Misteri Kastil Tua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 13 April 2019

Raut wajah Cindy terlipat. Sudah satu jam lebih ia berada di balik kemudi dengan tujuan arah pulang. Namun semakin lama, perasaannya semakin mengarah pada satu kesimpulan, tersesat.

Di jok belakang, Peggy, si penunjuk arah, menyandarkan kepala di jendela mobil yang tertutup kaca sambil mengoceh tidak jelas akibat menghabiskan puluhan gelas minuman beralkohol di pesta peresmian rumah Mery Clarkmer. Cindy membelokan lagi kendaraannya yang kini memasuki kawasan hutan. Benar atau tidak arah jalan, setidaknya itulah patokan yang diingat saat datang ke rumah Mery.

Kecepatan mobil semakin tinggi, beriringan dengan raut wajah terlipatnya yang berganti dengan cemas. Pemandangan siluet pepohonan yang menjulang tinggi di sepanjang jalan seakan tak berujung. Cindy hendak berbalik arah, namun diurungkan niat tersebut ketika pandangan terarah pada sebuah kastil tua dan orang-orang berpakaian pesta yang berlalu lalang di depan gerbang kastil. Tangan Cindy sedikit gemetar ketika membuka pintu mobil. Langkahnya kikuk namun segera diatur sesantai mungkin. Seraya tersenyum tipis Cindy menyapa seorang gadis bergaun biru muda yang sedang melewati tempat parkiran mobilnya.

“Permisi Nona, apakah kau dapat menunjukanku arah menuju ke kota?”
Gadis itu mengkerutkan keningnya sesaat, lalu menggelengkan kepala.
“Tapi, jika kau benar-benar membutuhkan petunjuk arah ke kota, mari, ikutlah denganku. Teman-temanku pasti dapat memberimu jawaban,” ucap gadis itu sebelum Cindy menghembuskan nada kecewa.

Langkah Cindy semakin pelan saat memasuki ruang pesta. Alunan musik lembut disertai pemandangan beberapa pasangan yang sedang berdansa, membuat perasaan asing bercampur kagum dalam hatinya. Sesaat ia hampir lupa dengan tujuannya ketika mengagumi suasana klasik nan megah dalam ruangan tersebut. Gadis bergaun biru meminta Cindy menunggunya di salah satu meja tamu. Cindy hendak menolak, namun akhirnya ia mengangguk sebab nampaknya akan semakin kikuk jika berjalan ke arah lantai dansa. Gadis itu pun segera menghilang di antara kerumunan pasangan dansa.

“Selamat malam, Nona. Apakah kau datang sendiri?” tanya seorang pemuda bertuxedo hitam. Cindy segera menggeleng, namun beberapa detik kemudian mengangguk.
“Apakah kau mau berdansa denganku?”
“Tidak. Terima kasih,” jawab Cindy.
Pemuda tersebut menghembuskan napas kesal, lalu segera menarik tangan Cindy, menuntun ke arah lantai dansa.
“Maaf Nona, aku tak menerima penolakan,” ucap pemuda tersebut disertai seringai jahil.

Menit-menit berlalu melenyapkan secara perlahan rasa cemas di hati Cindy. Beberapa kali injakan kaki dengan sengaja, membuat ia sangat menikmati penderitaan sang pemuda yang mengajaknya berdansa. Romantis. Begitulah pandangan pasangan dansa di sekitar mereka. Pemuda tampan yang mempunyai sejuta kesabaran saat menuntun sang gadis berdansa. Cindy benar-benar menikmati kebersamaan tersebut.

Setelah lelah menahan sakit, pemuda tersebut segera menarik kembali tangan Cindy, menuntunnya ke meja tamu.
“Kau benar-benar kasar. Belum pernah aku berdansa dengan gadis sepertimu di pestaku,” ucap pemuda tersebut dengan nada kesal.
Cindy terkekeh, lalu kembali memasang raut wajah serius.
“Pestamu sungguh menyenangkan, tapi tujuanku datang ke sini untuk menanyakan arah jalan menuju ke kota. Aku tersesat ketika pulang dari pesta yang diselenggarakan oleh sahabatku.”
“Kau…”
Cindy menanti kalimat selanjutnya dari pemuda tersebut. Namun tidak ada. Sesaat secuil rasa cemas, takut, kesal dan juga prihatin nampak dari sorot mata dan raut wajah sang pemuda.

“Dengarkan aku baik-baik, jika aku mengangguk dengan tegas. Kau harus segera berlari keluar. Tinggalkan salah satu sepatumu di dekat pintu dan berlarilah secepat kakimu mampu. Pergilah ke arah yang berlawanan saat kau menuju ke sini.”
Cindy meneguk salivanya. Nada tegas tersebut tak bisa dibantah. Setelah menangkap aba-aba tersebut, ia segera berlari secepat mungkin. Ditekannya rasa lelah dan tidak rela yang mendadak tersemat di hati. Ditepisnya rasa prihatin akan keadaan Peggy yang menderita akibat mobil yang diancang untuk berbelok dengan mendadak serta terburu-buru. Cindy segera pergi, melupakan pesan dari sang pemuda yang menyuruhnya meninggalkan sebelah sepatu.

Sementara di dekat bingkai pintu, pemuda tersebut terkekeh geli.
“Semoga bertemu kembali, ketika dunia kita sama. Sayang, kau tak merelakan salah satu sepatumu untuk kenang-kenangan.”

Pelahan keadaan sekitar memudar lalu lenyap bersama datangnya mentari.

Cerpen Karangan: Itin Lessy
Facebook: Yosphina CL

Cerpen Misteri Kastil Tua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


After Life (Part 1) Kematian

Oleh:
Apa kau percaya dengan kehidupan setelah mati? Aku percaya, dan aku berharap kalian juga mempercayainya. Tapi, entah sudah berapa hari aku di sini, rasanya tidak seperti hidup, tapi aku

GARIS (Part 2)

Oleh:
Evelyne Carine Porter alias Evi, ayahnya seorang veteran Inggris dan Ibunya dari Sumatera. Dia terlahir istimewa dengan bakat meramal lewat mimpi. Sebagian pertanda yang dilihat lewat mimpi, bila diterjemahkan

Pemutar Waktu

Oleh:
Aku menyesal. Kenapa? Karena banyak masalah semenjak aku ada di SMA ini. Rasanya aku ingin sekali kembali ke SMP. Sekali saja waktu setelah UN SMP itu terulang. Aku bisa

Sepasang Mata Horus

Oleh:
Aku adalah sepasang mata yang membawa kutukan sejak lahir. Dalam pejam maupun memandang yang terlihat hanyalah mimpi buruk. Aku adalah sepasang mata yang tidak bisa melihat sesuatu tentang keindahan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *