Kalau dilihat dari perolehan ikan, sangket Kalmin memang nampak penuh dibanding sangket Daud yang masih kempes.

“Nah… nah… nah.. apa kubilang…” kata pria bernama Daud ketika melihat kailnya disambar ikan, serta merta jorannya melengkung tajam. “Uh.. lumayan berat…” ujarnya girang sambil buru-buru memintal senur. “Besar ini Min, besar… ha… ha… ha… jangan salahkan jika benaran aku dapat paus…! siapkan saja tubuhmu. Rasakan olehmu nanti ha… ha… ha…”
Melihat pancing temannya disambar ikan besar, Kalmin hanya terperangah memandangi.
“Hu… hu…” Daud terus menggulung senur sambil berkali-kali keluarkan teriakan girang tak alang kepalang. Matanya berbinar-binar. Keringat memercik di keningnya yang lebar.

Semakin digulung semakin berat rasanya tarikan ikan di tangan Daud. Maka dia melirik Kalmin dan berkata. “Min! Apa kau akan diam menonton saja melihat teman kesusahan…?”
“Heh..?” Kalmin sesaat tercekat. Namun ejekannya kembali berkumandang. “Mana mungkin aku mau membantu kalau ujung-ujungnya paus itu akan mencelakaiku…” setelah berkata begitu cepat-cepat Kalmin menutup mulut dengan tangan menahan tawanya yang akan kembali meledak.
“Kentut busuk kau…! baiklah kalau begitu, jangan harap kubagi pecak kau nanti… huh!” sahut Daud. Dipintalnya senur lebih cepat.

Hati Daud gembira sekaligus penasaran. Ikan apa sebenarnya yang menyangkut di kailnya hingga terasa berat begitu rupa. Hingga senur pancing semakin lama semakin pendek sebab digulung. Dua pasang mata nyalang tak berkesip ingin menyaksikan ikan itu.
Tangan Daud berhenti menggulung. Aneh. Air diam, tak ada kecipak air yang menandakan ikan di dalam air tengah memberontak. Kalmin pandangi ujung senur yang menyentuh air seolah ingin menembus air danau yang hijau. Daud raih senur itu dengan tangan kanan sementara tangan kiri memegang joran. Dengan perlahan senur ditarik ke atas dan meledaklah tawa Kalmin melihat benda apa yang menyangkut di pancing Daud!

“Itu yang kau sebut paus Ud…?! Ha… ha… ha…! Bawalah pulang dan minta istrimu dibuatkan pecak sepatu ha… ha… ha…!!” ujar Kalmin terpingkal-pingkal sampai berguling-guling.
Ketika kail diangkat, yang nampak menyangkut di kail Daud memang sebuah sepatu boot butut yang bolong sana sini. Mendapati rumahnya terbang, seekor yuyu dengan kocar-kacir keluar dari lubang itu dan menerjunkan diri ke air.
“Tidaaaak….!” teriakan Daud membahana menerbangkan gerombolan burung kuntul di tengah Situ yang tengah asyik mencari ikan.

Gelak Kalmin semakin menjadi-jadi melihat tingkah laku temannya. Tawanya baru berhenti ketika dilihatnya seorang gadis putih berbadan sintal berjalan menyusuri pinggir situ dari arah selatan.
Gadis itu berjalan sambil menenteng keranjang berisi sayuran kangkung. Pakaian atasnya memang wajar, namun tapih yang lilit di pinggang begitu ketat hingga tercetaklah tubuhnya dari pinggang ke bawah. Wajahnya sebenarnya biasanya saja, namun sekali dia tersenyum terlihatlah dia punya dagu yang indah, bibir tipis merekah, pipinya merah segar serta hidungnya yang kecil mancung.
Jalannya seperti sengaja dia buat melanggak-lenggok hingga semua mata pemancing yang melihat dari tepi situ, tertuju pada satu titik yang sama.

“Neng dari mana gerangan, sendirian saja…?” tanya Kalmin ketika gadis itu lewat di belakangnya. Matanya tak berkedip memandangi jalan si gadis.
Gadis itu tersenyum manis, membuat Kalmin semakin blingsatan. “Dari belanja sore Mas…” jawabnya lembut dan terdengar genit.
Daud sikut tulang iga Kalmin seolah mengisyaratkan sesuatu. Dengan pelan Kalmin sibakkan tangan Daud dan kembali berkata pada si gadis. “Tumis kangkung kurang lengkap rasanya kalau tak ada ikan. Maukah kuberi ikan? Aku dapat banyak… bawa dan gorenglah…” Kalmin meraih sangket berisi ikan.
“Ah, tak usah Mas. Terimakasih… biar istri Kangmas saja yang menggorengkannya untuk Kangmas…” sahut si gadis sembari terus berjalan hingga akhirnya berlalu.
Dengan gerakan kilat Daud mengapit leher Kalmin dengan lengan kanan dan berkata. “Sekali suami permpuan itu tahu kau menggodanya, kepalamu bisa menggelinding ditebasnya! Dan hari ini adalah hari terakhir kau mancing di Situ ini…!”
“Heh…?” Kalmin tercekat. “Gadis itu sudah punya suami? Memang siapa suaminya?” tanya pria ini di tengah kepitan lengan Daud.
“Dengar baik-baik, suami perempuan itu adalah Lazuardi. Seorang bromocorah di desa ini!” lalu Daud lepaskan kepitannya dan dorong tubuh Kalmin ke tempatnya semula hingga topi yang ia pakai lepas.
Kalmin pungut topinya sambil pandangi wanita yang telah jauh itu sembari berdecak dan geleng-geleng kepala.

“Dari mana engkau Ayu…?” tanya seorang lelaki kurus yang tengah duduk di langkan rumah ketika perempuan bertapih ketat itu menaiki tangga rumah panggung. Lelaki ini mempunyai rambut gondrong belah tengah yang selalu tampak basah. Kumisnya tumbuh lebat tapi hanya di ujung bibir kanan kiri serta jenggot lancip di ujung dagu.
Yang ditanya terus saja masuk ke dalam rumah tanpa memberi jawaban pada lelaki itu.
“Ditanya malah melengos…” gerutu si lelaki seraya berdiri dan astaga! Ternyata ada yang cacat dari lelaki ini. Kakinya sebelah kiri lebih pendek dari yang kanan. Kaki kiri ini terlihat aneh tak seperti kaki pada umumnya karena mempunyai ukuran lebih kecil dibanding yang kanan dan hanya bisa tergantung-gantung lemas tak bisa digerakan sama sekali seolah lumpuh! Dengan dibantu sebilah tongkat, si kurus gondrong ini berjalan masuk dengan tertimpang-timpang.

“Istriku Sri Ayu…” sebut si kurus timpang ketika dia dapati perempuan itu tengah berdiri di dekat meja dapur meletakkan hasil belanjaannya di atas meja. “Belakangan ini kau terlihat aneh, kau tak seperti biasanya… kenapa engkau? Ada apa dengan dirimu?”
Karena yang ditanya diam saja, lelaki setengah abad ini kemudian mendekatinya. Dari belakang, orang ini gelungkan tangan kanannya ke pinggang ramping perempuan bernama Sri Ayu itu. Dengan suara mendesis dia berkata di dekat telinga sang istri. “Katakan ada apa dengan dirimu sayang…?”
Baru saja dia membisikkan ucapan itu, sepasang matanya tiba-tiba melihat tanda merah di bawah telinga sang istri. Belum sempat lelaki ini berfikir jauh sang istri melepas gelungan di pinggangnya dan berkata. “Kangmas Lazuardi, tiga tahun kita berumah tangga namun kita hanya berdua saja. Aku ingin seperti yang lain bisa dengan cepat mempunyai anak… aku ingin sepeti mereka yang setiap malam bisa bersenang-senang Mas… tapi apa yang bisa Kangmas berikan ketika aku dalam masa subur…?”
“Sabar istriku, sabar…” sahut orang bernama Lazuardi. “Penyakit yang kuderita memang sulit disembuhkan tapi aku sedang berusaha…! aku juga ingin seperti pria normal yang lain tapi…”
“Pokoknya Kangmas harus berobat ke mana terserah…” potong Sri Ayu lantas menghambur ke kamar dan menutup pintu dengan keras.

Lazuardi menghela nafas sambil pandangi pintu kamar istrinya. Dalam hati dia berkata. “Ada apa dengan dia? Dari dulu dia tak seperti itu. Apakah pelet yang dipasang Eyang sudah luntur? Dua tahun pertama dia selalu bertekuk lutut di selangkanganku. Apa aku harus menemui Eyang menyampaikan hal ini? Ah, menemuinya sama saja aku harus kembali menyerahkan tubuhku untuknya… lagi pula aku mengidap lemah pucuk. Sialan! Dasar dukun bej*t! Lelaki lemah begini saja dia embat! Tapi… tanda merah tadi, seperti sebuah bekas gigitan… aku curiga… Daud! Ya… aku butuh manusia berjidat lebar itu…”

Malam harinya, di atas ranjang, setelah mendehem terlebih dahulu Lazuardi berkata pada istrinya yang berbaring cemberut di sampingnya. “Istriku… jika yang kau inginkan adalah bersenang-senang, aku bisa memberikannya untukmu walaupun dengan cara tidak biasa. Aku bisa melayanimu dengan cara lain… kau suka?”
Sebagai jawaban, Sri Ayu istrinya dengan tak acuh beringsut ke pinggir ranjang dan berbaring miring membelakanginya. Maka dari tempatnya Lazuardi berbaring, nampaklah pinggul yang besar dipadu pinggang yang ramping dan kembali membesar di atas. Melihat hal ini, walaupun Lazuardi mengidap penyakit di kelaki-lakiannya, dadanya bergemuruh juga. Darahnya berdesir lebih cepat dari biasanya. Nafasnya memburu. Dengan gerakan macam elang mencengkram tikus, manusia timpang ini serta merta menyergap tubuh istrinya.

“Mas Brojo, apa kau yakin pertemuan kita kedua ini tak diketahui suamiku…?” di belakang danau yang gelap tertutup semak ilalang lebat di pinggir Situ Elok Pernasidi, satu suara permpuan muncul.
“Tenang saja Ayu,” terdengar seorang lelaki menyahuti. Suaranya berat. “Seperti yang kita tahu, undangan hajatan itu pasti berlangsung lama. Suamimu yang salah kaprah itu pasti tengah meneguk kopi sambil menyaksikan biduan kampung bernyanyi…”
Perempuan yang ternyata Sri Ayu Murniasih istri Lazuardi itu tertawa genit sambil mengelus-elus perut gembul orang yang berbaring di sampingnya. “Mas Brojo…” panggil perempuan ini kemudian. “Aku selalu rindu suasana seperti ini… suasana yang tak mungkin aku dapatkan dari lelaki pincang itu! Kenapa kau tak dari dulu nikahi aku Mas…?”
“Ayu…” kata orang yang dipanggil Brojo. “Mana mungkin aku menikahimu, orang tahu-tahu dulu kau sudah jadi istri manusia itu!”
“Aku juga tak tahu Mas…” sahut Sri Ayu. “Aku serasa dibuat tak berdaya olehnya. Entah kenapa di luar kesadaranku aku selalu menuruti kemauannya…!”
Brojo diam saja namun dalam hati dia berkata. “Kau telah dipelet olehnya sayangku. Tapi tenang saja… aku sudah meminta bantuan seseorang untuk meluluhkan pelet itu. Dengan perlahan kau akan sadar. Buktinya kau mau bersamaku. Kau akan menjadi milikku seperti keinginanku dulu… ha… ha… ha…”

“Mas Brojo, aku curiga Lazuardi melihat bekas gigitanmu di bawah telingaku… kau sih, tempo hari terlalu beringas tak sabaran!” kata Sri Ayu sambil menepuk perut lelaki gendut itu.
Tanpa pedulikan kata-kata perempuan yang berbaring di sampingnya, sambil membuka kancing bajunya Brojo berkata. “Usapan tanganmu membuatku ingin memulai Ayu, apa kau sudah siap?”
Yang ditanya mengangguk penuh arti.
Tanpa diketahui dua orang yang tengah memadu kasih itu, di balik semak ilalang tak jauh dari kedua orang itu berada, seseorang yang sejak tadi mendekam berkelebat pergi.

Dengan berlari lintang pukang, orang berjidat lebar itu meninggalkan kawasan Situ Elok. Walaupun malam hari dan jalan yang dilalui gelap, seperti sudah hapal orang ini terus berlari sambil tak henti-hentinya mengatakan. “Lazuardi harus cepat tahu, harus…!”

Sesampainya di rumah yang dituju, orang yang biasa dipanggil Daud itu langsung menaiki tangga rumah panggung dan serta merta mengetuk pintu. Seperti sudah ditunggu, begitu pintu dibuka Lazuardi muncul dan langsung menanyai Daud yang masih terengah-engah sambil pegangi pinggangnya yang ngilu. “Bagaimana pengintaianmu Daud? Berhasilkah rencana kita?”
“Berhasil Kang.. berhasil…” jawab Daud di tengah sengalnya. “Memang benar ada lelaki yang menemui Sri Ayu… malah yang kulihat.. mereka berdua kemudian bermesraan… uhuk…” Daud mengakhiri kata-katanya dengan batuk-batuk karena kehabisan nafas.
Sepasang mata Lazuardi membeliak mendengar penuturan Daud. “Benar dugaanku, wanita itu mempunyai lelaki lain…” desisnya dengan rahang bergemeletakkan. “Siapa lelaki itu Daud?” tanyanya kemudian.
Daud membisikkan sesuatu ke telinga Lazuardi. Kedua mata Lazuardi kembali membelalak, namun kemudian manggut-manggut. “Pekerjaanmu bagus Daud…” katanya sambil mengusap tengkuk lelaki yang masih terbatuk-batuk di depannya. Diambilnya sebuah kantong kecil dari dalam pakaiannya dan melungsurkannya ke tangan Daud. Kantong itu mengeluarkan suara bergemerincing ketika diterima Daud pertanda isinya adalah uang. “Jika kubutuhkan, kau akan kupanggil lagi..”
“Tentu Kang…” sahut Daud. “Terimakasih, saya mohon diri… uhuukk…!”
Lazuardi mengangguk.

Lelaki kurus yang berjalan terseok-seok itu mempercepat langkahnya ketika sebuah gubuk reot yang menjadi tujuannya telah nampak dari kejauhan. Dengan bantuan tongkat di tangan kiri, orang ini terpincang-pincang melangkah. Tak lama kemudian sampailah dia di depan gubuk berdinding anyaman bambu itu.
“Sial! Kalau bukan karena perempuan itu, tak mau lagi rasanya aku ke sini!” rutuknya begitu di depan pintu gubuk.
Setelah menarik nafas terlebih dahulu, lelaki ini baru berseru. “Eyang Surono Murti, apa kau ada di dalam?! Aku datang untuk menanyakan sesuatu…!”
Sunyi, tak ada jawaban. Namun dalam pada itu, mendadak pintu gubuk yang terbuat dari kayu itu terbuka perlahan menimbulkan suara berkereketan.
Sesaat orang di depan gubuk tergagau. Namun sejurus kemudian dia melangkah masuk sambil berucap rendah. “Eyang, apa kau ada di dalam?”

Selain pengap, di dalam gubuk juga gelap kendati saat itu adalah siang hari. Satu-satunya penerang di tempat itu adalah sebuah lampu minyak yang diletakkan di atas dipan yang merapat ke dinding kanan gubuk. Di kanan kiri lampu minyak itu, berjajar berupa-rupa kembang, minyak, air dalam guci serta setanggi yang mengeluarkan asap putih dan menebarkan bau harum.
Menyanding semua benda itu, dilihat orang ini duduk bersila seorang nenek-nenek berjubah hitam berambut putih riap-riapan. Wajahnya kurus hanya tinggal kulit pembalut tulang. Jari-jari dari sepasang tangannya yang menyembul dari dalam jubah tak ubahnya tulang-tulang kurus berkuku hitam panjang.
Inilah nenek dukun bernama Surono Murti. Orang yang atas permintaan Lazuardi, tiga tahun lalu, memelet Sri Ayu Murniasih, gadis yang tiga puluh tahun lebih muda dari usia lelaki itu agar mau dinikahi setelah sebelumanya berkali-kali menolaknya mentah-mentah.

Melihat Lazuardi masuk, nenek dukun ini tertawa cekikikan meperlihatkan gigi-giginya yang hitam. “Ada gerangan apa kau datang ke sini Lazuardi? Apa kau kangen padaku? Hik… hik… hik… atau kau mau kupelet wanita untuk kau kawini lagi? Hah? Hik… hik hik…” tanya nenek ini suaranya kecil melengking.

Cerpen Karangan: Ari Irawan
Facebook: facebook.com/arie.cminor

Cerpen Misteri Jasad Dalam Air (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Kelas Sharoom

Oleh:
Suasana pagi di Sekolah Hippelatranz sangat dingin. Sekolah Hippelatranz adalah sekolah yang memiliki dua asrama. Yaitu asrama Tarns untuk siswa laki-laki dan asrama Hippa untuk siswi perempuan. Di kamar

Dibalik Topeng Mu (Part 1)

Oleh:
“Tuhaaannn! Mengapa Engkau begitu kejam padaku? Apa salah ku tuhan?” teriak Seorang lelaki di Sebuah atap gedung Universitas ternama Di kota itu. “Jika ini memang takdirku, aku Terima semuanya.

Kutukan Sepele

Oleh:
Kutukan. Kutukan sering digambarkan mengerikan. Tapi kutukan yang “tidak menakutkan” kadang justru membawa dampak besar, membuat kita harus mengorbankan sesuatu yang berharga. Aelita, anak perempuan yang sangat gemar bermain

Eze Tripster

Oleh:
Orangtua itu mendekatiku. Dia mengenakan mantel hitam dan celana jeans panjang. Dia mengulurkan tangannya padaku. Tapi tiba-tiba Ayahku menepisnya. Aku melihat bagaimana tatapan orang itu berubah sekejap saat melihat

Coklat Ekspresi

Oleh:
Satu bulan menuju hari kasih sayang merupakan hari-hari yang sangat sibuk bagi para peri di Coco Hills. Saaangat sibuk hingga tak ada peri yang terlihat duduk bersantai. Maklum, Coco

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *