Mystic Messenger

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Gokil, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 5 March 2018

“Damn!” umpatku sembari mempercepat laju sepedaku. Kulirik arloji yang memeluk erat lenganku untuk kesekian kalinya, sedikit berharap agar jarum di dalamnya bergerak mundur barang 5 sampai 10 menit. 6:27, tersisa 3 menit untukku sebelum gerbang utama di tutup. Ah, andai saja aku bisa bangun lebih awal mungkin aku tidak akan sepanik saat ini. Sarapan tak sempat, mandi pun cepat-cepat.

Gerbang utama di depan mata. 1 menit tersisa, guru piket bak penjaga neraka mulai siaga. Sedikit lagi, daann…
Aku berhasil melewatinyaa!!
Namun, usahaku belum berhenti sampai sini saja. Masih ada sisa waktu 45 detik untukku berlari dari tempat parkir menuju ruang kelas. Demi sadako dan rambut kinclongnya, kelasku kan berada di lantai tiga gedung utama, yang artinya aku perlu melewati lorong di depan gerbang utama sejauh 10 meter, lapangan yang luasnya dua kali stadion Gelora Bung Karno, melewati gedung kesenian, menaiki 34 anak tangga, mengendap-endap di depan ruang guru, berlari lagi melewati kolam renang indoor dan gedung olahraga, menaiki 38 anak tangga lagi, kemudian berjalan sekitar 15 langkah lagi, dan itu semua membutuhkan waktu sekitar 15 sampai 30 menit. Belum lagi jam pertama adalah jamnya Pak Edgar, guru matematika yang terkenal judes, galak, killer dan hobi memberi pelanggaran pada siswanya yang tidak disiplin. Gusti, aku rapopo…

sfx: teeettt.. teeettt..
Bel telah berteriak nyaring. Sial, gara-gara sibuk mengurutkan rute aku masih cengo di depan lorong. Segera saja aku bergegas menyusuri bangunan yang luasnya bagaikan berkeliling Pegunungan Himalaya.

“Maaf pak, saya terlambat!!” hening seketika. “Eh?” dan seketika itu juga tawa teman-teman sekelasku meledak.
“Telat lagi, Ren?”
“Makanya, punya jam itu jangan yang dari karet, gampang molor”

“Pak Edgar lagi cuti, tugasnya udah kutulis di papan.”
“Itu keringat andai ditampung kayaknya melebihi debit sungai nil deh.. haha”
Satu lagi kesialan di pagi hari.

Bel istirahat berbunyi. Aku yang sudah suntuk sejak jam pertama segera menghambur keluar mencari udara segar. Menguras otak selama 2 jam 15 menit sudah tentu menguras habis tenagaku yang belum kuisi sama sekali sejak tadi pagi. Lambung kecilku sudah meronta-ronta sejak menginjakkan kakiku di kelas, aarrghh.
Hell, no! Aku lupa membawa uang jajan. Duh, cacing-cacing di perutku sudah mulai menjerit-jerit minta makan. Gusti, tolonglah hambamu ini yang tengah menderita saat ini.

Entah mengapa tiba-tiba kakiku tergerak untuk berjalan menuju lokerku. Mungkinkah, ini jawaban dari Tuhan?
Demi titan kolosal dan antek-anteknya, siapa yang menaruh kotak makan berbentuk love dan berisi sandwich tiga lapis yang menggoda di lokerku? Mana di dalamnya ada keju dan wasabi kesukaanku. Oh sial! siapa orang usil yang berani macam-macam denganku saat ini?!

Kuambil sandwich-tiga-lapis -dengan-keju-dan-wasabi- kesukaanku tersebut dan ternyata ada secarik kertas di bawah kotak makan berbentuk unik itu.
“Untukmu, Rendy Zoe. Aku tau kau belum sarapan dan tidak punya uang. Makanlah..
-RD-”
RD? Siapa ya? Ah, bodo amat yang penting makanannya buat aku.. Selamat makaan!!

Sial, sudah kali keberapa aku harus berurusan dengan yang namanya terlambat. Dan saat ini aku tengah dihukum membersihkan lapangan yang luasnya dapat menampung 200 ekor gajah ini —itu jika gajahnya tidak lari ke mana-mana.

Jam istirahat berbunyi dan aku baru saja menyelesaikan tugasku. Rasa lelah menguasai tubuhku, membuatku memilih kembali ke kelas dan mengistirahatkan otot-ototku.
Eh? Kotak makan itu lagi? Apakah itu artinya aku dapat makanan gratis lagi? Atau malah disuruh mencuci kotak makan yang kemarin isinya aku makan?
Demi sachiko dan gunting berkaratnya, di dalamnya ada nasi omelet! Juga surat yang diletakkan tak jauh dari kotak makan tersebut.
“Makanlah.. kau pasti lelah sehabis membersihkan lapangan -RD-”

Pengirim yang sama, kotak makan yang sama, dan dia tahu kegiatanku saat ini. Mungkinkah aku sedang diintai? Hii, memikirkannya membuatku tambah lapar. Selamat makaan!

Demi akamanto dan kertas merah birunya, kotak makan ini lagi!? Tapi dengan lokasi yang berbeda, dan lebih anti-mainstream dari biasanya. Siapa sih begundal kurang ajar yang meletakkan kotak makan ini di jendela kamarku?! Tentu dengan surat yang diselipkan di bawahnya.
“Tak perlu takut, aku bersamamu.. Makanlah! -RD-”
Justru karena itu aku takut, RD sialan! Who the hell are you?! Aahh.. aku lelah dengan semua ini. Mulai detik ini aku tidak akan menggubrismu lagi, ujarku bertekad sambil mengunyah roti isi selai blueberry yang ada dalam kotak itu.

“nom.. nom.. nom.. enak juga ternyata.. nom.. tapi ini yang terakhir!! nom nom..”

Ini sudah seminggu semenjak aku mendapatkan kotak makan misterius yang menerorku belakangan ini. Aku tidak bermaksud kepo, hanya saja siapa yang mau-maunya memberikan santapan gratis kepadaku. Mungkinkah dia…
…malaikat yang dikirim Tuhan untukku?

END

Epilog:
“Yeah, you’re right, Rendy Zoe. I’m a guardian angel who God sends to ya…”
Dia terkikik geli memperhatikanmu yang terus saja mengunyah makanan buatannya itu. Kelereng heterochrom miliknya terus saja mengawasimu dari atas, tanpa bisa lepas dari gerak-gerikmu. Bibirnya menyunggingkan senyum namun netranya tampak berkilat-kilat seakan mampu menerkammu saat ini juga.

“Aku akan pastikan kita akan bertemu suatu saat nanti, dan…”
Dia bangkit dari atas sana. Berpaling kemudian melenggang dari sana setelah sejenak menatapmu dan meletakkan kotak yang sama di lokermu.
“..aku juga akan pastikan kau hanya milikku seorang”

REAL END

Cerpen Karangan: Ardhita Cahya
Facebook: Ardhita Cahya
Hanya seorang remaja introvert yang teramat menyukai jarum-jarum air yang berjatuhan dari langit.

Cerpen Mystic Messenger merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sore

Oleh:
Hari yang melelahkan. Seharian ini penuh dengan agenda kantor. Pagi tadi rapat dengan Bapak Kepala Institusi Statistik, siangnya melatih instruktur petugas pencacahan sensus penduduk yang tinggal beberapa bulan, sorenya

Batang Singkong

Oleh:
Aku adalah sepotong batang yang telah berkayu berdiameter kurang lebih 2,5 cm, tubuhku lurus dan belum ditumbuhi oleh tunas-tunas baru. Aku sangat berterimakasih pada Allah SWT karena telah memberiku

Peri Mimpi di Kamarku

Oleh:
Suara bising yang mengitari telingaku membuat aku terbangun dari tidur malam yang panjang. Kubuka pelan-pelan mataku yang masih sayu-sayu dan, astaga betapa kagetnya aku melihat seekor binatang besar yang

Only Dream

Oleh:
Ditengah hujan yang sangat deras ada 2 orang perempuan dan laki-laki yang berumur sekitar 12 tahunan sedang berlari-larian menembus derasnya air hujan di taman kota. Memang sudah menjadi kebiasaan

Di Balik Sikap Aneh Si Ale

Oleh:
“Loe tahu nggak kenapa akhir-akhir ini jadi aneh?” tanyaku pada sahabatku Beno yang sedang duduk di samping gue. “Masak sih, kayaknya Ale biasa-biasa aja deh Ci” jawab Beno sambil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Mystic Messenger”

  1. wih seru nih ceritanya. kira-kira ada lanjutannya gak ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *