Misteri Rumah Tetanggaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 23 June 2016

Dengan gontai Aku melangkah menelusuri jalan setapak menuju rumahku. Malam ini dingin. Seperti biasa, lampu-lampu di sepanjang jalanan tak cukup membantu penglihatan dalam pekatnya kegelapan malam. Maklumlah suasana tempat tinggal baruku ini, masih terbilang lumayan ketinggalan jaman. Jumlah lampu dan panjangnya ruas jalan, dari jalan raya menuju kampung dalam, menurutku, tidak begitu memadai.

Semilir angin menerpa tengkuk, menjalarkan bulu kudukku, seketika meremang. Aku eratkan dekapan tangan semakin erat, merasa dingin. Bukan karena takut maupun paranoid, seperti dalam film-film horor. Mungkin karena saking seringnya Aku pulang larut malam begini. Bagiku hal ini tidak menggangguku sama sekali. Dan malam ini tak ada bedanya, persis seperti malam-malam kemarin.

Crangg …

Sebuah suara benda pecah terdengar dari dalam rumah Pak Sastro. Aku tertegun. Yang tadinya tak ngeri sama sekali, sekarang Aku takut setengah mati. Ada apa lagi itu?

Rumah Pak Sastro tidak berpenghuni. Sudah hampir empat bulan ini, mereka (sekeluarga) tidak kembali dari musim liburan lalu. Padahal, tahun ajaran baru sudah dimulai. Dan setahuku Pak Sastro memiliki 2 Putra yang masih duduk di bangku sekolah. Lalu mengapa mereka tak pulang? Sempat Aku merasa agak gusar dibuatnya. Mengingat hubunganku yang lumayan akrab dengan Sasmita, istri Pak Sasto.

Rumah mereka tak jauh dari rumahku. Hanya butuh sedikit waktu untuk mencapai pekarangan luas, jarak antara serambi depanku dengan mereka.

Suara gaduh kembali terdengar. Ini adalah ke-3 kali dalam 4 bulan terakhir, rumah Pak Sastro mengeluarkan bunyi-bunyian aneh seperti itu. Namun, saat Aku mengecek isi dalam rumah dari sisi korden jendela yang sedikit terbuka, Aku tak menemukan apa-apa. Aku sempat berpikir mungkin di dalam rumah Pak Sastro ada kucing atau jenis binatang lain, atau mungkin maling yang sedang menjarah isi rumah Pak Sastro. Kembali bulu kudukku meremang lagi.

Kulangkahkan kakiku waspada, mendekati rumah itu. Belum sempat ayunan langkahku mencapai serambi mereka, sontak seluruh penerangan rumah itu menyala.

Aku kembali tertegun. Harusnya Aku sudah terbirit-birit menyaksikan kejadian di depan mataku ini. Namun, tubuhku terasa beku. Aku tak dapat menggerakan sendi-sendi tulangku. Rasanya Aku ingin lari, begitu pun otaku menyuruhku untuk kabur secepat mungkin. Tapi, siapa di dalam rumah itu?

Akhirnya rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Aku mengendap-endap, berencana memasuki rumah Pak Sastro tanpa ijin, sembari berdo’a jendela Panji, putra sulung mereka, belum diperbaiki. Karena Sasmita pernah bercerita, bahwa kunci jendela Panji rusak.

Syukurlah, akhirnya Aku berhasil masuk. Sudah cukup sering Aku memasuki rumah keluarga Sastro. Dan Aku hapal betul seluk-beluk di dalamnya. Baiklah, Tuan maling. Aku datang! Batinku, sembari membuka mata lebar-lebar.

Terlihat jelas, debu-debu berterbangan diterangnya sinar lampu neon. Rumah ini baru ditinggal 4 bulan oleh pemiliknya, tapi rasanya tampak seperti rumah tua angker yang berpenghunikan mahluk-mahluk astral. Seer … terasa darah mengalir dalam pembuluh darahku.

Kusiapkan tubuhku pada mode siap siaga. Mengantisipasi serangan tiba-tiba dari siapa pun yang berada di dalam rumah ini. Aku berharap musuhku ini mahluk yang masih bernafas. Deg, Jantungku berdegup. Lalu, bagaimana kalau bukan?

Tiba-tiba bunyi suara statik pengeras suara berdengung panjang. Reflek, telapak tanganku mengayun, menutup kedua telingaku. Melindunginya dari suara yang hampir memecahkan gendang pendengaran itu.

“Sar, Sari tolong kami” suara dalam pengeras suara itu berkata di sela-sela dengungan statik.

Aku terkesiap. Jantungku kian berpacu, mulutku melongo, menyadari apa yang sedang terjadi. Rumah ini berhantu!!!

Kurentangkan langkah panjang. Aku lari. Lebih tepatnya jatuh bangun mencoba untuk berlari.

“Sari jangan lari!” perintah suara itu. Aku tak mempedulikannya.

Bukk …

Kembali, Aku tersungkur lagi. Cepat-cepat Aku bangun dan kuraih jendela akses masukku tadi.

“Sari tolong jangan panik. Ini Aku Sasmita” pekiknya.

Aku terhenti. Tanganku gemetaran memegang daun jendela Panji. Baru saja Aku hampir berhasil keluar.

“Sari, tolong bantu kami. Aku bukan hantu. Ini saya Sasmita. Kami butuh bantuanmu, Sar. Tolong kami” pinta suara itu.

Aku kenal suara itu. Dan Aku tak bisa membohongi diriku sendiri, untuk percaya kalau suara pengeras itu bukan suara Sasmita. Nyatanya, itu memang suara Sasmita, tetanggaku.

“Sa-Sasmita” seruhku terbata.

“Iya Sar, ini Aku Sasmita,” diselingi bunyi dengung pengeras suara, “Sari, Aku mohon kamu jangan terkejut. Kami sendiri tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi tolong jangan panik. Jangan panik, oke?”

Dia menyuruhku jangan panik. Tapi mengapa tubuhku semakin bergetar. Rumah ini terasa semakin panas, atau itu mungkin karena kegiatanku tadi?

“Oke, Sar?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk, tanda setuju. Apa maksud perkataan Sasmita. Aku juga belum mengerti.

“Sekarang lihat di bawah kakimu. Tapi ingat jangan panik, oke.”

Pelan-pelan Aku mengarahkan pandangan ke bawah kakiku sendiri. Seperdetik,

Aku terkesiap. Mataku terbelalak, tenggorokanku tercekat. Apa Aku sedang bermimpi?

“Kamu lihat sendiri kan. Tolong bantu kami, Sar. Hanya kamu satu-satunya harapan kami,” kata suara itu, memohon.

Akan tetapi, Aku sudah hilang fokus. Pandanganku berkunang-kunang. Tak percaya dengan apa yang kulihat di depanku itu. Dan Aku pun pingsan.

To be continued …

Cerpen Karangan: Mella Amelia
Facebook: https://facebook.com/mella.amelia2

Cerpen Misteri Rumah Tetanggaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Yang Menyelimuti Gunung Pujut

Oleh:
Setelah sekian lama ia meninggalkan segala urusan yang berkaitan dengan duniawi, kini Kadir, sahabat Sanah kembali menampakkan dirinya walaupun melalui perantara mimpi. Kehadirannya sempat membuat Sanah takut sekaligus tak

Joana (Part 2)

Oleh:
Aku terus berpikir apa yang sedang terjadi. Setelah bel istirahat berbunyi lola mengajakku untuk ke kantin bersama namun aku menyuruhnya pergi duluan nanti aku menyusul, sebenarnya aku ingin berbicara

Kisah Tiga Pemburu

Oleh:
Dengan penuh kesabaran mereka berdiam di balik semak-semak. Menunggu tanpa sedikitpun suara yang tercipta, hingga kemudian tiba apa yang telah mereka nantikan. Diarahkannya senapan berlaras panjang itu oleh satu

Misteri Panreng

Oleh:
Setiap kali melewati tempat ini.. setiap kali itu juga anjing menyalak dengan penuh semangat, jika diperhatikan tempat ini cukup menyeramkan, rumah panggung khas bugis makassar, namun di sana-sini kayunya

Masalah Buat Loe?!

Oleh:
Kalau loe tanya teman-teman gue tentang gue, mungkin kebanyakan dari mereka akan menjawab Kiki (nama gue) itu konyol. Karena gue mau nyeritain kekonyolan gue, kalau loe tipe orang yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Misteri Rumah Tetanggaku”

  1. Yusi says:

    bikin deg2an dan juga penasaran nih gimana kelanjutan nya

  2. amrih says:

    Bikin penasaran nich

  3. Siti says:

    Next penasaran pake banget..! Itu dibawahnya ada apaan cobak????

  4. Rara says:

    Apa itu kak…. tolong di lanjutkan…. Special banget ini cerpennya. I like it!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *