My Age To Seventeen Years (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 29 September 2015

Aku berlari seakan-akan hanya hari ini aku diberikan kesempatan untuk hidup. Aku hanya berpikir kali ini aku tidak boleh melewatkannya lagi setelah beberapa hari yang lalu aku hanya disibukkan dengan aktivitas yang menurutku sangat memuakkan. Mengumpulkan beberapa bakul buah yang kami pungut di hutan, untuk diantarkan ke rumah pemilik seluruh komplek di sekitar rumah kami.

Itulah yang dilakukuan setiap anak gadis berusia 16 tahun sepertiku. Kami wajib melakukannya setiap tiga minggu sekali, karena memang seperti itulah perjanjiannya jika kau tetap ingin tinggal di tempat kumuh itu. Kakiku berpijak di tempat tertinggi di daerah ini. Sambil memejamkan mata, aku bisa merasakan hembusan angin di kulit putih pucatku yang kusam dan tak pernah terawat sedikit pun ini. Karena aku, memang tak pernah punya waktu untuk mempercantik diri.

Aku mulai merentangkan tangan dan merasakan setiap hembusan angin yang menerpa tubuhku. Dingin!! tapi aku tahu ini bukan dingin kenyamanan angin yang biasa aku rasakan. Aku bisa merasakan sesuatu jatuh menimpa wajahku dengan perlahan.
“hujan..” kataku sambil mengusap wajah.
Kali ini aku berlari untuk mencari tempat berteduh. Aku palingkan wajahku ke kiri dan ke kanan untuk mencari tempat yang bisa menampung tubuhku, lalu mataku tertuju ke satu arah gubuk yang hampir seluruhnya hancur karena diterpa angin.
“Kevin..” teriakku kencang sambil berlari ke arahnya.

Dia temanku, teman dekatku. Aku ingat waktu pertama kali bertemu dengannya. Waktu itu aku masih berumur 8 tahun, dan dia adalah satu-satunya anak laki-laki yang berumur 10 tahun yang pernah aku lihat pergi setiap pagi bersama nelayan-nelayan lain, dan akan pulang ketika malam telah tiba. Pernah suatu hari aku coba untuk ikut bersama dia dan nelayan lain untuk mencari ikan di laut agar aku dan Adik-Adikku bisa sekali-kali mendapatkan protein lebih dari ikan-ikan segar. Dan aku berhasil, dia mengajarkanku banyak tentang laut dan cara mendapatkan ikan segar. Sejak saat itulah aku mulai suka masuk ke air bersamanya untuk mencari ikan, lalu dijual ke pasar, dan terkadang sebagian ikan tersebut kami bawa pulang untuk dimasak. Dia sudah seperti Kakak laki-laki bagiku.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku.
“Untuk menyusulmu” katanya sambil tersenyum.
Aku mengerutkan kening, dan aku tahu dia tidak seperti biasanya.
“Hei, ayolah!! aku bukan Adik kecilmu lagi” sambil memukul lengannya yang berotot dengan lenganku yang kecil ini.
Dia laki-laki yang hebat yang pernah aku kenal. Karena memang hanya dia laki-laki yang aku kenal di dunia ini. Tidak!! masih ada Ayahku. Ayahku? apa yang hebat darinya. Dia tak pernah mau peduli padaku dan Adik-Adikku. Aku benci itu! sangat benci.
“Ayahmu…” katanya.

Kenapa lagi dengan orang itu, apa yang dia lakukan kali ini. Apa dia akan membuatku malu lagi setelah beberapa hari yang lalu dia mengamuk di tengah-tengah keramaian orang hanya untuk mendapatkan sebotol minuman kerasnya.
“Ya, apa yang terjadi dengannya atau mungkin lebih tepat jika aku bertanya apa yang dia lakukan lagi sekarang?” tanyaku dengan senyuman setengah kesal.
“Aku dengar dari orang-orang bahwa Foster akan mengantarkan Annis dan Ashley ke tempat kerabatmu di kota” ungkapnya dengan murung.

Kerabat? sejak kapan kami mempunyai kerabat di kota. Ayahku tidak pernah menceritakannya denganku ataupun Adik-Adikku, tapi mungkin lain lagi dengan Ibuku. Tapi aku tidak pernah berbicara dengan Ibuku, yang aku tahu dia meninggalkan kami karena dia tidak tahan dengan ulah Ayahku yang mabuk-mabukkan dan terkadang sering terlihat dengan beberapa wanita peeghibur. Begitulah yang selalu aku dengar dari orang-orang, tapi aku tidak pernah benar-benar dapat penjelasannya dari Ayahku. Setiap kali aku bertanya, dia hanya terdiam dan menatap lekat ke arahku dengan sorot mata bimbang.

Foster Brook. Ya, aku cukup tahu tentang dia. Dia adalah satu-satunya pemilik kedai minuman di desa kami, dan dia juga adalah satu-satunya laki-laki yang tega menjual anak perempuannya ke istana untuk dijadikan pelayan hanya untuk bisa mendirikan kedai minumannya yang busuk, dan kotor itu. Apa? Menjual!! Oh Tuhan, aku mulai berpikiran buruk tentang itu. Apa kali ini Adik-Adikku juga akan dijual hanya demi sebotol minuman, seperti Alicia Foster si wanita malang itu. Dan sekarang kabar itu seakan-akan bagai bencana bagiku. Langit berhenti menangis, seperti mengisyaratkan aku untuk cepat-cepat berlari pulang dan menyelamatkan Adik-Adik mungilku dari terkaman serigala lapar.

“Aku harus pulang Kevin” teriakku sambil meninggalkannya.
“Emily, tunggu!!” teriaknya kencang, tanpa sempat melanjutkan kata-katanya.
Hanya itu yang aku dengar sebelum aku benar-benar hilang dari pandangan matanya.

Sekarang aku mulai berpikir bagaimana caranya agar aku bisa melawan Ayahku, Jordan Halden. Tidak, mungkin tidak hanya melawan. Tapi membunuhnya agar dia tidak lagi bisa menyakiti aku, dan Adik-Adikku. Memikirkannya benar-benar membuat aku muak, dan kesal. Aku berlari memasuki lorong-lorong sempit. Aku hanya berharap kali ini aku tidak terlambat untuk sampai ke rumah sebelum akhirnya aku harus kehilangan Adik-Adikku.

“Annis, Ashley. Di mana kau?” teriakku sebelum sempat sampai di depan pintu rumahku yang sudah terbuka lebar.
Aku melihat Ayahku dan Foster sedang berbicara di ruangan tamu kami yang sempit. Ada beberapa kursi dan meja buatan Ayahku tertata rapi di sana. Aku pun tak tahu jelas sejak kapan Ayahku membuatnya, namun aku dengar dari orang-orang bahwa Ayahku dulu adalah pengrajin kayu, dan ia bisa membuat apa saja hanya dengan kayu. Dan apa yang dikatakan orang-orang itu memang benar adanya, karena semua yang ada di rumah kami terbuat dari kayu, mulai dari piring, gelas, sendok dan bahkan garpu. Betapa hebatnya Ayahku dulu.

Aku tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan di sana, yang aku pikirkan sekarang ini hanyalah bagaimana caranya aku akan membawa kedua Adik-Adikku untuk kabur dari sini.
“Sejak kapan kau berdiri di sana nak?” tanya Foster sebelum sempat menoleh ke arahku.
“Di mana Adik-Adikku? apa yang ingin kau lakukan terhadapnya?” ungkapku dengan setengah membentak.
“Emily, kami di sini”

Ku dengar suara lembut kedua Adik-Adikku dari arah yang berlawanan dariku, dan ketika aku menoleh. Aku terheran-heran melihat kedua Adik ku memakai gaun cantik bewarna merah dan putih yang tak pernah aku lihat sebelumnya.
“Kalian kelihatan cantik dengan gaun itu, tapi kalian tidak pantas menggunakannya…” kataku sambil berjalan perlahan dengan mata berkaca-kaca ke arah mereka. Aku hampir menangis, tapi aku tidak boleh menangis, aku tidak mau terlihat lemah hanya karena ini.

Adik-Adikku yang malang. Apakah kalian tahu apa yang akan terjadi dengan kalian setelah ini.

Bersambung

Cerpen Karangan: Derasa
Facebook: https://www.facebook.com/drs.d.ii.5
Kalau mau tahu tentang aku, silahkan kunjungi ini:
facebook.com/drs.d.ii.5 atau twitter.com/RsDesii
Terimakasih 🙂

Cerpen My Age To Seventeen Years (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sekelumit Cerita Dari Sekejap Mimpi

Oleh:
Beberapa hari lalu aku bermimpi. Sebuah mimpi yang sangat menamparku. Saat aku terbangun, aku segera mengambil ponselku dan merekam apa yang aku ingat. Saat ini aku akan menceritakannya kembali.

Ice Prince

Oleh:
Hujan baru saja berhenti. Meninggalkan pelangi untuk menghiasi langit yang masih berkabung. Pelangi itu sangat indah, aku bisa melihatnya dari jendela kamarku. Aku tersenyum melihat pelangi itu. Sudah tiga

Negara Negeri Dongeng

Oleh:
Jam pelayar melepas kejenuhan setelah berhari hari mengarungi laut dan bertengger sejenak melepas penat disini, Marseilles le port tepatnya. Seperti biasa, Parman, pria yang sudah tak tampak muda lagi

Dunia Terbalik

Oleh:
Hari ini sama seperti kemarin. Tak ada yang berbeda, tak ada yang spesial. Cuma satu kata yang dapat aku simpulkan, yaitu “membosankan”. Aku yang selalu datang paling terlambat ke

Masa Depan

Oleh:
“tolong… Tolong” Aku segera bergegas ke luar rumah melihat apa yang terjadi, ku lihat kerumunan warga begitu berjejal di lapangan sepak bola “apa yang terjadi?” tanyaku pada seorang bapa-bapa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *