My Beloved Hana (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 7 January 2014

Indonesia, di waktu dan tempat yang berbeda…

Di sebuah kota yang terletak di tengah-tengah Pulau Java, terdapat sebuah Mansion yang besar dan hanya di kelilingi hutan dan lautan yang luas. Halaman yang luas dan mansion yang besar membuat mansion itulah satu-satunya yang terbesar di pulau itu. Terlihat seluruh orang-orang yang berada di Mansion itu sedang beraktivitas untuk memenuhi tugas mereka sebagai pengikut. Jauh di dalam Mansion terdapat sebuah kamar besar berisi tiga orang dan seorang perempuan muda jelita yang sedang terpejam di atas tempat tidur dengan infus dan alat pendeteksi jantung di sampingnya.

Seorang Dokter memberikan berkas informasi kepada pria paruh baya yang berada di depannya, pria itu menerima dan membaca berkas itu. Dengan serius ia membaca tiap kalimat yang tertulis di berkas itu, raut putus asa tertera di wajah pria itu setelah membaca lembaran berkas itu. ia menghembuskan nafas berat kemudian memandang wajah perempuan muda yang sedang terbaring lemah dengan mata terpejam di atas tempat tidur. Air mata sedikit keluar dari sela mata pria paruh baya itu, melihat orang tercinta mengalami saat-saat sulit sangatlah menyakitkan.

“Mungkin, ia tidak akan pernah membuka matanya untuk kita.” Ucap sang Dokter dengan nada sedih.

Pria itu hanya menatap perempuan itu dengan tatapan sedih dan tidak menjawab perkataan Dokter tersebut. Melihat hal itu, Dokter tersebut melangkahkan kaki keluar dari kamar besar itu. Pria itu berdiri termanyun melihat keadaan perempuan muda yang sudah bertahun-tahun ia rawat sampai sebuah kejadian tragis menimpa perempuan itu. Ia terjatuh dari tebing saat ia sedang berjalan-jalan di sekitar halaman belakang Mansion yang datarannya lebih tinggi. Ia sangat beruntung dapat bertahan dan tidak meninggal, tetapi ia tidak bangun dari tidur pulasnya. Ia mengalami koma dan Dokter baru saja memvonis bahwa mungkin ia tidak akan membuka matanya untuk selamanya dan hanya akan hidup dalam keadaan koma.

“Nona Hana… kenapa berakhir seperti ini…” Ucap sang pria tua dengan nada sedih. Air matanya mengalir menatap tubuh lemah yang terbaring itu.

Nona muda yang telah ia rawat dari kecil sejak Ayah dan Ibunya meninggal akibat kebangsawanan mereka membuat mereka berakhir dibunuh secara mengerikan. Dan meninggalkan ahli waris kepada putri tunggal mereka untuk terus mengurus bisnis keluarga Sakurami. Selama putri dari Keluarga Sakurami mengalami koma, pria tua itulah yang sementara menggantikan bisnis keluarga atasannya.

“Kenapa berakhir seperti ini… kenapa senyuman nona tidak telukis lagi di bibir nona… nona…” Isak sang pria tersebut.

Senyuman yang mungkin tak lagi ia lihat dari nona muda tersayang. Wajah gembira sang nona muda yang telah pudar, dan tidak mungkin akan kembali lagi. Mansion itu terlihat suram semenjak sang nona muda koma, seluruh pelayan sedih tidak pernah melihat wajah ceria sang nona muda yang selalu menghiasi hari-hari mereka. Akankah ini terus berlanjut atau takdir akan menunjukkan kekuatannya untuk mengembalikan senyuman nona muda Sakurami. Seorang putri dari bangsawan ternama yang sering membuat para bangsawan lain berusaha mengincar harta dan martabat mereka serta tidak segan-segan membunuh dan menganiaya mereka. Seorang perempuan muda yang sedang terbaring koma dan seluruh orang yang menyayanginya berharap untuk kesembuhannya. Sehingga mereka dapat melihat kembali senyuman seorang nona muda… Hana Sakurami…

DHEG!
Jantung Hana berdegup kencang, sesuatu telah terjadi. Ia memegang dadanya, merasakan perasaan yang baru saja ia rasakan. Perasaan apa ini? Ini… seperti…
TEESS…
Tanpa sadar air mata Hana mengalir dari kedua belah matanya, ia memegang pipinya yang mulai basah, ia bingung kenapa dadanya terasa begitu sesak. Perasaan sedih yang sangat luar biasa ia rasakan dari dalam hatinya, semua begitu familiar baginya. Dalam kamar yang luas itu berbagai perasaan bercampur aduk dalam hatinya, air mata tak henti-hentinya mengalir. Ia tidak tahu mengapa air matanya terus mengalir, tidak ada sebab. Yang hanya ia rasakan hanyalah rasa sedih yang sangat luar biasa, tidak tahu bersumber dari mana. Kemudian dalam sekejap, seluruh bayangan memori akan dirinya muncul di pikirannya. Semakin deras air matanya keluar, semakin jelaslah ingatan itu. Hana telah ingat siapa dirinya, dari mana ia berasal dan mengapa ia menjadi arwah penasaran. Begitu ia mengingat semuanya, air mata itu tidak terlelakan lagi. Ia menangis terisak karena ingatan yang telah kembali, yang ia ketahui.
“Hiks… aku… kenapa… kenapa seperti ini… paman… PAMAN!!!” Jerit Hana.
Ia menangis dengan kencang, semua penyesalan ia keluarkan dari dalam dirinya melalui tangisan yang semakin menjadi-jadi.

Pintu terbuka, terlihat sosok Oz memasuki kamar dimana Hana berada. Ia tercengang melihat Hana menangis dengan kuatnya, tubuhnya membeku tidak dapat bergerak ketika melihat sosok Hana yang sedang menangis hebat. Tapi di saat itu Hana menyadari kehadiran Oz, ia menoleh ke Oz. Hana menghampiri Oz yang sedang membatu melihat dirinya berlinang air mata. Ia memegang pundak Oz dan ia membebankan dirinya pada Oz, Hana tak dapat menopang tubuhnya sendiri dan ia pun terduduk begitu pula dengan Oz. Oz hanya tercengang melihat, kemudian ia pun sadar dan mulai merangkul tangan Hana memegang wajah Hana yang jelita serta mengusap air mata yang telah membasahi wajahnya.

“Hana. Kamu kenapa?” Tanyanya lembut.
“Oz… aku… aku… aku…”
“Tenanglah, Hana. Aku ada disini, sekarang katakan. Apa yang ada di dalam pikiranmu sekarang.”

Hana yang masih terisak tidak menjawab pertanyaan Oz, dia hanya menundukkan wajahnya dan terus mengeluarkan air mata. Oz menghembuskan nafas berat, ia tidak tahu lagi cara untuk menenangkan Hana. Ia tidak terlalu pandai menangani seorang gadis, selama hidupnya tidak ada figur seorang perempuan yang seperti ini kepadanya. Hanya Spetto yang selalu merawatnya dari kecil, semenjak Ibunya meninggal Oz tidak diperhatikan oleh Ayahnya. Ayahnya menghilang begitu saja tanpa meninggalkan kabar, menghilang dari kehidupan Oz yang perlahan-lahan menjadi suram.

Tatapan kosong kembali terpampang di mata birunya, isak tangis Hana berhenti melihat tatapan itu. Hana sadar apa yang baru saja ia lakukan adalah hal yang salah. Ia lalu mulai mengusap air matanya sendiri dan kembali menatap Oz yang sudah tertunduk diam dan tidak memperdulikan isak tangis Hana lagi. Hana yang mempunyai keinginan untuk menghilangkan tatapan kosong di mata biru itu, dengan lembut ia memegang wajah Oz, merasa hangatnya tangan itu Oz tersadar dari lamunan gelapnya. Ia terperangah melihat wajah Hana yang tak lagi menangis melainkan menatapnya dengan senyuman lembut dan tatapan mata yang menghangatkan dirinya dalam sekejap.

“Jangan… jangan kau berikan lagi tatapan itu padaku. Kumohon.” Ucap Hana sembari tersenyum.

Bola mata Oz membesar, raut sedih mulai terlihat di wajahnya. Di sela-sela matanya mulai terlihat air mata, ia memejamkan matanya dan butiran air mata pun mengalir melalui sela-sela matanya. Hana selalu memberikan senyuman lembut dan tatapan yang hangat, sedangkan dia… dia selalu memberikan tatapan dingin yang kosong kepada Hana. Rasa penyesalan berkecamuk dalam hatinya, lalu dalam sekejap tangan hana memeluk erat Oz yang terpejam sedih meratapi penyesalannya. Dengan mata terpejam, Hana mendekap hangat Oz dengan senyuman lembut walaupun memorinya sudah kembali ia masih harus mewujudkan keinginannya untuk menghilangkan tatapan kosong itu.

Setelah beberapa menit berpelukan, Oz mendorong tubuh Hana dengan lembut tanda untuk menyudahi untuk menenangkannya. Dia lalu membopong tubuh Hana yang masih lemah duduk di atas tempat tidur, ia lalu duduk di samping Hana yang sudah menatapnya dari tadi. Maafkan aku… batinnya sambil menatap wajah hana dan membelainya. Ketika tangan Oz membelai wajah Hana, Hana memegang kembali tangan Oz dan mendekapnya dalam wajahnya yang jelita. Oz terhenyak kaget melihat kehangatan yang diberikan Hana kepadanya, kehangatan yang selalu ia berikan sejak ia tinggal di mansionnya.

“Hana… maaf… maafkan aku.” Desisnya.
“Hm, minta maaf untuk apa?”
“Karena selama ini aku… aku telah berlaku kasar kepadamu.”
“Oz… kau tidak pernah sekalipun berbuat kasar kepadaku. Kenapa kamu yang minta maaf kepadaku. Justru aku yang berterima kasih kepadamu, karena kamu berbaik hati membiarkan aku tetap berada di sisimu.” Kata Hana, sambil memegang tangan Oz.
“Tapi… tapi…”
“Hush… sudah. Aku tidak mau kau menjadikanku sebagai beban. Tapi kumohon, jangan kau berikan tatapan kosong itu lagi.”
Oz tertunduk.
“Aku tahu semua ini berat untukmu. Tidak mudah untuk melupakan semua penderitaan yang selama ini kamu alami. Aku juga merasakannya…”

Sejenak Hana menghentikan perkataannya.

“Aku… ingatanku sudah kembali.”
Kaget, Oz kaget mendengar kata-kata yang diucapkan hana. Wajahnya tak tertunduk lagi.
“Apa?! Benarkah?”
“Iya,”
“Jadi kau ingat segalanya?”
Hana menganggukkan kepalanya. Pembicaraan mereka sekarang menjadi serius, suasana menjadi tegang.

“Namaku sebenarnya… Hana… Hana… Sakura…”

BRAAAK!!!
Pintu kamar Oz terbuka dengan kerasnya, sosok pria tua yang pernah bertemu dengan oz terlihat di depan pintu. Wajahnya menunjukkan raut serius, ia menatap Oz yang sedikit terkejut karena bantingan pintu itu.
“Maaf, tuan muda. Tapi tuan muda harus pergi ke ruang kerja sekarang, ini soal permintaan yang tuan ajukan kepada saya.”
Ternyata dia sudah mendapatkannya. Batin Oz.

“Iya. Pergilah terlebih dahulu, aku akan menyusul.” Ucap Oz dingin.
Pria itu meninggalkan Oz, Oz menatap Hana yang masih kebingungan. Permintaan apa? Batin Hana.
“Hana, tunggulah disini. Ada urusan yang harus kuselesaikan.”

Lalu dia pun meninggalkan Hana seorang diri dalam kamar diiringi tatapan cemas darinya. Oz kembali berjalan menuju ruangan itu, dengan rasa penasaran sekaligus lega.

Sementara itu di ruang kerja…
Pria tua itu menyambut Oz yang memasuki ruang kerja, ia lalu menyodorkan sebuah berkas kepadanya. Dan ruangan pun menjadi gelap, sekejap sebuah layar televisi besar menampangkan sebuah gambar silsilah keluarga Oz. Di situ Oz bingung dengan apa yang sedang ditunjukkan kepadanya, ia tidak mengerti.

“Ini adalah silsilah keluarga tuan, Keluarga Bezarius. Mereka berkerja sama dengan Keluarga Sakurami sejak lama. Tapi karena Ayah anda merasa kerja sama itu kurang efektif, muncul keinginan untuk mendominani bisnis besar yang dimiliki oleh Keluarga Sakurami. Ayah anda menjadi gelap mata dan membunuh tuan besar sakurami beserta istrinya.”

Oz terperanjat kaget mendengar perkataan pria yang berada di hadapannya.

“Tapi putri tunggal dari Keluarga Sakurami menghalangi jalan Ayah anda untuk menguasai bisnis besar itu. Dan ia pun mengirim suruhan untuk membunuhnya, gadis itu terjatuh dari tebing di belakang Mansion. Tetapi dari kabar yang saya dengar, putri tunggal Sakurami tidak meninggal. Sekarang ia mengalami koma, dan sampai saat ini masih belum ada kabar tentang keadaannya. Saya tidak tahu mengapa tuan mempertanyakan tentang perihal Keluarga Sakurami.”

“Lalu siapa nama putri tunggal Keluarga Sakurami?” Tanya Oz, penasaran.

Pria tua itu berjalan menuju file yang berada di atas meja, ia lalu meraihnya dan membacanya.

“Dari informasi yang saya dapatkan, mungkin Hana yang tuan cari adalah gadis ini. Putri tunggal Keluarga Sakurami yang sedang dalam kondisi koma bernama Hana Sakurami. Cuma ini informasi yang saya dapat, tidak ada orang lain bernama Hana lagi yang dapat saya temukan.”

GLEGAR!!!
Petir di siang hari menyambar, Oz terkejut mendengar perkataan pria tua yang ada di depan matanya. Ia teringat akan perkataan Hana yang sempat terputus, ‘Oz… namaku sebenarnya… Ha… Hana… Hana Sakura…’ Jangan-jangan! Batinnya.

Pada saat itu Oz langsung berlari keluar dari ruang kerja dengan panik. Ia berlari kencang melalui koridor dan menuju kamar dimana Hana berada dengan tergesa-gesa. Ketika ia sampai di dalam kamar, mata Oz terbelalak melihat pemandangan yang ia lihat. Hana pun terlihat panik, rasa cemas terlihat melalui wajahnya.
“O… Oz. Kenapa… apa yang terjadi dengan tubuhku?!”
Tubuh Hana tembus pandang dan perlahan-lahan menghilang, Oz dengan cepat menghampiri hana yang panik.
“H… Hana! Apa yang sedang terjadi?”
“Aku tidak tahu! Tiba-tiba saja langsung menjadi seperti ini. Oz! apa yang terjadi?! Tolong aku?!” Jerit Hana.

Oz tidak tahu apa yang harus ia lakukan, tidak ada cara lain untuk menolong Hana. Ia hanya terus berdoa agar ia tidak berpisah dengan Hana sekarang. Masih banyak hal yang ingin ia pertanyakan kepada Hana, dan juga kenyataan bahwa Ayahnya lah yang membunuh kedua orangtua Hana dan membuatnya mengalami koma.

Secara perlahan tubuh Hana semakin menghilang dan mulai terangkat ke atas. Oz dan hana mencoba meraih tangan satu sama lain. Perpisahan ini terlalu cepat bagi Oz begitu pula dengan Hana, air mata terlihat jelas di mata Hana dan raut wajah tak rela terlihat pula di wajah Oz. Tidak! Aku tidak ingin berpisah secepat ini! Batin Oz. Ia terus mencoba dan berusaha meraih tangan mungil Hana yang selalu memberikannya kehangatan, tapi semua itu tidak bisa ia dapatkan lagi dari gadis yang tanpa sadar adalah gadis yang sangat ia cintai dan ia sayangi. Tangan itu pun tak dapat ia raih dan dengan semakin menghilangnya sosok Hana. Hana menangis, air matanya membasahi wajah yang jelita.

“OZ!!”

SIING…

Dalam sekejap, sosok Hana pun lenyap. Oz teridam dengan tangan terulur, perpisahan itu terjadi begitu cepat dan juga Hana adalah Hana Sakurami. Putri tunggal Keluarga Sakurami yang jaya dan besar dalam dunia bisnis antar bangsawan. Dan juga lebih menyakitkan lagi, bahwa Ayahnya lah yang telah membuat Hana menderita dan membunuh kedua orangtuanya hanya demi harta dan kejayaan untuk meninggikan derajat.

Hana telah pergi menghilang dari permukaan bumi. Sosok Hana yang selalu tersenyum walaupun ia sedang bersedih, sosoknya yang selalu menghibur Oz dan memberikan kehangatan dan kasih sayang layaknya seorang Ibu tidak akan pernah di dapatkan lagi. Wajah cerianya dan juga senyuman lembut yang selalu dapat membuat hati Oz luluh dan terpaku karenanya.

Wajah Oz tertunduk, terpaku dan amarah berkecamuk dalam hatinya. Emosi bercampur aduk menjadi satu, ia mengepalkan tangannya, bendungan kesedihan yang ia tahan dari tadi sangat menyiksa batin.

“Hh…!! HANA!!!”
Oz berteriak dan teruduk tertumpu di kedua kakinya. Meneriakkan kepergian seorang gadis yang sangat ia sayangi. Takdir. Takdir telah menunjukkan tujuannya, jalan yang akan dilalui oleh Hana dan Oz telah terbuka. Dua insan yang telah ditakdirkan untuk bersama tapi rintangan akan selalu datang menghampirinya. Hanya takdir yang mengetahui akhir dari perjalanan mereka. Apakah Hana masih hidup atau dia telah tiada? Hanya takdir yang mengetahuinya. Kebenaran dari semua konflik yang mereka lalui.

Bersambung…

Cerpen Karangan: Meisy Pratiwi
Facebook: haruna suzuno

Cerpen My Beloved Hana (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Adalah Fana

Oleh:
Sore ini awan hitam penuhi angkasa. Udara menjadi dingin. Senja tak akan berwarna kemerahan hari ini. Kemudian sepi kembali merambat secara perlahan menyelubungi tubuhnya yang telah terduduk di tepi

Lebik Baik Seperti Ini

Oleh:
Seorang lelaki tua terus berjalan tanpa henti walaupun panas terik matahari menyakiti kulit rapuhnya. Di perjalanan ia terus memikirkan bagaimana memberitahu keluarganya bahwa dia baru saja dipecat dari tempat

Akhir dari Kisah Bumi

Oleh:
Ketika malam datang menghampiri Bumi. Gelapnya langit turut menghiasi. Bintang-bintang menari diselingi canda tawa. Kemudian, bulan menghampiri dan berkata, “Wahai para penghias langit! Bagaimana bisa kalian tertawa disaat sahabat

Sepasang Egoistis

Oleh:
Ketika aku mengatakan ‘jangan’ aku sungguh tidak ingin kau melakukannya. Ketika aku mengatakan ‘tidak’ maka aku dengan tegas menolaknya. Ketika aku menjadi gadis egois yang menentang semua kesukaanmu berarti

Joana (Part 1)

Oleh:
“Clara…! Apakah kau sudah siap sayang?” Terdengar dari lantai bawah rumah ibuku yang memanggil, sepertinya ia sedang memanggang roti dengan selai blueberry aromanya sungguh lezat. “Baik bu, aku akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *