Misteri Sebuah Desa di Pegunungan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri, Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 5 July 2013

Aku berdiri di depan sebuah ruangan dekat taman yang berada di belakang kampusku. Aku merasa bersemangat sekali pada hari itu, sakin semangatnya aku datang kepagian. Ruangan itu masih terkunci rapat, para senior dan teman-temanku belum ada yang datang. Hmmm… Mungkin mereka masih berada di dalam perjalanan menuju kesini. Aku meletakan ranselku yang tadinya bergelayut di pundak ini. Aku duduk di samping ransel yang lumayan besar, aku mengecek kembali semua alat-alat perlengkapan dan bahan makanan yang akan aku bawa nanti. Senang rasanya, setelah sekian lama menunggu akhirnya kedua orang tua ku mengijinkan aku masuk ke dalam kegiatan pencinta alam setelah aku tamat dari SMU. Saat-saat inilah yang aku nanti-nantikan seumur hidupku, aku dan teman-teman pencinta alam akan mendaki gunung yang tertinggi yang berada di daerah Jawa Barat.

Tidak lama kemudian teman-temanku satu persatu berdatangan ke dalam ruangan tempat aku menunggu alias markas anak-anak pencinta alam. Setelah semua lengkap kami pun mengadakan rapat sebentar, lalu berdoa bersama sebelum berangkat. Rombongan kami terdiri dari limabelas orang mahasiswa, lima diantaranya adalah para senior yang sudah berpengalaman naik turun gunung. Kami berangkat dengan menumpang kereta api menuju stasiun terakhir.

Hawa dingin dan sejuknya udara sudah terasa ketika aku turun dari kereta api. Lalu aku dan teman-teman melanjutkan perjalanan hingga sampai di kaki gunung tersebut. Salah satu seniorku yang bernama lingga melapor dan meminta surat izin untuk naik ke puncak gunung kepada penunggu pos yang berada tidak jauh dari trek perjalanan menuju ke atas. Tidak sampai limabelas menit kemudian kami semua sudah di perbolehkan oleh penjaga pos itu untuk melakukan pendakian ke puncak gunung. Cuaca sangat cerah, aku berjalan sambil menengok ke kanan dan ke kiri melihat pemandangan yang sangat indah di sekitar gunung. Aku teringat pesan Mama agar tidak berbicara sembarangan, bertingkah laku sopan dan tidak merusak apa saja yang berada di sana. Aku berjalan dengan hati gembira dan penuh semangat mengikuti langkah teman-temanku yang berada di depan hingga menuju pos pertama.

Setelah kami berjalan berkilo-kilo lamanya, sebelum senja aku dan teman-teman memutuskan untuk membangun tenda yang tidak jauh dari mata air dan bermalam di sana. Suasana di malam itu sangat menyenangkan, kami membuat api unggun untuk menghangatkan badan. Beberapa temanku di tugaskan memasak untuk makan malam, walaupun kami hanya memakan mie instant dan sedikit nasi yang harus dibagi sama rata, tetapi semua itu sudah mengenyangkan perut ini dan akhirnya aku pun tertidur di dalam tenda untuk mengumpulkan tenaga buat melanjutkan perjalanan esok hari.

Keesokan harinya aku terbangun, aku merasa puas bisa menghirup udara pegunungan yang masih perawan karena belum tersentuh oleh yang bernama polusi, setelah sarapan kami semua bersiap-siap untuk melanjutkan kembali perjalanan menuju puncak gunung. Setelah beberapa jam kami berjalan mengikuti jalan setapak, tiba-tiba keadaan di sekitar daerah tempat kami berada turun kabut yang sangat tebal, jarak penglihatanku dan teman-teman pun sangat pendek karena terhalang oleh putihnya kabut yang seperti kapas. Kami membentuk tiga kelompok dan berpencar untuk mencari tempat perlindungan dari badai yang sepertinya akan segera turun. Setelah badai reda kami pun sepakat untuk bertemu dengan teman-teman yang lainnya di pos selanjutnya.

Aku berjalan dengan temanku yang bernama Adit paling belakang. Keadaan alam sudah kembali bersahabat seperti semula. Dengan semangat yang menggebu-gebu aku melangkahkan kaki ini menuju pos selanjutnya untuk bertemu dengan teman-temanku yang lainnya.
“Tunggu dulu Dave, gue mau betulin tali sepatu gue dulu nih?” Adit berkata kepadaku.
“Cepat Dit, nanti kita tertinggal jauh dari Bang Lingga”, Ucok dan Pepi ujarku sambil memperhatikan Adit yang sedang mengikat tali sepatunya.
Dan benar saja tidak ada lima menit aku menunggu Adit, kami berdua kehilangan keberadaan senior dan dua orang temanku. Aku menatap Adit yang tampak panik karena kami berdua sama-sama pendaki pemula yang belum mempunyai pengalaman tentang pendakian.
“Sorry.. Dave, gara-gara gue kita ketinggalan Bang Lingga dan yang lain” kata Adit sambil termenung.
“Nggak apa-apa Dit, mudah-mudahan kita bisa menyusul mereka” jawabku sambil membesarkan hati Adit. “Yuk… kita jalan lagi” ajak ku sambil merangkul Adit.

Aku dan Adit melangkahkan kaki menyelusuri jalan setapak sesuai dengan trek yang berada di peta. Sepertinya sudah lama aku berjalan berdua dengan Adit, tetapi aku tidak menemukan Bang Lingga, Ucok dan Pepi. Sepertinya aku dan Adit berjalan hanya berputar-putar di daerah sekitar tempat kami berada yang terlihat sama dengan rimbunnya pepohonan. Aku menatap tajam wajah Adit dengan napas yang terengah-engah karena lelah berjalan.
“Bagaimana nih Dave, sepertinya kita telah tersesat” kata Adit sambil meneguk air minumannya.
“Kita istirahat dulu sebentar disini Dit” ujarku.
“Kita enggak bisa istirahat Dave, nanti kita bisa ketinggalan lebih jauh lagi dari Bang Lingga, sebentar lagi juga sudah mulai gelap?” jawab Adit.
Aku menganggukan kepala, lalu kami berdua berjalan kembali mengikuti jalan setapak. Tiba-tiba aku melihat sebuah keramaian yang letaknya di seberang tempat Aku dan Adit berjalan. Aku meruncingkan penglihatanku…? tempat keramaian itu sepertinya sebuah pasar yang berada di dalam perkampungan.
“Lihat Dit, ada pasar disana bisikku sambil menunjukan jari kananku”.
“Masa sih… kata Adit sambil menatap ke arah yang aku tunjuk”.
“Lebih baik kita bertanya saja dengan orang-orang yang berada disana, siapa tau saja mereka bisa memberitahu kita arah yang benar kataku sambil menatap Adit”.
Adit menganggukan kepalanya. Lalu kami berdua berjalan menuju pusat keramaian itu.

Aku dan Adit melangkahkan kaki ini di tengah-tengah pasar. Aku melihat pemandangan di sekitar pasar itu. Aku merasakan sebuah jaman yang sangat berbeda dengan kehidupanku yang sekarang. Sepertinya aku terlempar ke jaman ratusan tahun yang lalu. Orang-orang di pasar itu masih mengenakan kain dan kebaya untuk anak perempuan, celana hitam hitam sebetis dan berikat pinggang besar serta baju hitam untuk laki-laki hmm… seperti baju si pitung yang suka aku lihat di cerita Tv.

Ada segerombolan anak gadis sedang melihat kami berdua lalu mereka tersenyum sambil berbisik-bisik. Entah apa yang mereka bicarakan, mungkinkah mereka bergosip kerena pakaian aku dan Adit yang terlihat aneh seperti Alien bagi mereka. Para pedagang berjualan menggelar dagangannya di atas tanah, mereka masih menggunakan barter dengan cara menukar barang yang satu dengan yang lain sebagai alat transaksinya.
Aku menarik napas panjang sambil melirikan mataku kearah Adit yang masih terlihat bingung melihat keramaian pasar itu, sama sepertiku.
“Hmm… Kita berada dimana nih Dit, sekarang?” tanyaku bingung.
“Gue juga enggak tau Dave, kenapa mereka lain dengan keadaan kita saat ini” bisik Adit.
“Hmm… mungkinkah desa ini seperti desa Badui? Hmmm… mereka masih mempertahankan kebudayaannya dan menolak kebudayaan modern” jelasku.
“Mungkin saja…” bisik Adit kembali.

Aku dan Adit berjalan pelan-pelan sampai ke ujung pasar. Tiba-tiba seorang ibu-ibu menawarkan kami makanan.
“Kalian mau makan…? Sepertinya kalian kelaparan karena habis berjalan jauh katanya sambil menyodorkan aku dan Adit makanan yang terbungkus rapi oleh daun jati”.
Aku dan Adit saling bertatapan.
“Ayo… silakan di ambil kata ibu-ibu itu sambil menyodorkan makanannya kembali”.
Adit menganggukan kepalanya lalu ia mengambil sebungkus makanan itu dari tangan ibu-ibu yang sedang tersenyum memandang kami berdua.

Dengan ragu aku pun mengambil makanan itu dan mengucapkan terima kasih kepada ibu yang baik hati itu. Aku lalu membuka perlahan-lahan daun jati yang membungkus makanan itu. Wah… Sepertinya ini sangat enak kataku dalam hati ketika aku mengetahui yang berada di dalam bungkusan itu adalah nasi uduk, tempe orek dan ikan asin. Hmmm… tidak salah, makanan itu memang sangat lezat sekali. Sepertinya selama hidupku aku belum pernah merasakan nasi uduk yang seenak itu. Aku tersenyum melihat Adit yang tampak lahap memakan makannya. Sepertinya Adit sangat kelaparan kataku dalam hati.
“Kalian berdua hendak kemana” Tanya Ibu itu sambil menuangkan air ke dalam gelas kami yang masih terbuat dari batang bambu yang sudah tua.
“Kami sedang tersesat Bu, kami berdua adalah pendaki yang terpisah dari rombongan, saya lagi mencari pos pendakian yang terdekat dari sini”, jelasku sambil tersenyum.
“Itu sangat jauh sekali Nak, jauh… sekali? kata Ibu yang memakai kebaya kembang-kembang berwarna ungu itu”.
“Mau kah Ibu memberitahu kami arah jalannya menuju kesana” Tanya Adit.
Ibu itu menganggukan kepalanya.
“Sebaiknya kalian bermalam saja dulu di rumah saya, karena sebentar lagi matahari akan segera tenggelam. Sangat berbahaya jika kalian berjalan di malam hari” jelas Ibu itu sambil tersenyum.
“Ibu tidak keberatan kalau kami berdua menginap di rumah Ibu”, tanyaku.
“Tidak… bermalamlah di rumah saya. Kalian juga boleh tinggal di rumah saya selama kalian mau” kata Ibu itu lagi.
Aku dan Adit tersenyum sambil menganggukan kepala.

Akhirnya aku bisa tidur di rumah penduduk di sekitar sini tampak harus membangun tenda dan menahan tajamnya angin malam yang menusuk tubuh ini kataku dalam hati. Setelah Ibu itu selesai berjualan, ia mengajak Aku dan Adit berjalan menuju selatan. Di pertengahan jalan Ibu itu menghentikan langkahnya ketika kami bertiga sedang berjalan di antara pematang sawah. Ibu yang belum kami ketahui namanya itu tiba-tiba melambaikan tangannya ke arah seorang pria tua yang sedang mencangkul di sawah. Pria tua itu tidak lama kemudian menghampiri kami bertiga.
“Bapak… ada anak kota yang sedang tersesat? saya menyuruh mereka untuk menginap di gubuk kita. Bapak tidak keberatan kan”, Tanya Ibu itu.
Pria tua itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Menginaplah di rumah kami, besok baru kalian bisa melanjutkan perjalan menuju puncak gunung. Nanti Bapak bisa mengantarkan kalian, kalau kalian mau” jelas Bapak itu.
Mendengar penjelasan Bapak, Untuk yang sekian kalinya aku dan Adit menganggukan kepalanya tanda setuju dengan perkataannya.

Hatiku mulai lega karena Bapak itu mau mengantarkan kami berdua menuju puncak gunung esok hari. Itu berarti aku dan Adit tidak perlu lagi repot-repot mencari jalan untuk menuju kesana. Aku dan Adit menempati sebuah kamar di dekat dapur. Rumah Ibu dan Bapak sangat sederhana, semua temboknya masih terbuat dari bilik bambu. Jarak antara rumah yang satu dengan yang lainnya pun lumayan jauh. Desa itu tampaknya sangat asri sekali. Mereka menjamu kami berdua sangat baik, selesai membersihkan diri aku duduk-duduk di bale depan rumah bersama Adit. Tidak lama kemudian Ibu datang membawakan kami sepiring singkong rebus dan teh hangat. Aroma singkong rebus itu sangat menggoda, tampak basa-basi aku pun langsung menyantapnya. Aku merasa sangat nyaman sekali berada di sana? Apalagi ketika mendengar alunan suara seruling yang Bapak mainkan, suasana damai di malam itu belum pernah aku rasakan sebelumnya.

Kami mengobrol bersama hingga larut malam, Bapak banyak bercerita tentang filosofi kehidupan. Banyak nasehat yang aku dapat dari Bapak dan Ibu, tetapi anehnya, mengapa mereka selalu mengalihkan pembicaraan ketika aku menanyakan nama mereka?

Oaahhhmmm… Aku menguap, lama-lama mata ini tidak dapat menahan rasa kantuk lagi. Akhirnya aku dan Adit pun pamit masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Aku pun mulai tertidur, baru beberapa saat mataku terpejam tiba-tiba aku terbangun kembali, sepertinya aku mendengar sesuatu yang suaranya berasal dari luar sana. Aku menatap Adit yang tertidur sangat nyenyak. Pelan-pelan aku bangkit dari tempat tidur, lalu dengan hati-hati aku melangkahkan kaki ini menuju bilik bambu. Rasa penasaran ini semakin menjadi-jadi, aku mendengar suara pekikan kuda dan krincingan bunyi lonceng kecil, sepertinya ada sebuah rombongan orang yang sedang berjalan kaki di luar sana. Dengan rasa penasaran aku mengintip dari balik bilik itu untuk melihat sesuatu yang sedang terjadi di luar.

Yaa…Tuhan, tiba-tiba saja nafasku langsung terengah-engah, jantung ini seperti mau copot? aku segera menutup mulutku kuat-kuat agar jeritanku tidak terdengar sampai keluar. Aku melihat empat orang prajurit berkuda berjalan pelan, di belakang prajurit itu ada segerombolan wanita yang sepertinya mereka menjadi abdi dalam kerajaan, wanita-wanita itu hanya mengenakan kemben dan memakai kain. Para wanita setengah tua itu berjalan tampak mengenakan alas kaki, salah satu dari mereka membunyikan lonceng kecil yang bunyinya membuat suasana di tengah malam itu semakin mencekam. Aku melihat ada kereta kuda tepat di belakang para abdi dalam, tampak seorang putri yang sangat cantik berada di dalam kereta itu. Ia memakai sebuah mahkota, rambutnya yang hitam legam di biarkan panjang terurai. Putri itu memegang sebuah tongkat di tangan kanannya dan menggendong seekor kucing di tangan kirinya. Di belakang kereta kuda itu terdapat orang-orang yang kedua tangannya terikat, mereka berjalan terseok-seok seperti sekumpulan tawanan yang sangat kelelahan, pakaian yang mereka kenakan itu sama dengan pakaian yang aku pakai, yaitu pakaian di jaman modern seperti sekarang ini. Tawanan itu tampaknya di jaga sangat ketat oleh beberapa orang prajurit yang berjalan paling belakang di rombongan. Si… siapakah mereka, tanyaku dalam hati.

Aku duduk lemas di atas lantai, jantung ini masih berdetak sangat cepat. Siapakah mereka? Berada di jaman apa aku ini sekarang? Tanyaku lagi. Lalu aku merebahkan tubuh ini di samping Adit yang masih tertidur sangat lelap. Aku berusaha untuk menenangkan diriku sendiri, cepat-cepat aku memejamkan mata ini. Ada perasaan lega di hatiku, karena esok hari aku akan meninggalkan desa ini, aku pun berharap agar matahari akan segera terbit, supaya aku bisa kabur dari desa ini.

Cerpen Karangan: Ayu Soesman
Facebook: Hikari_gemintang[-at-]yahoo.com

Hi.. cerpen misteri ini adalan cerita fiksi yg aku tulis, semoga teman2 menyukainya. Oooiyaahh kalau teman2 mau membaca cerpen2 lainnya yg aku tulis kalian bisa baca di Cerpenmu.com
antara lain
1. Arisan Permen Mika (cerpen anak)
2. Jingga Pahlawanku (cerpen anak)
3. Semusim Untuk Selamanya (cerpen cinta)
4. Sarinah (cerpen horor)
5. Usia 17 Dan Pacar Baru (cerpen cinta)
6. Beatiful Life (cerpen kehidupan)
7. Petualangan Paman Belalang Dan Anak Semut (cerpen anak)
8. Fred & Jam Kantong Ajaib (cerpen petualangan)
9. Jagoan Kok Cengeng (cerpen anak)
10. Berkat Lori Aku Bisa Sekolah Lagi (cerpen motivasi)
11. Fate Of Two Sorcerer (cerpen cinta & petualangan)
12. Goodbye My Lover (Cerpen Cinta)
😀

Cerpen Misteri Sebuah Desa di Pegunungan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bayangan Dalam Sinar

Oleh:
“Daaar!!!” bunyi gledeg menggeram seperti singa yang mengaum kelaparan. Cuaca berubah seketika ketika terlihat kilatan cahaya berbenturan satu sama lain dengan hebatnya. Angin kencang yang terus menghantam diselingi debu-debu

Failed Slang

Oleh:
Halo… perkenalkan nama aku ROY, biasa dipanggil roy. aku sama seperti kalian semua, sama-sama ganteng. Sebelum lanjut bercerita, aku mau memberitahukan sebuah info. Yaitu, saat ini di kota kita

Gaun Untuk Peri

Oleh:
Pekerjaan sehari harinya hanya menjahit. Walaupun masih kecil, tangannya lincah membenarkan dan membuat pakaian. Ia adalah Vika, anak yatim piatu yang tinggal di pojok desa. Rumahnya terpencil. Sore hari

Bermain Waktu

Oleh:
Malam sedang membawaku berjalan di atas roda mimpi yang berputar kala tidur lelapku. Ya, berjalan, bukan berlari. Karena aku ingin menikmati setiap alunan khayalan yang melintas di depanku. Sekelilingku

Sarananja

Oleh:
Kisah ini dimulai diawali pada runtuhnya kerajaan besar Manusia pada tahun 1156 kalla. Keruntuhan kerajaan ini disebabkan oleh 2 orang putra kerajaan yang saling berperang demi merebut tahta ayahnya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *