Neo Age (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 26 May 2018

Waktu perlahan mengantar matahari berlabuh pada dermaga yang disebutmu senja. Menumpahkan jingga dan menutupi biru langit menyembunyikan segala bentuk benda dalam siluet. Perlahan gelap malam menelan terang siang. Kegelapan yang sepi, hembusan angin menampar dalam kesendirian. Kesendirian yang sempurna. Karena tidak ada keramaian yang bisa kita harapkan dari kota mati yang menjadi saksi bisu meledaknya bom nuklir pada perang dunia ketiga dua ratus tahun yang lalu. Tak ada yang tersiasa dari kota yang dulu menjadi pusat peradaban negara ini.

Di masa ini kedamaian hanya bisa kau temui dalam buku. Kerusuhan, teror, pemberontakan, dan perang adalah ornamen sehari-hari dimasa ini. Era baru yang mengerikan. Bahkan perbudakan adalah keberuntungan bagi kaum yang terbuang, kaum yang tidak dibutuhkan oleh negara. Sebuah keberuntungan karena setidaknya mereka tidak dijadikan bahan percobaan untuk proyek manusia modifikasi. Sebuah proyek militer untuk menjawab tantangan kekacauan di seluruh dunia. Proyek yang mengubah manusia menjadi mesin pembunuh. Manusia tanpa perasaan dan kehendak.

Aku sedikit beruntung atau justru malah benar-benar sial, entahlah. Aku pernah menjadi kelinci percobaan dalam proyek gila tersebut. Karena sebuah kesalahan aku dikira meninggal karena sebuah kegagalan. Mungkin suatu keajaiban karena aku masih selamat dan berhasil melarikan diri. Sampai akhirnya aku bersembunyi di sini.

Sebuah eksperimen yang sulit dijelaskan dengan logika. Entah bagaimana bisa meningkatkan segala aspek fisik dengan sangat signifikan. Membuat seseorang memiliki kekuatan seperti mesin. Apakah menurutmu hal yang terjadi padaku ini menarik dan menyenangkan? Jika iya tolong tarik pendapat itu. Karena apa arti sebuah kelebihan jika kelebihan itu bahkan membuat hidupmu lebih buruk dari kematian. Setiap hari diburu dan dipaksa untuk kembali menjadi kelinci percobaan yang menyedihkan.

Kegelapan malam bahkan sulit untuk menyembunyikan keberadaan diriku dari satelit pengintai negara yang bahkan bisa merekam pergerakan semut di permukaan tanah. Setiap hari aku berjalan mengendap-endap di antara puing-puing dan reruntuhan bangunan untuk meyembinyikan keberadaanku dari satelit pengintai. Terkadang aku beruntung bisa menemukan terowongan atau sebuah bunker yang membuatku bisa istirahat sejenak.

Gerakanku terhenti saat aku mendengar suara bising baku tembak. Rasa penasaran menggerakkan kakiku untuk memeriksanya. Seperti yang kuduga sekumpulan penduduk tengah terlibat baku tembak dengan sekumpulan penjaga yang tengah mengiring sebuah truk yang mengangkut senjata.

Sementara aku hanya bisa mengawasi dari balik kegelapan. Menunggu saat yang tepat untuk ikut bermain dengan mereka. Selang beberapa menit kelompok penduduk mulai terdesak karena kehabisan peluru. saat itulah aku menembaki para penjaga satu persatu.

Seseorang turun dari truk tersebut, dia tampak lebih kuat. Lengan kanannya bahkan logam. Mungkin seorang manusia modifikasi. Sepeti dugaanku tembakan amunisi tidak berpengaruh kepadanya. Lalu kucoba menggunakan senapan laser, tapi berhasil dihindarinya dengan mudah.

Tanpa memberikan kesempatan kepadanya aku langsung menyerangnya. Seperti harapanku dia bisa mengatasi kecepatanku seolah sudah terbiasa menjalani latihan intens. Pertarungan berlangsung imbang selama beberapa menit sampai akhirnya aku sedikit lengah dan menerima pukulan telak.

Aku menyukai cara bertarungnya. Dia menungguku untuk berdiri lalu dia menyerang balik. Aku berhasil mengelak setiap serangannya. Beruntung aku bisa unggul dalam hal kecepatan. Mungkin lengan cyborgnya sedikit menghambat kecepatannya. Saat ada kesempatan aku menangkis lengan cyborgnya lalu berhasil mematahkannya. Aku tidak bisa berlama-lama karena cepat kemungkinan akan datang pasukan bantuan. Pertarungan berakhir saat aku mematahkan lehernya.

“Terima kasih telah membantu” ucap salah seorang dari mereka, mungkin pemimpinnya.
“Aku hanya kebetulan lewat”
“Sebagai ucapan terima kasih kau boleh beristirahat di tempat kami, kami memiliki sebuah bunker rahasia yang tidak bisa dilacak oleh satelit maupun radar pencari”
Tawaran yang lumayan. Setidaknya aku bisa menemukan tempat untuk persembunyi sementara, meskipun aku harus tetap berhati-hati karena hampir tidak ada orang yang bisa dipercaya.
“Dari cara bertarungmu kau sudah seperti pasukan veteran”
“Aku hanya sedikit beruntung”

Kelompok mereka beranggotakan sepuluh orang, bunker mereka pun lumayan luas. Kami menghabiskan malam dengan bertukar cerita. Tentu saja aku sedikit berbohong tentang kekuatanku. Aku mengatakan bahwa kekuatanku kuperoleh setelah menjalani serangkaian proses yang dilakukan oleh ayahku yang seorang ilmuan agar aku bisa menjadi pasukan veteran. Karena jika aku menceritakan yang sebenarnya besar kemungkinan mereka akan menyerahkanku ke pemerintah karena statusku saat ini adalah buronan.

Pagi datang bersama sedikit harapan untukku. Setidaknya aku sekarang bersama mereka. Memiliki tempat untuk bersembunyi. Serta beberapa orang untuk berbagi. Dari yang kudengar semalam saat mereka bercerita tentang kelompok ini, mereka adalah bagian dari pasukan pemberontak yang tengah menjalankan misi untuk mencuri persenjataan dari truk-truk yang menyelundupkan senjata secara ilegal. Sehingga kecil kemungkinan adanya pengepungan karena bukan truk milik pemerintah yang mereka bajak, dan tentu saja penyelundup senjata ilegal memiliki pengamanan yang relatif lebih sedikit jika dibandingkan dengan pengiriman senjata milik pemerintah.

Selama beberapa hari aku ikut serta membantu mereka mengumpulkan senjata. Seseorang dari mereka bahkan mengatakan besar kemungkinan pemimpin mereka akan menyewaku sebagai pasukan veteran saat pemberontakan nanti.

Misi selesai saat jumlah rampasan senjata memenuhi kuota minimal. Aku ikut mereka ke markas pusat. Sebuah pesta menyambut kedatangan kami. Aku dikenalkan kepada pemimpin mereka yang ternyata bernasib sama denganku. Sempat menjadi bahan percobaan dan berhasil melarikan diri.

Sudah lama aku tidak berbaur dalam keramaian, rasanya menyenangkan. Tapi menjelang pagi aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Aku tidak bisa menggerakkan kaki dan tanganku. Lalu pemimpin mereka mendatangiku, menunjukan sebuah kertas yang wajahku tercetak di sana.

“Brengsek siapa kalian?”
“HAHAHAHAHA misi berjalan sempurna, kerja bagus. Kalian bekerja dengan baik”
“Kau terlalu ceroboh subjek penelitian #314, kau benar benar bodoh. Apa kau berpikir kami adalah sekumpulan pemberontak? Jangan bercanda! Tapi terima kasih karena telah membantu kami menggagalkan penyelundupan senjata ilegal. Beberapa saat lagi penjaga dari laboratorium akan menjemputmu. Selamat datang kembali…”

Cerpen Karangan: Mustolih Senja
Facebook: Mustolih El-sendja Ibn Marzuki

Cerpen Neo Age (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Hitaf

Oleh:
Sunyi senyap ditemani dendangan melodi jangkrik seakan-akan mengisi kegelapan hatiku. Di sebuah kegelapan gubuk dengan berjuta kemalangan di dalamnya kisahku bermula. Tempat aku dan keluarga kecilku bertahta dan mengarungi

Expelled

Oleh:
Semua yang ada di sekelilingku hanyalah warna hitam. Ruangan yang hampa dan tanpa ujung. Hanya ada aku. Waktu pun juga tidak jelas. Siang kah? Atau malam? Pukul berapa sekarang?

Petani dan Orang-Orangan Sawah

Oleh:
Di sebuah desa hiduplah seorang petani. Hidupnya sederhana, tidak miskin tidak pula kaya. Setiap hari ia pergi ke sawah dengan mengayuh sepedanya. Dia hidup sendiri, belum punya anak maupun

Shadow

Oleh:
Libur panjang telah tiba. Aku membuka jendela kamarku lebar-lebar dan menikmati aroma pagi yang kesegarannya merasuk ke seluruh tubuhku. Aku merebahkan tubuhku ke kasur seraya menikmati cahaya mentari yang

D (Part 2)

Oleh:
SMP tahun 7-9 “Akhirnya aku kembali ke dunia awal. Aku kembali segar dengan pikiran yang baru. Entah mengapa terus terngiang rasa kebencian dan penasaran terhadap diriku. Aku mencoba merenung

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Neo Age (Part 2)”

  1. Siti says:

    Masih ada lanjutannya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *