My Sweet Wolf Boy (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 14 December 2016

Angin dingin menembus tirai jendela yang berkibar-kibar tertiup angin. Samar-samar, aku mulai mengingat apa yang terjadi kemarin.

Saat itu, aku tengah mengerjakan gaun pesanan sahabatku yang akan menikah, Angela. Entah aku terlalu bersemangat mengerjakan gaun ini atau karena aku tidak bisa tidur, aku mengerjakan gaun mewah itu hingga larut malam. Aku mulai menguap. Beberapa kali jariku tertusuk jarum. Hingga akhirnya kuputuskan untuk membuat kopi. Aku naik ke dapur di lantai 2.

Tok.. tok.. tok…
Aku melirik ke jam dinding di ruang tamu yang berada tepat di depan ruang kerjaku. Aneh sekali, ini sudah pukul 11.54 malam. Aku membuka pintu rumahku perlahan-lahan.

“Hai, Amethyst,” seorang laki-laki yang seumuran denganku melambaikan tangan dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya.
“Siapa?” Dahiku mengerut.
“Masa’ lupa sih… ini aku, Liam,” ujarnya dengan nada gemas.
“Ah… aku inget sekarang. Kamu bocah yang waktu SMP pindah ke London kan?”
Liam cemberut. “jangan panggil aku bocah mulu donk… udah gede nih!”
Aku tertawa. Memang dari dulu dia sudah kupanggil Bocah karena kelakuannya yang seperti anak kecil. “iya deh… bocah kecil sekarang udah jadi bocah gede..” aku menepuk-nepuk kepalanya. Dulu, tingginya setara denganku. Sekarang aku harus mendongak untuk menatap wajahnya.

“Ijinin masuk dong… di sini dingin tau,” protesnya.
“Ck.. dasar manja. Silahkan masuk tuan muda,” aku membuka pintu rumahku lebar-lebar. “Kamu kok tiba-tiba bisa di sini? Tau rumah aku pula?” Aku membuka obrolan saat kami duduk di ruang tamu.
Liam menaruh ranselnya sebelum menjawab, “aku diundang untuk tampil di acara amal. Plus, aku juga mau dateng ke acara pernikahan si Angel. Angel bilang daripada nginep di hotel mendingan nginep di rumah kamu aja, jadi dia kasih alamat kamu.”

Dalam hati aku sungguh ingin menjambak rambut Angel. Memangnya rumahku ini semacam hotel sewaan umum?!

“Aku lagi kerja. Kamu pilih aja kamar di lantai 3. Yang mana aja boleh,” aku menyeruput kopiku dan kembali menyelesaikan keliman gaun.

Aku merasakan hawa dingin di belakang punggungku. “Hei, apa kau sebodoh itu, Amethyst?” Kudengar Liam berbisik di telingaku. Tangannya mencengkram tubuhku dari belakang.
“Jangan main-main, Bocah! Aku lagi sibuk!” Aku berusaha melepaskan diri, tapi tangan Liam tetap kokoh melingkari pinggangku.
“Shhhtt.. santai saja. Aku tidak sedang bermain, Sweetheart,” Liam kembali berbisik. “Ayo kemasi barang-barangmu, kita pergi.”

Liam melepaskan cengkramannya. Spontan aku mengambil payung kecilku. Itu adalah hadiah dari salah satu sahabat ilmuanku, Amanda. Katanya itu adalah senjata rahasia yang akan berguna suatu saat nanti.

Liam hanya tersenyum santai. “kita harus bergegas, Sweetheart. Simpan saja tenaga itu untuk nanti.”
“Kamu bukan Liam. Siapa kamu?!” Aku menarik gagang payung itu yang ternyata sebuah pedang.

Api berwarna hitam membakar pakaian Liam palsu itu dan berganti menjadi pakaian yang aneh. Wajahnya pun berubah. “aku Revan.”
“Terus kamu mau apa?!”
“Aku tidak menginginkan apapun darimu. Tapi Tuanku menginginkan dirimu,” dia menjentikkan jarinya dan seketika badanku tidak dapat digerakkan sama sekali. Pedang yang kupegang pun jatuh ke lantai. Dia membelai wajahku dengan senyum kepuasan. Dia bersiul nyaring ke arah pintu yang masih terbuka. Tak lama, seekor serigala raksasa berwarna hitam muncul dan melolong.

Revan mengambil tas selempangku yang berisi ponsel, dompet, lip gloss, buku sketsa dan cermin kecil serta melingkarkan tangannya di pinggangku. Dengan santai dia menarik tubuhku yang sama sekali tidak bisa digerakkan ini untuk menghampiri serigala besar itu.

“Hei, Shora, jangan berisik. Kita sudah mendapat apa yang Tuan inginkan. Ayo kita pergi sekarang!” Bisik Revan pada serigala itu.

Dengan patuh, Shora mempersilahkan Revan untuk menaikinya. Revan menaikkan aku lalu dia sendiri duduk di belakangku.

“Tidurlah, Sweetheart, saat kau bangun nanti, kau akan merasa lebih baik,” Revan kembali menjentikkan jarinya. Seketika itu juga aku dapat menggerakkan badanku lagi. Tapi toh sia-sia aku mencoba melawan atau memberontak dan aku memang merasa sangat lelah. Perlahan, mataku mulai menutup.

Aku merasakan hawa dingin itu membelai rambutku, seolah-olah memaksaku untuk bangun. Setelah merenggangkan tubuh, aku mengamati sekitar. Aku berada di sebuah kamar yang sebenarnya cukup luas dan mewah. Tepat di seberang tempat tidur ini terdapat jendela besar yang terbuka sedikit. Rupanya dari sanalah hawa dingin itu berasal. Aku memandangi tubuhku sendiri. Kaus dan celana selutut yang kemarin aku pakai sudah berganti menjadi gaun berwarna cokelat bermotif daun yang elegan dan panjang hingga sepertinya menyapu lantai jika aku berdiri. Gaun ini berlengan panjang dan lebar di bagian bawah. Bagian atas gaun ini terbuka, namun kulihat sehelai jubah kulit dengan tepian bulu-bulu halus yang sepertinya pasangan gaun ini tergantung di pintu lemari pakaian. Eksotis sekali.

Tok.. tok.. tok…
Terdengar bunyi ketukan pintu. Revan masuk bersama seorang pria yang sepertinya hanya 2 tahun lebih tua dariku. Rambut dan matanya yang cokelat terang mengingatkanku akan anak rusa. Wajahnya terasa familiar bagiku, namun sulit untuk mengingat siapa dia.

Pria itu tersenyum dengan menawan. “Halo, Amethyst.” Dia menghampiri tempat tidur atau mungkin lebih tepatnya aku sambil mengamati diriku dengan senyum puas. “Sudah kubilang bukan gaun itu pasti cocok denganmu!”

“Maaf.. apa aku kenal sama kamu?” Akhirnya aku tidak dapat menahan rasa penasaranku.

Pria itu terlihat sangat terkejut. “kau melupakan diriku? Tega sekali kau, padahal sejak kecil kita selalu akrab.”

Aku berusaha mengingat masa kecilku. Teman yang sedari dulu akrab denganku adalah Angela, Celine, Vierre, Laura, Ryna dan… tunggu dulu. Vierre, satu-satunya sobat masa kecilku yang berjenis kelamin laki-laki.
“Vierre?” Panggilku. Aku berusaha menahan air mataku yang sudah di ujung tebing. Bagaimana tidak? Dia hilang di hutan saat kunjungan wisata sekolah kami. Kami semua mengira dia sudah mati. Saat itu adalah hari terburukku.

Dia tiba-tiba memelukku dengan erat. “lama tidak berjumpa, Amy.”

Aku sudah tidak dapat menahan air mataku. Sahabat lamaku sudah kembali. “kita semua kira kamu udah mati! Dan aku kira kamu bakal hilang untuk selamanya..” aku terisak-isak di pelukannya.

Vierre menepuk-nepuk pundakku dengan lembut. “Aku akan ceritakan semuanya nanti. Aku janji aku tidak akan meninggalkanmu lagi.”

Dia melepaskan pelukannya dan mengajakku berdiri setelah tangisku reda.

“Kau tumbuh menjadi gadis yang cantik ya..” dia menyunggingkan senyum manisnya yang sejak dulu sangat aku suka. “Kemarilah. Kau harus menggunakan ini jika tidak ingin membeku di luar sana,” Vierre meraih jubah yang tergantung itu. Dengan lembut dia memakaikan jubah itu padaku. Rasanya hangat. Kemudian dia mengajakku ke luar dari kamar. Rupanya kamu sedang berada di sebuah kastil yang diselimuti salju. Hawa dingin yang menggigit kembali kurasakan saat angin menerpa wajahku.

“Amy, saat aku hilang di hutan, seekor serigala menyelamatkan diriku. Dia ternyata salah satu dari bangsa Werewolf, bangsa yang kini telah punah. Dia mengajakku ke kastil ini, rumah bagi seluruh Werewolf. Aku meminta bantuan nereka untuk mengantarku pulang, namun kulihat keluargaku sudah menganggap aku mati. Begitu juga dengan dirimu, yang saat itu kulihat sedang menangis. Aku sangat ingin menemuimu, tapi aku tidak bisa. Akhirnya Werewolf yang menyelamatkan diriku menawarkan diri untuk merawatku. Dia bahkan rela mencurahkan darahnya padaku, yang artinya saat itu aku resmi menjadi salah satu Werewolf,” tutur Vierre dengan nada penuh penyesalan. Dia berbalik padaku dan menggenggam kedua tanganku. “Dan sekarang, kau sudah berada di sini. Aku mengutus Revan untuk menjemputmu karena aku merasa ini sudah waktunya.”

“Waktu untuk apa?”

“Untuk memilikimu lagi, seperti dulu,” mata cokelatnya berbinar-binar.

“Uh.. sejujurnya aku bingung.. apa maksud kamu?” Sungguh, aku tidak mengerti apa yang dia maksud, namun jantungku berdebar-debar.

Wajah manis Vierre makin mendekat. “Kau tahu, sejak dulu kau adalah orang yang sangat berarti bagiku. Kau adalah satu-satunya orang yang mau menjadi temanku di saat semua orang menjauh dariku. Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu saat kita berkenalan. Kau tidak ragu menyapaku walau aku lebih tua 2 tahun dariku. Karena itulah, apakah kau mau tinggal di sini bersamaku?”

Untuk beberapa detik yang terasa seperti berabad-abad, aku merasa terbius oleh perkataannya. Jika aku tinggal di sini, aku tidak perlu mempedulikan masalah-masalahku. Tidak ada lagi rasa stress akibat keluhan-keluhan kecil dari pelanggan yang tidak puas. Tidak ada lagi omelan dari asistenku. Dan sekarang sahabatku sudah kembali. Tapi.. aku harus mengorbankan begitu banyak hal. Mulai dari keluarga, sahabat, teman, pekerjaan dan kehidupanku yang sebenarnya tidak terlalu bahagia. Aku bercermin di salah satu kaca jendela. Rambut cokelat panjang yang disanggul ke atas, kulit cokelat terang, tubuh tinggi dan ideal. Inilah yang membuat orang memujiku. Dan mereka hanya dapat menilai penampilan luarku saja.

Kutatap wajah sahabatku itu dengan penuh keyakinan yang kini sudah bulat. “Ya, aku mau, Vierre.”

Senyum bahagia tersenungging di bibir Vierre, membuat wajah tampan nan imutnya makin menawan. Dia menarikku ke dalam pelukannya yang hangat dan nyaman dan memelukku dengan erat.

“Mereka datang!” Seru seorang penjaga yang datang dengan terbirit-birit.

Vierre melepaskan pelukannya dengan lembut sebelum menanggapi penjaga itu. “Belum menyerah juga?” Gumamnya. “Habisi mereka. Jangan biarkan mereka masuk!”

“Baik, Tuan!” Penjaga tadi berubah menjadi serigala besar dan segera berlari dengan kencang.

Tatapan siaga Vierre berpindah padaku. “Keadaan sedang tidak aman. Jangan sampai mereka mendeteksi keberadaanmu! Tetap berada dekat denganku, mengerti?” Katanya dengan agak panik.

“Mereka siapa?” Aku merasakan angin berhembus lebih kuat.

“Bangsa Serigala kegelapan. Mereka adalah musuh besar kami. Jangan sampai kau tergigit oleh mereka, atau kau akan berubah menjadi seperti mereka,” Vierre mengencangkan ikatan jubahku dan memakaikan tudung jubah tersebut. “Pastikan baumu tidak terlalu kuat. Jubah ini akan menyamarkan baumu, karena itu pastikan kau tidak akan melepaskan jubah ini.”

Dia memastikan aku tertutup sepenuhnya oleh jubah itu. Dia terlihat sangat panik. “Kenapa kamu keliatan bener-bener panik?”

“Bagaimana tidak? Amy, mereka pasti akan mengincarmu begitu tahu ada manusia di sini, terutama kalau kau adalah perempuan. Pemimpin mereka sedang mencari seorang perempuan untuk dijadikan pasangannya. Dan kau pasti memenuhi rata-rata mereka,” jelasnya.

Aku membelai wajahnya yang tanpa cela. “Aku bakal jaga diri aku kok. Kalo kamu mau tau, sejak SMP aku belajar kickboxing.”

Vierre menyentuh tanganku dengan lembut dan meremasnya. “Aku percaya kau bisa menjaga dirimu sendiri. Berjanjilah untuk tetap selamat,” dia mengecup keningku.

Vierre bersiul nyaring, mirip seperti siulan yang kemarin Revan gunakan untuk memanggil Shora. Tak lama, seekor serigala putih yang cantik dan besar menghampiri kami dengan gagah. Vierre membelai kepala serigala itu. “Bawa dia ke tempat yang aman, Yuki. Pastikan dia selamat,” kata Vierre. Dia membantuku menaiki serigala itu. Tanpa harus menggunakan kata-kata, aku sudah tahu apa yang ingin Vierre ucapkan lewat tatapannya. Aku mengangguk sambil tersenyum padanya. Aku memegangi bulu tengkuk Yuki dan serigala itu langsung berlari dengan kencang. Entah mengapa ada perasaan aneh yang menjalari dadaku dan membuatnya sesak. Aku menoleh kepada Vierre yang juga sedang menoleh padaku. Air mataku mengalir deras. Lalu aku melihat seekor serigala hitam yang nyaris mencakar Vierre. Untunglah dia dengan gesit menghindar. Sosok Vierre semakin lama semakin mengecil seiring Yuki membawaku pergi.

Hari mulai semakin gelap. Aku mengajak Yuki untuk beristirahat sejenak. Yuki menyambut ajakan itu dengan gembira. Karena di sekitar kami tidak ada gua, kami beristirahat di bawah sebatang pohon dengan dedaunan yang rindang dan sebagian besarnya tertutup salju. Tiba-tiba aku melihat sekelebat bayangan hitam di belakang Yuki.

Cerpen Karangan: Chacha
Facebook: Choco Caramella

Cerpen My Sweet Wolf Boy (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Balik Horizon (Part 3)

Oleh:
“rino ke sini!” seru redi yang menggenggam tangan rio Mereka bersembunyi di balik sebuah pohon, peluru mengenai dedaunan dan pepohonan, semakin sering dan semakin jauh ke depan mereka menembakan

Cinta Sehari

Oleh:
Renita berangkat pagi-pagi. Di pintu gerbang, Nampak mang Udin sedang menyapu halaman sekolah. Ia mengenakan kaos biru yang sudah kusam. “pagi pak”, sapa Renita ramah. Mang Udin menjawab salamnya

Daisuki, Hatori Sama

Oleh:
“Meong,” aku menjilat pipi majikanku, membangunkannya dari tidur panjang. Ia menggeliat lalu mengelus kepalaku, aku melanjutkan menjilat pipinya yang putih bak susu. “Sudah pagi, ya?” ia membuka matanya yang

The Other Side of A Fault

Oleh:
Wajah polos itu menatap padang rumput yang terbentang luas di hadapannya. Pikirannya melayang jauh dari tempat raga itu berpijak. Matanya terpejam secara perlahan seiring hembusan angin. Terdengar suara alam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *