My Beloved Hana (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 7 January 2014

Dingin. Aku kedinginan, aku takut. Aku berada dimana? Aku bingung. Seseorang tolonglah aku!

Malam yang dingin menghiasi sebuah kota yang berada di daratan Inggris. Seorang lelaki muda berjalan lesu mengarungi jalan setapak yang berada di jalan Palm Street. Saat itu keadaan jalan tidak terlalu ramai karena jalan setapak itu berada di samping Taman Pearl. Lelaki itu berjalan dengan wajah tertunduk, sepertinya dia sedang terkena masalah. Di tengah dinginnya malam, ia terus berjalan mengarungi jalan itu lalu menghentikan langkah kakinya dan mendongkakkan kepalanya ke atas menatap langit malam yang agak mendung. Pandangan matanya mati, bahkan ketika ia menatap langit malam, matanya pun terlihat kosong. Di balik mata biru itu, terlihat rasa sedih dan keruh hatinya saat itu.

“Hh…”
Ia menghembuskan nafas panjang, asap embun keluar dari mulutnya diiringi dengan tangan yang menggaruk kepalanya.
“Ternyata… memang tidak ada gunanya terus seperti ini. Ya… sudahlah.”

Lelaki itu mulai melangkahkan kakinya kembali, belum sejauh mungkin ia berjalan terdengar suara seseorang berlari dengan kencang menuju ke arahnya. Langkahnya terhenti, lalu dari kejauhan ia melihat sesosok perempuan berlari ke arahnya dengan raut wajah panik.
“AWAS!!!” Teriak perempuan itu.
“AAA…!!” Jerit lelaki itu, ia terkejut.
BUUKK!!!
Tidak terelakan lagi, mereka berdua bertabrakan satu sama lain. Tubuh laki-laki itu terjatuh dan terduduk di jalanan dengan perempuan yang terjatuh berada di pangkuan laki-laki itu. Ia meringis kesakitan.

“Adu… du… du… duh… sakit.” Ringisnya.
Perempuan itu menoleh ke arah sang lelaki, ia terkejut melihat yang ia tabrak, lalu terperanjat kaget dan langsung berdiri.
“Aduh… maaf… maaf… maafkan aku.” Katanya, sambil membantu lelaki itu berdiri. Dan menyapu-nyapu baju sang lelaki yang sedikit kotor karena debu.
“Maafkan aku. Apa kamu tidak apa-apa?” Tanyanya, cemas.
Laki-laki itu berdiri dan sambil mengibas-ngibaskan celana panjangnya yang kotor.
“Tidak apa-apa, kamu?” Jawabnya.
“Maafkan aku, aku yang salah. Aku cuma bingung, tidak tahu mau kemana.”
Tidak tahu mau kemana? Apa dia tersesat? Batin laki-laki itu.
“Memangnya kamu ingin kemana?” Tanyanya.
“Aku tidak tahu. Ketika aku terbangun, aku sudah berada di taman itu dan aku sangat panik lalu berlari. Malahan gara-gara kecerobohanku, aku malah menabrakmu.” Ucapnya dengan nada yang agak malang.
“Jadi kau tidak ingat apa-apa?”
“Iya,”
“Hh… kenapa aku malah terpojok dalam situasi yang seperti ini. Baiklah, sementara ini kamu boleh ikut dan tinggal di rumahku sampai kita menemukan seseorang yang mungkin mengenalmu.”
Setelah laki-laki itu berkata demikian, wajah sang perempuan berwajah jelita itu bersemi cerah.
“Ha… terima kasih… terima kasih banyak!” Teriaknya, senang. Lalu langsung memeluk lelaki itu dengan eratnya. Lelaki itu menjadi salah tingkah dan wajahnya pun mulai memerah.
“Iya, sudah… sudah. Sama-sama. Tapi kalau dilihat-lihat, kau bukan orang dari negeri ini. Aku belum tahu namamu, namaku Oz Bezarius.”
“A… nama… namaku… ha… na. Iya! Hana.” Jawabnya.
“Senang bertemu denganmu, Hana.” Ucap Oz, sambil menjabat tangan Hana.
“Iya, Oz. sekali lagi terima kasih banyak.” Ucap Hana.

Lalu mereka berdua berjalan bersandingan, menuju rumah Oz. tapi yang belum Oz ketahui adalah kenyataan bahwa ia telah memungut Hana dan membiarkannya tinggal di kediaman Bezarius. Seorang anak dari keturunan bangsawan, keluarga Bezarius. Dan fakta dari mana asal dan usul Hana dan bagaimana ia sampai berada di daratan Inggris. Dan takdir yang telah mempertemukan mereka tanpa disengaja.

KREEK…
“SELAMAT DATANG. TUAN MUDA, OZ.”
“A…”
Hana terkejut melihat rumah Oz yang besar dan ribuan pelayan yang menyambutnya. Mulutnya ternganga, badan Hana membeku. Ia tidak menyangka kalau Oz adalah seorang tuan muda, padahal penampilannya biasa-biasa saja.
“A… a… Oz…” Kata Hana dengan nada bergetar.
“Tenang saja,” Jawab Oz, datar.
“TUAN MUDA, OZ!”
Terdengar suara teriakan menuju ke arah mereka berdua, terlihat pelayan perempuan paruh baya berlari menghampiri Oz.
“Tuan muda! Kemana saja tuan selama ini.” Sahut sang pelayan, cemas.
“Aku cuma mencari udara segar. Spetto tolong beri dia baju ganti dan bersihkan dia, badannya kotor.” Kata Oz.
Ketika Oz menyuruh Spetto untuk membersihkan Hana, dia kebingungan.
“Maaf, tuan muda. Bukannya saya lancang, tapi dari tadi saya tidak melihat siapa pun di sebelah anda.” Sahutnya.
Oz terkejut, ia pun ikut kebingungan. Lalu ia menatap Hana yang mulai menundukkan kepalanya.
“Ah, maaf. Mungkin hanya halusinasiku saja.” Gumamnya.
“Oh iya, tuan. Baknya sudah di isi dan makanan sudah siap.”
“Iya, terima kasih.”

Ia lalu berjalan menelusuri lorong rumahnya yang besar diikuti Hana yang masih tertunduk di belakang. Perasaan curiga mulai muncul di hatinya. Tidak mungkin orang-orang tak melihat dirinya, jelas-jelas ia berada di sampingku Mengapa orang-orang tidak menyadari kehadiran Hana?. Batinnya.

Mereka berdua memasuki kamar dengan ruangan yang luas dan memiliki tempat tidur serta perabotan yang mewah. Wajah Hana yang awalnya tertunduk, menjadi terperangah kagum melihat kemewahan kamar yang di diami Oz. Oz menghembuskan nafas lega melihat raut wajah Hana yang mulai mencerah. Tanpa sadar ia tersenyum lembut sambil menatap wajah Hana yang jelita. Lalu Hana pun tanpa sadar menoleh ke arah Oz, dan mata mereka berdua pun beradu. Oz terperangah kaget dan ia mulai merasakan kedua belah pipinya memanas, melihat reaksi yang diberikan Oz, Hana hanya tertawa geli dan tawa itu disambut dengan Oz yang membuang mukanya.

Malam itu Hana tidur di atas kasur Oz, sedangkan Oz tidur di atas sofa yang berada tak jauh dari Hana. Hana yang waktu itu baru selesai mandi, mendapati Oz telah tertidur pulas di atas sofa. Ia menghampiri Oz, dan menyela rambut pirang Oz yang sedikit menutupi wajahnya. Wajah rupawannya pun terpampang di hadapan Hana, mulai dari pertama bertemu, Hana sudah tertarik kepada Oz. Ia menyukai kepribadiannya yang dingin tetapi ada sifat penyayang dan penolong dalam dirinya. Tapi ia heran, setiap kali bertatap mata dengan Oz, mata biru yang tenang itu terlihat kosong. Hana langsung membuang jauh-jauh pemikiran itu, dan ia mulai mendekatkan wajahnya ke Oz yang sudah tertidur pulas.
“Terima kasih Oz, karena kamu telah berbaik hati menolongku.” Ucapnya sambil tersenyum lembut.
Dalam durasi 3 detik setelah Hana berterima kasih, ia pun langsung mengecup pipi Oz dengan lembut. Lalu beranjak naik ke tempat tidur, dan merebahkan tubuhnya yang lelah. Dan alam bawah sadar pun telah menguasainya.

Pukul 05.30 PM
“Hm!”
Oz terbangun dari tidurnya dan langsung terduduk. Ia memegang pipinya dan merasa seseorag telah mengecup pipinya ketika ia sedang tertidur. Lalu dengan sigap ia menoleh ke arah tempat tidur yang sudah terlihat kosong dan tertata rapi. Oz panik dan berlari keluar kamar. Para pelayan bingung dengan tingkah laku Oz yang sedang mencari-cari sesuatu.
“HANA!” Teriaknya

Ia mengelilingi sebagian besar Mansionnya, baik di halaman depan maupun di seluruh ruangan yang ada di mansionnya.
“Hana! Hana! Ha… na…?”
Teriakan Oz terhenti ketika melihat sosok perempuan yang sedang berdiri di tengah-tengah taman bunga mawar. Ia mencoba untuk memetik setangkai bunga mawar, bola mata Oz membesar ketika melihat tangan mungil itu memegang mawar yang mulai mekar.
SIING…
Tangan itu tembus pandang, dan tidak dapat menyentuh kelopak mawar itu. Hana menghembuskan nafas panjang dan mulai menundukkan wajahnya. Rambutnya yang panjang terurai ditiup lembut oleh angin pagi. Rambutnya melayang-layang ke belakang.
“Ternyata… memang benar dugaanku,” Gumamnya.

Ia lalu membalikkan badannya, Hana terperanjat kaget dan bola matanya mulai membesar ketika melihat seseorang yang sedang berdiri di hadapannya dengan raut wajah terkejut. Oz! Batin Hana. Mereka berdua saling bertatapan, Oz memberikan tatapan tak percaya kepada Hana. Keringat dingin mulai terasa di tubuh Hana, rasa terkejut yang sama-sama mereka rasakan. Sungguh sesuatu yang sangat tak terduga.
“O… o… Oz.” Kata Hana dengan nada terputus.
Oz sangat terkejut dengan pemandangan yang baru saja ia lihat. Pantas saja para pelayan tidak dapat melihatnya. Batinnya. Oz mulai melangkah mundur, ia mulai membalikkan tubuhnya.
“Tunggu, Oz! Aku bisa menjelaskannya! Kumohon.” Ucap Hana. Terasa air mata mulai membendung di sela-sela matanya.
Oz mengurungkan niatnya untuk pergi, ia berjalan menghampiri Hana yang masih membendung air matanya. Ia lalu memegang wajah Hana dan mengusap air mata Hana yang sedikit keluar dengan lembut. Tidak ada senyuman yang telukis di bibirnya, dan dalam sekejap ia langsung mendekap Hana dalam pelukannya. Hana terperangah kaget, air mata yang sudah mulai membendung akhirnya terlepas dalam pelukan Oz dan ia pun memeluk erat tubuh Oz yang hangat.

“Aku terbangun dan tidak tahu dimana aku berada. Aku pun tidak ingat tentang diriku sendiri dan apa yang telah terjadi kepadaku. Yang kuingat hanyalah sebuah nama yaitu ‘Hana’. Dari awal aku sudah menyadari kalau tubuhku tembus pandang dan tidak dapat memegang sesuatu di tanganku. Mungkin dalam artian aku bisa disebut sebagai arwah. Sepertinya cuma kamu yang bisa melihatku di rumah ini.”
Dikelilingi oleh ribuan mawar yang tertanam, Hana menjelaskan semua yang tidak diketahui Oz. Dengan panjang lebar Hana menjelaskan, sedangkan Oz mencoba menghayati penjelasan yang diberikan kepadanya. Sejenak setelah Hana menyelesaikan perkataannya, mereka berdua terdiam dan tidak berkata satu sama lain.

WHUUS…
Angin pagi berhembus lembut, menerpa dua insan yang masih belum mengerti dengan kebersamaan yang masih belum mereka sadari dan takdir yang telah ditentukan untuk mereka. Tiba-tiba Oz berdiri, kemudian mengulurkan tangannya ke Hana sambil menatap ke arah lain. Hana menoleh, ia merasa takut meraih tangan Oz yang kokoh.

GYUUT!!
Tanpa aba-aba Oz langsung menarik tangan Hana dan menyuruhnya untuk berdiri. Hana terkejut dengan tindakan Oz, Apa dia marah kepadaku?
“Tung… tunggu, Oz. Kita mau kemana?” Ucap Hana.

Oz tidak menjawab pertanyaan Hana dan terus menyeret tangan Hana selama ia berjalan. Hana hanya bisa pasrah dan mengikuti kemana Oz pergi, ia sangat menyesal karena tidak memberitahukan perihal ini kepada Oz lebih awal. Dan sekarang ia sangat marah, Hana dibawa kembali ke dalam kamar Oz. Ia dilempar ke kasur dengan kasar, Hana menjerit kecil.
“Kyaa!” Ringis Hana.

BRAAK! CLEK.
Oz membanting pintu kamar dan menguncinya, saat itu Hana sangat ketakutan pada Oz. Mata bitu itu terlihat kosong sama sekali, tidak ada rasa kasihan lagi pada tatapan itu. Oz mendekati Hana yang berada di atas kasur, ia mendekatkan wajahnya ke Hana. Hana sangat ketakutan saat itu, ia mulai menutup wajahnya dengan tangan tapi Oz langsung menepis kedua tangan dan memegangnya erat-erat. Saat itu Hana benar-benar melihat mata biru oz dengan jelas, tatapannya kosong. Hana terhenyak beberapa saat oleh mata biru yang tenang itu, entah kenapa tatapan itu seperti menangis. Tanpa sadar Oz pun merasakan hal yang sama, kali ini mata Hana yang ia perhatikan. Tatapannya sangat hangat, sudah pasti bahwa perempuan yang berada di depannya saat ini bukanlah berasal dari negeri ini. Mata hitam seperti langit malam, tapi memberikan aura hangat kepada dirinya. Perlahan genggamannya pun melonggar, memberikan ruang untuk tangan Hana bergerak. Tapi Hana tidak kabur, dia malah memegang lembut pipi Oz ia terus memperhatikan mata biru itu. Mereka berdua bertatapan satu sama lain.

TEESS…
Air mata mengalir dari kedua belah mata Hana, Oz kaget melihat pemandangan ini. Ia berusaha untuk menarik tubuhnya kembali, tapi mata hitam itu tidak dapat membuatnya bergerak. Air mata Hana terus mengalir dengan derasnya, tapi dia tidak terisak melainkan terus memegang wajah Oz. Entah kenapa… tatapan itu begitu menyedihkan. Kau telah melalui hal yang menyedihkan, Oz. Batin Hana.
“Oz…”

GYUUT…
Hana menarik tubuh Oz dan memeluknya dengan erat, Oz yang membeku hanya dapat membalas pelukan hangat itu. pelukan hangat yang tidak pernah ia rasakan beberapa tahun ini semenjak Ibunya meninggal. Lalu air mata pun mulai terasa mengalir di pipinya. Hana yang semenjak itu memeluknya, mulai melihat secercah masa lalu Oz. masa lalu yang sangat menyedihkan dan mengharukan, menciptakan dia yang seperti saat ini. Hilangnya kasih sayang seseorang yang menyayanginya sangatlah berat. Dan berharap kasih sayang itu akan kembali terulang dalam dirinya.

DHEG!
Oz tersadar, ia masih berada dalam pelukan Hana. Perlahan ia melepaskan kedua tangan mungil yang melingkari lehernya, Oz mehembuskan nafas setelah melepaskan tangan Hana. Ia melihat Hana yang sudah tertidur pulas dengan bekas air mata yang masih tersisa, ia mengatur tubuh Hana yang kesana kemari. Ia menyelimutinnya, sejenak ia duduk di samping kasur memperhatikan arwah yang kini hanya dia yang dapat menyentuhnya.

Mata biru itu kembali menunjukkan tatapan kosong itu lagi, ia lalu beranjak berdiri dari kasur dan pergi meninggalkan kamar dimana Hana sudah tertidur pulas. Ia berjalan melalui lorong Mansion yang luas, sebagian pelayan yang bertemu dengan Oz mengucapkan salam kepadanya. Ia terus berjalan dan sampai di depan pintu besar, ia membuka pintu itu. Terlihat seorang pria tua sedang membaca sepotong arsip, ketika ia melihat Oz datang ia menghentikan kegiatan membacanya. Dia berdiri lalu menunduk, dan mengucapkan salam pada Oz.
“Selamat pagi, tuan Oz. Ada perihal apakah tuan datang ke sini?” Tanyanya dengan bahasa yang sopan.
Oz berjalan menghampiri pria tua itu.
“Aku minta kau mencari identitas seorang perempuan yang bernama ‘Hana’. Serta dari mana asal usul keluarganya.”
“Bolehkah saya tau apa tujuan tuan?”
“Kau tidak perlu mengetahui yang satu ini. Aku takut akan terjadi kemungkinan yang tidak terduga.”
Pria itu hanya menganggukkan kepalanya.
“Baik, jika tuan bersikeras.” Jawabnya.
“Kalau begitu aku tunggu informasinya.”

Oz lalu berjalan meninggalkan ruangan dan pria itu. Pintu ruangan itu tertutup rapat dan dengan tatapan tajam Oz berjalan melalui koridor. Para pelayan yang memperhatikan Oz terlihat ketakutan kepada tuan muda mereka, mereka pun dengan kikuk mengucapkan salam kepada Oz. Sisi lain dari Oz yang sudah lama tidak ia perlihatkan akhir-akhir ini, sangat membuat semua orang yang berada di dalam mansion itu ketakutan.

Sebuah sosok mungil terlihat di balik pilar mansion yang besar dan tinggi, Hana memperhatikan Oz dengan tatapan cemas dan ketakutan. Tatapan itu lebih dari sekedar tatapan kosong maupun menangis, tetapi juga memperlihatkan sisi gelap dari Oz. Hana mencoba untuk mendekati Oz, tapi ia mengurungkan niatnya dan tetap bersembunyi di balik pilar dan membiarkan Oz yang tidak tahu dimana ia berada hanya melewatinya. Hana menundukkan wajahnya, rasa ingin menghilangkan tatapan itu sangatlah kuat. Tapi apa yang bisa ia lakukan, ia hanyalah arwah penasaran yang tidak tahu siapa dirinya sendiri dan tidak dapat menemukan raganya. Cepat atau lambat, ia akan segera pergi dari permukaan bumi. Ia tidak tahu apakah ia masih hidup atau sudah mati. Yang ia harapkan adalah keajaiban yang akan datang menantinya.

Bersambung…

Cerpen Karangan: Meisy Pratiwi
Facebook: haruna suzuno

Cerpen My Beloved Hana (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dunia Lolipop

Oleh:
Ginny namanya. Dia adalah penghuni Dunia Lolipop yang sangat cantik. Tapi sayangnya dia tidak bersifat cantik juga. Ia sombong karena kekayaannya yang melimpah. Kalian pasti belum mengetahui siapa namaku

Rumah Nenek

Oleh:
Hari ini, Shasya menginap di rumah neneknya. Ia menginap bersama ayah dan ibunya. Malam ini, shasya tidur di kamar neneknya seorang diri. Shasya sebenarnya tidak menyukai kamar neneknya, dikarenakan,

Matahari Inara

Oleh:
Pernahkah kamu merasakan hidup yang tak sebenarnya hidup? Dimana tubuhmu masih mampu berdiri tegak, dan kakimu masih menapak tanah – tapi sukma entah melayang ke mana. Detak jantungmu berdenting

Tidaaak!

Oleh:
New York, USA “Kau siap?” tanya seseorang dengan jas putihnya “Siap prof” “Tapi resikonya tinggi. Keluargamu tak akan mengenalimu lagi” “Tak apa, demi misi ini aku rela mempertaruhkan nyawa

Thunder (Part 1)

Oleh:
Aku terus berlari dan menjauh dari pekarangan tersebut “Ah sial kenapa harus aku?! Cih tak berguna” berlari menuju tempat yang sekiranya tidak diketahui oleh golongan Fethic yang sekarang sedang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *