My Guardian Fairy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 2 June 2017

Laila adalah gadis biasa berumur 17 tahun yang tinggal bersama dengan paman dan bibinya, kedua orangtuanya telah meninggal. Saat Laila masih berumur 7 tahun, dia dan keluarganya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kedua orangtuanya meninggal, sementara Laila selamat dari kecelakaan tersebut. Sebelum orangtuanya meninggal, Laila mendapatkan sebuah kalung liontin di hari ulang tahunnya yang ke-7 tahun. Laila tidak sadar bahwa ternyata kalung itu memiliki kekuatan seperti sihir yang selalu melindunginya dari bahaya yang mengancamnya, dan karena itu juga dia selamat dari kecelakaan yang menewaskan kedua orangtuanya. Saat kedua orangtuanya masih hidup paman dan bibinya sangat baik padanya namun setelah orangtuanya meninggal paman dan bibinya berubah menjadi sangat keras terhadap Laila, apalagi dengan kedua sepupunya yang setiap hari selalu menyuruh Laila melakukan hal yang biasa dilakukan oleh pembantu. Laila hanya bisa tenang jika dia berada di sekolah, walau dia tidak mempunyai teman akrab seperti teman-temannya yang lain setidaknya di belakang sekolah terdapat taman sepi yang nyaman untuk melepaskan lelah berada di rumah sebagai seorang pembantu bagi kedua sepupunya.

“hai mami, bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? Bagaimana dengan papi? Apa dia masih suka bercanda denganmu? Aku merindukan kalian…” Laila selalu berbicara dengan kalung pemberian orangtuanya saat sedang sendiri, tanpa dia sadari tetesan air matanya terjatuh di kalung tersebut.

Seketika kalung tersebut mengeluarkan sinar, karena terkejut dia menjatuhkannya, saat itu muncullah lelaki dari liontin tersebut. Dia mengenakan jubah berwarna hijau lumut yang panjang sampai menyentuh tanah, lelaki itu terlihat seumuran dengan Laila. Laila sangat terkejut dan berlari menjauhinya namun tiba-tiba saat dia sedang berlari lelaki itu muncul di hadapannya.

“tunggu dulu! Aku tidak bermaksud untuk menakutimu, kau harus mendengarkan dulu siapa diriku.”
“aku tidak ingin tahu siapa kau! Pergilah dan jauhi aku!”
“kau harus mendengarkanku, aku bukan orang jahat sungguh!! Aku tahu kemunculanku mungkin sangat menakutkkan. Aku sudah berfikir bagaimana caranya untuk muncul di hadapanmu tanpa membuatmu takut tapi aku tidak menemukannya.”
“kenapa kau ingin bertemu denganku? Dan siapa kau?”
“aku mau memberitahumu tapi kau malah ingin lari dariku, aku kan tadi sudah bilang padamu! Namaku Kora, aku adalah peri yang tinggal di kalungmu. Apa orangtuamu tidak memberitahu tentang aku?”
“Tidak. lagipula peri macam apa kau? Apa ada seorang peri berpakaian sepertimu? Bukankah seorang peri itu biasanya seorang wanita dan mempunyai sayap? Tapi kau…”
“apa lagi?? Aku seorang lelaki, tidak punya sayap, berpakaian buruk, dan aku jelek. Benar kan?”
“aku tidak bilang kau jelek.”
“benarkah? Ehem.. apa berarti aku tampan?”
“aku tidak bilang kau tampan.”
“ehm.. lupakan sajalah, aku adalah salah satu pelindung bagi keluarga kerajaan. Orangtuamu termasuk keturunan keluarga kerajaan Magira, maka dari itu mereka mewarisi kalung pelindung itu. Mereka terus menjaga kalung ini sampai diberikan kepadamu, sekarang kau dalam perlindunganku.”
“aku masih tidak mengerti dengan semuanya, kerajaan apa yang kau maksud? Dan kenapa kau…”
“aku tau ini sulit dimengerti tapi kau harus percaya Laila, orangtuamu hanya ingin kau tetap aman tanpa bahaya sedikitpun. Mereka ingin kau bahagia Lail percayalah padaku, aku harus pergi sekarang tapi aku akan kembali lagi jika kau membutuhkanku. Tetap pakai kalung ini di lehermu dan aku akan selalu ada bersamamu. Sampai jumpa lagi…”
Laila melihat laki-laki di depannya menghilang dengan cahaya yang terang dan setelah itu masuk ke dalam kalungnya. Kalung itu terjatuh dari tangan Kora yang telah menghilang dan Laila mengambilnya.

Laila masih bingung dan tidak percaya dengan semua yang baru saja terjadi. Dia tidak mau memikirkan tentang itu, Laila memutuskan untuk menjalani kegiatannya seperti biasa. Dia mencoba untuk melupakan kejadian itu, tetapi setiap malam Laila selalu khawatir saat melihat kalung yang ada di lehernya. Setiap dia berpikir bahwa itu tidak nyata justru itu terus membuat dia bertanya-tanya.

Sudah satu minggu dia penasaran dengan makhluk yang keluar dari kalungnya. Suatu sore, Laila sedang menyapu halaman depan rumahnya. Saat sedang menyapu Andin dan Sonya secara sengaja melemparkan bola basket yang sedang mereka mainkan ke arah Laila. Tanpa Laila sadari bola itu berhenti di depan wajahnya lalu terjatuh. Laila terkejut dengan kejadian tadi, bagaimana bola itu bisa tidak mengenai wajahnya. Saat bola itu menuju ke arahnya, Laila hanya diam berfokus pada bola itu dan berpikir bola itu tidak mengenai dirinya. Seketika itu bola yang menuju ke arahnya berhenti dan terjatuh.

“apa yang kau lakukan?!” bentak Sonya kakak sepupunya yang sedang memandangi bola yang ada di depan kaki Laila.
“hei anak pembawa sial, apa yang kau lakukan dengan bola itu? Bagaimana bola itu tidak mengenaimu?” bentak Andin yang kesal melihat bola itu tidak mengenai Laila.
“aku tidak melakukan apapun, aku hanya…”
“apa apa ini?” tanya bibi Angela dari teras rumah.
“aku.. aku tidak melakukan apapun bi. Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, aku hanya…” jawab Laila dengan kebingungan.
“kau tidak perlu menjelaskan padaku Laila. Sejak aku bertemu dengan Ibumu, dia memang sangat aneh. Semenjak dia menjadi saudara tiriku, dia selalu melakukan hal-hal yang aneh seperti yang kau lakukan. Tidak heran jika kau juga bertingkah aneh seperti Ibumu. Kau, ibumu, atau ayahmu tidak ada satupun dari kalian yang normal, kalian adalah sekumpulan orang aneh yang mengganggu kehidupanku. Akan lebih baik jika kau ikut dengan mereka berdua Laila!!” bentak bibi Angela.
“cukup bibi Angela! Aku tidak pernah melawanmu saat kau menyuruhku bekerja seperti seorang pembantu. Aku tidak pernah membantah semua keinginanmu, aku turuti saat kau menyuruhku tinggal di loteng rumah. Aku mengikuti semuanya, tapi aku tidak terima kau berkata seperti itu mengenai orangtuaku! Bukankah karena mereka kau menikmati semua ini? Jika bukan karena mereka kau dan keluargamu mungkin sudah…” kata-kata Laila terputus saat Sonya menarik tubuhnya dan menampar dirinya.
“beraninya kau berkata seperti itu pada ibuku! Andin bawa dia dan kunci dia di loteng sekarang, cepat!!” bentak Sonya
Andin menarik lengan Laila menuju loteng dan dia menguncinya di sana.

Laila menghela nafas dan sedikit demi sedikit air mata turun melewati pipinya. Dia terpaku saat mengingat kedua orangtuanya. Saat mereka merawatnya dengan sepenuh hati, tetapi sekarang dia tidak lebih dari seorang pembantu di rumahnya sendiri. Laila tidak bisa menahan air matanya lagi, dia terjatuh dan menangis.
“apa yang harus aku lakukan mam? Kenapa kau tidak memberiku petunjuk apapun mengenai diriku yang sebenarnya? Siapa aku? Dan siapa kalian?”
“aku yang akan menjawabnya.”
Laila terkejut mendengarnya, dia menoleh ke belakang dan ternyata lelaki yang muncul dari kalung itu yang ada di belakangnya.
“apa yang kau lakukan di sini?”
“bukankah sudah kubilang pakai terus kalungmu kenapa kau meninggalkannya di sini?”
“itu bukan urusanmu, lebih baik kau pergi saja sana dan jangan muncul lagi di hadapanku.”
“apa kau tidak penasaran kenapa kau bisa melakukan hal tadi? Kau tidak mau tahu kenapa kau bisa melakukan itu?”
“apa maksudmu?
“sudah saatnya kau tahu siapa dirimu yang sebenarnya Lail.” Kora mengibaskan tangannya di depan wajahnya dan seketika itu muncul lorong hitam membentuk pusaran.
“apa itu?”
“ikutlah denganku, kau akan bertemu dengan keluarga dari ibumu dan juga ayahmu yang sebenarnya.”
“keluarga apa maksudmu?”
“pegang tanganku, aku akan memberitahumu nanti.”
Kora mengulurkan tangannya padaku, dengan ragu-ragu aku mengikuti apa yang dia katakan. Setelah itu kami masuk ke dalam lorong hitam besar itu, Laila memejamkan matanya dan saat dia membuka matanya dia melihat cahaya terang dan saat dia sadari, dia berada di sebuah kota.

Kota itu sangat berbeda dengan kota yang dia tinggali, di kota itu terdapat rumah yang melayang di angkasa. Banyak orang yang menaiki sebuah piringan dan lebih anehnya lagi piringan itu terbang di angkasa.
“ini adalah kota Ilivious, pusat kota dari kerajaan Magira. Ini tempat dimana keluarga ibu dan ayahmu berada. Mereka tinggal di dalam istana, dan kau salah satu dari mereka.” Kora berjalan sambil menjelaskan kota Ilivious pada Laila.
“apa maksudmu ibuku dan ayahku juga keluarga dari kerajaan Magira?”
“aku sudah pernah menjelaskannya kan? Ibumu adalah seorang putri di kerajaan Magira, saat ibumu berusia 12 tahun dia dititipkan pada teman manusia bumi nenekmu. Saat itu kerajaan sedang dalam situasi perang, kakak dari kakekmu Gabu berusaha merebut kekuasaan yang dipegang kakekmu. Saat itu dia mengirimkan ibumu keluar kerajaan Magira sejauh mungkin, supaya Gabu tidak menemukan ibumu. Setelah peperangan berakhir, kakekmu memerintahkan untuk membawa ibumu kembali tetapi ibumu yang sudah hidup selama 5 tahun di bumi menolak untuk kembali. Dia mengkhawatirkan tentang kehidupannya nanti jika dia kembali ke Magira, kehidupannya akan terus dihantui oleh musuh kerajaan. Maka dengan keputusan itu seorang jenderal muda kerajaan Magira diutus untuk melindungi ibumu dan jenderal itu tidak lain adalah ayahmu Lail.”
“jadi, apa setiap keluarga kerajaan memiliki kekuatan seperti semacam sihir?”
“tentu saja, karena itu kau juga memiliki kekuatan itu di tubuhmu. Ayo aku akan antar kau ke istana.”
“kita naik apa?”
“hah?”
“aku lelah berjalan terus sejak tadi, apa kau tidak punya piringan seperti mereka? yang bisa terbang?” Tanya Laila penasaran.
“cih… bukankah tadi kau mengusirku kenapa kau memelas padaku sekarang?”
“kau kan peri penjagaku, kau tidak bisa mengabulkan permintaanku?”
“baiklah baiklah, ikut aku.”

Laila mengikuti Kora ke suatu tempat yang luas dan di sana, Kora mengeluakan sebuah botol dan dia membuka tutup botol itu. Saat dibuka muncul seekor naga yang sangat besar. Laila sangat terkejut melihat naga itu, dia langsung berlindung di belakang Kora dan memegangi lengan Kora.
“apa itu? Kenapa kau malah mengeluarkan hewan ganas itu? Kau dendam karena kuusir waktu di loteng yah?”
“hahaha… ini adalah tunggangan ibumu saat dia masih kecil, naga ini bernama Merlix. Ibumu merawatnya sampai dia dewasa seperti sekarang, dia menyuruhku menyimpannya supaya tidak terlihat oleh manusia bumi dan sekarang, hewan ini adalah tungganganmu.”
“apa kau gila? aku disuruh menaikki naga buas itu? Apa kau ingin aku dimakan hidup-hidup olehnya?!”
“dia akan mengenalimu Lail, kau mewarisi darah ibumu dan dia akan langsung mengenali siapa dirimu. Ayolah cepat naik aku tunggu kau di atas.” Kata Kora yang sudah naik piringan yang dia keluarkan.
“hei bagaimana aku bisa menaikinya? Jangan tinggalkan aku…”

Akhirnya dengan ragu Laila mendekati naga itu, saat mendekat naga itu seperti sudah mengenali Laila dan dia langsung menunduk pada Laila. Dengan keberanian yang tersisa di dalam dirinya dia naik ke atas punggung naga itu. Dan ajaibnya Laila langsung bisa mengendalikan naga itu, naga itu langsung tahu tanpa disuruh untuk terbang, berbelok, atau berbalik dia sudah tahu apa yang diinginkan oleh Laila. Laila sangat senang naik naga terbang itu, berkali-kali dia mengusap tengkuk Merlix dan seperti mengerti tuannya senang dia terbang sedikit lebih cepat.

“jadi, bagaimana?” tanya Kora yang muncul di sampinnya.
“menyenangkan, aku merasa bebas sekarang. Jadi, di mana istana itu?”
“istananya ada di atas, naga itu sudah tahu di mana istananya. Tinggal kau saja yang…”
“aku berangkat duluan…”

Saat sudah sampai di gerbang istana Kora menyuruhku untuk menunjukkan kalung milik Laila supaya penjaga mengenalinya, dan benar saja saat penjaga melihatnya dia langsung menunduk kepada Laila. Laila merasa heran awalnya tapi dia mencoba untuk bersikap biasa, Kora mengajaknya masuk ke dalam istana dan bertemu dengan neneknya. Laila melihat tempat yang sangat luas dan dia bisa melihat sebuah singgasana di sana.

“tempat apa ini?”
“kau akan tahu nanti.”
“Kora… apa itu kau?” seorang wanita yang sudah tua berpakaian jubah berwarna emas yang menjuntai sampai menyentuh tanah.
“Ratu, senang bisa bertemu lagi denganmu.”
“Kora, terima kasih sudah kembali. Bagaimana keadaan Lily? Apa dia baik-baik saja?” kata wanita itu dengan wajah yang panik.
“maaf Ratu, putri sudah tidak ada. Dia sudah memerintahkanku untuk melindungi putrinya dan apapun yang terjadi aku tidak boleh meninggalkan putrinya dalam pengawasanku.”
“Putriku Lily… tidak mungkin, kenapa ini terjadi? Lily…”
“saya minta maaf Ratu, saya tidak bisa memenuhi janji saya pada Ratu.”
“tidak apa-apa Kora, aku harap kau tidak mengabaikan janjimu pada putriku.”
“tidak Ratu, saya membawa putrinya dari bumi. Namanya Laila, dia tinggal bersama bibinya yang jahat di bumi. Saya membawanya kemari agar dia bisa tahu silsilah dari keluarganya.”
“jadi kau? Laila cucuku?” tanya Ratu yang bercucuran air mata pada Laila.
“nenek?”
“akh… kau mirip dengan ibumu sayang, datanglah pada nenek.” Katanya sambil melebarkan tangannya.
“nenek, ibu… ibu… ayah… “ tangis Laila pecah saat berada dipelukan Ratu.
“aku tahu, ini berat untukmu kan?? Maafkan nenek baru menemuimu sekarang, maafkan nenek.”

Setelah pertemuan itu, Laila memutuskan untuk kembali ke bumi karena ini sudah malam. Ratu sempat mencegahnya namun Laila tetap memutuskan untuk kembali karena dia harus sekolah besok. Kora menemani Laila kembali ke Bumi, dan sejak dia pulang dari kerajaan Magira dia terus memakai kalung itu di manapun dia berada dan terkadang saat sedang sendirian di belakang sekolah dia memanggil Kora untuk menemaninya di sana. Mereka saling membicarakan diri mereka dan juga tentang kerajaan Magira.

Dua tahun berlalu dan Laila tidak pernah merasa kesal dengan perlakuan dari paman, bibi dan kedua sepupunya karena setiap dia sedang sedih Kora selalu datang untuk menghiburnya. Terkadang Laila juga sering datang ke istana untuk menjenguk neneknya. Suatu malam saat Laila dan Kora berjalan di halaman belakang istana tempat Merlix dijaga.

“Kora?”
“ada apa?”
“kenapa kau tidak mempunyai naga terbang?”
“karena aku hanya seorang peri penjaga Lail, aku tidak diizinkan menaiki naga terbang. Hanya seorang bangsawan yang bisa menaiki naga terbang bukan seorang penjaga sepertiku.”
“oh… Kora? Apa seorang peri penjaga sepertimu punya kelemahan?”
“kenapa kau ingin tahu?”
“hanya ingin tahu saja.”
“em.. cinta, itu kelemahanku. Bagi seorang peri sepertiku dilarang untuk jatuh cinta, apalagi dengan tuannya.”
“bagaimana jika kau jatuh cinta?”
“aku tidak pernah jatuh cinta selama 100 tahun lebih dan itu juga tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun. Jika itu terjadi maka kekuatanku akan menghilang, begitu juga dengan diriku. Aku tidak akan bisa kembali lagi jika aku menghilang…”
“maka jangan lakukan itu! Ini perintah untukmu Kora, kau harus berjanji padaku kau tidak akan menghilang. Aku tidak mau kehilangan lagi Kora, aku mohon jangan pernah menghilang…” kata Laila sambil memegang lengan Kora.
“aku di sini Lail, kau tidak perlu khawatir. Jika aku tidak ada kau bisa menggunakan kekuatanmu untuk…”
“aku tidak peduli dengan kekuatanku Kora, aku minta kau berjanji untukku. Aku mohon…”
“aku tidak bisa berjanji padamu Lail, maafkan aku.”
“lalu kau akan pergi meninggalkanku? Aku pikir kau orang yang baik, kau bisa menjadi temanku. Aku hanya punya satu teman dan itu hanya kau, tapi kau juga mau meninggalkanku?”
“kau harus bisa mencari teman selain aku di bumi Lail, bagi manusia bumi aku ini tidak ada, dan kau tidak selamanya bisa berteman denganku terus-menerus. Aku adalah peri penjaga bukan seorang teman yang bisa kau panggil saat kau membutuhkanku untuk menemanimu!”
“aku tahu! Aku mengerti, mungkin selama ini aku selalu menyusahkanmu. Aku lupa bahwa kau hanya seorang peri penjaga tidak lebih. Kalau begitu ambil saja kalung itu aku sudah tidak membutuhkannya, aku bisa melindungi diriku sendiri. Aku tidak membutuhkan peri penjaga lagi sekarang, aku hanya butuh seorang teman dan jika kau tidak bisa menjadi temanku, maka aku tidak membutuhkanmu lagi Kora.” Kata Lila melemparkan kalung liontinnya pada Kora dan dia pergi menunggangi Merlix.

Kora terpaku dengan memegang kalung liontin yang dia genggam, dia meneteskan air matanya untuk pertama kali. Saat seorang peri meneteskan air matanya maka hujan akan turun secara tiba-tiba. Malam itu hujan turun di kerajaan Magira, saat dalam perjalanan menuju lorong hitam tiba-tiba Laila mendapatkan sebuah serangan. Beberapa penunggang naga lainnya menyerang Laila dengan kekuatannya, Laila berusaha melecutkan petir namun kekuatannya masih terlalu lemah. Saat berusaha untuk bertahan, Laila terkena sambaran dari salah satu penunggang naga yang menyerangnya. Laila dan Merlix terjatuh ke dalam hutan, sebelum Laila terjatuh dia melambatkan waktu seperti yang diajarkan oleh neneknya. Saat waktu melambat dia melecutkan sebuah kilat petir yang sangat besar dan itu terdengar sampai istana. Mendengar kilat petir itu seluruh penghuni istana terkejut begitu juga dengan Kora, mereka tahu bahwa kilatan itu milik keluarga kerajaan. Sementara Ratu menyiapkan pasukan untuk menyelamatkan Laila, Kora sudah pergi menyusul Laila. Kora berusaha mencari keberadaan Laila namun dia masih belum bisa menemukannya.

“Laila… kau d imana? Laila… jawab aku jika kau mendengarku, aku mohon Laila… aku mohon.” Teriak Kora ditengah hutan yang lebat.
Kora terus berusaha mencari keberadaan Laila, sudah menjelang pagi namun Laila masih belum ditemukan. Saat Kora sedang mencari Laila, dia melihat Merlix yang terluka parah dan saat itu juga dia melihat Laila yang sudah terkapar tidak berdaya. Kora mendekatinya dan melihat tubuh Laila yang bersimbah dengan darah, Laila telah tiada. Kora tahu satu-satunya cara menyelamatkan Laila adalah mengorbankan diri seorang peri penjaga dan itu harus dilakukan oleh Kora.
“aku mencintaimu Laila. Aku mencintainya… kehidupan seorang peri penjaga hanya untuk menjaga tuannya, tapi aku mencintainya. Aku akan memberikan hidupku untuknya. Apapun akan aku lakukan untuknya. Aku menukar hidupku dengan dirinya…” teriak Kora dan itu membuat langit secara tiba-tiba turun hujan karena air matanya.

Ratu tahu apa yang sedang terjadi saat ini, seorang peri penjaga yang menukar hidupnya untuk seorang tuan. Akan tetapi dia tahu, Kora menukarkan hidupnya bukan untuk seorang tuan tetapi untuk seorang yang dia cintai.
“Kora… pengorbananmu tidak akan sia-sia.” kata Ratu dengan lirih sambil menghela nafasnya.
Saat itu rintik hujan mengenai pipi Laila yang telah tidak bernyawa, dan saat itu tiba-tiba mata Laila mulai terbuka. Dia malihat seorang lelaki ada di depannya sedang memeluknya sambil menangis.
“kau di sini?”
“hmm.. kau baik-baik saja?”
“hm…”
“baguslah, Laila dengarkan aku…”
“tunggu Kora, ada apa dengan tubuhmu? Kenapa kau bersinar seperti ini? Kau baik baik saja?”
“dengarkan aku baik-baik, aku tidak akan meninggalkanmu karena aku selalu ada di sini bersamamu. Jika kau mengingatku maka aku akan selalu hidup di dalam pikiran dan juga hatimu. Aku ingin kau bahagia, temukan teman atau tinggallah di istana untuk selamanya dan temukan teman di sini. Jangan tinggal dengan bibimu lagi mengerti?”
“tapi… ada apa denganmu Kora? Katakan padaku?”
“aku? aku mencintaimu… sangat mencintaimu Laila.”
“tidak, kau tidak boleh mencintaiku. Biarkan aku yang mencintaimu, izinkan aku saja yang mencintaimu. Kau tidak boleh mencintaiku Kora, tidak…”
“maafkan aku, tetaplah bahagia… aku mohon…”
“tidak, Kora…”

Laila hanya bisa menangis melihat kepergian Kora, selama yang dia ingat Kora adalah seorang peri penjaga yang paling spesial baginya. Dia bukan hanya seorang peri penjaga tetapi seorang peri yang sangat baik padanya. Setiap saat Laila hanya bisa mengingat dan menyimpan semua kenangan itu dalam hatinya. Jika suatu saat Kora terlahir kembali, maka Laila ingin Kora menjadi seorang manusia biasa yang bisa mencintai dan dicintai tanpa harus ada pengorbanan yang cukup menyakitkan bagi keduanya.
“aku merindukanmu Kora…”

THE END

Cerpen Karangan: Fitriana Eka Puspawati
Facebook: Fitriana Eka Puspawati

Cerpen My Guardian Fairy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ikhlaskan, Lepaskan

Oleh:
Awal saya mengenalnya pada saat masa zaman sekolah dulu. Teman saya memperlihatkan fotonya yang dimana pada saat itu sedang booming tentang artis korea. Saat itu saya tidak merespon, dan

Terputus

Oleh:
Mengahabiskan waktu dengan hari-hari yang indah itu memang impian semua orang tanpa ada yang membuat sesuatu hal itu menjadi sedia kala, keseharian kita yang mungkin akan menjadi sangat menjengkelkan.

Other Live

Oleh:
Kalian tahu, tentang semua kehidupan yang ada di alam semesta yang luas ini? Atau mungkin apakah kalian tahu, semua tentang kehidupan di dunia ini? Seseorang, memberitahuku tentang kehidupan. Hari

Alsha (Part 1)

Oleh:
“Alsha… cepet ambilin tas gue… gue udah mau berangkat kuliah nih.” “Iya… bentar Maura.” Jawab Alsha Dengan tergopoh-gopoh Alsha berlari dan memberikan tas itu pada Maura “Ini tasnya Ra.”

Happines With Love

Oleh:
Pagi ini seperti biasa aku bangun pagi untuk sekolah ku tercinta. Tapi sepertinya pagi ini perut gua mules-mules dan aku malas sekali untuk sekolah. So, aku keluarkan lah akting

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *