My Sweet Wolf Boy (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 16 December 2016

Aku meraba sebilah belati yang diselipkan pada ikat pinggangku, bersiap menyerang apapun. Makin lama, bayangan hitam itu mulai berputar-putar mengelilingiku. Yuki yang berada di luar ‘tornado’ menggeram. Aku mulai pusing dengan gerakan bayangan hitam itu. Dan kurasa, bayangan yang membentuk tornado itu menyerap seluruh oksigen di sekitarku. Aku merasa pusing, mual, sekaligus sesak nafas. Pandanganku mulai berkunang-kunang. Saat ‘tornado’ itu berhenti, aku melihat Yuki sudah tergeletak tidak sadarkan diri. Bayangan hitam itu berubah menjadi sesosok laki-laki yang juga familiar di mataku, namun kepalaku tidak dapat berpikir akibat pusing serta kekurangan oksigen. Aku berdiri walau terhuyung-huyung sambil mengeluarkan belati di ikat pinggangku dan berusaha berjalan untuk menyerang laki-laki itu. Sial, aku benar-benar lemas. Begitu aku berada di hadapan laki-laki itu, aku sudah tidak kuat lagi. Tubuhku tumbang ke laki-laki itu. Sekilas aku mencium aroma parfumnya yang sangat aku kenal. Setelah itu aku tidak ingat apapun lagi.

Saat aku membuka mata, rasanya kepalaku sakit sekali. Lagi-lagi aku berada di tempat tidur, namun berbeda dengan tempat tidur di kastil Vierre. Oh astaga! Di mana aku sekarang? Aku menepis selimut tebal yang menyelimuti tubuhku dan segera turun dari tempat tidur. Ah… seseorang mengganti gaunku lagi. Kali ini gaun berwarna abu-abu selutut dengan lengan berpotongan rendah. Bagian lehernya berbentuk V-Neck yang lebar dan membuat bagian atas punggungku terbuka. Ada sebuah jubah hitam tidak jauh dari jangkauanku. Cepat-cepat aku mengambil dan memakainya lalu segera membuka jendela besar di kamar itu. Umm oke, mungkin membuka jendela adalah pilihan yang buruk karena angin dingin langsung menerpaku dengan leluasa. Tapi aku harus pergi daru sini sebelum…

“Amethyst.. jangan buru-buru,” sekali lagi aku juga mendengar suara yang amat familiar di telingaku.
“Rainford?” Gumamku saat aku melihat laki-laki itu. Rainford atau yang biasa kupanggil Ford adalah salah satu murid teraneh saat aku SMA. Menurut teman-temanku, Ford menyukaiku. Tapi aku tidak pernah terlalu dekat dengannya, walau dia pernah mengantarku pulang saat aku terjebak badai besar di sekolah.
Dia tersenyum, namun senyumnya aneh. “Bagaimana kabarmu?”
“Seperti yang kamu liat,” tukasku singkat. “Makasih banyak untuk tumpangannya, tapi aku harus pergi,” aku berbalik ke arah pintu.

Ford mencengkram tanganku dan menarikku hingga aku kembali jatuh ke tempat tidur dengan posisi telentang. “aku kan udah bilang, gak usah buru-buru,” taring Ford yang tajam dapat kulihat dengan jelas saat dia berbicara. Sepintas aku mengingat kata-kata Vierre.

“Kamu mau apa dari aku? Aku gak punya apapun!” Aku berusaha melepaskan kedua tanganku yang ditahan olehnya.
Ford mengangkat salah satu tanganku. “Yah, aku rasa Vierre juga udah kasih tau kamu kan?” Bibirnya menyentuh pergelangan tanganku.

Aku menggunakan kakiku untuk menendangnya sekeras mungkin (Untung saja aku pandai dalam kickboxing. Saat tanganku tidak dapat berguna, kakiku yang menggantikan).
“Ini bukan untuk kamu, Ford!” Ujarku.

Ford, yang terhempas ke dinding, langsung bangkit seolah-olah hempasan tadi tidak berarti apapun. “Kamu tetap bakalan jadi milik aku! Bukan banci itu!” Sergahnya.

“Belum puas ya?” Aku memasang kuda-kuda.

Ford menjentikkan jarinya. Argh!! Tidak lagi!!! Sama seperti yang dilakukan oleh Revan kemarin, tubuhku tidak dapat kugerakkan. Dengan senyum puas Ford mendekat. “Kamu ini cuma manusia, paham? Kamu gak bisa kalahin aku cuma dengan kemampuan bela diri.”

Oke, sebenarnya Ford masih termasuk di atas rata-rata. Rambutnya yang pekat dan matanya yang hijau cerah membuatnya tampak keren. Saat SMA dulu, dia masih termasuk cowok populer yang disukai kaum hawa. Namun, sikapnya yang dingin dan cuek serta amat tergila-gila dengan serigala hitam membuatnya kerap dijauhi.

“Lepasin aku, Ford! Aku bukan milik kamu dan aku gak sudi jadi milik kamu!” Makiku.

Raut wajah Ford yang tadinya santai berubah. Dia mencengkram kedua bahuku dengan erat. “Oh gitu? Apa yang kamu rasain kalo kamu jadi aku? Kesepian, dicap anak aneh, dan gak bisa deket sama orang yang aku suka. Kamu pikir aku susah payah menyamar jadi anak SMA itu untuk apa?!”

Kata-kata itu benar-benar menusukku. Aku dikelilingi teman yang baik, keluarga, dan segala hal yang penuh kebahagiaan.

“Ford, kalau kamu kesepian, coba untuk cari teman sejati kamu. Bukan kaya gini!”
“Haha.. teman sejati kamu bilang? Kamu pikir ada yang kaya begitu? Di dunia ini semua manusia sama. Mendekat saat senang, menjauh saat susah. Gak ada yang namanya teman sejati atau bahkan sahabat. Semuanya palsu!” Bentak Ford.

Terdengar suara kaca pecah dan sekelebat bayangan nelesat masuk. Aku merasakan sesuatu yang hangat melingkupi tubuhku.

“Sayangnya perasaanku tidak pernah palsu,” aku hampir menangis lega. Vierre sudah datang, untuk menyelamatkan aku.

Ford mengambil pedang di pinggangnya. “kamu lagi?!”

“Menyerahlah, Ford. Kastilmu ini sudah terkepung,” ujar Vierre dengan nada dingin. Tangannya tetap mendekapku dengan erat.

Ford sempat terlihat kaget, tetapi kemudian dia tersenyum lagi. “Aku tidak akan kalah, Vierre.” Ford mengulurkan tangannya padaku. Seketika, tanpa sadar aku menendang Vierre hingga dia terhempas. Sumpah, aku tidak melakukan apapun.

“Vierre!! Ya ampun, maaf!! Aku gak bisa kendaliin diri aku sendiri,” tanganku mencekik leher Vierre. Sepertinya aku tahu siapa dalangnya. “Ford! Berenti! Tolonglah!! Dia sahabat aku dan aku sayang sama dia!! Jangan bunuh dia!!!” Teriakku dengan kalut. Vierre tidak dapat berbicara dan hanya meronta.

“Aku bakal biarin banci itu hidup, asal kamu rela tinggal di sini!” Ford, lewat diriku tentu saja, menghempaskan Vierre dengan keras ke dinding hingga dinding itu hancur.

Air mataku mengalir deras. Vierre yang tadinya gagah kini berlumuran darah. “Ja..ngan… turuti.. apa.. ka..ta.. dia, Amy,” sahut Vierre. Dengan susah payah, dia bangkit berdiri dan tanganku menonjoknya hingga dia jatuh lagi.

“Oke aku terima!! Sekarang lepasin aku beserta dia!!” Suaraku bergetar hebat. Begitu merasa kendali Ford menghilang, aku lari ke arah Vierre dan memeluknya dengan erat. “Tolong jangan tinggalin aku, Vierre..”

Aku merasakan sentuhan hangat di bahuku. “Aku.. baik.. baik.. saja..” Vierre berbisik di telingaku.

Sebuah tangan menarikku dengan begitu keras. “Kalo kamu udah setuju untuk jadi milik aku, berhenti untuk peduli dengan banci ini!” Bentak Ford.

Kali ini aku tidak sanggup melawan. Aku berlutut di hadapannya sambil terisak-isak. “Tolong.. 5 menit aja.. untuk terakhir kalinya.. aku mohon..” pintaku.

Ford menghela nafas. “Baiklah. Awas kalo kamu macem-macem!” Dia berbalik dan keluar dari kamar.

“Gak akan..” sahutku sambil beringsut mendekati Vierre yang sudah tergolek lemah. “Kamu bakal sembuh kan?” Aku mengangkat kepalanya dan menaruhnya di pangkuanku.

Vierre tersenyum. “Aku akan sembuh, ada seseorang yang menangis untukku,” bisiknya. Dengan bersusah payah dia duduk di hadapanku dan memelukku.

Dengan masih bercucuran air mata, aku balas memeluknya. “Ini pertemuan terakhir untuk kita. Setelah ini, aku gak akan bisa ketemu kamu lagi. Kali ini untuk selamanya.”

Aku merasakan belaian Vierre di rambutku. “Maaf untuk ini, Amy,” dia menyingkap rambutku dan menggigit leherku.

Aku menjerit dengan keras. Gigitan itu sakit sekali. Sesuatu mengaliri tubuhku sehingga tubuhku mati rasa. Vierre sepertinya juga menyedot darahku karena tubuhku makin terasa lemas. “Tolong tahan sebentar, Amy. Aku akan membunuh makhluk itu dan kita akan hidup damai untuk selamanya,” bisik Vierre setelah dia menarik taringnya dari leherku.

Vierre menidurkan aku dengan amat hati-hati di tempat tidur dan berlari ke luar. Sedangkan aku berusaha membalut luka gigitan Vierre dengan merobek jubah hitam itu. Sampai detik ini rasanya perih sekali. Ditambah apapun yang tadi dimasukkan oleh Vierre membuat jantungku berdegup kencang tidak beraturan. Tiba-tiba, seluruh tubuhku serasa terbakar dari dalam. Aku berteriak lagi. Kucengkram sprei tempat tidur itu dengan kuat untuk menahan sakit yang menderaku dengan amat sangat.

Aku mendengar pintu dibuka. Vierre datang dengan pedang berlumuran darah. Begitu melihatku, dia melempar pedangnya dan menghambur ke arahku. “Amy, tolong tahan apapun yang sedang kau rasakan. Ini adalah tahap Perubahan. Kau pasti bisa melewatinya,” dia mendekap tubuhku.

“Sa..kit..” erangku.
“Iya, aku tahu. Tahanlah, sebentar lagi rasa sakit itu akan hilang,” Vierre menggendongku dengan lembut. Aku melingkarkan kedua tanganku ke lehernya.

“Kita mau ke mana?” Tanyaku saat Vierre melompat keluar jendela.
“Pulang, Sayang. Tidurlah,” bisiknya. Perlahan aku menutup mataku, memasrahkan apapun yang akan terjadi padaku.

“Ma? Maaa! Ayo bangun!”
Perlahan aku membuka mataku. Di hadapanku, terlihat seorang anak perempuan dan laki-laki kembar yang masih berumur 4 tahun.
“Iya, mama bangun, Sayang..” aku mengucek mataku.
“Kok anaknya malah bangun lebih pagi dari mamanya?” Sahut seseorang dengan nada geli.

Aku bangkit dari tempat tidur sambil mengajak anak-anakku untuk sarapan dan mengacuhkan orang yang tadi berkomentar.

“Suamimu tersayang ini gimana nasibnya?” Godanya dengan muka memelas. Ya, orang tolol ini adalah suamiku.

Setelah kedua anakku keluar dari kamar aku berbalik padanya. “Lagi-lagi aku mimpi tentang kejadian itu,” kataku sambil menghela nafas.

“Dan selalu berakhir saat bagian aku membawamu pulang?” Aku mengangguk dengan lesu. “Setidaknya kini kita dapat hidup dengan damai dan tentram di kastil ini,” dia menarikku ke dalam pelukannya.
“Yah.. kamu sih damai-damai aja. Sejak hari itu aku harus berusaha untuk mengendalikan kekuatan ini,” sahutku.
Dia tertawa. Suaranya menyenangkan. “Ya, ajaib bukan? Kau malah jauh lebih kuat dariku padahal aku sendiri yang mengubahmu.” dia melepas pelukannya dan menatapku dengan tatapan yang membuatku tersipu. Astaga, padahal aku bukan ABG lagi!

“Oke, oke.. terserah. Ayo cepetan, Vierre! anak-anak udah nunggu,” aku menarik tangan Vierre, suamiku tercinta, dan bersiap untuk memulai hari yang baru.

Tamat

Cerpen Karangan: Chacha
Facebook: Choco Caramella

Cerpen My Sweet Wolf Boy (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kutukan Sepele

Oleh:
Kutukan. Kutukan sering digambarkan mengerikan. Tapi kutukan yang “tidak menakutkan” kadang justru membawa dampak besar, membuat kita harus mengorbankan sesuatu yang berharga. Aelita, anak perempuan yang sangat gemar bermain

5 Tahun

Oleh:
Lita, nama gadis yang aku puja selama ini. Waktu itu saat baru masuk SMP. Saat dimana pertama kali aku melihat sosok malaikat tanpa sayap. Kenapa saya bilang begitu? Karena

Little Suzanne

Oleh:
Suzanne adalah saudaraku. Ia berbeda dari yang lainnya. Aku tak tahu mengapa ia begitu istimewa. Aku? Kalian bisa memanggilku Grance. Aku harus terus melindunginya, begitu yang dikatakan orangtuaku. Awalnya

Derita Annamarie

Oleh:
Mentari pagi yang telah membangunkan tidurku, segera aku bergegas menuju kamar mandi dan bersiap menginggat Hari ini hari kedua ku melaksanakan MOS di SMA Tunas Bangsa yang dilaksanakan selama

Beach Love

Oleh:
“Des! Desta! Oper, des!” Mendengar seruan barusan, desta segera mencari celah agar bisa mengoperkan kepada alvin, rekan satu timnya. Begitu mendapat kesempatan, cowok itu buru-buru menendang bola ke arah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *