My Beloved Hana (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 7 January 2014

TILT… TILT… TILT…
Alat pendeteksi detak jantung berbunyi di ruangan sepi yang hanya berisi dua orang. Mark, tertidur di samping nona muda yang sangat ia sayangi, Hana Sakurami. Hana seperti anaknya sendiri, ia merawatnya dari kecil ketika kedua orangtuanya meninggalkannya sebatang kara. Dan sekarang, yang ia harapkan adalah kesembuhan bagi nona muda yang sedang terbaring lemah di sampingnya dengan mata terpejam. Ia tidak tahu akankah mata itu akan terbuka kembali untuknya, melihat wajahnya yang selalu mencemaskannya. Tidak ada yang bisa ia lakukan, yang ada hanyalah ia terus berdoa memohon kesembuhan Hana kepada yang Maha Kuasa. Sehingga senyuman ceria sang nona muda dapat menghiasi hari-harinya lagi, suara lembut yang menyapa dirinya.

“Hh…”

Mark terbangun dan terkejut mendengar suara kecil yang berasal dari samping telinganya. Ia mendekati telinganya ke wajah Hana, memastikan bahwa yang baru saja ia dengar itu tidak salah. Dengan hati-hati ia mendekatkan telinganya ke wajah Hana yang masih tertutupi oleh infus.

“Oz…” Suara samar terdengar dari mulut Hana.

Mark terkejut lalu dengan sigap ia langsung berlari keluar kamar untuk memanggil Petugas Paramedis untuk memastikan bahwa apa yang baru saja ia lihat adalah benar. Para Petugas Paramedis berdatangan bersamaan dengan Mark, lalu mereka mulai memeriksa Hana. Dan hal yang menggembirakan mulai datang untuk Mark.

“Mister, sekarang kondisi nona muda sudah stabil. Apa yang didengar oleh tuan itu tidak salah. Nona Hana sudah siuman, tetapi ia masih belum bisa menggerakkan tubuhnya dulu.”

Betapa senangnya hati Mark mendengar penjelasan Dokter yang baru saja memeriksa Hana. Dengan cepat ia langsung menghampiri Hana yang telah membuka matanya, air mata mengalir di wajahnya yang mulai menua air mata kebahagiaan menunggu saat-saat yang sangat ditunggu-tunggunya.

“Nona Hana! Syukurlah… akhirnya nona sudah sadar.” Ucapnya terharu.
“O… Oz…” Desis Hana.
“Oz? Siapa Oz, nona?”
“Oz…”
TEES…
Oz adalah nama pertama yang diucapkan Hana ketika siuman, dan air matanya pun langsung mengalir seiring dengan ia terus mengucapkan nama itu.

Mark kebingungan dengan reaksi Hana yang langsung menangis, ia langsung memanggil seluruh pelayan yang berada di kediaman Keluarga Sakurami untuk menyambut kesembuhan sang nona muda. Seluruh pelayan yang ada di Mansion bersuka cita atas kesembuhan sang nona muda yang sangat mereka sayangi. Mereka menangis terharu melihat Hana sembuh dari koma yang selama ini mengurungnya.

Kabar akan kesembuhan Hana sudah tersebar ke penjuru dunia dan ke keluarga bangsawan yang lain terutama Ralp Bezarius, Ayah Oz. ia kesal dan marah mengetahui bahwa putri dari Keluarga Sakurami telah sembuh, usahanya saat ini sia-sia. Dengan kesal ia melempar Koran yang memberitakan tentang kesembuhan hana.
“SIALAN! Kenapa gadis itu masih hidup?!” Geramnya.
“Aku tidak bisa membiarkan hal ini!”
Dan pada hari itu juga ia pergi meninggalkan Amerika dan berpulang ke Inggris, ke tempat dimana Oz berada.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Keadaan Hana semakin membaik, ia sudah bisa melakukan kegiatan yang wajib ia lakukan yaitu melanjutkan bisnis kedua orangtuanya. Walaupun ia masih berada di kursi roda dan masih memerlukan istirahat yang panjang, tetapi ia bersikeras kepada Mark untuk melakukan semua kewajiban yang selama ini ia tinggal. Tentulah Mark tidak dapat membantah perintah Hana, ‘Kan selama ini Paman yang mengerjakan semuanya. Sekarang giliranku yang melanjutkannya.’ Itu yang diucapkan Hana kepada Mark sambil menunjukkan senyuman lembut kepada Mark. Hati Mark terenyuh dan mengalah pada permintaan Hana, tetapi Mark menyuruh Hana untuk tidak terlalu banyak bekerja harus ada waktu istirahat yang cukup untuk tubuhnya yang masih lemah.

Pada suatu hari Hana ingin pergi ke halaman belakang, dimana ia mengalami kejadian naas tersebut. Mark bersikeras tidak memperbolehkannya untuk kesana, tapi Hana membantah.

“Paman! Kumohon! Aku akan berhati-hati.” Mohon Hana kepada Mark.

Mark ragu akan permintaan Hana yang satu ini, rasanya berat membiarkan Hana pergi ke tempat itu. Dan dengan nafas berat, akhirnya ia pun memperbolehkan Hana. Wajah Hana berubah cerah mendapat izin dari Mark.

“Tapi… nona harus diantar oleh pelayan. Supaya nona tidak berada di dekat tebing.”
“Iya.” Ucap Hana, senang.

Hana pun pergi bersama seorang pelayan diiringi tatapan cemas Mark. Ia takut membiarkan gadis itu pergi berkeliaran keluar Mansion, ia tidak ingin kali ini ia kehilangannya lagi.

Kediaman Bezarius…
“Tuan Oz, sarapan telah siap.”
Spetto mengantarkan kereta makanan untuk Oz yang berada di dalam kamar. Sejak Hana menghilang, ia jadi lebih sering mengurung diri dalam kamar dan tidak ingin berbicara dengan orang lain.
“Aku tidak mau makan,” Katanya, dingin.
“Saya mohon, tuan. Sudah beberapa hari ini tuan tidak makan, nanti tuan sakit. Saya mohon, sedikit saja.” Ucap Spetto, cemas.
“Kalau aku tidak mau, ya tidak!!” Bentak Oz.
Spetto ketakutan melihat Oz yang marah, Oz pun sadar bahwa kalimat yang ia katakan sangat kasar. Ia lalu mendekati Spetto yang terpaku di samping kereta makanan, ia lalu berdiri di hadapannya.
“Maaf, aku tidak bermaksud.” Kata Oz, menyesal.
“Tidak apa-apa, tuan muda. Saya yang salah karena saya memaksa tuan makan, padahal tuan tidak mau.”
“Tidak, aku yang salah. Aku ingin keluar, mencari udara segar.”

Oz lalu berjalan keluar meninggalkan Spetto sendiri dalam kamarnya. Ia lalu menuju taman dimana ia pertama kali mengetahui bahwa Hana itu adalah arwah yang tersesat. Taman mawar yang begitu luas dan juga harum semerbak yang menyebar karena angin pagi.

Oz berdiri di tengah taman mawar itu, mengingat kembali kenangannya bersama Hana disitu. Dimana Hana menangis memohon Oz untuk mendengarkan semua penjelasannya dan dimana ia telah menyadari betapa ia sangat menyayangi Hana serta tidak ingin kehilangan sosok mungil nan jelita.

Ia menerawang jauh ke atas awan biru pada pagi itu, berharap suatu hari ia akan bertemu dengan Hana lagi dan dapat memberitahu seluruh perasaan yang ada dalam hatinya. Aku merindukannya, aku merindukan sosok lembutnya, aku merindukan senyuman hangatnya, aku merindukan kehangatannya kembali. Tuhan! Pertemukan aku lagi dengannya. Jerit Oz dalam hati, ia sangat merindukan Hana. Ia ingin mendekapnya kembali seperti dahulu, tapi kini ia hanya bisa meratapi akan kerinduan yang tak tertahankan di hatinya.
“Hana… dimana kau…” Ucapnya.

“Ternyata kau disini, Oz.”
Suara yang tidak asing terdengar di telinga Oz, ia tahu suara siapa yang ia dengar. Ia membalikkan tubuhnya dan mendapati sosok seorang pria yang kelihatan tua tetapi sebenarnya sudah menua itu. Mata Oz memberikan tatapan kebencian dan rasa marah ketika melihat sosok yang berada di hadapannya.
“Kau…” Geram Oz.
“Lama tidak bertemu. Kau sudah besar rupanya dan juga kau memiliki wajah Ibumu, tetapi kau memiliki sifatku.”
“Aku sama sekali tak menuruni sifat yang kau miliki! Mau apa kau disini?!” Bentak Oz.
“Begitukah salammu setelah lama tidak berjumpa dengan Ayahmu sendiri?” Kata Ralp enteng.
“Kau bukanlah Ayahku! Ayahku bukanlah pembunuh!” Teriak Oz.
Ralp terkejut mendengar perkataan Oz, ia tidak menyangka Oz telah mengetahuinya. Ia lalu tertawa terbahak.
“Ternyata pria tua itu telah memberitahumu. Apa kau kaget, mengetahui bahwa Ayahmu mempunyai catatan kriminal dan kemungkinan akan dipenjara?”
Oz tersenyum sinis mendengar perkataan Ayahnya yang sangat percaya diri.
“Hh! Aku malah senang kalau Ayahku sendiri dipenjara akibat perbuatannya yang serakah.”
Emosi Ralp memuncak mendengar perkataan Oz.
“Dasar anak sialan! Kau mengharapkan ku masuk penjara?!”
“Aku akan tertawa terbahak melihat kau di dalam keranda sel. Kau hampir membunuh putri tunggal Keluarga Sakurami! Apa kau tahu itu?!”
“Jadi kau kenal dengan gadis itu. Kau tahu Oz, gadis itu telah mati. Ia jatuh dari tebing, dan dari koran yang kubaca kemarin, ia telah meninggal akibat gagal jantung.”
“Apa?!”
“Iya, sekarang seluruh harta Sakurami akan jatuh ke tanganku.”
“SIALAN KAU!!”
BUUKK…
Oz langsung menerjang dan memukul Ayahnya berkali-kali, para pelayan yang melihat mencoba menghentikan Oz. Tetapi Oz sangat kuat hingga para pelayan tak kuasa menghentikan Oz yang mempunyai tubuh bidang.

Ayah Oz ia pukul sampai babak belur, Oz sangat terpukul dengan kabar yang ia dengar. Dan kenyataannya kabar itu palsu, Ralp hanya mengarang-ngarangnya saja.
“Sialan! Kenapa kau membunuhnya, apa salahnya. Kenapa!”
BUUKK!!
Sekali lagi Oz meninju wajah Ayahnya yang mengeluarkan darah segar di beberapa bagian. Ralp tidak dapat melawan ia telah menjadi sasaran empuk.
“Kenapa?! Kenapa?! Kenapa kau membunuh Hanaku yang tersayang!”
BUUKK!!

“Tuan muda. Sudah jangan pukuli tuan besar lagi.” Ucap salah satu pelayan.
“Tunggu, Oz. Hana tidak mati, dia masih hidup.” Kata Ralp dengan nada bergetar.
Oz menghentikan pukulannya, bola matanya membesar.
“Apa katamu?” Ucapnya
“Iya. Aku berbohong kepadamu, gadis itu tidak mati. Ia baru saja sadar setelah sekian lama koma.”
“Apa?”
Ralp kemudan tertawa, dan membuat Oz bingung.
“Ha… ha… ha… ha… Tapi kali ini aku akan benar-benar membunuhnya! Ha… ha… ha…”
BUUKK!!!
Sekali lagi Oz mengayunkan pukulanya kepada Ralp, dan dengan seketika Ralp pun langsung pingsan diiringi dengan jeritan para pelayan.

Dengan segera Oz memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan sebuah helikopter dan ia langsung pergi mendatangi pria tua yang berada di ruang kerja. Ia menanyakan dimana Hana Sakurami tinggal.

“Hana Sakurami bertempat di Indonesia dan berdiam di Mansion yang berada di tengah-tengah Pulau Jawa.”
“Terima kasih, Rax.”
“Selalu, tuan.” Jawab pria tua yang dipanggil Rax itu.

Lalu helikopter yang membawa Oz langsung lepas landas menuju Negara Indonesia untuk menemui Hana, perasaan Oz terasa lega mendengar Hana masih hidup. Dan kerinduan yang tidak tertahankan pun akan terbalas. Sebentar lagi… sebentar lagi kita akan bertemu Hana. Dasar pria tua sialan! Dia sudah gila, terlalu terobsesi dengan harta. Batinya dan juga mengomel dengan kelakuan Ayahnya yang agak abnormal.

Sementara itu Sakurami Mansion…
Angin laut bertiup kencang menerpa rambut panjang Hana yang tergerai indah berada di kursi roda. Sekarang ia berada di taman bungan dan berada 15 meter dari tebing dimana ia jatuh. Ia menatap lautan luas yang membentang di hadapannya, yang saat itu yang ia pikirkan hanyalah seorang laki-laki yang mempunyai tatapan kosong dan lelaki yang telah menolongnya. Dan tanpa sadar ia pun telah jatuh cinta kepadanya, dan sekarang ia ingin sekali bertemu dengannya.
“Oz…” Ucapnya.

WHUUS…
Kemudian angin kencang datang mengelilingi Hana, ia melihat ke atas dan ia menemukan helikopter sedang berada jauh di atasnya. Helikopter itu mendarat di halaman belakang Mansion dan tak jauh dimana Hana berada.

Pintu helikopter terbuka dan sosok lelaki bermata biru berambut pirang turun dari helikopter. Hana terkejut melihat lelaki yang turun dari helikopter itu, Hana yang tadinya duduk di kursi roda sekarang ia berdiri dengan bola mata membesar. Oz berjalan menghampiri Hana dengan tersenyum, Hana yang melihatnya langsung menangis dan menghamburkan pelukannya ke Oz. Ia memeluk erat Oz begitu pula dengan Oz yang telah terbalaskan kerinduannya.

“Hana, akhirnya aku menemukanmu.” Ucap Oz lembut.
“Oz… aku sangat merindukanmu…” Isak Hana.
Mereka berpelukan lama sekali, melepaskan segala kerinduan yang membendung di antara mereka.

Oz lalu melepaskan pelukannya, ia lalu menyuruh Hana duduk di kursi roda.
“Duduklah. Kau masih belum sehat.”
Oz membantu Hana duduk di kursi roda.
“Terima kasih.”
“Hana, ada yang ingin kuberitahukan kepadamu.”
“Hm, apa yang ingin kamu beritahukan?”
“Hana, aku minta maaf. Ayahku… Ayahku yang membunuh kedua orangtuamu dan juga orang yang telah membuatmu koma.” Jelas Oz.
Hana terperanjat, ia sangat terkejut dengan perkataan yang diucapkan oleh Oz. Ia sangat terpukul, ternyata selama ini Ayah Oz lah yang telah membuatnya menderita. Membuatnya menjadi sebatang kara dan sendiri dalam kegelapan dimana ia harus tersenyum untuk menutupinya.
“Maafkan aku…”
Air mata mengalir membasahi wajah Hana.
“Kenapa… kenapa Ayahmu berbuat sekejam itu?”
“Maafkan aku, Ayahku terlalu serakah dan ia menginginkan harta yang dimiliki kedua orangtuamu.”
“Kenapa… kenapa, Oz! Ayahmu begitu jahat! Ia membunuh kedua orangtuaku dan hal itu membuatku menjadi sangat kesepian! Dan ia juga berusaha untuk membunuhku juga, dia telah memberikan penderitaan yang selama ini aku jalani dengan susah payah. Aku tidak punya siapa-siapa, hanya Paman Mark yang mengurus dan menjagaku dari kecil. Aku tidak sempat merasakan kasih sayang kedua orangtuaku, Oz!”
“Hana!”
GYUUT…
Hana terkejut ketika Oz memeluknya, Oz lalu memegang wajah Hana. Dengan lembut ia mulai mengecup lembut bibir Hana dan hal itu membuat Hana terperangah.
“Hana… Tenang…”
Oz lalu memegang kedua tangan Hana.
“Aku datang kesini bukan untuk mengatakan hal itu. Aku kesini untuk mengatakan bahwa aku sangat… mencintaimu, Hana. Jadi mau kan kau menikah denganku?”
Hana terperanjat kaget, dan ia pun menjadi salah tingkah karena perkataan Oz. Ada rasa ragu dan juga rasa gembira karena Oz juga merasakan hal yang sama dengan dirinya. Tetapi menikah, ia masih terlalu muda untuk itu. Dengan kikuk ia menjawab.
“Oz, aku sangat senang. Tapi apakah terlalu cepat, kita berdua masih muda jalan kita masih panjang. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan. Kita jalani dulu hubungan kita, jika kau percaya bahwa waktu itu adalah waktu yang tepat, lamarlah aku sekali lagi.”
Oz tersenyum dan ia menganggukkan kepalanya. Kemudan mereka berdua pun saling berpelukan.

Dan mulailah hubungan antara Hana dengan Oz, dan mereka pun mulai menjalin kerja sama antara Keluarga Sakurami dan Bezarius dalam bisnis yang sehat. Hana berhasil sukses dalam menjalankan bisnis kedua orangtuanya begitu pula dengan Oz, berhasil menjalankan bisnis Ibunya sedangkan Ayahnya berada dalam sel seumur hidup akibat perbuatan yang ia lakukan.

Dan dua tahun kemudian Oz melamar hana untuk kesekian kalinya, dan lamaran itu Hana terima dengan senang hati. Dan pada bulan Ferbruari, mereka pun menikah dan hidup bahagia dengan dikaruniai seorang putra yang lucu. Takdir telah menunjukkan keajaibannya dalam mepersatukan dua insan yang awalnya tidak saling mengenal. Jadi bagi pasangan yang ada di seluruh dunia cinta bukanlah yang dapat kita ucapkan dengan kata-kata tetapi cinta sejati adalah hal yang harus kita perjuangkan walaupun banyak rintangan yang terus menghampiri kita. Seperti cinta yang dimiliki oleh Oz dan Hana, sekarang mereka telah bahagia dalam menjalani hidup dan dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang yang berada di sekeliling mereka sampai ajal menjemput.

F I N

Cerpen Karangan: Meisy Pratiwi
Facebook: haruna suzuno

Cerpen My Beloved Hana (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kue Permohonan

Oleh:
Neira adalah gadis kecil yang periang. Kulitnya cokelat, rambutnya panjang sepunggung, ditambah lagi dengan kemanisannya dalam berbicara. Neira punya seorang kakak perempuan, namanya Amira. Amira adalah gadis yang pendiam,

Aku

Oleh:
Aku adalah orang bodoh. Bagaimana tidak bodoh jika Aku itu tidak pernah menyiram bekas buang airnya sendiri. Aku adalah orang yang bodoh. Bagaimana tidak bodoh, Aku bahkan selalu tertawa

Impian Firaun

Oleh:
Padang gurun terhampar, kedua belah pihak bertarung. Petarungan sengit untuk membela Negeri kebanggaanku, Mesir. Mereka terlalu kuat, ribuan pasukanku tak mampu melawan mereka. Tumpah darah terjadi, melihat pasukanku berjatuhan

Devil (Part 1)

Oleh:
Kulangkahkan kakiku menyusuri koridor sekolah yang telah gelap itu, mataku tak henti-hentinya mengedarkan pandangan ke setiap jengkal tempat yang kulewati. Aku harus menemukan pria itu, tekatku dalam hati. Tepat

Monster Love (Part 1) Pertemuan

Oleh:
Semua berawal dari sebuah planet kecil bernama Evola yang mendekati kehancuan karena serangan bangsa Lurux yang ingin menguasai planet tersebut, sang raja yang harus berjuang berperang matian-matian melawan musuhnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “My Beloved Hana (Part 3)”

  1. anonymous says:

    nice story ^
    i like it^

    reminding me to… pandora hearts ^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *