Misteri Jasad Dalam Air (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 13 November 2017

Dari sorot matanya, Lazuardi jelas tak suka dengan pertanyaan itu. Namun memandang nenek itu adalah guru spiritualnya sejak dia masih menjadi bromocorah hingga kini dia pensiun karena usia serta kedatangannya untuk meminta bantuan, dengan sabar dia menindih rasa jengkelnya.

“Eyang, inikah cara Eyang menerima tamu sekarang? Membiarkan tamu beridiri sementara Eyang tertawa-tawa cekikikan?”
“Sialan lancang kau!” hardik Eyang Surono Murti. “Rumah, rumahku sendiri! Segala aturan aku yang berkuasa! Mau penyambutan tamu macam apa suka-sukaku, tak usah kau berkomentar!”
Lazuardi yang sudah tahu watak Surono Murti, diam saja saat disemprot begitu.

“Duduklah kau…!” Surono Murti mempersilahkan duduk, namun masih dengan bentakan.
“Terimakasih Eyang..” Lazuardi lalu melangkah duduk di depan lampu minyak menghadap si nenek.

“Begini Eyang,” Lazuardi membuka pembicaraan. “Akhir-akhir ini Sri Ayu istri saya nampak berubah, sikapnya tak menurut lagi seperti tahun-tahun pertam saya nikahi. Setelah saya selidiki, dia kuketahui juga main serong dengan Brojo, lelaki yang dulu juga mengincar Sri Ayu sebelum akhirnya Eyang pelet dan jatuh ke tangan saya. Yang saya tanyakan Eyang, apa pelet yang Eyang pasang pada istri saya telah luntur hingga dia berani berbuat selingkuh begitu rupa? Dan kepar*t bernama Brojo itu saya mohon petunjuk Eyang, apa yang harus dilakukan…”
“Hmm… itu maksud kedatanganmu kemari?!”
“Betul Eyang…” sahut Lazuardi.

Si nenek mengambil guci berisi air dan menaruh di hadapannya. Kedua tangannya diletakkan di atas kedua lutunya menghadap ke atas. Sepasang matanya dipejamkan. Mulutnya komat-kamit. Sejurus kemudian tubuhnya tampak bergetar halus, perlahan getaran itu membesar. Bersamaan dengan itu, permukaan air dalam guci mengeluarkan asap tipis.
Lazuardi memandang semua itu dengan nafas tertahan dan mata tak berkesip. Disaat dia tertegun begitu rupa dilihatnya mata si nenek perlahan terbuka. Tubuhnya yang tadi bergetar kembali tenang seperti semula. Lalu sepasang matanya memandangi air dalam guci.

“Jahanam! Ada seseorang yang secara sedikit demi sedikit mengikis pelet yang kupasang pada istrimu…” berkata Surono Murti seolah membaca sesuatu dalam guci.
Kedua mata Lazuardi mendelik nyalang. Namun itu hanya sebentar karena kemudian parasnya kelam membesi. “Jahanam berani mati! Siapa orang yang berlaku lancang Eyang…?!”
“Belum bisa kusirap. Namun tak akan lama pasti kita ketahui…” ujar Surono Murti pula. Lalu nenek ini tampak menghentikan pekerjaannya.
“Terus, bagaimana dengan kepar*t bernama Brojo Eyang?” Lazuardi kembali ajukan pertanyaan. Dia sedikit kecewa melihat pekerjaan sang dukun yang terasa begitu cepat.
“Serahkan anj*ng kurap itu padaku… datanglah ke Situ Elok sebelah tenggara hari di muka.” Jawab si nenek. Sikapnya kini nampak berubah. Sorot matanya pada Lazuardi terlihat aneh.
Ditatap begitu Lazuardi merasa tidak enak. Dia mulai mencium aroma penyakit bejat sang nenek tumbuh.

Nenek dukun Surono Murti memainkan ujung lidah di bibirnya lalu tertawa cekikikkan. “Permintaan tolongmu sudah kusanggupi. Kau masih ingat peraturan yang sejak dulu kubuat? Setiap kali kau datang ke sini untuk minta tolong, aku harus menerima imbalan berupa tubuhmu… hik… hik… hik… asal kau tahu, panasnya hari ini membuat tubuhku ikut-ikutan panas! Sekarang kau tunggu apa lagi? Buka bajumu!”
“Ee.. Eyang, kau tahu, aku… aku masih…”
“Masih apa…? masih belum sembuh perabotanmu…?!” memotong si nenek lalu kembali cekikikkan. “Kau tak tahu siapa aku ini…? dengan sentuhan tanganku yang halus, hari ini kau bisa sembuh! Kau akan menjadi laki-laki perkasa seutuhnya!”
Melihat laki-laki di depannya masih ragu, mulut perot Surono Murti tampak komat-kamit lalu, breett!! Si nenek buka jubah hitamnya di bagian dada hingga beberapa kancingnya terlepas berjatuhan.
Lazuardi terkesima juga melihat pemandangan di depannya. “Eyang… kau… kau pakai ilmu apa sekarang…?”
Lazuardi tak teruskan kata-katanya karna si nenek kembali menukas. “Hik… hik… hik! Kenapa…? kau tercengang melihat ini? Tidakkah segera kau tanggalkan pakaianmu…?” mulut si nenek kembali komat-kamit lalu fuhh!! Dia semburkan udara dari mulutnya ke wajah orang di depannya.
Lazuardi kucek-kucek matanya. Dia melihat di depannya kini duduk bersimpuh seorang gadis cantik bertubuh sintal. Seperti kena teluh, tanpa kuasanya, dia membuka kancing bajunya sendiri lalu melompati lampu minyak mendekati gadis itu.

Maka, di siang bolong itu, ketika matahari tepat pada titik tertingginya, terdengarlah pekikan-pekikan gadis yang timbul tenggelam ditingkahi jeritan-jeritan nenek-nenek dari dalam gubuk….

Seperti yang telah diceritakan di muka, suasana tepi Situ Elok Pernasidi ketika pagi hari cukup semarak dipadati para pemancing. Begitu juga pagi ini. Di sudut tenggara Situ, Daud lemparkan kailnya jauh-jauh ke tengah Situ. “Bismillah…. tempo hari dapat sepatu, semoga hari ini dapat Emas!” katanya sembari memanjer joran dan kemudian duduk.

Daud tengok teman di sampingnya. Saat itu Kalmin sedang memandangi ujung jalan sebelah selatan Situ. Lalu sesekali kepalanya diputar memandangi ujung jalan Situ sebelah utara. Daud ikuti arah pandangan Kalmin. Lalu berkata. “Celingak-celinguk macam ketek kena tulup, lagi cari siapa kau?”
Kalmin berpaling ke arah Daud dan menatapnya lekat-lekat. Dengan suara agak direndahkan dia berucap. “Perempuan semlohai itu belum lewat, apa dia belanja hanya saat sore hari?”
“Ck… ck… ck…” Daud berdecak. “Kau masih memikirkan Sri Ayu…?”
“Ck… ck… ck…” kini Kalmin yang berdecak. “Jadi namanya Sri Ayu…? nama yang indah.. seindah dia punya tubuh. Hmm.. sayang seribu sayang” Kalmin berkata sambil mengelus-elus dagunya. “Dia sudah punya suami.”
Daud keluarkan suara menggerendeng. “Apa harus kukatakan dua kali jangan sekali-kali kau berniat menggodanya lagi?!”
“Heleh… siapa pula yang menggodanya, kau lihat sendiri tempo hari, aku hanya menawarkan ikan untuknya!” setelah itu Kalmin unjukkan mimik mencibir. “Lagipula kenapa kalau aku membicarakannya kau begitu tak suka? Kau juga naksir ya…?”
“Gila kau lelaki mata keranjang!” damprat Daud. Lalu sudut mata lelaki ini tiba-tiba menangkap seseorang yang berjalan tertimpang-timpang dari ujung jalan sebelah utara. “Kang Lazuardi..” desisnya.
“Nah… nah… nah… sepertinya dia tahu kalau kau dari tadi membicarakan istrinya! Tengoklah ke sana Min, tengok..”
Kalmin putar kepalanya ke utara memandangi orang yang ditunjuk Daud. “Lelaki kurus, jalannya pincang. Salah satu kakinya pendek sebelah, siapa itu Ud?”
“Dialah Lazuardi suami Sri Ayu…”
“Ha… ha… ha…” Kalmin tertawa. “Jadi suami permpuan montok itu dia? Aku tak percaya… mana mungkin perempuan secantik Sri Ayu mau-mauan dinikahi orang seperti itu…?!”
“Jangan keliwat menghina kau…!” sentak Daud. “Yang namanya jodoh siapa yang tahu? Sudah, dia semakin dekat. Salah-salah kalau dia dengar kau menjelek-jelekannya, sekali pukul kau kolaps!”

Memang benar apa yang dilihat Daud, saat itu Lazuardi sedang berjalan menuju tenggara Situ. Sambil berjalan, pria yang rambut gondrongnya selalu tampak basah itu mengomel sendirian. “Apa sebenarnya maksud Eyang pakai menyuruhku ke Situ sebelah tenggara segala? Apa dia mau mengajakku nonton para pengangguran memancing? Terus, apa permintaanku kemarin sudah selesai dikerjakannya…? kulihat istriku sikapnya belum berubah…”
“Eh, kulihat di sana ada Daud… biarlah, biar kusandarkan diri saja ke pohon itu…” Lalu orang ini langkahkan kakinya ke sebuah pohon rindang sebesar paha di pinggir Situ tak jauh dari tempat Daud dan Kalmin berada.

Selagi Lazuardi berjalan, para pemancing di tepi Situ yang tadi bicara riuh tiba–tiba hening oleh kedatangannya. Bagi warga Pernasidi dan sekitarnya, siapa yang tak kenal dengan Lazuardi, lelaki yang di masa mudanya berkali-kali keluar masuk bui karena membunuh lantaran urusan kecil, merampok untuk minum-minuman keras serta kabar yang mengatakan dia mempunyai beberapa ilmu gaib yang didapatnya dari seorang dukun. Beberapa mereka tampak berbisik-bisik.

Sambil bersandar, Lazuardi ambil dan nyalakan sebatang rok*k Tapal Koeda dari saku pakaiannya. Asap rok*k dihembuskan. Pandangannya diarahkan jauh-jauh ke tengah Situ.

Kalmin yang memang bukan asli warga Situ untuk beberapa saat pandangi orang yang tengah bersandar itu. Diam-diam dia merasa jeri juga. Aura penjahat yang tersirat dari lelaki setengah abad itu terbaca di matanya. Tak mau berlama-lama memandangi, pemancing bertopi bundar ini ini berpaling dan angkat jorannya. Umpan masih utuh. Aneh, tak seperti kemarin-kemarin, pagi ini tak ada satu pun ikan memakan umpannya. “Ikan-ikan pada ke mana Ud? Apa hari ini mereka pada puasa?” katanya pada Daud, lalu dilemparkannya kembali kail ke Situ.
Daud yang dari tadi pura-pura menekuri pancingnya sejak kedatangan Lazuardi, tak acuh dengan pertanyaan Kalmin. Sesaat dia berpaling ke arah orang yang tengah bersandar di pohon. Dia mengangguk takzim ketika orang yang pernah memberikannya pekerjaan itu menatapnya. Lalu lelaki berjidat lebar ini kembali menatap ke tengah Situ di mana tadi kailnya dilempar dan berkata dalam hati. “Tidak biasanya Kang Lazuardi ke sini. Ada urusan apa gerangan? Apa dia tengah menunggu seseorang?”
Melihat sikap Daud barusan serta pertanyaannya tidak digubris, Kalmin menggerutu dalam hati. “Yang ditunggu si betina, yang datang yang jantan, huh..”

Daud ambil jorannya dan berdiri. Walaupun tidak ada tanda-tanda umpan dimakan ikan tapi dia coba-coba menyentak jorannya. Saat joran disentak tiba-tiba kail di sana seperti menyangkut sesuatu. Berat, tak bisa ditarik. Lelaki ini keluarkan suara heran. Disentakkannya lagi joran ke kanan dan ke kiri. Kail di tengah situ tetap berat!
“Nyangkut di ranting-ranting pohon yang tenggelam kali Ud..” kata Kalmin melihat temannya mendapat masalah. “Atau…” pria ini teringat kejadian tempo hari. Sambil menahan tawa dia menyambung. “Atau mungkin… kailmu nyangkut lagi di sepatu butut… hik.. hik… hik”
“Sekalian saja bilang umpanku dimakan paus! Biar kutindih tubuhmu nanti!” ujar Daud yang jengkel Kalmin kembali meledek.
Kalmin tertawa gelak-gelak. “Sudah sobatku, daripada penasaran, turun saja dan lihat kailmu menyangkut apa…?”
Daud termenung sesaat, namun akhirnya menerima juga nasihat Kalmin.

Perlahan-lahan dia urun ke Situ yang dalamnya belasan meter itu. Sambil menurunkan diri, lelaki ini merutuk. “Kalau bukan mata kailnya yang mahal, sudah dari tadi-tadi aku tarik putus saja senurnya…!”
Daud berenang ke tengah Situ di mana mata kailnya menyangkut sesuatu. Beberapa pemancing yang merasa terganggu oleh renangnya, terdengar menggerutu panjang pendek sebab ikan menjadi takut.
“Untunglah, daerah sini tak terlalu dalam, mungkin hanya tiga meter…” ucapnya begitu sampai, Daud pegang senur dan masuk ke dalam air mengikuti alur senur.

Kaget Daud bukan oleh-olah ketika dia lihat benda apa yang menyangkut di kailnya. Meskipun di dalam air, tubuhnya tampak bergetar hebat! Sepasang matanya melotot hampir keluar. Saat itu, dilihatnya kail pancingnya menyangkut pada pakaian sesosok jasad lelaki gendut!
Jasad itu tidak mengambang di peremukaan air karena pinggang si jasad diikat dengan seutas tali sementara ujung tali yang lain diikatkan pada sebuah batu besar di dasar. Panjang tali dari tubuh mayat ke batu kurang lebih satu setengah meter, hingga hasilnya jasad melayang-layang dalam air.
Daud sampai menganga melihat apa yang ada di depannya. Lupa kalau masih di dalam air, tak ampun air langsung masuk ke dalam mulutnya.

Daud cepat kembali ke permukaan dan serta merta berteriak-teriak macam orang gila. “Jenazah…! kail…! kailku menyangkut pada jenazah…!!’
Semua orang di tepi Situ terperangah. Termasuk Lazuardi yang masih tersandar. Tampak dia mencampakkan rok*knya ke tanah.
“Kau bilang apa Ud…?! coba katakan sekali lagi…!” balas teriak Kalmin. “Jangan sampai kutimpuk jidatmu dengan gagang joran kalau kau mengada-ada!”
Daud usap-usap wajahnya membuang air yang menghalangi pandangannya lalu kembali berteriak dengan suara bernada kecut. “Demi Tuhan…! kau timpuk pakai sepatu boot pun aku rela jika aku berbohong…!”
“Astaga…” desis Kalmin. Para pemancing lain pun terdengar menyebut nama Tuhan. “Bagaimana mungkin ada jenazah di dalam Situ pemancingan…?”
“Tunggu apa lagi…? turun… bantu aku mengangkatnya…!” kembali teriak Daud pada semua orang.
Kalmin dan dua orang pemancing akhirnya turun mencebur.

Sambil melayang-layang di dalam air, tiga orang yang barusan turun itu sama-sama unjukkan wajah tercekat melihat mayat yang terikat di depannya.
“Tidak bohong apa yang dikatakan Daud..” Kalmin berkata dalam hati.
Lalu orang ini memberi isyarat pada Daud dan dua orang pemancing untuk naik ke permukaan.
Kalmin usap-usap mukanya begitu timbul. Dari mulutnya terdengar ucapan. “Rasa-rasa aku kenal siapa mayat itu…”
“Aku pun begitu. Sudah, kita bicara nanti saja di darat. Sekarang bagaimana kita membawanya ke darat?!” yang bicara adalah Daud.
“Kita lepas saja ikatan tali di pinggangnya… lalu tinggal kita bawa ke darat.” Salah seorang pemancing mengusulkan. Daud kenal orang ini, dia warga sekitar Situ. Namanya Lamidin.
“Ide yang bagus Din…” sahut Daud.
Lalu keempat orang ini kembali menyelam masuk ke dalam air.

Jasad pria bertubuh gemuk itu dibaringkan di pinggir Situ. Semua orang langsung berkerumun. Lazuardi mendekat. Terpincang-pincang menyeruak di antara orang-orang. Melihat siapa adanya mayat, dalam hati dia terkejut tapi juga gembira. Namun semua perasaannya itu tidak serta merta dia tunjukkan di wajahnya. Dia membatin. “Jadi kepar*t bernama Brojo ini telah kau habisi Eyang… bagus! Pertanyaanku mengapa kau menyuruhku ke sini terjawab sudah… tak rugi aku menyerahkan tubuhku padamu tempo hari ha… ha… ha…”

Kalmin berlutut sebelah kaki di samping mayat. Sepasang matanya tampak meneliti. Lalu dia berucap. “Aku tidak kenal langsung dengan orang ini, tapi aku hampir pasti dia adalah Brojo, warga desa saya…”

Daud yang berdiri di samping Kalmin sesaat memandang ke Lazuardi. Dia menaruh syak. Dalam hati lelaki ini berkata. “Apa Kang Lazuardi yang membunuh orang ini? Orang ini adalah pria yang malam itu di belakang dangau meniduri Sri Ayu istrinya. Dan kuketahui namanya Brojo. Tapi kulihat wajahnya tenang-tenang saja. Lagi pula kalau dia yang membunuh, mengapa susah-susah unjukkan diri ke mari…”

Cerpen Karangan: Ari Irawan
Facebook: facebook.com/arie.cminor

Cerpen Misteri Jasad Dalam Air (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Faster Than Wind

Oleh:
Malam ini adalah malam senin, besok waktunya sekolah lagi. Malam ini pula, Taro, seorang anak SMA kelas 3 IPA C sedang tidur. Entah kenapa malam ini Taro sedang berada

Waktu, Aku Dan Dia

Oleh:
Seperti biasa, ketika pandangan kami bertemu, waktu terasa berhenti. Dalam arti sebenarnya. Maksudku, pernah ada hujan deras ketika kami pulang sekolah, dan selagi menunggu hujan reda, kami duduk-duduk di

Lemari Rahasia

Oleh:
Sudah lama aku memerhatikan sebuah lemari usang yang telah lama menghiasi rumahku. Letaknya berada di basement, entah mengapa orangtuaku selalu menyuruh aku untuk jangan mendekati apalagi membuka lemari itu.

Beyond The Limit (Part 2)

Oleh:
Semakin jauh Ed berjalan, hujan semakin mengecil. Hingga akhirnya ditemukanlah saat hujan reda yang membuat Ed melipat kembali payungnya. Langkah pria itu menimbulkan cipratan-cipratan kecil saat sepatunya menginjakkan kaki

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *