Nasehat Om Siwi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 12 January 2019

Satu jam empat puluh enam menit dan lima puluh tiga detik. Selama itu, hampir dua jam lamanya, keringatku mengucur deras. Tampak olehku, tatapan ratusan pasang mata mengawasiku, memata-matai seluruh gerak gerik tubuhku. Di tengah padatnya deretan kursi panjang ini, diantara kerumunan manusia, dengan penuh harapan, telingaku berdiri, masih terus menanti.

“Nomor Antrean A, seratus lima puluh dua, silahkan menuju…”. Begitu bunyi pengeras suara terdengar, bergema-gema menyebar ke sepanjang jalan, terpantul-pantul di sudut-sudut ruangan yang bercat putih itu. Tampak sepotong kertas di ujung jariku, berbentuk petak seperti bujur sangkar, berwarna putih, ukurannya kecil, lebih kecil dari genggaman tangan manusia. Di tengah kertas, terdapat tulisan huruf besar, berada di awal, kemudian diikuti pula dengan angka yang besar. Lalu, terdapat lagi tulisan di atas maupun di bawahnya, ukuran semuanya kecil-kecil. Untuk tulisan yang berada di atas, mengisyaratkan informasi mengenai keterangan tempat dan waktu, sedangkan tulisan yang di bawahnya terdapat kata yang menyejukkan nurani.

Aku mencari tempat duduk yang berada di deretan kursi depan, di antara jejeran kursi antre yang panjang, bersama kerumunan warga lainnya, padat, memenuhi sepanjang koridor yang juga bercat putih itu, nampaknya membuatku sedikit kesal. Lama aku termenung, menyaksikan beberapa petugas, pasien, maupun walinya, baik tua, muda maupun masih muda sekali, lalu lalang di depan batang hidungku. Seluruh tulangku pegal, sendiku kaku, rasa-rasanya mau retak. Betapa tidak, kurang lebih dua jam sudah aku membeku di sini, diam, terkantuk-kantuk seolah tak jelas statusnya. Kekesalanku bertambah dengan suara kegaduhan para warga, pengantre di seberang sana, obral obrol sana-sini, seakan mereka acuh, sama sekali tidak melihatku. Sepertinya warga kita senang sekali dengan sakit. Menurutku, mereka mungkin kangen disuntik.

Aku termangu-mangu. Di tanganku terdapat potongan kertas itu dan jelas tertulis “A-153”. Hanya tinggal satu angka lagi untuk giliranku, rasanya seperti setahun. Di luar sana, sang mentari semakin gagah menyinari bumi, cahayanya memancar, menembus kaca-kaca jendela, semakin membuatku gerah. Pukul 11.55 WIB, jam dinding menunjukkan sorot matanya yang kosong, seakan menatapku, menerobos sampai jauh, jauh ke palung hati sanubariku. Alat pendingin ruangan, yang aku harapkan berkerja optimal, seolah lumpuh dibuat tak berdaya dihantam hawa panas sang mentari.

Aku memalingkan muka, sepertinya aku tak tahan dengan keadaan ini. Dua jam lamanya aku di sini, seakan merana, menghirup berbagai macam aroma, mulai dari antiseptik, obat, karbol, dan yang spesial ‘aroma keringat’, seakan meracuniku, membuat skala kekesalanku semakin berlipat-lipat.

Aku memejamkan mata, sedikit melupakan kejadian ini. Kalau ditelusuri lebih jauh, untuk apa aku merisaukan semua ini, untuk apa aku meributkan hal ini, untuk apa aku memikirkan ini itu, lebih baik aku sandarkan saja tubuh ini, memasrahkan apa pun yang akan terjadi. Namun aku merasakan keganjilan. Seolah terdengar suara timbul tenggelam memanggilku.

“Hei!”. Aku membuka mata. Aneh. Lama aku menoleh ke sana kemari mencari suara itu. Lupakan saja, mungkin hanya perasaanku.
“Hei, anak muda!”. Ternyata memang akulah yang dipanggil. Aku mencari sosok suara yang kecil itu, di mana dia, mungkinkah posisinya di sekitarku, atau jauh di ujung sana.
“Heeiiiii, anak muda!”. Aku terkejut, ujung jariku gemetar, sepertinya kertas yang kugenggam bergerak-gerak. Benarkah itu, nampaknya mustahil. Kucoba mengangkatnya, lalu perlahan kudekatkan ke telinga.
“Hei, anak muda, berkali-kali aku memanggilmu”, katanya menggerutu. Aku terkesiap, rasanya tidak mungkin, tak masuk akal sama sekali. Lalu dia merepet panjang, sampai pedih telingaku.
“Kau terkejut, bagus sekali. Aku hampir kehabisan nafas karena kau menutup hidungku. Singkirkan ibu jarimu itu. Kau pikir, kau sendiri yang merana, ya? Kau pikir, kau sendiri yang menderita? Kau pikir…”.
Aku terkaget-kaget mendengar ocehannya. Kemudian aku heran, kenapa ia berhenti bicara, lalu kembali ke bentuk semula. Rupanya, ada seseorang lewat, berjubah putih, hempasan angin yang datang membuat jubahnya seakan melambai-lambai. Ia berjalan anggun sekali sambil membawa alat yang sering ditempelkan di kedua telinga itu, kalau tidak salah “steteskop” namanya, berada dalam genggamannya. Semakin lama aku menatapnya, wajahnya semakin berkilau. Sepertinya ia seorang bidadari yang turun dari langit, lalu menyamar menjadi dokter. Ia memimpin pasukannya, berada di garis depan, mengemban tugas mulia dengan misi memberantas kuman penyakit sampai ke akar-akarnya.
Lama aku memperhatikannya, lalu terdengar suara merdu, beberapa potongan bait lagu, mengalun, mendayu-dayu syahdu.
“Oh Tuhan, kucinta dia, kusayang dia, rindu dia, inginkan dia…”.

Lama aku mematung menyaksikan ia pergi berlalu. Tiba-tiba kertas yang aku pegang, bergerak lagi. Kali ini gerakanya semakin kuat.
“Heeeiiii, anak muda, jangan kau lipat aku”. Aku terkejut, tak menyadari telah melipatnya. Segera aku membetulkannya.
“Terima kasih anak muda” katanya pelan.
Lalu ia kembali merepet panjang, mencurahkan seluruh isi hatinya, yang selama ini ia pendam. Sepertinya ia sangat menderita, lalu seakan telingaku perih sewaktu mendengar omelannya. Begini anak muda, perkenalkan namaku Siwi. Panggil saja, Om Siwi. Aku rasanya sudah bosan dengan tingkah laku kalian sebagai manusia. Meskipun aku sepotong kertas, dan seluruh tubuhku sepertinya terpotong-potong di dalam mesin, yang namanya sangat aneh itu, mataku masih bisa memperhatikan semua tindak tanduk kalian.

Aku berpikir sejenak, ternyata benar juga apa yang ia katakan. Mungkin aku hanya menebak, kira-kira saja, mengenai soal namanya. Tampaknya nama itu tercipta dari gabungan dua suku kata “Si” dan “wi”. Karena tubuhnya terbuat dari kertas, mungkin awalan “Si”, diambil dari nama suatu pohon, sumber pembuat kertas, namanya kalau tidak salah “Akasia”, sedangkan “wi”, berasal dari pabrik pembuatnya, nama persisnya aku lupa, tapi yang pasti, lokasinya berada di kota seberang.

Telah lama, sebenarnya aku ingin berteriak, katanya geram sambil melotot tajam. Aku sudah muak dengan semua sifat-sifat kalian. Lihatlah itu, di layar kaca, sudah jelas terpampang nomor yang besar, dan jelas akan dipanggil dengan pengeras suara, tapi masih saja banyak di antara kalian saling menyerobot, acuh tak acuh, seolah-olah tak berdosa. Perhatikanlah, di suatu daerah yang terpencil, di tengah hutan sana, banyak saudara-saudara kami, pohon kayu, yang kalian tebas semaunya, bahkan yang masih seumur jagung pun kalian copot, kalian bakar, sampai gundul tempat kami. Tengoklah itu, bagian saudara kami, kayunya yang terangkai di perahu, seakan nyaris tenggelam di tengah laut disesaki oleh kalian yang tidak tahu aturan. Kau pikir, aku hanya mengada-ada. Ingat, mataku ada di mana-mana. Aku bisa menyaksikan semua tingkah kalian, baik yang berada di tempat ini maupun di seluruh penjuru dunia melalui layar televisi. Tidakkah kalian memikirkannya. Tidakkah kalian peduli. Itulah kalian sebagai manusia selalu menganggap enteng terhadap peraturan. Peraturan, bagi kalian seorang manusia, hanyalah seperti mainan, setelah dapat, langsung mencampakkannya. Peraturan menurut kalian, hanya seperti kumpulan asap, setelah terlihat, langsung menguap hilang. Kalian tahu ada peraturan, kalian lihat dan dengar, tapi mengapa kalian langgar. Itulah kalian sebagai manusia tidak tahu untung. Setelah masalah datang, bencana mengamuk, baru kalian sibuk sana sini, meributkan segalanya. Intinya satu, kalian telah lupa bagaimana cara menerapkan peraturan.

Aku terdiam, rasanya ribuan kata yang ia lontarkan, telah men-smash lidahku, masuk ke dalam kerongkongan lalu menembus hatiku. Rentetan kata yang ia ucapkan, membuatku tak berdaya, seakan membungkam mulutku, diam seribu bahasa. Aku prihatin. Ingin aku sampaikan penyesalan sekaligus melayangkan permintaan maaf yang mewakili seluruh umat manusia di bumi ini. Aku terbata-bata, belum sempat aku katakan. Ia kembali emosi, mengeluarkan petuahnya.
“Banjir yang datang, erosi yang terjadi…”.

Telingaku sakit, lalu aku coba menutup kedua indera pendengeranku rapat-rapat. Namun anehnya, aku melihat ia kembali ke bentuk semula. Apa yang terjadi. Aku turunkan sebentar tanganku, lalu samar-samar terdengar ada yang memanggil.
“Nomor antrean A-153, silahkan menuju kasir 4”. Aku sadar, ternyata sekarang giliranku. Pantas saja ia kembali ke bentuk semula. Lalu aku bergegas. Kulihat sambil berjalan, potongan kertas yang aku pegang sepertinya tersenyum. Mungkin ia puas, karena aspirasinya telah aku dengar dan aku pahami.

Mulai detik ini, menit ini, dan juga hari ini, akan selalu aku ingat nasehat dari sosok Om Siwi. Aku melenggang pergi bersama angin, membelah keramaian.

Cerpen Karangan: Muhammad Irsyad
Blog: blogmutiaraku.wordpress.com

Cerpen Nasehat Om Siwi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunga Itu Mawar

Oleh:
Sebulir peluh menetes melewati rahangku. Jantungku berpacu cepat, berlomba-lomba dengan adrenalin yang mengalir deras melalui pembuluh darahku. Tak sedetik pun aku memelankan langkah, berzig-zag di antara pepohonan, melompati akar-akar

Melawan Harimau

Oleh:
Aku berjalan, berjalan dengan cepat. Kemudian berlari, berlari, terus berlari, lebih cepat, lebih cepat. Kemudian berhenti, seperti ada yang mengikutiku. Aku tahu, tapi aku hanya melihat bayangan hitam berlalu

The Rain

Oleh:
Cerita ini dimulai saat hujan deras mengguyur kota seoul, korea selatan. Seorang gadis bernama cho yong ra tengah duduk di kursi taman sekolah sambil membaca buku novel yang ia

The Story Of Soul Eater

Oleh:
Pada suatu jaman hidup sebuah kerajaan dimana sang raja itu sangat rakus, ia berubah jadi rakus dan kejam karena ditinggal mati oleh ratu di dalam peperangan. Raja itu mempunyai

Ketika Sampai Ujung Padang Hijau

Oleh:
Ketika sampai pada ujung jalan. Sebuah sungai memancar indah mengalirkan beberapa dedaunan yang mungkin tanpa sengaja terjatuh dari dahanya. Disana aku belajar bagaimana sebuah rantai keindahan alam berjalan mengikuti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *