Misteri Jasad Dalam Air (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 13 November 2017

Selagi dia berfikir, tiba-tiba pemuda bernama Lamidin memanggilnya. “Kang, apakah harus kupanggil Kepala Kampung untuk melaporkan kejadian ini?”
Daud mengangguk saja. Setelah Lamidin menghambur pergi, Daud melangkah lebih dekat ke mayat. Tubuhnya dibungkukkan meneliti tubuh mayat. Tidak ada tanda-tanda tusukkan benda tajam, bekas pukulan, atau pun noda darah di tubuh itu. Hanya kulitnya saja yang sepucat kain kafan dan tubuhnya yang sudah begitu kaku. Tubuh itu belum mengeluarkan bau. Mungkin baru kemarin dia tewas.

Cukup lama Lamidin pergi. Hingga akhirnya dia tergopoh-gopoh kembali bersama Kepala Kampung bernama Susilo. Kepada Kepala Kampung, Lamidin telah menceritakan kejadian penemuan mayat hingga kondisi mayat saat ditemukan.
Sambil memperhatikan tubuh mayat, Susilo mendesis. “Sangat aneh kalau tidak melihat sendiri. Ada mayat melayang-layang dalam air karena tubuhnya diikat ke sebuah batu besar di dasar Situ…”
Kepala Kampung berbaju batik dan berkumis rapi ini memandang sekitar dan bertanya. “Ada yang tahu siapa mayat ini…?”
“Dia adalah Brojo Pak. Orang desa sebelah.” yang menyahut adalah Daud.
“Betul… orang ini warga desa saya…” Kalmin membenarkan, lalu kambali dia meneliti tubuh mayat.
“Di mana lokasi kalian menemukan mayat ini?” kembali Kepala Kampung Susilo bertanya.
“Di sana Pak Lurah…” Daud menunjuk ke tangah Situ.
“Apa kemarin-kemarin ada kalian melihat orang ini di sekitar Situ…?”
Para pemancing tampak menggeleng dan berkata tidak.
“Aku yakin dia dibunuh…” tiba-tiba Kalmin berkata seraya berdiri. “Jasad ditemukan begini rupa jelas dia dibunuh…”
Untuk beberapa saat suasana sunyi karena ucapan Kalmin. Namun sejurus kemudian, orang-orang di sekeliling terdengar menyahuti. “Benar..” “Benar… kalau bunuh diri, masakan susah-susah korban menjirat dirinya sendiri ke sebuah batu di dalam Situ…”
“Bukan pekerjaan mudah…” Kalmin menyambung lagi. Wajahnya tampak serius. “Butuh lebih dari satu orang untuk melakukan hal itu. Menggotong, membawanya ke tangah Situ dan membawa ke dasar butuh banyak orang.”
“Kalau dibunuh, apa alasan pelaku menjiratnya di dalam Situ Kang? Yang saya tahu, tubuh yang baru mati dilemparkan saja pasti akan tenggelam dengan sendirinya. Tak mungkin mengapung di permukaan…” Lamidin buka suara.
“Tubuh yang baru mati memang akan tenggelam di dalam air, tapi tak akan lama, dia akan naik jika sudah kaku…” menjelaskan Kalmin.
“Lamidin…” Kepala Kampung memanggil. “Masuklah lagi ke dalam Situ, tempat di mana mayat ini tadi ditemukan. Siapa tahu ada petunjuk, sebelum kita menduga-duganya lebih jauh ada baiknya kita…”

“Tak perlu repot-repot cari petunjuk segala karena sang pembunuh klienku sudah sejak tadi-tadi di depan mata kalian!” tiba-tiba satu suara memotong kata-kata Kepala Kampung.
Semua pasang mata diarahkan ke selatan. Lima meter dari mereka, berdiri tegak seorang lelaki tua kalau tidak mau dikatakan kakek-kakek. Lelaki tua ini mengenakan baju lurik. Celananya gombrong hitam. Di atas kepalanya yang berambut kelabu terletak sebuah belangkon batik. Kumis dan jenggotnya juga berwarna kelabu. Sambil mengangkat tangan kanannya menunjuk tepat-tepat ke arah Lazuardi kakek ini melanjutkan ucapannya. “Dialah pembunuh Brojo…”
Semua orang melengak dan memandang ke Lazuardi. Yang ditatap tampak menggereng, lalu dangan lantang dia balas berucap. “Orang gila berbelangkon buluk! Melihatmu pun baru kali ini berani menuduhku tanpa bukti…!”
Si Belangkon buluk mengekeh tenang, sementara orang-orang di sekitar Lazuardi serta merta menjauhinya melihat dia marah sebab dituduh mentah-mentah.

Kepala Kampung Susilo maju beberapa langkah, tampak seperti ingin menengahi. “Saudara tua, bukankah sampean Ki Ngadirejo seorang dukun dari desa di daerah timur?”
Si Belangkon kembali mengekeh. Baru saja dia mau membuka mulut ingin menyahuti tiba-tiba terdengar ucapan dari arah timur. “Dia memang Ki Ngadirejo alias Gambir Kuropati Bapak Lurah yang saya hormati…”
Semua orang berpaling ke sumber suara, tapi sumber suara itu sendiri tahu-tahu sudah berdiri di dekat Lazuardi. “Eyang Surono Murti…?” Lazuardi terperanjat melihat orang yang tegak di sampingnya.
Kedatangan dua orang itu secara tiba-tiba tanpa diketahui orang-orang yang tengah mengerumuni jasad dapatlah ditarik dugaan bahwa mereka adalah orang-orang yang mempunyai kepandaian tinggi.

Eyang Surono Murti berbisik pada Lazuardi. “Lazuardi, dialah jahan*m yang melunturkan pelet yang kupasang pada istrimu. Dan semua itu… atas suruhan bangkai gendut itu…”
Serta merta wajah Lazuardi merah padam. Rahangnya menggembung. “Kepar*t minta mampus!” desisnya dengan tangan kanan terkepal.
“Kau tenanglah di sini…” ujar Surono Murti. “Biarlah aku yang mengurus. Jahan*m itu juga mempunyai sengketa denganku…”

Di lain pihak, melihat siapa adanya orang yang muncul, kakek berbelangkon batik kaget bukan kepalang. Perasaan tidak enak menjalari hatinya. Apalagi saat didengarnya nenek itu kembali bicara.
Nenek Surono Murti meminta izin pada Kepala Kampung untuk bicara. Kepala Kampung mengangguk tapi wajahnya penuh dengan tanda tanya. Sementara Daud, Kalmin dan lain-lain memandang apa yang akan dilakukan si nenek.

“Gambir Kuropati!” Surono Murti memanggil dengan suara lantang.
“Sialan! Perempuan itu memanggil nama asliku.” Kata Ki Ngadirejo dalam hati.
“Dicari-cari tidak ketemu tahu-tahu muncul di sini menuduh muridku! Tak usah menyembunyikan diri dengan berganti nama karena aku, orang yang pernah kau khianati, masih ingat betul siapa kau adanya manusia hidung belang!”
“Benar… perempuan itu hendak mengungkit masa lalu. Sial dangkalan! Maksud hati ingin membela klienku karena dibunuh, yang ada malah bertemu kekasih lama!” kembali membatin Ki Ngadirejo.

Surono Murti maju dua langkah.
“Masih ingatkah kau lima puluh tahun lalu, saat kita masih menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih, kau berkata dengan sangat manis bahwa kau begitu mencintaiku. Kau akan segera menikahiku. Hingga suatu hari, aku yang sudah terlanjur menyerahkan hatiku padamu, aku yang percaya akan kau nikahi, menerima saat diajak tidur olehmu. Tapi setelah itu, kau pergi tanpa alasan… kau tak pernah kembali… kau penipu…!”
“Murti, ada orang bijak mengatakan bahwa masa lalu, biarlah berlalu, tak perlu diungkit lagi… lagi pula dulu kita melakukannya atas dasar sama-sama suka…”
“Ringan benar mulutmu mengatakan itu…!” sentak Surono Murti. “Setelah enak-enak kau menikmati tubuhku, kau pergi begitu saja… dan sekarang, kau minta untuk tidak mengungkitnya lagi…?”
“Sekarang maumu apa…? kita sudah sama-sama tua. Apa perlu kita menikah…?”
Puah!! Surono Murti meludah ke tanah.
“Aku mau kau membayar semua sakit hatiku yang sudah berkarat selama lima puluh tahun ini dengan nyawamu!”
Ki Ngadirejo alias Gambir Kuropati tercekat mendengar ucapan Surono Murti. Dia sadar, untuk bertarung, ilmu bela diri dan ilmu hitam yang dimiliki si nenek jauh di atasnya. Dia menduga itu karena di waktu muda, saat masih menjalin hubungan, dia pernah mengantarkannya ke sebuah Padepokan untuk mengikuti pelatihan silat.

Gambir Kuropati layangkan mata ke arah jasad Brojo, pria gendut yang pernah meminta bantuannya untuk melenyapkan guna-guna di tubuh Sri Ayu. Lalu pandangannya beralih satu persatu ke Kepala Kampung, Daud, Kalmin dan para pemancing lain. Wajah mereka sama pias, tidak habis fikir akan menjadi seperti ini. Kakek ini diam-diam malu sendiri karena kemunculannya hanya untuk dipermalukan dan dibuka aibnya.

“Sudah terlanjur…” pikirnya saat itu.
Dia berpaling pada nenek yang berdiri tida meter di depannya. Sambil bersiap memasang kuda-kuda dia berkata. “Kalau itu maumu, aku tidak akan diam begitu saja…”
“Bagus…! sekarang terima ini!” tanpa berkata-kata lagi dengan gerakan cepat, tangan kanan Surono Murti diangkat ke depan. Lima jari berkuku hitam terpentang. Saat itu juga dari kuku-kuku itu melesat lima larik sinar hitam mengarah ke dada Gambir Kuropati!
Gambir Kuropati tersentak melihat serangan. Dalam hati dia berkata. “Perempuan ini memang benar-benar hendak membunuhku. Dasar nenek tak waras! Edan!”

Secepat kilat orang ini rundukkan badan, menghindar dari lima larik sinar hitam yang datang. Sinar itu lewat tipis di atas kepalanya dan, buumm!! Lima larik sinar hitam itu menghantam tanah dua meter di belakangnya. Kontur tanah yang keras kering membuat debu dan bongkahannya beterbangan. Ketika semuanya kembali terang, nampaklah cekungan besar menganga!

Ketika berhasil mengelakkan serangan itu kakek ini kembali luruskan badan. Justru saat itulah, selagi dia masih terkesiap dengan serangan pertama yang begitu dahsyat, satu jotosan mengenai dadanya dengan telak!
Sebenarnya serangan lima larik sinar hitam itu hanya untuk membuat perhatian si kakek pecah. Setelah melepas serangan dan melihat adanya kesempatan, dengan cepat Surono Murti menerjang ke depan dan memberinya satu pukulan keras.

Buukk!!
Gambir Kuropati terlempar ke belakang, jatuh terduduk tepat di dalam lobang menganga. Posisinya sama persis seperti orang berendam di dalam bak mandi. Kedua kakinya mengangkang sedang sepasang tangannya bersitekan bibir cekungan. Cairan merah meleleh di sudut bibirnya pertanda tubuhnya bagian dalam ada yang terluka.

Surono Murti datang perlahan. Kalau tadi hanya satu tangan yang digunakan melepas serangan kini dua tangannya sekaligus diarahkan ke lawan yang nyangsrang di lobang. Di setiap kuku-kukunya menyeruak sinar temaram pertanda telah daliri tenaga dalam penuh siap membunuh kekasihnya di masa muda.

Sambil terbatuk-batuk dan memegangi dadanya dengan tangan kiri Gambir Kuropati berucap. “Tadinya aku tak mau menyakitimu. Tapi setelah kau memperlakukan aku begini rupa, bahkan ingin membunuhku, aku tak sungkan-sungkan lagi mencelakaimu…!”

Diam-diam kakek yang diketahui seorang dukun ini meraup bongkahan tanah kering di bibir cekungan kanan kirinya dengan kedua tangan. Dalam pada itu juga dua genggaman tangan itu ditekan kuat-kuat ke bawah. Ketika melihat si nenek tanpa berkata-kata lagi menyerangnya dengan sepuluh larik sinar hitam, dengan bantuan dua tangan itu digenjotlah tubuhnya ke atas.
Buumm!! Tanah kembali terbongkar namun yang diserang telah melesat ke atas. Surono Murti berseru kaget ketika dilihatnya Gambir Kuropati sambil terbang melempar sesuatu dari tangan kanannya. Lemparan itu bukan lemparan sembarangan karena sudah dialiri tenaga dalam.
Surono Murti menghindari bongkahan tanah itu dengan miringkan tubuhnya ke kiri dan berhasil. Namun tiga bongkahan tanah yang kakek lepas dari tangan kiri berhasil mengenai dadanya. Tubuh si nenek terjajar ke belakang.
“Setan alas!” Surono Murti menggembor marah. Dengan amarah yang meluap tubuhnya melesat ke depan.
Gambir Kuropati yang telah menginjak tanah segera sambuti kedatangan si nenek.

Pertempuran tangan kosong pun berlangsung. Dua orang yang mempunyai ilmu silat itu bertarung laksana bayang-bayang. Berkali-kali si kakek mencoba menyodokkan tinjunya ke bagian perut, dada dan kepala lawan namun berhasil ditangkis karena ilmu silat si nenek memang benar-benar jauh di atasnya.
Sebaliknya, setelah berkali-kali gagal serangannya, kini si kakek mulai terdesak. Beberapa kali pukulan si nenek mengenai perut dan dadanya. Bagian dada yang memang telah cedera itu membuat Gambir Kuropati semburkan darah segar. Tubuhnya terjajar ke belakang ke tepi Situ. Nafasnya tersengal-sengal. Orang ini terbatuk-batuk dan kembali muntahkan darah.

Agaknya memang senjata yang paling diandalkan Surono Murti adalah kekuatan di sepuluh kuku-kuku hitamnya. Melihat Kuropati terbungkuk kesakitan di tepi Situ, nenek ini tampak akan kembali lancarkan sinar mematikan itu.
“Aku akan puas Gambir.. aku akan puas jika kau mati… hik… hik… hik…” ujarnya sambil mengangkat kedua tangan.
Namun baru saja dia ingin mengeluarkan sepuluh larik sinar hitam, tiba-tiba Lazuardi berseru. “Tunggu Eyang…! sekarang giliran aku memberi pelajaran kepada dukun perusak rumah tangga orang itu…!”
Tanpa menunggu jawaban dari si nenek, Lazuardi melangkah.

Melihat lelaki pincang yang sempat dituduhnya tadi datang menantang, Gambir Kuropati menggerendeng marah. Dia langsung bergerak ke depan memukul Lazuardi. Tapi apa daya, cederanya di bagian dalam membuat serangannya lemah.
Dengan mudah, Lazuardi menangkis pukulan itu dengan melintangkan tongkatnya ke muka. Si kakek berseru keras ketika dirasanya pukulannya laksana menghantam potongan besi. Tubuhnya kembali terjajar ke tepi Situ. Melihat si kakek lengah karena kesakitan, masih dengan sikap melintangkan tongkatnya ke muka dengan kedua tangan, Lazuardi pergunakannya untuk dorong dada lawan ke depan. Tak ampun, byuurr!! Gambir Kuropati serta merta terlempar ke belakang masuk ke dalam Situ.

Hening….
Tubuh kakek yang masih hidup itu tak muncul-muncul entah mati tenggelam tak bisa berenang atau apa.

Semua orang termasuk Kepala Kampung menyaksikan pertempuran tadi dengan mata tak berkesip dan nafas tertahan. Baru kali ini mereka menyaksikan pertarungan dua orang dukun yang dulunya adalah dua sejoli.
Tiba-tiba Surono Murti berbalik dan berkelebat pergi ke arah perkebunan di timur Situ di mana tadi dia mucul. Tampak air mata mengalir tipis di bawah matanya.

Kini tinggal Lazuardi tertegak. Kepala Kampung memanggilnya. Lazuardi putar badan mendekat.
“Tak perlu kita ikut campur urusan dua orang dukun itu. Salah satu mati urusan mereka. Sekarang kita kembali ke jasad orang ini…” ujar Susilo pada orang-orang di sekitar.
Lalu dia bertanya pada Lazuardi. “Apa benar ucapan kakek tadi kau pembunuh orang ini?”
Lazuardi diam cukup lama, hingga akhirnya dia mau menceritakan sesungguhnya latar belakang masalah. Dimulai dari perselingkuhan istrinya dengan Brojo, hingga permintaan bantuannya ke nenek dukun Surono Murti. Maka, walaupun tak ada bukti dan saksi yang melilhat, kini mereka bisa menduga kuat siapa pembunuh Brojo, yakni Surono Murti.

“Lazuardi…” Susilo berkata. “Negeri ini adalah negeri hukum. Perbuatanmu dan nenek Surono Murti adalah persekongkolan tindak kejahatan, sudah memenuhi delik untuk dijatuhi hukuman. Setelah kita mengurus jenazah ini, harap kau ikut aku ke pihak berwajib. Perihal si nenek biar mereka yang menjemputnya…”

Setelah itu Kepala Kampung Susilo menyuruh beberapa orang untuk mengambil tandu.
Kalmin mendekati Daud. Dari samping, sambil mengedip-kedipkan sebelah matanya, dia berbisik. “Kalau nanti dia dipenjara, siapa yang nanti menemani Sri Ayu…?”
Daud menoleh. Untuk beberapa lama dia pandangi wajah orang di sampingnya dengan tatapan mata garang. Namun diluar dugaan dia balas berbisik. “Siapa lagi… akulaaahhh…”
Kalmin pencongkan mulut. Tiba-tiba dengan gerakan cepat pria ini kepit leher Daud dengan lengan kanan dan berbisik. “Siapa cepat dia dapat!”

TAMAT

Cerpen Karangan: Ari Irawan
Facebook: facebook.com/arie.cminor

Cerpen Misteri Jasad Dalam Air (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pesta Menyenangkan

Oleh:
Princess Wilona dan Prince Willen mengadakan pesta dansa besar di istana. Para tamu yang hadir menikmati sekali pesta itu. Saat hari semakin malam, Princess Wilona memberitahu Prince Willen betapa

Pemuda Gila, Peri dan Bulan

Oleh:
Sore menjelang, dan pemuda itu berjalan menaiki bukit. Bukit yang sangat tinggi, bahkan awan pun selalu berada di bawah puncak bukit itu. Bukit yang sangat sepi, hanya terdapat padang

Anak Kecil Dalam Mimpiku

Oleh:
“Aku merindukan pertemuan itu melintasi malam yang sunyi aku mencarinya.” Langit basah dan bunga-bunga yang sengaja ditanam di pot-pot kecil menggigil dingin. Jalan dan lorong-lorong dipadati air yang kebingungan

Dunia Game

Oleh:
Hari yang cerah berawan, aku mengajak temanku untuk bermain game. Game itu cukup populer kami bermain dari siang hingga sore Sania sahabatku berkata. “Andai kita bisa masuk ke sana”

Karena Orangtuaku Sayang Padaku

Oleh:
“Di mana aku?” kanan-kiriku tak ada seorang pun, pada siapa aku bertanya? “Ah, mungkin di sana,” kataku pada diriku sendiri. Dalam gelap aku menyusuri lorong gelap yang lembab ini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Misteri Jasad Dalam Air (Part 3)”

  1. dinbel says:

    Kerens, walau agak sedikit menegangkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *