Negeri Tibel

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 21 November 2013

Namaku Kinna. Aku anak yang cantik kata teman-temanku sayangnya pemalas dan suka mendapatakan nilai jelek saat ulangan atau ada tugas. Itu semua karena aku adalah anak yang tak suka belajar. Aku membayangkan sebuah dunia yang sangat indah tanpa ada pembelajaran yang sangat membosankan. Andai saja aku bisa pergi ke sana sehari saja, kumohon. Akan tetapi, semua itu tak akan mungkin terjadi. Karena dunia adalah dunia nyata dan dunia hayalan adalah hal yang tak mungkin bergabung menjadi satu seperti di film Doraemon.

Suatu hari, saat aku pulang sekolah dari sekolahku yang bernama Elementary School Girly, aku melihat ada sebuah poster di warung yang terdapat di depan sekolahku. Aku membacanya, di poster tersebut tertulis, “Ingin dunia tanpa belajar? Beli saja Utyiomb (mainan sihir) dan mimpimu akan terkabul”. Aku sangat tertarik. Sesampainya di rumah, aku mendekati mama yang sedang bekeraja dan berkata, “mama, aku mau dong mainan Utyiomb.”
“Mau mainan? Kamu kan sudah besar.” ujar mama sambil tersenyum lembut.
“Tapi mainannya asyik, ma!” aku merayu mama.
“ya sudah, ini uangnya.” ujar mama. Aku pun langsung mengambil uang tersebut dan membeli mainan menarik tersebut. Aku membelinya di sebuah toko mainan megah yang terdapat di kotaku.

Sesudah membeli mainan, aku pun pulang ke rumah dengan perasaan senang akan mendapatkan dunia indahku yang selama ini aku tunggu. Aku lalu membukanya dengan tenang sambil menutup mata. Tak sabar rasanya ingin melihat mainan yang telah menarik hatiku untuk membelinya itu. Dan apaaa.. inikah mainan yang kutunggu? Hanya sebuah tongkat berbentuk bintang dengan topi berwarna merah dan hiasan buah putih di atasnya. Dan wow, ada tambahan sebuah cermin asli yang sangat indah berbentuk buku. Aku melihatnya…

“Dimana aku?” tanyaku pada diriku sendiri.
“Selamat datang teman di negeri Tibel(tidak belajar).” ujar seorang anak seusiaku tapi tampak lebih tua atau lebih muda? Ahhh sudah nggak perlu ngurusin itu.
“Tibel?”
“Ya, Tibel, singkatan dari tidak belajar. Kapan kamu datang? Siapa namamu? Berapa umurmu? Apa kamu juga tidak suka belajar? Bagaimana caramu masuk?” tanya anak itu bertubi-tubi.
“Namaku Kinna. Kamu?”
“Aku Mina.”
“Mina, bolehkah aku mengetahui negeri apakah ini. Maksudku apakah negeri ini nyata atau hanya mimpiku semata?” tanyaku.
“Aku pun tak tahu. Tapi, aku sudah berada di sini selama seminggu.”
Mina pun mengajakku berkeliling dan memberitahukan kamarku. Dia bilang di sini kita tidak diperbolehkan belajar. Kita hanya boleh turun sekolah untuk bermain. Oh indahnya negeri impianku ini. Atau mungkinkah ini adalah pengaruh dari mainan yang aku beli? Ini nyata hore…

Rasanya sudah bertahun-tahun aku tinggal di sini. Ada seorang yang berbisik lembut padaku dan Mina kalau kami harus pulang dan semua ini disisakan sebagai mimpi.

“Hoamm… pagi mama.”
“Pagi, sayang.”
“Tadi malam aku tidur nyenyak banget, lho!”
“Baguslah.”
Aku pun mandi, gosok gigi, membersihkan tempat tidur, sarapan dan berangkat. Di sekolah semua teman-temanku sangat tegang kelihatannya. Aku tak tahu mengapa. Akan tetapi, Wina teman sebangkuku memberitahukan kalau ada murid baru yang akan datang ke kelas kami kelas 5A dan saaat Pak Guru masuk ia membawa murid perempuan masuk sepertinya aku kenal dia. “Selamat pagi anak-anak, saya perkenalkan ini murid baru di sekolah kita.”
Seorang anak perempuan melambai padaku. Aku terkejut, “MINA” teriakku bahagia.

The End

Cerpen Karangan: Ivana Angelita
Facebook: Ivana Angelita
Cerita yang asyik atau nggak asyik? Berikan pendapatmu teman!

Cerpen Negeri Tibel merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sejarah Dunia yang Berbohong

Oleh:
Apa yang terngiang dalam benak kita jika bumi datar..? Itulah yang kupikirkan sembari duduk dengan secangkir kopi di depanku. Baru-baru ini kabar tentang bumi datar sudah beredar di seluruh

Still Heaven At War (Part 2)

Oleh:
Tok tok tok mengetuk pintu. “masuklah.” Jend. Marvin. Natleyn berdiri dan memberi hormat. “duduklah kapten.” Kata Jend. Marvin. “terima kasih, pak” kataku. “bisakah kau tak memanggilku pak, umurku baru

Ramuan Keabadian (Part 2)

Oleh:
“Oh! Andre! Ternyata kamu. Dari dulu kamu tidak pernah berubah senang bikin onar!” kataku sambil tertawa mengingat hal kemarin. “Yang pertama aku gak sengaja. Yang kedua dan ketiga mungkin.

Debat Para Mapel

Oleh:
“Pangeran diponegoro adalah salah satu pahlawan indonesia… Oleh karena itu perang diponegoro disebut pula dengan perang jawa” jelas sejarah panjang lebar “Wah sejarah hebat dia bisa tau banyak gitu”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

9 responses to “Negeri Tibel”

  1. Sabari orang says:

    cerpen keren….ditunggu karya selanjutnya

  2. Affan Abiyyu says:

    Kurang greget endingnya .__.
    Lore + settingan awalnya udah boleh, ada benda ajaib dll, mungkin kalo dikit diperpanjang + permasalahan + ending yang memberi kejutan, bakal lebih bagus lagi :))
    Semangat Ya~

  3. Ell Df says:

    Ceritanya bagus, teruslah berkarya, Ivana Angelita.

  4. Volume Tabung says:

    Cerpenya, bagus. Tapi kalau tambah diperpanjang ceritanya bagus. Teruslah berkarya.

  5. Wopppssss says:

    Dua jempol untuk cerpen ini 🙂

  6. Sahara Lillian says:

    imutzz deh nma mainan x, teruslah berkarya

  7. Naruto X says:

    Bagus, ditunggu karya selanjutnya

  8. Anindia Eliza says:

    Wahhh jadi, kebetulan sekali ya, si Mina itu pindah sekolah ke sekolah yang sama dengan Kinna. Wah bagus sekali cerpennya, tapi kurangnya cuma 1 nih Ivana! Yaitu, cerpennya kurang panjang. kalau cerpennya panjang, jadi bagus lho! tapi terus berkarya ya;)

  9. Lyna says:

    Pendapatku, ya, bagus, lah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *