Misteri Sebuah Desa di Pegunungan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri, Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 5 July 2013

Ketika aku terbangun di pagi hari, aku tidak melihat keberadaan Adit di sampingku. Sepertinya Adit sudah terbangun sedari tadi, aku cepat-cepat keluar dari kamar dan mencari Adit untuk mengajaknya segera pergi dari desa ini.
“Adit Sedang membantu Ibu di pasar, Nak” kata Bapak sambil mengasah cangkulnya.
Aduh… Gawat, bagaimana ini tanyaku dalam hati. Yaa Tuhan aku bingung harus berbuat apa saat itu, hati dan pikiran ini di gelayuti perasaan yang tidak enak.

Aku berjalan mondar-mandir di depan halaman rumah. Sudah seharian aku menunggu Adit, akhirnya sebelum senja Adit kembali bersama dengan Ibu. Ada perasaan lega di hati ini melihat keadaan Adit baik-baik saja. Lalu segera aku menarik Adit ke dalam kamar.
“Loe kemana aja sih Dit, tadi pagi kan seharusnya kita sudah cabut dari tempat ini” bisikku pada Adit.
“Gue tadi diajakin jualan nasi sama Ibu di pasar, besok aja deh kita pergi dari sini atau lusa? Gue masih betah tinggal di sini Dave” kata Adit sambil memandangku.
“Loe dah gila yaa, kita tuh harus cepet-cepet keluar dari desa ini? Pasti anak-anak yang lain pada cemas mencari kita berdua, kita harus secepatnya menyusul mereka” jelasku.
“Kalau gitu besok kita enggak usah naik ke puncak, kita langsung turun saja dan buat laporan kalau kita selamat serta baik-baik saja” kata Adit.
Hmm… benar juga apa yang di katakan oleh Adit kataku dalam hati. Sepertinya Adit senang sekali berada di desa ini, apakah aku harus memberitahu dia tentang kejadian yang aku lihat semalam.

“Dave… Nanti malam loe mau ikut gue enggak, gue mau jalan-jalan sama Ibu” Tanya Adit yang membuyarkan lamunanku.
“Loe mau kemana…Dit?” Tanyaku kaget.
“Mau ke alun-alun desa, kata Ibu nanti malam akan ada kriayaan di sana. Tari jaipongan” jawab Adit.
Adit tertawa sambil memperagakan tari jaipongan di depanku, sementara itu aku masih berfikir bagaimana cara untuk secepatnya pergi dari desa ini.
“Jiaahhhh… loe kok malah bengong sih? halloooo… Mau ikutan nggak Dave” Tanya Adit lagi padaku.
“I..iyah…” jawabku sambil menganggukan kepala.

Malam harinya Ibu dan Bapak mengajak kami berdua pergi ke alun-alun yang berada di tengah-tengah desa. Aku lihat di sana sudah sangat ramai, para penari mulai bersiap-siap untuk memperagakan tariaannya yang sudah di nanti-nanti oleh para penonton. Aku memperhatikan keadaan di sekelilingku, aku merasakan keanehan di alun-alun itu. Ada dimana kah aku sekarang tanyaku lagi dalam hati, aku sepertinya terlempar ke jaman ratus tahun yang lalu. Orang-orang di desa itu berpakaian sangat kuno sekali, manusia-manusia yang masih sangat lugu dan sama sekali belum tersentuh oleh kehidupan dunia luar yang modern. Aku melirikan mata ini ke arah Adit, Adit tertawa-tawa menikmati keramaian di malam itu.

Tiba-tiba seorang penari jaipongan melemparkan selendangnya yang berwarna merah kearahku. Orang-orang yang berada di sekitarku pun pada bersorak dan bertepuk tangan. Penari itu mengajak ku menari bersama, dengan terpaksa aku pun memenuhi permintaannya. Aku berdiri di depan penari itu yang sedang melenggak-lenggokan tubuhnya mengikuti irama musik. Aku menatap tajam wajah penari itu, tatapan matanya sayu dan mengisyaratkan kesedihan yang mendalam. Ia begitu sangat cantik walaupun tidak di poles dengan sentuhan makeup. Sepertinya penari itu ingin mengutarakan sesuatu padaku. Aku terbawa suasana yang sangat nyaman di dekatnya. Tiba-tiba penari itu mencabut salah satu tusuk kondenya lalu ia memberikannya padaku. Aku menerima tusuk konde yang berbentuk bunga itu lalu aku masukan ke dalam saku jins ku. Aku menikmati keberadaan ku bersamanya di malam itu.

Sebelum tengah malam aku pulang berdua dengan Adit, sepertinya Ibu dan Bapak sudah pulang kerumah terlebih dahulu. Di tengah-tengah perjalanan pulang aku berpapasan dengan sekelompok anak laki-laki yang berikat kepala, mereka memandang aku dan Adit dari atas sampai ke bawah dengan penuh kecurigaan. Perasaanku pun semakin tidak enak ketika salah satu dari mereka menunjuk-nunjuk aku dan berbicara dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Aku menundukan kepalaku lalu menarik tangan Adit untuk berjalan lebih cepat. Malam itu aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata ini hingga pagi tiba.

Matahari pun akhirnya keluar dari peraduannya, setelah sarapan aku melangkahkan kaki ini keluar rumah. Aku berdiri di halaman depan dan masih bertanya-tanya sebenarnya dimana sekarang aku berada selama ini. Aku memandang beberapa orang wanita yang berjalan di depanku, mereka membawa bakul yang berisi pakaian basah lalu mereka tersenyum-senyum padaku. Hmmm… sepertinya mereka habis selesai menyuci pakaian di pinggir sungai. Tiba-tiba penglihatanku tertuju pada sosok wanita yang aku kenal. Dia adalah penari yang tadi malam mengajakku menari bersama.
“Hai…” Sapaku sambil melambaikan tangan ini kearahnya.
Wanita itu lalu menengok ke kanan dan ke kiri, lalu ia memisahkan diri dari rombongannya dan menghampiriku.
“Cepat kamu pergi dari desa ini, jangan sampai kamu terlambat dan menyesal” katanya padaku.
“Memangnya kenapa, adakah yang salah dengan aku?” Tanyaku dengan sedikit panik.
“Pokoknya kamu harus pergi dari sini sebelum senja tiba? Janganlah kamu hiraukan orang-orang yang berada di sekitar kamu” jelas wanita itu sambil pergi begitu saja meninggalkan ku.
“Tungguuu…” teriakku.
Wanita itu tidak menghiraukan ku, sambil berjalan cepat ia menyusul teman-temannya.

Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan desa ini. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini, kataku dalam hati sambil berlari ke kamar untuk membangunkan Adit yang masih tertidur.
“Kita harus pergi dari sini Dit? Cepat bangun” teriakku panik sambil mengguncang-guncang tubuh Adit.
Adit terbangun, lalu aku menceritakan kejadian yang aku alami di sini padanya. Adit pun terkejut tidak percaya. Aku dan Adit pun cepat-cepat berkemas-kemas di kamar.
“Hmmm… sepertinya ada yang datang ke rumah ini Dave” bisik Adit sambil menatapku.
Tiba-tiba aku mendengar suara derap langkah kuda yang sedang berjalan. Aku berjalan pelan keluar kamar untuk mengintip siapakah yang berada di depan rumah Ibu dan Bapak. Yaa… Tuhan aku melihat beberapa prajurit yang aku lihat di malam itu. Apakah mereka akan menangkapku dan Adit seperti orang-orang yang tangannya terikat itu pikir ku.

Aku langsung cepat-cepat kembali ke kamar lalu mengajak Adit untuk buru-buru keluar dari rumah ini melalui pintu belakang. Tanpa pamit dengan Ibu dan Bapak yang sedang pergi, Aku dan Adit berjalan cepat meninggalkan rumah itu tidak tentu arah, pikiranku hanya tertuju untuk cepat-cepat bisa keluar dari desa ini. Adit mulai di dera ketakutan, ia terus saja menggenggam tanganku dengan erat.

Di tengah perjalanan tiba-tiba beberapa orang prajurit mencegat kami berdua. Aku dan Adit pun berusaha untuk melarikan diri dan berlari ke arah semak-semak. Prajurit itu mengejar kami dengan kudanya, suara pekikan kuda yang terdengar sangat dekat membuat kami tambah ketakutan. Aku tidak mau mempunyai nasib yang sama dengan orang-orang yang menjadi tawanan mereka. Aku berlari kencang menerobos semak-semak belukar, aku tidak peduli dengan tangan dan tubuh ini yang tergores oleh batang-batang pepohonan dan tumbuh-tumbuhan yang berduri. Aku menahan rasa sakit sambil terus berlari bersama dengan Adit.
“Gue sudah nggak kuat lagi Dave” teriak Adit dengan napasnya yang terengah-engah.
“Kita harus lolos dari mereka Dit, tahan sebentar lagi” teriakku sambil menggenggam tangan Adit, kami pun terus berlari.

Aku dan Adit sudah sangat kelelahan. Aku merasa tidak kuat lagi untuk berlari. Kami berdua terus di kejar oleh mereka.
“Gue nyerah Dave, sumpah gue enggak kuat lagi” kata Adit sambil meneteskan airmatanya.
Aku memeluk Adit dengan erat.
“Kita harus keluar dari sini bersama-sama Dit, gue yakin pasti kita akan selamat dan bisa keluar dari hutan ini” bisik ku menyemangatinya.
Adit menatapku tajam, lalu ia mengangguk-anggukan kepalanya.

Aku dan Adit berlari lagi menerobos hutan yang gelap. Kami berdua berlari berjam-jam lamanya tanpa berhenti sampai kami tidak mendengar lagi suara pekikan kuda dan para prajurit itu.
“Sepertinya kita sudah keluar dari desa itu Dave” kata Adit sambil tersenyum lesu.
“Iyah… Sekarang kita harus berusaha untuk mencari jalan agar bisa turun ke bawah” jawabku dengan perasaan lega.

Kami berdua terus dan terus berjalan, tubuh ini sudah sangat lelah, kami lapar dan kehausan. Di tengah perjalanan pun turun hujan yang sangat deras, sepertinya akan terjadi lagi badai, petir-petir menggelegar. Aku dan Adit berlindung di bawah pepohonan yang sangat besar. Aku bersandar di akar pohon, Aku melihat tubuh Adit menggigil kedinginan.
“Gue… gue sudah tidak tahan lagi Dave, gue lelah dan ngantuk banget” bisik Adit terbata-bata.
“Dit… Jangan tidur dit, loe jangan tidur? Buka mata loe? Loe harus tetap terjaga” teriakku sambil mengguncang-guncang tubuh Adit.
Yaa… Tuhan, aku juga merasakan kelelahan dan rasa kantuk ini juga mendera ku, aku berusaha untuk sadar dan tidak tertidur sambil berharap ada pertolongan segera datang. Aku memeluk tubuh Adit dengan erat untuk menghangatkan diri dari rasa dingin ini. Aku berserah diri ini padamu Tuhan, aku pasrah kataku dalam hati ini sambil berzikir sepanjang hari hingga aku tak tersadarkan diri. Beberapa jam kemudian aku mendengar suara langkah orang-orang berjalan di kesunyian hutan.

Mata ini sangat sulit untuk terbuka. Orang-orang itu mengangkat tubuhku dan merebahkan diri ini di atas tandu. Aku bersyukur karena telah ada orang yang menyelamatkanku dan Adit. Aku pun akhirnya tertidur tidak sadarkan diri selama perjalanan pulang.

Mereka membawa aku dan Adit ke rumah sakit terdekat, lenganku di infus dan dua perawat tengah membersihkan luka-luka yang berada di sekujur tubuh ini. Mataku masih terus terpejam tetapi telingaku masih bisa mendengar percakapan orang-orang yang berada di dekatku.
“Kasihan yaa mereka, katanya sudah seminggu lho mereka hilang di hutan” kata salah satu perawat.
“Iyah… hutan itu memang terkenal angker, kenapa dua anak ini bisa tersesat kedalam hutan sana?” kata salah seorang lagi.
“Kasihan teman anak ini, dia sekarang koma karena kelelahan dan kelaparan. Bagaimana perasaan orang tuanya jika melihat anak-anak mereka sekarang seperti ini”.
Yaa… Tuhan, Adit…Adit… teriakku dalam hati ketika mendengar percakapan perawat-perawat itu. Aku ingin melihat Adit…, aku berusaha sekuat tenaga untuk bangun dan berjalan mencari Adit ketika perawat-perawat itu pergi meninggalkanku. Aku masuk ke dalam kamar Adit, aku melihat beberapa orang Dokter sedang berusaha memberikan pertolongan pada Adit yang sudah tidak sadarkan diri. Aku menangis… tersedu-sedu melihat pemandangan itu.
“Adit… loe harus kuat Dit, loe harus kuat… kita sudah berhasil meninggalkan desa itu, kita sudah selamat Dit” teriakku histeris sambil menangis.

Dua orang senior ku pun datang dan menenangkan diri ini, yang masih tidak rela jika sampai Adit meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Tiba-tiba pandanganku berkunang-kunang, aku pun terjatuh lagi karena tidak berdaya.
Akhirnya Adit meninggal dunia akibat keletihan, kelaparan dan dehidrasi.

Setelah pulih aku mengunjungi makam Adit, airmataku menetes kembali ketika aku melihat namanya di batu nisan. Aku sangat menyayangkan kepergian sahabatku, tetapi mungkin Tuhan lebih sayang kepadanya. Aku kehilangan sahabat terbaikku dan aku berharap ia bahagia di alam sana.

Hari ini aku mulai kembali untuk kuliah, setelah ke luar kelas aku melangkahkan kaki ini menuju markas pencinta alam yang berada di belakang kampus untuk mengambil ranselku yang telah di temukan di gunung itu. Bang Lingga tersenyum melihat kedatanganku lalu ia menepuk-nepuk pundakku dan berusaha untuk menghiburku.
“Loe jangan trauma ya dengan kejadian yang loe alami kemarin, kita semua juga menyayangi kejadian itu” kata Bang Lingga.
“Iyah Bang”, jawabku sambil menganggukan kepala.
“Alam itu tidak bisa di tebak Dave, kadang ia sangat bersahabat dan terkadang ia juga sangat kejam bagi para pendaki, kita semua sangat kehilangan Adit. Bagi kita Adit adalah pahlawan, sama seperti Evie” jelas Bang Lingga.
“Evie…?” tanyaku bingung.
“Iyah… senior kita, dia juga telah gugur di gunung yang sama duabelas tahun yang lalu” jelas Bang Lingga lagi.
Aku memandang tajam Bang Lingga.

Bang lingga lalu membuka sebuah amplop besar berwarna coklat dan memberikan aku selembar foto bergambar anak perempuan yang sedang tersenyum manis. Aku terkejut melihat wajah yang berada di foto itu. Hmmm… Itu… itu bukannya penari jaipong yang berada di desa itu kataku dalam hati. Tubuhku mendadak menjadi lemas ketika melihat fotonya. Aku tidak bisa berfikir dan berbicara lagi, ternyata penari yang secara tidak langsung telah menyelamatkan ku adalah seniorku sendiri.
“Akhirnya kita mendapatkan Foto Evie, rencananya foto ini akan gue pajang bersama foto Adit di markas untuk mengenang loyalitas dan cinta mereka kepada alam” jelas Bang Lingga.
Aku tersenyum dan masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat.

Setelah mengambil ransel, aku pun pulang ke rumah dengan banyak sekali pertanyaan yang belum bisa di pecahkan di pikiran ini. Aku merebahkan tubuhku di ranjang ketika aku berada di kamar. Apakah benar penari itu adalah Evie tanyaku dalam hati, apakah desa itu benar-benar ada dan bukan imajinasi atau khayalanku semata? Tiba-tiba Mbok Inah mengetuk pintu dan masuk kekamarku.
“Mas Dave, kemarin Mbok Inah menemukan ini di kantong Jins punya Mas?” kata Mbok Inah sambil memberikan aku sebuah tusuk konde berbentuk bunga.
“Terima kasih Mbok” jawabku sambil tersenyum menerima barang itu.
“Wahh… Mas Dave sekarang sudah mempunyai pacar yaa”, goda Mbok Inah sambil meninggalkan aku sendirian di dalam kamar.

Aku memandang tusuk konde itu… akhirnya terjawab sudah dan aku meyakinkannya jika desa misterius itu benar-benar ada keberadaannya di pegunungan sana. Hanya saja kita sudah berlainan dimensi dengan mereka, walau bagaimana pun aku sangat berterima kasih kepada Ibu dan Bapak yang telah menolongku dan Adit untuk bermalam di rumah mereka serta Evie, seniorku. (Tamat)

Cerpen Karangan: Ayu Soesman
Facebook: Hikari_gemintang[-at-]yahoo.com
Terima kasih teman2 sudah membaca cerpenku, semoga kalian menyukainya 🙂

Cerpen Misteri Sebuah Desa di Pegunungan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Debat Para Mapel

Oleh:
“Pangeran diponegoro adalah salah satu pahlawan indonesia… Oleh karena itu perang diponegoro disebut pula dengan perang jawa” jelas sejarah panjang lebar “Wah sejarah hebat dia bisa tau banyak gitu”

Sang Dewa Kematian dan si Pengembara

Oleh:
Dulu disebuah desa terpencil konon ceritanya terdapat mahkluk yang mengerikan, ia dikenal warga sebagai Sang Dewa Kematian karena barang siapapun yang berhadapan langsung dengan dirinya orang tersebut akan mati

Beauty Spirit

Oleh:
Dia cantik, lebih cantik dariku. Namun sayang ia tidak pernah bicara sama sekali. Penampilan dan sifatnya yang misterius membuat semua murid di kelasku tak mau mendekatinya sama sekali. Ia

The True Magical Eyes (Part 1)

Oleh:
Tetesan air hujan mulai mereda, deru angin menerpa wajah seorang pemuda berdarah campuran berusia 16 tahun tersebut. Ia bertujuan mencari boneka beruang berwarna coklat milik adik pantinya. Boneka tersebut

Gita

Oleh:
Di ujung Desa Kembang, terdapat rumah besar berpagar besi berwarna kuning pucat yang sering jadi buah bibir penduduk desa. Di depan rumah itu terdapat pohon mangga yang sangat rimbun,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

6 responses to “Misteri Sebuah Desa di Pegunungan (Part 2)”

  1. nurul says:

    kayak bener bener nyata.
    bararti nasib adit sama seperti nasib evi

  2. nita says:

    cerpennya lagi dong

  3. yusof says:

    tulisan kamu bagus sekali ya. ada misterinya ada tanda tanya episodnyanya lagi.

  4. eka says:

    Bagus, suka banget sama ceritanya.
    ringan, alur dan bahasanya mudah dimengerti.

    di alam, qta gak bakalan tau apa yg akan trjadi.

  5. Armand kosim says:

    Keren. .
    Menegangkan..
    Mengharukan…
    Seru kalau di filmkan..

    Lanjtin part 3 nya dong ..
    Aku suka ceritanyaa.

  6. Renata says:

    Hutan adl tempat yg plg misterius. Lagi dong ceritanya,, top banget..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *